
"Sya, nanti malam berangkat bareng kita aja ya" pesan Salsa sebelum Tasya turun dari mobil Silvi.
"Iya, ntar kita jemput" timpal Silvi yang duduk di kursi kemudi.
"Oke siap!" jawab Tasya.
Ia pun membuka pintu mobil dan bergegas turun.
Setelah melambaikan tangan pada teman-temannya, mobil Silvi melaju meninggalkan rumah Tasya.
Tasya berbalik dan sudah akan masuk ke teras rumahnya.
Mendadak sebuah siulan membuat Tasya menoleh ke arah halaman rumah tante Desi.
Dion sudah berdiri disana sembari memegang bola.
"Hai, Di. Sudah pulang" ucap Tasya berbasa-basi.
"Iya. Sini deh Nat!" Dion melambaikan tangannya pada Tasya, memberi kode agar Tasya mendekat ke arah pagar yang menjadi pembatas kedua rumah tersebut.
Tasya menurut dan bergegas mendekati Dion.
"Ada apa?" Tanya Tasya selanjutnya.
Ia mengawasi penampilan Dion dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Seperti biasa, Dion mengenakan kaos oblong dan celana training selutut.
"Nanti malam mau ke pensi?" Tanya Dion dengan wajah serius.
"Ya. Kamu datang juga kan?" Tasya balik bertanya.
Dion hanya menggeleng.
Selama ini dia memang tidak pernah ikut di acara pensi yang diadakan oleh sekolahnya.
Tasya sedikit merasa kecewa dengan jawaban dari Dion.
"Kamu datang sama teman teman kamu kan?" Tanya Dion lagi.
Kali ini Tasya hanya mengangguk dan tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Hati hati, oke!" Dion mengelus puncak kepala Tasya sedikit mengacak rambut Tasya.
Membuat gadis itu mencebik.
"Kenapa kamu tidak datang? Bukankah seharusnya kamu menjagaku?" Protes Tasya masih dengan bibir yang mencebik
Dion sedikit menahan tawanya. Ekspresi Tasya sungguh menggemaskan.
Dion benar benar ingin mencubit kedua pipi Tasya.
__ADS_1
"Apa aku sudah jadi baby sittermu sekarang?" Kata Dion sembari terkekeh.
Sontak hal itu membuat Tasya semakin kesal. Ia pun segera berbalik dan hendak meninggalkan Dion.
"Baiklah. Terserah kau saja" ucap Tasya sedikit ketus.
Gadis itu meninggalkan Dion yang masih terkekeh.
Hati Tasya benar benar kesal sekarang.
Tasya masuk ke rumahnya dan membanting pintu cukup keras.
Dion hanya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lucu Tasya saat marah dan kesal.
Dion lanjut bermain basket di halaman tante Desi.
Malam malam sebelumnya Dion memang tidak hadir saat pensi sekolah. Tapi malam ini mungkin Dion akan berubah pikiran. Mengingat gadis yang ia cintai akan datang juga.
Entahlah.
Dion akan memikirkannya nanti.
*****
Tasya sudah siap mengenakan dress selutut berwarna biru bunga bunga.
Tak lupa ia mengenakan cardigan lengan panjang agar penampilannya terlihat sopan. Tasya tak mau menjadi pusat perhatian.
Bergegas Tasya menghampiri mobil tersebut.
Tasya menyapa teman temannya sembari naik ke dalam mobil.
Tasya sempat melihat sekilas ke halaman rumah tante Desi sebelum masuk kedalam mobil Silvi.
Masih bisa Tasya lihat, Dion masih tetap asyik bermain basket.
Tasya menghela nafas kecewa.
Dion benar benar tidak akan datang malam ini.
"Itu tadi yang di sebelah rumah loe siapa Sya? Kok gue kayak kenal ya" Vina membuka percakapan di antara mereka berempat.
"Siapa emang?" Tasya malah balik bertanya dan pura pura tidak tahu.
"Lah elo kan tetangganya. Masa gak kenal juga." Vina memutar bola matanya.
Silvi dan Salsa hanya terkekeh.
"Elo mah kalo liat cowok bening pasti bilang kayak kenal ya" Salsa mengejek Vina.
Sontak hal itu membuat Vina kesal dan langsung melemparkan lipstiknya ke arah Salsa.
__ADS_1
Tapi rupanya Salsa begitu gesit dan berhasil mengelak.
"Eh, lipstik gue. Cariin Sal" Vina tiba tiba menjadi panik mengingat senjata andalannya untuk menarik perhatian para cowok malah ia lempar ke arah Salsa, dan sekarang hilang terselip entah dimana.
"Ogah. Dasar teledor" Salsa memeletkan lidahnya untk mengejek sahabatnya tersebut.
Dan Vina terlihat semakin kesal sekarang.
"Awas loe ya" Vina menunjuk ke arah Salsa yang kini tertawa bahagia karena berhasil mengusili sahabatnya tersebut.
Tasya dan Silvi yang hanya menyimak pertengkaran sengit dua gadis itu ikut tertawa.
Tasya memperhatikan penampilan sahabatnya satu persatu.
Semuanya terlihat anggun malam ini.
Sepertinya ini memang malam yang istimewa bagi mereka, sehingga mereka benar benar totalitas dalam penampilan.
Mobil Silvi masuk ke halaman parkir sekolah.
Suasana sudah ramai.
Suara musik terdengar dari atas panggung yang ada di halaman utama sekolah tersebut.
Sepertinya para siswa benar benar totalitas dalam berpenampilan.
Tasya dan teman temannya berjalan menuju ke pusat acara malam itu.
Suasana sudah cukup ramai.
Meja dan kursi disusun sedemikian rupa di depan panggung yang ada di halaman utama sekolah tersebut.
Meja dan kursi itulah yang nantinya akan di duduki oleh para siswa yang akan menyaksikan pertunjukan pensi malam ini.
Tasya terus mengikuti langkah Silvi yang berkeliling di antara kursi dan meja di depan panggung itu. Entah apa yang dicari oleh gadis itu.
"Nyari apa sih Sil?" Tanya Vina tak mengerti.
"Nyari tempat duduk yang pas lah buat kita" jawab Silvi santai.
"Yaelah, gak penting banget. Duduk tinggal duduk aja kok repot" Salsa ikut ikutan protes.
"Nyari yang dipinggir aja mungkin Sil, biar enak kalau mau keluar masuk" usul Tasya.
Silvi tampak berpikir sejenak.
"Ide bagus tuh Sya. Yaudah kita disini aja" Silvi langsung mendaratkan bokongnya di kursi yang ada di dekatnya.
Vina dan Salsa hanya menghela nafas kesal.
Sahabatnya yang satu ini memang paling suka membuat orang lain kesal dan jengkel.
__ADS_1
Sedangkan Silvi hanya tertawa dan sama sekali tidak merasa bersalah.