Natasya

Natasya
SEASON KEDUA: Melanjutkan Hidup


__ADS_3

Tasya dan Dion baru saja tiba di unit apartement milik mereka.


Masih ada beberapa barang milik Zhia yang berserakan di ruang tengah.


Tasya belum sempat membereskan isi apartemennya sejak terakhir dirinya membawa Zhia ke rumah sakit.


Tadinya Tasya masih berharap, Zhia akan pulang lagi ke apartement ini.


Namun harapan tinggallah harapan.


Zhia memilih untuk langsung pulang ke surga meninggalkan semua harapan Tasya dan Dion.


Tasya berkali-kali menarik nafas panjang seraya memunguti satu per satu boneka Zhia yang berserakan di ruang tengah.


"Nat..." Dion memegang lengan Tasya, mencegah istrinya itu melanjutkan kegiatannya memunguti boneka Zhia, karena Dion mulai melihat mata Tasya yang berkaca-kaca.


Air mata yang menggenang di sudut mata Tasya mungkin akan jatuh sebentar lagi.


"Biar aku yang membereskan semuanya. Kamu istirahatlah di kamar" ujar Dion sambil merangkul pundak Tasya yang kini bergerak naik turun karena isak tangis Tasya mulai pecah.


"Aku berusaha, Di.." ucap Tasya yang kini sudah menangis di pelukan Dion.


"Aku berusaha kuat menghadapi ini semua" cicit Tasya di sela-sela isak tangisnya.


"Aku tahu, Nat..." kalimat Dion tertahan. Dion pun merasakan apa yang kini di rasakan oleh Tasya, hatinya juga sakit.


Tapi sekali lagi, Dion harus kuat demi Tasya,


"Ayo! Aku akan mengantarmu ke kamar" Dion membimbing Tasya yang masih menangis sesenggukan masuk ke dalam kamar.


Dion membntu Tasya untuk duduk di tepi ranjang. Pria itu menuang air yang ada di atas nakas ke dalam gelas lalu mengangsurkannya kepada Tasya.


"Minumlah," ucap Dion.


Tasya menurut dan segera meneguk habis air yang ada di dalam gelas tersebut.


Setelah Tasya sedikit tenang, Dion membantu melepaskan jaket dan syal yang dikenakan Tasya.


Dion juga merapikan beberapa anak rambut yang jatuh menutupi wajah Tasya.


Tasya sudah sedikit tenang sekarang.


Dion ikut berbaring bersama Tasya dan memeluk erat tubuh istrinya tersebut.


Tak butuh waktu lama, dan Tasya sudah terlelap sekarang.


Dion masih terjaga. Pikirannya menerawang.


Sesekali Dion memandang wajah tenang Tasya yang sudah berkelana jauh ke alam mimpi.


Setelah memastikan Tasya benar-benar sudah terlelap, perlahan Dion membenarkan posisi tidur Tasya.


Dion pun bergegas keluar dari kamar untuk membereskan kekacauan di apartemen ini.


Satu persatu barang milik Zhia yang masih ada di ruang tengah dan di sudut rumah lainnya Dion ambil untuk kemudian Dion satukan dalam satu kotak besar.


Dion membawa masuk semua barang itu ke kamar Zhia.


Kondisi kamar masih sama seperti saat terakhir Zhia tidur di sana. Sprei warna pink bermotif kuda poni itu tampak kusut berantakan.


Dion bergegas melepaskannya, masih bisa Dion hirup ada aroma khas dari Zhia yang tertinggal di sana.


Satu persatu foto Zhia yang tergantung di atas tempat tidur Dion pandangi.


Ya, salah satu hobi Tasya sejak Zhia hadir di rumah ini adalah mengambil foto Zhia, lalu mencetaknya, dan memasangnya di dinding kamar Zhia.


Foto terakhir yang Dion pandangi adalah senyuman Zhia yang sedang di gendong oleh Tasya dan berfoto bersama teman-teman Dion di tim basket.


Satu permintaan Zhia yang terakhir. Dion bersyukur karena masih sempat memenuhinya.


Dion segera merapikan semua barang-barang Zhia di kamar tersebut, sebelum mematikan lampu dan pergi keluar.


Saat itulah terdengar suara bel dari pintu depan. Dion masih sempat melirik jam yang tergantung di dinding.


Pukul sembilan malam.


Siapa yang bertamu semalam ini?


Dion segera membuka pintu.


Rupanya Vian yang datang.


"Hai, Bro! Apa aku menganggu?" Tanya Vian berbasa-basi.


Dion tak menjawab dan hanya memberikan isyarat agar Vian masuk ke dalam.


"Ada apa ke sini malam-malam?" Tanya Dion seraya berjalan ke arah dapur.


Vian mengekor di belakang Dion.


Pria itu meletakkan bungkusan yang ia bawa di atas meja makan.


"Aku bawakan makanan untukmu dan Tasya" ucap Vian berbasa-basi.


Vian mendaratkan bokongnya di salah satu kursi yang ada di ruang makan. Pria itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling apartemen Dion.


Dion sudah kembali dan membawakan Vian segelas air putih. Dion ikut duduk di kursi yang ada di hadapan Vian.


"Di, aku turut berduka atas apa yang terjadi pada Zhia" tukas Vian tulus. Ada nada keprihatinan di sana.


"Terima kasih, Vi" jawab Dion singkat.


"Apa semuanya baik-baik saja? Dimana istrimu?" Vian tak tahan lagi untuk tidak bertanya.


Sejak memasuki apartemen ini, Vian tak melihat keberadaan Tasya.


"Dia sudah tidur. Tasya hanya sedikit terpukul dengan kepergian Zhia" cerita Dion lirih.


Vian mengangguk.


"Makanlah dulu, Di. Aku membawakan ini untukmu dan Tasya" Vian mengeluarkan kotak berisi makanan dari tas yang tadi ia bawa. Lalu menyusunnya di atas meja makan.


"Terima kasih, Vi. Kamu perhatian sekali" ujar Dion sedikit terkekeh.


"Hey, kita kan sahabat, sudah seharusnya aku perhatian padamu" Vian menepuk dadanya, membuat Dion semakin terkekeh.


"Jadi sebenarnya ada masalah apa? Tak mungkin kamu kesini malam-malam hanya untuk mengantarkan makanan" nada bicara Dion mulai terdengar serius.


Dion membuka kotak makanan di hadapannya dan mulai melahap isinya. Perutnya memang sudah keroncongan sedari tadi.


"Ini soal klub tempat kita bernaung. Apa kau sudah mendengar tentang manajemen yang bermasalah?" Tukas Vian tak kalah serius.


"Aku belum mendengarnya, memang ada apa?" Tanya Dion penasaran.

__ADS_1


Belakangan ini Dion memang disibukkan oleh masalah Zhia, jadi Dion tidak terlalu memperhatikan tentang masalah manajemen di klub basketnya.


"Kemungkinan musim depan klub tidak akan ikut liga. Jadi beberapa pemain sudah mulai mencari klub baru. Banyak yang akan pindah setelah kompetisi musim ini berakhir" cerita Vian panjang lebar.


"Kau sendiri?" Dion menatap tajam ke arah Vian.


Pria itu mengendikkan bahu,


"Ada tawaran dari salah satu klub di kota asal, jadi aku akan pulang" jawab Vian enteng.


"Aku juga sudah minta mereka untuk membawamu, Di. Dan mereka tak merasa keberatan" tambah Vian lagi.


Dion langsung menggeleng cepat.


"Tidak perlu, Vi. Mungkin aku akan mundur dari dunia basket setelah kompetisi musim ini berakhir" ujar Dion yang langsung membuat Vian memasang wajah tak percaya.


"Kariermu sedang bagus, Di" sergah Vian berapi-api.


Dion tersenyum simpul.


"Tidak sebagus tahun-tahun sebelumnya. Aku pikir, mungkin sekarang sudah saatnya aku berhenti dan istirahat..." Dion menjeda kata-katanya sekedar untuk menghela nafas.


"...lagipula Tasya sudah sejak lama memintaku vakum dari dunia basket. Terlalu banyak waktuku yang tersita hanya untuk latihan atau pertandingan. Belum lagi ada perusahaan papaku yang juga harus aku urus" tukas Dion panjang lebar.


"Apa kau yakin dengan semua keputusan ini?" Vian masih terlihat belum percaya.


Namun Dion segera mengangguk mantap.


"Aku hanya ingin fokus menikmati hidupku bersama Tasya" ujar Dion sambil menerawang.


Dion benar-benar ingin menghabiskan lebih banyak waktu untuk Tasya sekarang.


"Baiklah, kalau itu keputusanmu. Tapi kau masih bisa menghubungiku kapanpun jika kau berubah pikiran" Vian masih belum menyerah.


Dion memilih untuk mengangguk saja.


Makanan yang ada di hadapannya sudah tandas tak tersisa.


Vian dan Dion masih melanjutkan obrolan hingga hampir tengah malam.


Tepat saat tengah malam, Vian pamit pulang dan kembali ke mess.


Dion yang sudah lelah, memilih untuk segera membaringkan tubuhnya di ranjang di samping Tasya yang masih terlelap.


Dion memandangi wajah wanita yang sudah hampir lima tahun menjadi istrinya tersebut.


Sudah banyak waktu yang Dion lalui bersama Tasya dari sejak mereka duduk di bangku SMA hingga sekarang mereka sudah sama-sama dewasa.


Dion mengusap pipi Tasya, wanita itu sedikit menggeliat sebelum akhirnya kembali terlelap.


Dion pun segera memejamkan matanya dan terlelap menyusul Tasya ke alam mimpi.


*****


"Apa ada yang datang semalam?" Tanya Tasya pada Dion yang baru bangun. Pria itu menguap lebar sebelum duduk di salah satu kursi yang ada di samping meja makan.


Tasya sedang menyiapkan sarapan untuk Dion dan dirinya.


"Ya. Vian di sini hingga tengah malam" jawab Dion sambil memperhatikan penampikan Tasya pagi ini.


Tasya sudah selesai membuat roti isi untuk sarapan. Bergegas Tasya menyajikannya di meja makan.


"Kenapa kamu sudah rapi, Nat?" Tanya Dion bingung. Tasya sudah mengenakan setelan blouse dan celana panjang longgar.


Seperti saat Tasya akan pergi ke rumah sakit.


"Apa tidak terlalu cepat?" Tanya Dion khawatir.


Tasya menggeleng cepat.


"Terlalu lama di rumah hanya akan membuatku semakin sedih dan terus mengingat tentang Zhia. Jadi aku pikir sebaiknya aku mulai menjalani aktivitas normalku secepatnya. Lagipula, bukankah ini saatnya kita berdua melanjutkan hidup tanpa Zhia?" Tukas Tasya seraya menatap ke arah netra milik Dion.


Sejenak Dion hanya diam dan tak menjawab.


Tasya benar, mereka berdua memang harus mulai melanjutkan hidup dan tidak terus-menerus meratapi kepergian Zhia.


"Ya, kamu benar" jawab Dion singkat.


Dion mulai menggigit roti isi yang tadi di buat oleh Tasya.


Mereka berdua makan dalam diam.


"Nat, aku akan mengantarmu" tawar Dion setelah menghabiskan roti isinya.


"Kau bahkan belum mandi" Tasya sedikit mencebik. Menunggu Dion mandi sepertinya hanya akan membuang waktu.


"Aku akan mandi dan bersiap sebentar. Pliss, Nat. Aku akan mengantarmu" Dion memohon kali ini.


Tasya menghela nafas,


"Baiklah, aku akan menunggumu dua puluh menit jika lebih dari dua puluh menit dan kau belum selesai, aku akan turun ke bawah dan naik taksi saja" Tasya memberikan syarat.


Dion tak menjawab dan segera berlari ke kamar mandi yang ada di dalam kamar.


Tasya ikut masuk ke kamar dan menyiapkan baju ganti untuk Dion.


Ia sebenarnya masih memiliki banyak waktu sebelum pergi ke rumah sakit.


Tasya hanya ingin mengusili Dion tadi.


Tak sampai sepuluh menit, Dion sudah keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar.


"Lihat, aku sudah selesai yang mandi" ucap Dion sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk.


"Di, apa tidak sebaiknya kamu ke barbershop hari ini. Lihatlah! Rambutmu sudah gondrong begini" Tasya membantu Dion mengeringkan rambut gondrongnya.


Tasya terlalu sibuk dengan Zhia beberapa bulan terakhir, bahkan Tasya tak sempat lagi memperhatikan penampilan Dion yang berantakan.


Kumis dan jambang tipis juga mulai tumbuh di wajah Dion.


"Siap, bidadari" Dion mulai menggoda Tasya lagi.


Dion senang, karena raut kesedihan di wajah Tasya perlahan sudah mulai memudar.


Tasya tersenyum dan tersipu malu. Sepertinya sudah cukup lama, Dion tak memanggil Tasya dengan sebutan itu.


"Kamu ke kantor atau latihan hari ini?" Tanya Tasya mengalihkan topik pembicaraan.


"Ke kantor, lalu latihan sore." Jawab Dion singkat.


"Kamu pulang jam berapa? Bagaimana kalau aku menjemputmu saat makan siang. Kita sudah lama tidak makan siang di luar" ujar Dion sambil mengenakan kemeja yang tadi disiapkan oleh Tasya.


Tasya membantu Dion mengancingkan kemeja tersebut.

__ADS_1


"Baiklah, kamu bisa menjemputku saat makan siang. Tapi aku yang memilih tempat makan siangnya" Tasya membuat penawaran.


"Setuju!" Dion langsung mengacungkan ibu jarinya.


Tasya membantu Dion memasang dasi dan merapikan sekali lagi penampilan suaminya.


Baiklah sekarang mereka berdua bersikap seolah pengantin baru.


"Ayo berangkat!" Dion merangkul Tasya dan pasangan suami istri itu segera keluar dari apartemen, turun menuju basement gedung untuk mengambil mobil.


Dion melajukan mobilnya menembus jalanan ibukota yang mulai padat.


*****


Jam makan siang,


Tasya dan Dion sudah tiba di sebuah restoran pilihan Tasya.


Keduanya memiluh untuk duduk di meja yang ada di sudut restorant,


"Dion! Kamu belum memotong rambutmu" ucap Tasya dengan nada geram.


Dion hanya mengendikkan bahu dan tak merasa bersalah.


"Aku ingin kau mengantarku" jawab Dion dengan nada manja.


Tasya hanya memutar bola matanya.


Seorang pelayan datang membawa buku menu.


Tasya dan Dion khusyuk melihat berbagai menu yang tercantum di dalamnya. Sesekali mereka bertanya pada pelayan tersebut tentang menu yang terlihat asing.


Setelah membolak-balik buku menu, Tasya dan Dion akhirnya menentukan menu yang akan mereka pesan.


Sambil menunggu menu disiapkan, Tasya mulai membuka obrolan.


"Jadi kalian ngobrol apa semalam?" Tanya Tasya dengan nada serius.


"Siapa?" Tanya Dion polos.


Sepertinya pria itu belum nyambung apa yang sedang di bahas oleh Tasya.


Tasya menepuk keningnya sebelum akhirnya memutar bola matanya. Tasya sungguhi ingin mentyentil kening Dion sekarang.


"Kamu dan Vian, tadi malam ngomongin apa? Tanya Tasya dengan nada geram.


Sesaat Dion tergelak, karena sadar dirinya yang tiba-tiba menjadi lemot dan lambat berpikir.


"Obrolan sesama cowok. Apalagi memangnya?" Jawab Dion santai.


Tasya berdecak,


"Ada hal yang penting gitu? Tak mungkin Vian ke rumah malam-malam hanya untuk mengobrol unfaedah denganmu" protes Tasya yang merasa tak puas dengan jawaban dari Dion.


Dion tersenyum simpul, sepertinya pria itu memang senang sekali membuat istrinya kesal.


"Aku akan pensiun bermain basket, Nat." Jawab Dion singkat, namun mampu membuat Tasya terlonjak kaget.


Tasya memang pernah meminta Dion untuk berhenti menjadi pemain profesional, namun saat Dion benar-benar melakukannya kenapa mendadak ada perasaan bersalah di hati kecil Tasya?


"Dion, kenapa kamu mengambil keputusan ini tanpa berbicara dulu kepadaku" protes Tasya sekali lagi.


Dion baru akan menjawab, namun seorang pelayan sudah datang dan menyajikan makanan yang tadi di pesan oleh Tasya dan Dion.


Setelah pelayan itu selesai menyajikan makanan, barulah Dion mulai menjawab protes dari Tasya barusan.


"Nat, bukankah kamu yang memintaku untuk pensiun?" Tahya Dion tak mengerti. Beberapa bulan yang lalu istrinya ini ngotot minta Dion segera pensiun sebagai pemain profesional lantas kenapa srkarang malah dia merasa keberatan saat Dion benar-benar akan pensiun dari dunia basket.


"Iya, waktu itu aku tak serius, Di" Tasya mencoba mencari alasan yang pas.


Dion menarik nafas panjang, mengambil minuman yang ada di hadapannya lalu meneguk isinya hingga hanya tinggal setengah.


"Ini sudah keputusanku, Nat. Aku hanya ingin fokus ke perusahaan" jawab Dion diplomatis.


Gantian Tasya yang menghela nafas,


"Baiklah, kalau itu memang keputusanmu" tukas Tasya pada akhirnya.


Tasya bingung harus berkata apalagi.


Lagipula Dion pasti juga sudah memikirkannya matang-matang sebelum mengambil keputusan besar ini.


"Ayo makan!" Ujar Dion mencairkan ketegangan di antara mereka berdua.


Tasya hanya mengangguk dan segera menikmati makanan yang ada di atas meja di hadapannya.


*****


Tengah malam, Tasya terbangun dari tidurnya karena tenggorokannya terasa kering.


Tasya bangun dan segera meneguk segelas aur dingin yang selalu tersedia di atas nakas di samping tempat tidurnya.


Setelah mengerjapkan matanya beberapa kali, baru Tasya sadari kalau Dion tidak ada di sampingnya dan juga tak ada di dalam kamar.


Kemana pria itu?


Tasya bangkit dari atas tempat tidurnya dan berjalan menuju ke arah kamar mandi yang ada di sudut kamar tersebut.


Kosong juga.


Dion tak ada di sana.


Tasya keluar dari kamar dan akan memeriksa dapur,a namu langkahnya terhenti saat melihat lampu yang ada di kamar Zhia menyala.


Tasya mengernyit dan bertanya,


Apa Dion ada di dalam sana?


Tasya melangkah perlahan menuju pintu kamar yang setengah terbuka tersebut.


Sedikit mengintip dan Tasya mendapati Dion yang tengah memandangi foto-foto Zhia di dalam sana.


Bahkan Dion juga memeluk boneka beruang cokelat kesayangan Zhia.


Mungkinkah, Dion memang selalu merindukan Zhia selama ini?


Sesaat hati Tasya terasa perih. Air mata sudah mengggenang di pelupuk mata Tasya dan siap untuk meluncur turun.


Dion selalu menyembunyikan perasaan sedihnya selama ini. Namun tak bisa dipungkiri, lelaki itu ternyata memang sangat merindukan kehadiran seorang anak.


Dan mungkin saat dulu Zhia masih di rumah ini, Dion selalu bisa mencurahkan seluruh kasih sayangnya pada Zhia dan mengobati kerinduannya akan kehadiran seorang anak.


Namun kini saat Zhia sudah tak lagi ada di sini, mungkin hati Dion kembali terasa hampa. Tasya memilih untuk memalingkan wajahnya dan segera berlalu masuk kembali ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Tasya memilih untuk menangis dalam diam.


Saat ini, Tasya juga merindukan Zhia.


__ADS_2