Natasya

Natasya
Masih Marah


__ADS_3

"Sil, loe mau sampai kapan sih marah sama Tasya dan Salsa" Vina bertanya serius pada Silvi yang sedang memelototi buku menu.


Kedua gadis itu sedang nongkrong berdua di kafe.


"Gue gak marah ke mereka. Mereka aja yang sekarang jadi judes dan sombong" Silvi mengelak dan tak mau mengaku.


Sudah beberapa bulan berlalu, namun hatinya masih saja dongkol karena Tasya yang menyembunyikan hubungannya dengan Dion.


Sebagai seorang sahabat Silvi merasa tak dihargai.


"Yaelah, loe yang marah loe yang ngeles. Kemarin kemarin mereka nyapa loe, malah loe diam aja kayak patung" ucap Vina kesal.


"Lagian kenapa sih loe ribet nyariin mereka. Biasa kan kita berdua kemana mana juga tetap enjoy" protes Silvi tak terima.


"Gue kan kangen curhat sama Salsa. Capek juga kerjain tugas sekolah tanpa bantuan Salsa dan Tasya" Vina mengeluh.


"Dasar pemalas. Kapan pinternya loe kalau ngerjain tugas aja males" cibir Silvi.


Ia sudah selesai memilih makanan yang akan ia pesan.


Segera Silvi melambaikan tangan demi memanggil pelayan di kafe tersebut.


Seorang gadis berpakaian khas pelayan kafe menghampiri kedua gadis tersebut.


"Iya, mbak mau pesan apa jadinya?" suara yang terdengar tak asing di telinga Silvi dan Vina membuat kedua gadis itu menoleh bersamaan ke arah pelayan tersebut.


"Tasya, loe kerja disini?" Ucap Vina tak percaya.


"Mau pesan apa?" Tanya Tasya sekali lagi. Tak lupa senyuman hangat dan ramah Tasya sunggingkan di bibirnya.


"Emang Dion udah gak peduli ya, Sya sama loe. Sampe ngebiarin ceweknya kerja di kafe sepulang sekolah" sebuah nada mengejek Silvi lontarkan pada Tasya.


Refleks Vina langsung mencubit lengan Silvi, membuat gadis itu menjerit.


"Auuw, sakit, Vin" omel Silvi sambil melotot tajam ke arah Vina.


Tasya memilih untuk mengabaikan kata kata Silvi barusan. Tasya tahu, Silvi masih kesal padanya.


"Kita pesen ini, ini, sama ini aja, Sya" Vina menunjuk beberapa gambar yang ada di buku menu.


Silvi masih diam dan melotot tajam ke arah Vina.


"Baiklah, tunggu sebentar" kata Tasya kemudian. Tasya bergegas kembali ke dapur.

__ADS_1


"Loe tu kalo ngomong jangan asal mangap kenapa?" Gerutu Vina pada Silvi.


"Loe juga ngapain nyubit tangan gue. Kan sakit" balas Silvi galak.


Vina hanya nyengir.


"Iya, sorry. Makanya kalo ngomong di pikir dulu. Loe gak kasian sama Tasya. Mungkin aja mamanya lagi ada masalah keuangan, makanya dia kerja part time" Vina mulai menerka nerka.


"Kan dia bisa minta duit ke Dion. Punya cowok tajir gak diberdayakan mau buat apa coba?" Jawab Silvi sambil terkekeh.


"Hahaha, habis itu loe nanti ngecap Tasya cewek matre." Vina ikut ikutan tertawa.


"Terlalu polos tu bocah." Timpal Silvi.


Tasya sudah kembali membawa pesanan kedua gadis tersebut.


"Silahkan" ucap Tasya singkat sebelum berlalu meninggaljan meja Silvi dan Vina.


Tasya beralih untuk melayani pengunjung yang lain.


Silvi dan Vina kini sibuk menikmati makanan mereka.


Sepasang muda mudi yang baru datang duduk di meja dekat Vina dan Silvi.


"Woy lama gak kesini, bro. Cewek loe?" suara Denny yang entah darimana datangnya menyapa dua orang yang duduk tak jauh dari Silvi dan Vina.


Dua orang tersebut rupanya Bagas dan seorang cewek cantik berhijab yang tak dikenal oleh Vina.


"Iya, kenalin namanya Rena" Bagas memperkenalkan cewek tersebut pada Denny.


Vina mendadak kehilangan selera makannya. Diam diam dia menguping pembicaraan tiga orang tersebut.


Silvi masih cuek dan melanjutkan kegiatan makannya. Gadis itu, jika sudah berhadapan dengan makanan mau ada hujan badai juga dia bodoamat.


Setelah menguping, dapat Vina tarik kesimpulan bahwa cewek berhijab tersebut adalah ceweknya Bagas.


Mendadak hati Vina terasa sakit.


Belakangan ini perasaannya pada Bagas seperti di respon oleh Bagas. Ya meskipun belum ada status apapun diantara mereka, namun Bagas sering menyapa dan menanggapi saat Vina mengajaknya mengobrol


Tentu Saja Vina menaruh harapan besar pada Bagas. Ia berharap cintanya akan disambut dan berakhir dengan indah, tapi hari ini Vina mendapati kenyataan bahwa Bagas ternyata sudah memiliki kekasih.


Hati Vina terasa sakit dan hancur.

__ADS_1


Air mata Vina jatuh tanpa ia sadari.


Silvi yang sudah selesai menyantap makanannya, sedikit heran saat mendapati sahabatnya tengah menangis.


"Vin, loe kenapa?" Tanya Silvi bingung.


"Gue mau balik, Sil" ucap Vina sambil menghapus airmatanya.


"Kenapa mendadak minta balik? Makanan loe aja belum loe makan" Silvi menatap prihatin pada makanan di atas meja yang kini sudah mulai dingin karena di abaikan oleh Vina.


"Gue balik duluan" ucap Vina sambil bangkit berdiri dari kursinya. Dengan tergesa Vina meninggalkan Silvi yang masih melongo dan bertanya tanya.


"Vin, Vina" panggil Silvi agak keras. Namun Vina seperti tak menghiraukannya dan terus saja berjalan menuju pintu keluar kafe, hingga akhirnya menghilang ke arah jalan di depan kafe.


Denny dan Bagas yang mendengar teriakan Silvi, langsung menoleh ke arah gadis tersebut.


"Sil, loe nongkrong disini juga?" Tanya Bagas sedikit terkejut.


Silvi yang mendapati Bagas dan Denny duduk tak jauh dari mejanya, ikut terkejut.


"Bagas, Denny. Kalian ngapain disini?" Tanya Silvi terkejut.


"Loe gak tahu? Ini kan kafenya Denny" jawab Bagas sambil menunjuk ke arah Denny.


"Bisa aja loe, ini kafe bokap gue, Sil. Bukan punya gue" sangkal Denny.


Silvi tampak manggut manggut.


Akhirnya Silvi ikut bergabung di meja Bagas.


"Itu, siapa?" Silvi menunjuk ke arah cewek berhijab yang tampak malu malu duduk di sebelah Bagas.


"Oh, kenalin ini cewek gue, Rena." Bagas memperkenalkan cewek tersebut pada Silvi.


Silvi pun menjabat tangan Rena sebagai tanda perkenalan.


"Loe sendirian kesini?" Tanya Denny pada Silvi.


"Gue tadi bareng Vina, tapi mendadak tu anak kabur gak tahu kemana" Silvi mengendikkan bahu.


"Yaudah, loe gabung sama kita aja disini" usul Bagas.


Silvi mengangguk.

__ADS_1


Mereka berempat melanjutkan obrolan dengan asyik dan santai.


__ADS_2