
"Aku tidak mau, El. Bayi-bayiku tidak akan bertahan jika mereka harus dilahirkan sekarang" butir-butir airmata sudah jatuh di kedua pipi Tasya.
"Sya, dengarkan dulu penjelasan dokter Adhi" Elena berusaha untuk menenangkan Tasya yang sekarang mulai histeris.
"Tekanan darahmu tinggi, Sya. Hasil protein urinmu juga positif. Ini gejala preekslampsia. Dan ini berbahaya untuk janinmu jika kita tidak segera mengambil keputusan" jelas dokter Adhi panjang lebar.
"Tidak, aku baik-baik saja. Aku kuat. Aku akan bisa bertahan. Tunggulah satu bulan lagi sampai mereka siap dilahirkan. Aku akan bertahan" Tasya masih mencoba untuk membantah.
Elena berdecak,
"Sya jangan egois seperti ini. Kita akan memberikan suntikan untuk janinmu agar mereka siap di lahirkan" Elena mencoba untuk ikut membujuk Tasya.
"Lalu memasukkan mereka ke inkubator? Mereka masih terlalu kecil, El. Mereka tidak akan bisa bertahan." Tasya sudah menangis tersedu-sedu sekarang.
Elena menghela nafas frustasi.
Lebih sulit ternyata jika menjelaskan tentang kelahiran prematur pada seorang dokter anak yang sudah khatam menangani bayi-bayi prematur.
Tentu saja Tasya sudah paham dengan semua resiko itu.
Elena yakin, Tasya bukan hanya sekali dua kali menangani bayi-bayi yang lahir prematur.
Saat masih praktek sebagai dokter anak, Tasya pasti sudah sering menangani bayi-bayi yang terpaksa lahir prematur yang sebagian besar dari mereka memang hanya mampu bertahan selama beberapa hari saja.
Dan tentu saja Tasya tidak mau jika hal itu terjadi pada kedua bayinya.
"Kami bertiga akan baik-baik saja, El. Tolong jangan paksa aku untuk melahirkan bayi-bayiku sekarang" ucap Tasya lirih seraya menatap ke arah Elena. Ada tatapan memohon di sana.
"Terlalu besar resikonya jika kita menunggu satu bulan lagi, Sya" Dokter Adhi ikut menjelaskan.
"Pasti ada cara" Tasya masih bersikeras.
"Aku akan bedrest, aku akan minum semua obat dan vitamin yang kalian berikan aku akan menuruti semua yang kalian katakan, asal jangan paksa aku untuk melahirkan bayiku sekarang" Tasya sudah mulai putus asa sekarang.
Dokter Adhi dan Elena menghela bersamaan.
Terselip rasa iba di hati mereka melihat wajah lesu dan putus asa Tasya saat ini.
"Ada infeksi di rahimmu, Sya" ucap Elena lirih.
Sungguh Elena tak sampai hati menyampaikan kabar buruk ini pada Tasya.
Dan kali ini Tasya tertegun tak percaya,
Cobaan apalagi ini?
"Bayimu mungkin akan bertahan, tapi kamu..." Elena membuang wajahnya. Ia sungguh tak sanggup menyampaikan berita ini.
Meskipun dirinya seorang dokter tapi menyampaikan kabar buruk kepada sahabat baiknya, bukanlah satu hal yang mudah.
Air mata Elena sudah turun membasahi kedua pipinya sekarang.
"Aku akan bertahan, El. Aku kuat" ucap Tasya dengan pandangan kosong.
"Resikonya terlalu besar, Sya. Kamu bisa pendarahan hebat dan..." Elena memejamkan matanya. Ia tidak bisa mengatakan ini.
Kenapa hal buruk seperti ini harus menimpa Tasya, sahabat baiknya?
Elena paham betul perjuangan Tasya yang tak sebentar sampai akhirnya wanita itu di nyatakan hamil.
"Aku akan menanggung semua resiko itu, El. Demi kedua bayiku" jawab Tasya sendu seraya mengusap perutnya yang membulat sempurna.
Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi Tasya dan Dion untuk menantikan kehadiran buah hati.
Tasya tahu bagaimana Dion sangat menantikan kehadiran bayi-bayi ini.
Tasya hanya tidak mau membuat Dion kecewa lagi untuk kesekian lagi.
Tasya yakin,
Tasya akan bertahan,
Tasya pasti bisa menghadapi ini semua.
"Akan kuresepkan obat antihipertensi" ucap dokter Adhi akhirnya.
Tasya benar-benar keras kepala.
Rasanya sia-sia saja bicara pada pasiennya yang satu ini.
"Kamu harus benar-benar istirahat, Sya. Jangan melakukan pekerjaan apapun di rumah. Aku akan bicara pada Dion nanti" tambah Elena.
Tasya hanya mengangguk samar. Bibirnya masih diam dan tatapannya masih kosong.
"Kamu juga harus kembali kesini satu pekan lagi. Elena akan terus memantau kondisimu" pesan dokter Adhi yang kini sudah selesai menulis resep.
"Terima kasih, dokter" ucap Tasya lirih.
Dokter Adhi mengangguk dan memaksa untuk tersenyum. Pria itu menyodorkan kotak tisu pada Tasya dan Elena.
__ADS_1
Elena membantu Tasya mengusap sisa-sisa airmata di wajah Tasya yang kini terlihat lesu. Elena juga merapikan anak rambut Tasya yang berserakan menutupi dahi serta wajah Tasya.
"Aku akan mengantarnya pulang" pamit Elena pada Dokter Adhi.
"Sya, tolong jangan stress. Aku percaya kamu wanita yang kuat" pesan dokter Adhi sekali lagi sebelum dua wanita itu meninggalkan ruangannya.
Tasya mengangguk, sedikit memaksakan senyum di bibirnya.
"Terima kasih atas pengertiannya, dok. Saya pamit dulu. Selamat sore" pamit Tasya akhirnya.
Elena juga berpamitan pada Dokter Adhi sebelum akhirnya mengekori Tasya untuk keluar dari area poli kandungan.
Keduanya mampir sebentar ke apotik rumah sakit untuk mengambil obat.
Saat dua wanita itu meninggalkan rumah sakit, matahari sudah condong ke arah barat.
Hari sudah sore.
Elena memilih melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menembus jalanan kota yang sudah mulai padat.
Tidak ada obrolan.
Baik Tasya maupun Elena sama-sama diam seperti enggan untuk memulai sebuah obrolan.
Dua wanita itu larut dalam pikiran mereka masing-masing.
Tasya menatap jalan di depannya dengan pandangan kosong. Pikirannya sudah mengembara entah ke mana.
Tasya tidak tahu bagaimana ia akan menjelaskan pada Dion semua hal buruk ini.
Dion pasti akan sedih.
Tasya hanya tidak mau melihat Dion sedih atau kecewa.
"Sya!" Teguran dari Elena membuyarkan semua lamunan Tasya.
Mobil Elena sudah berhenti di depan rumah Tasya sekarang.
"Kita sudah sampai. Ayo!" Ucap Elena lagi.
Wanita itu membuka sabuk pengamannya dan lanjut keluar dari dalam mobil.
Tasya juga segera membuka sabuk pengaman dan ikut turun.
Mobil Dion sudah terparkir di garasi rumah mereka.
"El," Baru saja Elena akan masuk ke halaman rumah Tasya, namun seruan dari Tasya menghentikan langkah Elena. Wanita itu berbalik dan mengernyitkan dahi ke arah Tasya.
"Tapi, Sya..." Elena belum menyelesaikan kalimatnya namun Tasya sudah memotongnya dengan cepat.
"Aku sendiri yang akan mengatakan semuanya pada Dion" ucap Tasya memotong kalimat Elena barusan.
Elena menghela nafas.
Dion memang harus tahu semuanya, namun jika Tasya meminta Elena untuk diam, Elena bisa apa sekarang?
Elena percaya pada Tasya,
Tasya pasti akan mengatakan semua hal ini pada Dion saat waktunya tepat, dan Elena tidak ada hak untuk ikut campur.
"Baiklah, aku akan diam" jawab Elena yang akhirnya membuat Tasya bernafas lega.
"Hai, sayang. Dari mana?" Dion sudah berdiri di teras rumah menyambut kedatanagn Tasya dan Elena.
Tasya mengendikkan bahu,
"El mengajakku jalan-jalan sebentar untuk menghirup udara segar" jawab Tasya berbohong.
"Aku pikir mungkin dia jenuh di rumah, jadi mumpung aku sedang ada waktu luang jadilah ku membawanya jalan-jalan sebentar" Elena ikut menimpali. Senyuman hangat terkembang di bibir wanita tersebut.
Dion hanya mengangguk.
"Kau bisa menelponku padahal jika ingin jalan-jalan. Kenapa harus merepotkan Elena?" Tukas Dion merasa sungkan.
"Aku sudah bersamamu setiap hari, Di. Aku juga butuh menikmati waktu bersama teman wanitaku. Agar kami bisa mengobrol sesama wanita" Tasya mencari alasan.
"Baiklah, baiklah. Apapun itu asal kamu senang aku juga senang." Dion memilih untuk mengalah. Berdebat dengan Natasya sepertinya hanya akan membuat dirinya dalam masalah.
Perempuan selalu benar, bukan begitu?
"Ayo, El! Masuk ke dalam" Dion memilih untuk mengajak istri dari sahabatnya tersebut masuk ke dalam rumah.
"Tidak, Di. Terima kasih. Hari sudah sore dan aku harus segera pulang" Elena memilih untuk menolak ajakan Dion. Elena memang belum pulang ke rumah sejak tadi siang dan Rhea juga masih di rumah sang mama. Belum lagi Egi yang sebentar lagi juga akan pulang dari kantornya.
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih sudah menemani Tasya hari ini" tukas Dion pada akhirnya, pria itu tidak mau memaksa Elena.
"Terima kasih El, untuk hari ini" Tasya ikut menimpali dan berbasa-basi pada Elena.
"Baiklah aku pulang dulu. Bye" Elena melambaikan tangan pada pasangan suam fi istri yang juga merupakan sahabatnya tersebut.
__ADS_1
Tak berselang lama, mobil Elena sudah meluncur meninggalkan rumah Tasya dan Dion.
Setelah kepergian Elena, Tasya dan Dion segera masuk ke dalam rumah. Tasya menghenyakkan dirinya ke sofa yang ada ruang tamu.
Tubuhnya benar-benar terasa lelah.
"Jadi, kalian kemana tadi?" Tanya Dion kepo. Pria itu sudah duduk di sofa di samping Tasya.
"Urusan wanita, aku yakin kau tidak akan paham" jawab Tasya asal.
Tasya masih belum yakin untuk membahas kondisi kehamilannya pada Dion.
Atau mungkin Tasya memang berniat untuk tidak memberitahu Dion?
Tasya masih berharap jika pekan depan kondisinya akan tiba-tiba membaik, jadi Tasya tidak perlu membuat Dion khawatir.
Dion berdecak,
Pria itu merangkul pundak sang istri untuk ia bawa ke dalam pelukannya. Sesaat pandangan Dion tertumbuk ke arah kaki Tasya yang masih bengkak
"Bagaimana dengan bengkak di kakimu. Kau tidak menanyakannya pada Elena?" Tanya Dion mengalihkan topik pembicaraan.
Dion melepaskan pelukannya pada Tasya dan menyusun bantal di pinggir sofa.
Dion meminta Tasya untuk bersandar di bantal tadi lalu membawa kaki bengkak Tasya ke atas pangkuannya.
Sekarang Dion memijit kaki Tasya dengan lembut.
"Ya, aku sudah menanyakannya. Kau tahu apa yang dikatakan Elena?" Tasya memasang wajah sok serius yang benar-benar sukses membuat Dion khawatir
"Apa memang? Apa ini berbahaya?" Tanya Dion khawatir. Bahkan wajah pria itu sudah pucat sekarang.
"Kata El, aku harus banyak istirahat dan tidak boleh melakukan pekerjaan rumah" lanjut Tasya dengan nada santai. Raut serius di wajah Tasya seperti menguap begitu saja.
Sontak hal ini membuat Dion menjadi geram.
Ia sudah benar-benar khawatir tadinya. Namun sang istri malah mengusilinya.
"Bukankah selama ini aku sudah melarangmu? Kamu saja yang selalu keras kepala dan tidak mau menurut" Dion berdecak berulang kali.
Sejak perut Tasya mulai membesar, sebenarnya Dion memang melarang Tasya mengerjakan pekerjaan rumah. Dion bisa menghandel semuanya meskipun kadang sedikit keteteran, apalagi jika dirinya ada meeting mendadak di kantor.
Tapi selama ini Tasya selalu mengabaikan larangan dari Dion.
Tasya selalu beralasan jika dirinya butuh banyak bergerak agar janinnya juga aktif.
Akhirnya karena enggan berdebat dengan sang istri, Dion memilih untuk membiarkan saja Tasya melakukan pekerjaan rumah yang dia mau. Meski kadang Dion melihat Tasya yang mulai kesulitan saat harus mencuci piring atau menyapu rumah.
Namun tetap saja, jika Dion menegur Tasya akan selalu mengabaikannya.
Huh, dasar ibu hamil bebal!
Tasya sudah memejamkan matanya dan tertidur sekarang. Pijatan lembut dari Dion benar-benar membuatnya merasa nyaman.
Dion memandang wajah Tasya dan tersenyum tipis.
Tangannya terulur untuk mengusap perut buncit sang istri.
Dug,
Sebuah tendangan dari calon bayinya bisa Dion rasakan sekarang.
Mata Dion langsung berbinar bahagia. Senyumannya juga semakin lebar.
Tinggal menghitung hari, dan Dion akan segera berjumpa dengan kedua buah hatinya.
Dion sungguh tak sabar menantikan saat itu tiba.
Dion menatap sekali lagi wajah tenang Tasya yang kini tertidur.
Wanita yang sudah hidup bersamanya selama lebih dari lima tahun tersebut, benar-benar sudah banyak memberinya pelajaran hidup.
Dion dan Tasya sudah menjalin hubungan sejak keduanya masih duduk di bangku SMA. Dan saat itu tak pernah sedikitpun terlintas di benak Dion jika pada akhirnya Tasya lah yang akan menjadi istrinya hingga kini
Bahkan saat itu Dion sempat cuek dan acuh pada Tasya saat mereka pertama kali berkenalan.
Dion tersenyum simpul,
Pria itu mengingat kembali bagaimana jatuh bangun hubungannya dengan Tasya saat itu.
Dion yang masih labil dengan emosinya dan Tasya yang selalu cengeng dengan masalah-masalah kecil.
Dion menghela nafas.
Tasya sudah terlelap. Dion perlahan bangkit dari duduknya dan sedikit membenarkan posisi tidur Tasya agar istrinya tersebut merasa nyaman.
Tak lupa Dion mengambil selimut dari kamar untuk menutupi tubuh Tasya yang kini sudah lumayan gendut dan berisi. Pipi Tasya yang sempat tirus di awal kehamilan kini juga sudah kembali chubby, membuat Dion gemas untuk selalu mengecupnya atau sekedar memberikan cubitan manja.
Setelah mengecup kening Tasya, Dion segera beranjak dari ruangan tersebut.
__ADS_1
Dion lanjut masuk ke dapur untuk memasak makan malam.