Natasya

Natasya
Pulang


__ADS_3

"Dion sama kak Kevin saudara?" Tasya masih tak percaya.


"Mereka saudara tiri, Sya" jelas Silvi.


"Tahu darimana?" Tasya masih belum percaya.


Sifat keduanya memang berbeda jauh, sama seperti yang dikatakan Vina barusan.


"Gue sepupu mereka, Sya" ucap Silvi bersungguh-sungguh.


Tasya melihat ke arah Dion yang masih terdiam di tengah lapangan.


Tasya tidak tahu sebenarnya perasaan apa yang kini sedang dialaminya.


Tapi Tasya bisa menangkap sebuah kesedihan di raut wajah Dion.


"Kok loe mendadak kaget gitu, Sya? Emang loe kenal sama Dion?" Salsa mulai curiga.


Mereka melanjutkan langkah menuju ke halaman parkir.


"Ee..enggak kok. Gue cuma heran aja. Masa kakak beradik berantem gitu di tengah lapangan" jawaban ambigu dari Tasya.


Tapi teman-temannya hanya manggut-manggut.


"Mereka emang gak pernah akur, Sya" timpal Silvi.


"Kirain loe ada something sama Dion hahaha" Salsa tertawa sumbang.


Silvi, Tasya dan Vina menatap heran pada Salsa.


"Apa?" Salsa pura-pura **** sekarang.


Ketiga temannya hanya memutar bola mata.


"Dion, cowok dingin begitu gak cocoklah buat Tasya. Masih mending kak Kevin yang kalem pas banget sama Tasya" Silvi berasumsi.


"Kok jadi gue sih?" Tasya merasa tak terima.


"Hahaha, jangan ngambek dong, Sya. Kita bercanda aja kok." ucap Silvi sambil mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V.


Tasya hanya mencebik.


"Udah ah pulang yuk! Ngantuk gue" Salsa menguap lebar menandakan ia benar-benar lelah dan mengantuk sekarang.


"Astaga Sal, itu mulut ditutup kenapa? Ada lalat masuk keselek loe" ucap Vina asal bunyi.


Sontak Tasya dan Silvi langsung tertawa terbahak-bahak.


"Bodo ah. Bukan urusan loe. Mulut-mulut gue kok loe yang ribet" Salsa langsung masuk ke dalam mobil dan tidak mau berdebat lagi dengan temannya tersebut.


Vina hanya geleng-geleng kepala, dan menyusul masuk ke dalam mobil Silvi.


Begitu pula dengan Silvi dan Tasya.

__ADS_1


Mereka sudah duduk di posisi masing masing sekarang. Siap untuk pulang ke rumah masing masing.


*****


Sore hari yang cerah.


Tasya sedang duduk santai di teras rumahnya. Sesekali ia melihat ke halaman rumah tante Desi.


Tapi di sana tampak sepi.


Motor Dion yang biasanya terparkir di teras rumah juga tidak kelihatan.


"Mungkin Dion udah pulang ke rumahnya dan gak nginep di situ lagi" pikir Tasya.


Tante Desi tampaknya juga sedang tidak di rumah.


Tasya menghela nafas panjang lalu kembali melanjutkan membaca novel yang tadi ia bawa.


Suara motor mama Sarla mulai terdengar memasuki halaman rumah. Tasya segera berdiri untuk menyambut mamanya yang baru pulang dari kantor.


"Tumben di luar Sya" ucap Mama Sarla sedikit heran.


"Iya, Ma. Suntuk di rumah. Gak ada temen" jawab Tasya sekenanya.


"Yaudah, sekarang masuk yuk!" Ajak sang mama.


Tasya segera berjalan masuk ke rumah mengikuti mamanya.


Setelah makan malam, Tasya memutuskan untuk segera pergi tidur.


Entah mengapa Tasya masih saja memikirkan Dion.


Senyuman tipis dari Dion serta wajah sedih Dion yang tertunduk di tengah lapangan terus saja berputar-putar di kepala Tasya.


*****


Dion memarkirkan motornya di halaman rumah papanya.


Rumah yang cukup besar tapi terasa asing untuk Dion.


Dulu, saat mama Devi masih ada Dion selalu merindukan rumah ini.


Dulu, rumah ini selalu terasa hangat.


Dion masih ingat saat mama Devi berdiri di teras rumah dan menyambut Dion yang baru pulang sekolah.


Tapi kini, semua kenangan itu sudah menguap pergi bersama dengan kepergian mama Devi.


Dion merasa asing di rumahnya sendiri.


Cukup lama Dion duduk di atas motornya dan hanya memandangi rumah di depannya itu.


Hati Dion mendadak sakit.

__ADS_1


Ayah memang menyayanginya selama ini.


Ayah selalu memberikan apapun yang dibutuhkan oleh Dion,


tapi Dion tetap saja belum bisa menerima wanita lain sebagai pengganti sang mama di rumah ini.


Dion turun dari motornya dengan malas. Ia berjalan menuju teras rumah yang masih tetap sama seperti dulu.


Hanya saja, sekarang mama Devi tak lagi ada di sana untuk menyambut Dion.


Saat sampai di teras, seorang wanita paruh baya menyapa Dion.


Wanita berambut pendek sebahu itu masih tetap terlihat cantik di usianya yang menginjak kepala empat.


Senyumnya ramah tatapan matanya hangat.


"Dion, baru pulang nak?" Sapa mama Wina ramah. Dion tak menjawab dan berlalu begitu saja.


Mama Wina menarik nafas mencoba mengumpulkan kesabaran.


Memang sejak dulu Dion selalu acuh padanya.


Dion selalu mengira bahwa mama Wina yang sudah merusak kebahagiaan keluarga Dion.


Dion selalu menganggap mama Wina yang sudah merebut papa Rian dari mama Devi.


Dion selalu membenci mama Wina, meskipun mama Wina menyayangi Dion dan selalu bersikap lembut pada Dion.


"Makan dulu Di," mama Wina masih tetap bersikap hangat pada Dion.


Namun anak laki-laki itu tetap saja cuek dan mengabaikannya.


Dion berlalu begitu saja dan memilih untuk langsung masuk ke kamarnya.


"Siapa Ma?" Papa Rian yang baru keluar dari ruang kerjanya menghampiri istrinya tersebut.


"Dion, baru aja pulang" lapor mama Wina.


"Dimana? Papa akan bicara padanya" papa Rian bergegas menyusul Dion ke kamarnya, namun mama Wina mencegahnya.


"Nanti Pa, biarkan Dion istirahat dulu" cegah mama Wina.


Papa Rian menghentikan langkahnya dan membenarkan perkataan istrinya tersebut.


Keduanya pun melangkah ke ruang keluarga untuk bersantai.


Dion masuk ke kamar yang entah sudah berapa hari tidak dia tempati.


Dion merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya.


Hanya di sini tempat yang paling nyaman bagi Dion saat berada di rumah ini.


Dion menatap ke langit langit kamarnya.

__ADS_1


Senyuman Tasya tadi pagi mendadak melintas di pikiran Dion.


"Gadis itu, kenapa aku selaku memikirkannya" gumam Dion pada dirinya sendiri.


__ADS_2