Natasya

Natasya
Tasya Menghilang


__ADS_3

"Hai girls" Kevin menyapa Silvi dan kawan-kawannya.


"Hai, Kak. Sukses nih acaranya" jawab Silvi membalas sapaan dari Kevin.


"Iya. Mana Tasya?" Tanya Kevin langsung to the point.


"Cih, yang nyapa tapi cuma mau nyariin Tasya" Vina mencibir.


Silvi hanya terkekeh.


Sementara Salsa masih sibuk dengan makanan di piringnya.


"Namanya juga usaha" Kevin menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Vina memutar bola matanya.


"Tasya tadi ke toilet kak" Silvi yang menjawab pertanyaan dari Kevin.


"Berarti bentar lagi balik dong? Kakak ikut duduk disini aja ya" Kevin nyengir dan langsung duduk di kursi kosong yang ada di dekat Silvi.


Vina dan teman-temannya kembali fokus ke pertunjukan dan berusaha mengabaikan Kevin yang kini duduk santai sambil memainkan ponselnya.


Setelah cukup lama menunggu, Kevin mulai gelisah karena Tasya tak kunjung datang.


Salsa juga bolak-balik melihat ke arah jalan menuju toilet. Namun Tasya tak kunjung terlihat.


"Kok Tasya belum balik balik ya?" Nada khawatir terdengar jelas dari cara bicara Salsa.


"Iya nih, ke toilet lama banget" timpal Silvi yang mulai ikut-ikutan khawatir.


Vina merogoh ponsel yang ada di tasnya lalu mulai menelpon Tasya.


"Gak diangkat, kemana sih tu anak?" Vina ikut-ikutan khawatir sekarang.


"Susulin ke toilet aja. Perasaan kakak kok jadi gak enak" usul Kevin. Ketiga gadis itupun mengangguk secara serempak. Lalu mereka berempat berjalan menuju toilet cewek.


Satu per satu bilik toilet mereka periksa, namun hasilnya nihil.


Kemana Tasya pergi?


*****


Tasya dan Dion sudah berada di halaman parkir sekolah. Mereka memutuskan untuk pulang duluan meskipun acara belum selesai.

__ADS_1


"Ayo Nat," ajak Dion yang sudah siap diatas motornya.


Tasya segera naik ke atas motor Dion dan mereka pun melaju pulang menuju rumah Tasya.


Sepanjang perjalanan pulang, Tasya dan Dion tak berhenti tertawa membahas kekonyolan teman-teman Dion.


Mereka sudah sampai di depan rumah Tasya sekarang.


Tasya turun dari motor Dion dan mengucapkan terima kasih.


Saat itulah Tasya menyadari ponselnya bergetar menandakan ada panggilan masuk.


Bergegas Tasya membuka ponselnya.


Nama Vina tertera di layar ponsel Tasya.


"Ya ampun" Tasya menepuk keningnya.


"Kenapa, Nat?" Tanya Dion sedikit heran.


"Aku tadi belum pamit sama Salsa dan yang lain. Tadi aku bilangnya mau ke toilet pasti mereka bingung nyariin aku" Tasya mulai panik.


Ponselnya kembali bergetar. Vina menelponnya sekali lagi.


"Tenang dulu, Nat" Dion berusaha menenangkan Tasya yang sudah panik.


Tasya mengangguk dan segera melakukan seperti yang di katakan Dion.


"Halo, Vin" Tasya mengangkat telpon dari Vina


"Sya, loe dimana. Kita panik nyariin loe. Dari tadi gue telpon kenapa gak diangkat-angkat?" Vina langsung mencecar Tasya dengan pertanyaan bertubi-tubi.


"Sorry Vin. Tadi mama jemput aku ke sekolah karena mama khawatir. Jadi aku langsung ikut mama pulang dan gak sempet pamit sama kalian.


Ponsel juga aku silent jadi gak tahu kalo ada telpon" jelas Tasya merasa bersalah.


"Trus sekarang loe udah dimana?" Tanya Vina lagi.


"Aku udah sampe rumah. Maaf banget ya Vin. Sampein maaf aku buat Salsa dan Silvi juga" masih terdengar nada bersalah dari cara bicara Tasya.


Ia merasa bersalah sekarang karena sudah membuat teman-temannya panik dan khawatir.


"Syukur deh kalo loe udah dirumah. Udah santai aja. Gak usah terlalu di pikirin. Kita tadi cuma khawatir" kata Vina menenangkan Tasya.

__ADS_1


Tasya pun menutup telpon dari Vina dan sedikit bernafas lega.


Dion masih diam di tempatnya menunggu Tasya masuk ke dalam rumahnya.


"Makasih ya, Di. Udah nganterin aku pulang" ucap Tasya tulus.


Dion mengangguk sambil tersenyum


"Aku langsung pulang ya" Dion mengacak rambut Tasya sambil tersenyum.


Tasya sedikit manyun tapi akhirnya mengangguk dan melambaikan tangan pada Dion.


Tasya memandang Dion yang berlalu pergi sampai tak tampak lagi.


Setelah itu Tasya bergegas masuk ke dalam rumah. Senyuman di bibirnya masih terus merekah seolah menggambarkan suasana hatinya yang tengah bahagia.


*****


Kevin mengusap wajahnya dengan kasar. Gagal sudah rencananya malam ini.


Sebenarnya tadi Kevin sudah akan menemui Tasya sejak acara dimulai. Namun lagi-lagi posisinya sebagai ketua OSIS membuatnya harus menahan diri dan fokus ke acara pensi terlebih dahulu.


Saat dia sudah bebas dari tugas, bayangan untuk ngobrol atau sekedar mojok berdua bersama Tasya sudah menari-nari di pikiran Kevin.


Namun saat mendapati kenyataan bahwa Tasya sudah tidak ada di sekolah saat dirinya datang, mendadak semua rencananya sirna.


Kini Kevin merasa frustasi.


Kevin beberapa kali mengirim pesan ke Tasya, namun tak ada satupun yang dibaca oleh Tasya.


"Selow kak, masih banyak kesempatan buat pedekate sama Tasya" Silvi menghampiri sepupunya yang terlihat murung tersebut.


"Kesel gue" keluh Kevin sedikit ketus.


Silvi hanya menghela nafas.


Apa sepupunya ini sekarang udah jadi bucin?


Gara-gara ditinggal pulang Tasya aja sampe frustasi begitu.


Toh besok masih bisa ketemu Tasya di sekolah.


Silvi memutar bola matanya. Mendadak ikut kesal melihat tingkah Kevin yang menurutnya terlalu berlebihan.

__ADS_1


"Ya udah, Kak. Aku mau balik. Udah malam juga" Silvi beranjak meninggalkan Kevin yang masih diam membeku.


Silvi menghampiri Salsa dan Vina, mengajak keduanya untuk segera pulang. Karena suasana mendadak menjadi membosankan.


__ADS_2