
"Weiits. Yang pacaran udah selesai" Rizky yang terlebih dahulu menggoda Dion dan Tasya.
Ucapan dari Rizky langsung disusul tawa dari teman-temannya.
"Anak orang loe apain, Di?" Denny menimpali.
Sontak teman-teman Dion yang tadi hanya tertawa kini semakin terbahak-bahak mendengar ucapan Denny yang ceplas-ceplos
"Sialan loe" Dion melemparkan bola basket ke arah teman-temannya.
Sontak teman-teman Dion langsung berlarian menghindari lemparan bola dari Dion.
Berbeda dengan Tasya yang kini hanya berdiri menunduk di pinggir lapangan demi menyembunyikan rasa malunya.
"Udah loe tembak belum?" Julian sedikit berbisik pada Dion sambil menyenggol lengan sahabatnya tersebut.
Dion hanya mengendikkan bahu.
"Nat," panggil Dion pada Tasya.
Tasya mengangkat wajahnya dan memandang Dion.
Dion melambaikan tangannya pada Tasya memberi kode agar Tasya mendekat ke arah dia dan teman-temannya.
Tasya pun berjalan menuju lapangan.
"Kok Nat?" Tanya Rizky bingung
"Namanya kan Natasya. Panggilan kesayangan mungkin" Julian yang menjawab sambil mengira ngira.
Dion hanya nyengir.
Tasya sudah mendekati Dion dan teman-temannya.
Bergegas Dion merangkul Tasya dan mengenalkannya pada teman-teman satu tim nya.
"Kenalin temen-temen gue" ucap Dion sambil menunjuk ke arah teman-temannya.
"Eh, gue udah kenal kok sama Tasya" protes Julian.
"Gue juga gak ada niat buat ngenalin loe ama Tasya" jawab Dion seenaknya. Sontak teman-teman mereka yang lain langsung tertawa.
"Kenalin, yang resek ini namanya Rizky.
Yang sok tahu ini namamya Denny,
Dan yang diem-diem menghanyutkan ini namanya Bagas" Dion memperkenalkan satu persatu temannya pada Tasya.
__ADS_1
Dan Tasya menyalami mereka satu-satu.
"Masa gue diem-diem menghanyutkan, dikira air gitu?" Protes Bagas tak terima.
"Trus maunya apa? Bagas sang buaya gitu?" Ujar Rizky yang kemudian membuat semua yang ada di lapangan itu tertawa.
"Hahaha buaya tapi jomblo abadi" timpal Julian sambil tertawa terbahak-bahak.
"Biarin jomblo daripada elo culun" balas Bagas dengan puas.
Tasya hanya tertawa menyaksikan kelakuan teman-teman Dion yang sungguh kocak menurutnya.
"Udah udah. Pada pulang gih. Latihannya besok aja" Dion berusaha menengahi konflik konyol diantara teman-temannya.
"What? Jadi kita tadi panas-panasan, duduk disini sampai lumutan, cuma disuruh nungguin elo pacaran sama Tasya gitu?" Protes Denny lebay.
"Lebay loe. Apanya yang lumutan? Emang muka loe aja udah usang dari sononya" jawab Dion sambil berlalu meninggalkan teman-temannya.
Tak lupa Dion menarik tangan Tasya dan menggandengnya meninggalkan lapangan tersebut.
Masih terdengar suara tawa dari teman-teman Dion.
"Di, loe mo kemana?" Tanya Julian pura-pura ****.
"Mo nganterin Tasya pulang. Kalian semua pulang juga gih" jawab Dion sedikit berteriak.
*****
"Tasya belum pulang ya, Jeng?" Tanya tante Desi pada mama Sarla.
Saat ini keduanya tengah mengobrol di teras rumah Tasya.
"Iya, tadi katanya ada kegiatan di sekolah." Jelas mama Sarla.
"Oh, begitu. Dion juga sudah beberapa hari ini belum main ke sini" curhat tante Desi.
"Mungkin memang kegiatan mereka lagi padat jeng di sekolah" ucap mama Sarla mencoba menghibur tetangganya tersebut.
Beberapa saat kemudian terdengar suara motor Dion yang masuk ke halaman rumah Tasya.
Tasya turun dari motor Dion dan segera berjalan ke teras untuk menyapa mama Sarla dan tante Desi.
"Sore Ma, sore Tante" Tasya mencium punggung tangan kedua wanita di hadapannya tersebut.
"Pantesan mama jemput gak mau. Pilih pulang sama cowok ganteng ternyata" ucap mama Sarla sambil terkekeh.
Tasya hanya menunduk menyembunyikan wajah nya yang memerah.
__ADS_1
Dion menyusul Tasya masuk ke teras dan ikut mencium punggung tangan tante Desi serta mama Sarla.
"Sore Tante, Dion mau antar Tasya pulang" ucap Dion sopan pada mama Sarla.
"Makasih loh Di, udah repot-repot nganterin Tasya" ujar mama Sarla.
"Gak repot kok, Tant" jawab Dion sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ehem, ceritanya udah baikan nih, sampe pulang aja boncengan berdua" tante Desi yang sedari tadi hanya diam akhirnya buka suara dan langsung menggoda dua remaja tersebut.
"Apaan sih, Tan" Dion mencebik tak terima.
"Lho, emang habis marahan ya, Sya? Kok mama gak tahu" mama Sarla ikut menimpali.
"Gak ada. Siapa yang marahan?" Tasya membela diri. Bibirnya memcebik ikut-ikutan Dion.
Tante Desi dan Mama Sarla hanya terkekeh melihat Tasya dan Dion yang kompak gak mau ngaku.
"Tan, Dion langsung pamit pulang aja" Dion hendak berpamitan karena merasa terpojok digodain terus oleh tantenya.
"Gak mampir ke rumah tante dulu, Di?" Tanya tante Desi.
"Iya. Kok buru buru?" Mama Sarla ikut ikutan bertanya.
"Kapan kapan aja mampir rumah tante kalau tante udah gak ngeselin" jawab Dion pada sang tante.
"Dan sekarang udah sore, Tan. Jadi Dion pamit pulang" lanjut Dion menjawab pertanyaan mama Sarla.
Dion kembali mencium punggung tangan mama Sarla dan tante Desi.
"Jadi Tante ngeselin nih. Besok lagi kalo mau pedekate sama Tasya gak usah sok sokan main di rumah Tante ya" ucap tante Desi pura pura ngambek.
Tasya dan mama Sarla malah terkekeh sekarang.
"Tante cantik deh. Dion pulang dulu ya tante Desi yang baik" Dion merangkul tante nya tersebut sambil berusaha merayunya.
Mama Sarla dan Tasya yang melihat hal tersebut sontak semakin tertawa.
"Pulang sana!" usir tante Desi masih ngambek. Dion sedikit terkekeh dan tak mau menanggapi lagi.
"Tante Sarla, Dion pulang dulu.
Nat, aku duluan ya" pamit Dion pada Tasya dan mama Sarla.
Keduanya hanya mengangguk.
"Makasih ya, Di. Hati hati di jalan" pesan Tasya. Dion hanya mengangguk dan segera naik ke atas motornya.
__ADS_1
Memacunya ke jalan menuju rumahnya.