
"Gue lihat loe sering melamun belakangan ini. Apa ada masalah?" Tanya Dion pada Denny.
Dion merasa khawatir pada gelagat Denny belakangan ini.
"Di, loe pernah gak sih, ngerasa jenuh sama Tasya? Hubungan loe sama dia kan udah hampir setahun." Tanya Denny tiba tiba
Membuat Dion hanya berdecak.
"Enggak. Sejauh ini gue nyaman nyaman aja jalan bareng Tasya." Jawab Dion santai.
"kenapa mendadak bertanya begitu? Apa loe udah bosan jadi playboy?" Kata Dion lagi sambil terkekeh.
Denny hanya mengendikkan bahu.
"Apa menurut loe gue bisa jadi cowok yang setia kayak loe?" Tanya Denny sambil menatap dalam pada Dion.
"Tak ada yang tak mungkin kalo loe mau berusaha." Ucap Dion sambil menepuk punggung sahabatnya tersebut.
Denny mengangguk.
"Jadi, siapa si cewek beruntung yang akan menerima cinta sejati seorang Denny?" Tanya Dion sambil cengengesan.
"Kepo loe." Jawab Denny sambil berlalu meninggalkan Dion.
*****
Vina menatap nanar pada tespect di tangannya. Apalagi dua garis merah yang kini terlihat jelas di atas benda putih kecil tersebut, membuat pikiran Vina semakin tak karuan.
Ia memang merasa tidak enak badan belakangan ini.
Perut nya sering mual dan kepalanya pusing.
Ia mengira kalau dirinya hanya sakit biasa karena banyak pikiran.
Namun siapa sangka, saat memeriksakan diri kesini, suster malah memberikan alat terkutuk itu, dan kini Vina menyesali semuanya.
Ia hanya patah hati saat itu karena melihat Bagas yang menggandeng kekasih barunya, namun kenapa semuanya harus berakhir seperti ini?
Vina menangis sesenggukan di kursi tunggu sebuah rumah sakit.
Kini Vina bingung harus bagaimana.
*****
Salsa mondar mandir di depan ruang IGD.
Ia meremas remas tangannya demi menghilangkan rasa cemasnya.
Tasya dan Dion berlarian di koridor menuju ke arah Salsa.
"Sal, apa yang terjadi?" Tanya Tasya khawatir.
"Pelatih Ronny, Sya. Kakak angkat kamu" Salsa berusaha menjelaskan. Namun saking paniknya, Salsa sampai bingung bagaimana harus menyusun kalimat yang pas.
"Pelan pelan, Sal." Tasya memegang kedua pundak sahabatnya tersebut demi menenangkannya.
__ADS_1
Salsa menarik nafas panjang,mencoba tenang sebelum memulai ceritanya
"Jadi tadi pas aku pulang dari swalayan, ada yang mau ngrampas motor aku. Trus tiba tiba kak Ronny datang dan nolongin aku.
Tapi perampoknya bawa pisau dan melawan.
Kak Ronny yang berusaha nolongin aku kena tusuk di perutnya. Aku takut kak Ronny kenapa kenapa, Sya. Ini semua gara gara aku" Salsa bercerita sambil memangis sesenggukan.
Tasya segera memeluk Salsa dan menenangkannya.
"Udah, Sal. Ini bukan salah kamu. Kita berdoa aja ya, semoga kak Ronny baik baik saja." Ucap Tasya menenangkan.
Padahal dalam hati Tasya juga merasa panik dan khawatir. Namun Tasya tidak mau menunjukkan kekhawatirannya. Tasya tidak boleh membuat Salsa semakin panik.
Seorang perawat keluar dari ruang IGD.
Dion bergegas menghampiri perawat tersebut. Keduanya berbicara serius.
Salsa yang sudah tenang, ikut menghampiri perawat tersebut.
"Pasien butuh donor darah B. Sayangnya kami kehabisan stok" jelas perawat itu.
"Sus, saya B. Darah saya B
Ambil aja buat nyelamatin kak Ronny" Salsa berkata sambil mengulurkan tangannya pada perawat tersebut.
"Baiklah, nona silahkan ikut saya" kata Suster tersebut.
Salsa segera mengekor di belakang suster tersebut dan mengikutinya ke sebuah ruangan.
Keduanya hanya saling diam.
"Pelatih Ronny bakalan baik baik saja, Sya" suara Dion memecah keheningan diantara dirinya dan Tasya.
Dion seakan bisa membaca kekhawatiran di hati Tasya.
Tasya menarik nafas panjang.
Lalu ia mengangguk. Dalam hati ia mengaminkan kata kata Dion barusan.
*****
Ronny sudah dipindahkan ke ruang perawatan.
Kata dokter kondisinya sudah membaik. Hanya perlu menunggu ia bangun.
Salsa duduk di sofa tak jauh dari ranjang tempat tidur Ronny.
Tasya dan Dion juga masih di ruangan itu menemani Salsa.
"Sal, kamu udah makan belum?" Tanya Tasya pada sahabatnya tersebut.
Salsa menggeleng lemah. Sepertinya gadis itu nampak lelah.
"Aku sama Dion keluar cari makan dulu ya, kamu istirahat aja" ucap Tasya sembari menepuk lembut punggung Salsa.
__ADS_1
Salsa menatap ke arah Ronny.
"Kak Ronny bakal baik baik saja, kamu istirahat saja dulu" saran Tasya lagi.
Kali ini Salsa mengangguk.
Tasya dan Dion pun keluar meninggalkan ruangan tersebut.
Kini hanya tinggal Salsa bersama Ronny yang masih belum sadarkan diri.
Salsa,beranjak dari sofa dan duduk di kursi di samping ranjang Ronny.
Ia menatap lekat wajah pria yang kini tertidur lelap tersebut.
Pikirannya kembali menerawang pada kejadian siang tadi, saat sebelum insiden itu terjadi.
Flashback on
Salsa bertemu Ronny di swalayan. Salsa sedikit sebal sebenarnya. Ia merasa pelatih resek itu seperti mengikutinya kemanapun.
Bagaimana bisa,setiap Salsa pergi ke swalayan itu, pasti selalu bertemu dengan Ronny. Bukankah itu aneh?
Salsa pulang dengan sedikit tergesa.
Salsa sengaja mengambil rute lain yang menurutnya lebih dekat menuju ke rumahnya, namun siapa sangka jalanan yang sepi membuat Salsa menjadi sasaran empuk orang irang jahat.
Segerombolan preman menghentikan laju motor Salsa.
Mereka memaksa untuk mengambil motor milik Salsa dan mengancam gadis tersebut.
Saat Salsa tengah ketakutan, tiba tiba Ronny datang dan langsung menghentikan para preman itu.
Sempat terjadi adu jotos antara Ronny dan para preman.
Meskipun kalah jumlah, Ronny berhasil mengalahkan mereka. Sebelum akhirnya salah satu dari mereka mengacungkan pisau dan langsung menusuk tepat ke arah perut Ronny.
Saat itu juga, Ronny langsung jatuh bersimbah darah.
Flashback off
*****
Tasya dan Dion berjalan menyusuri koridor rumah sakit.
Mereka baru kembali dari kantin rumah sakit.
Saat melewati deretan kursi tunggu, Tasya melihat seorang gadis yang tak asing.
Gadis itu sedang menangis sesenggukan sambil menutup wajahnya.
Namun Tasya tetap mengenalinya.
"Vina?" Tasya menghampiri gadis tersebut dan menepuk pundaknya pelan.
Gadis itu menengok ke arah Tasya. Dan benar saja.
__ADS_1
Itu adalah Vina.