
Tasya dan Dion sudah kembali dari liburan singkat mereka.
Kini Tasya sudah kembali melakukan rutinitas normalnya di rumah sakit.
Ya, sudah hampir satu tahun Tasya praktek sebagai dokter anak di sebuah rumah sakit swasta tak jauh dari apartemennya.
Sebuah rutinitas yang bisa membuat Tasya melupakan sejenak beban pikirannya mengenai kehadiran bayi di rahimnya.
Meskipun terkadang beban pikiran itu kembali muncul saat Tasya harus melewati lorong di depan poli kandungan.
Melihat para calon ibu dengan perut bulat besar mereka, terkadang membuat mata Tasya terasa panas dan ingin menangis.
Dalam hati Tasya menjerit
"Kapan kesempatan itu datang kepadaku?"
Dan pagi ini Tasya kembali harus melewati tempat itu.
Tasya sudah mencoba untuk berdamai dengan perasaannya sendiri. Tapi tetap saja, melakukannya tak semudah saat mengucapkannya.
Pagi ini poli kandungan lumayan penuh.
Tasya memilih untuk menatap lurus ke depan saja dan mengabaikan pemandangan di sepanjang sisi lorong.
Sesekali Tasya mengangguk dan tersenyum saat beberapa perawat yang berpapasan dengan Tasya menyapanya.
Dan saat akan berbelok di ujung lorong, Tasya tak sengaja bertubrukan dengan seorang dokter lain.
Berkas yang dibawa dokter tadi berhamburan di lantai.
Buru-buru Tasya membantu mengambil dan mengumpulkan berkas-berkas tersebut.
"Maaf, Dok. Saya benar-benar tak sengaja" ucap Tasya merasa bersalah.
"Tasya!" Suara itu...
Tasya mendongak untuk memastikan siapa pemilik suara itu.
"Dokter Elena!" Sapa Tasya senang. Kedua wanita itupun langsung berpelukan setelah sekian lama tidak saling bersua.
"Kamu praktek di sini?" Tanya Elena setelah melepaskan pelukan Tasya.
"Baru sekitar satu tahun. Dokter sendiri? Kenapa ada disini?" Tasya balik bertanya.
"El. Panggil saja El" ucap Elena.
"Aku sedang mengikuti seminar disini." Lanjut El
Tasya mengangguk.
"Kamu tinggal dimana? Aku pengen ngobrol banyak sama kamu" lanjut Elena lagi.
"Tak jauh dari sini. Kita busa ngobrol di kafetaria kalau acaramu sudah selesai" Tasya menawarkan solusi.
"Baiklah, aku akan selesai saat makan siang. Apa kau mau menunggu?" Tanya El lagi.
Tasya memeriksa arlojinya.
"Ya, aku tidak ada jadwal di jam itu. Aku akan menunggumu di kafetaria." Ucap Tasya.
"Baiklah, aku pergi dulu. Sampai jumpa" El melambaikan tangan pada Tasya sebelum berlalu meninggalkan Tasya.
*****
Tasya sudah duduk di salah satu bangku yang ada di kafetaria rumah sakit.
Tasya memutuskan untuk menghubungi Dion sambil menunggu Elena datang.
Pasti pria itu sudah selesai latihan.
"Halo, Nat. Kau dimana?" Suara Dion di seberang telepon.
"Masih di rumah sakit. Latihanmu sudah selesai?" Tanya Tasya berbasa-basi.
"Ya. Aku akan menjemputmu. Kita bisa makan siang bersama" jawab Dion lagi.
"Tidak Di. Aku alan makan siang bersama Dokter Elena. Aku tadi bertemu dengannya di rumah sakit" tolak Tasya menjelaskan.
"Baiklah kalau begitu. Alu akan makan siang bersama tim saja. Jam berapa aku harus menjemputmu?" Tanya Dion lagi.
"Aku pulang naik taksi saja. Bukankah sore ini kau ada pertandingan?" Tasya mengingatkan.
"Iya. Tapi aku bisa menjemputmu sebentar dan membawamu ke GOR" jelas Dion.
"Tidak usah, Di, aku akan ke GOR naik taksi saja. Kita bertemu disana" sekali lagi Tasya menolak tawaran Dion.
"Baiklah kalau begitu. Hati-hati. Telpon aku kalau ada sesuatu" pesan Dion sebelum mengakhiri panggilan.
"Oke. Bye. Aku mencintaimu" pungkas Tasya berpamitan.
"Aku juga mencintaimu, bidadariku" balas Dion berusaha gombal.
Tasya menutup panggilannya pada Dion dan menyimpan kembali ponselnya.
Dokter Elena sudah terlihat di pintu masuk kafetaria. Tasya melambaikan tangan untuk menunjukkan posisinya.
Setelah melihat Tasya, Elena bergegas menghampirinya.
"Maaf membuatmu menunggu" Elena berbasa-basi.
"Tidak masalah" jawab Tasya sambil tersenyum.
"Apa itu putrimu?" Tasya menunjuk ke ponsel milik Elena yang ada di atas meja dan masih menyala.
Elena tertawa kecil.
"Ya. Namanya Rhea. Bulan ini usianya genap lima belas bulan" cerita Elena dengan mata berbinar.
Bisa Tasya lihat raut kebahagiaan di wajah Elena.
"Oh ya, Sya. Aku minta maaf karena saat itu tidak datang di hari pernikahanmu" ucap Elena merasa bersalah.
"Jangan terlalu dipikirkan. Kau baru saja melahirkan saat itu. Jadi aku memakluminya" ucap Tasya dengan nada sesantai mungkin.
"Jadi, apa sudah ada kabar baik?" Elena melihat ke arah perut Tsya yang masih rata.
Tasya menggeleng.
"Kami masih berusaha. Doakan saja, agar aku cepat hamil dan mendapatkan putri secantik Rhea" jawab Tasya dengan nada sedatar mungkin.
Tasya tidak mau terlihat sedih apalagi menangis di depan Elena.
__ADS_1
"Maaf kalau pertanyaanku menyinggung hatimu" El memegang tangan Tasya. Terdengar nada bersalah di sana.
"Tidak. Aku baik-baik saja, El" Tasya mencoba untuk tersenyum demi meyakinkan El bahwa dirinya memang baik-baik saja.
Ya, cepat atau lambat Tasya memang harus terbiasa dengan pertanyaan semacam ini.
Jika Tasya terus-terusan merasa risih dan sakit hati, lama-kelamaan Tasya malah bisa stress sendiri.
"Satu tahun belum terlalu lama, Sya. Mungkin kamu dan..." El tampak mengingat-ingat nama suami dari Tasya.
"Dion" ucap Tasya
"Iya, mungkin kamu dan Dion disuruh menikmati waktu berduaan dulu." El mencoba untuk memberikan kata-kata yang positive pada Tasya.
Tentu saja El paham bagaimana perasaan Tasya.
El sudah sering bertemu pasangan seperti Tasya dan Dion yang harus menunggu bertahun-tahun demi mendapat momongan.
Tak jarang mereka juga rela mengeluarkan banyak biaya untuk ikut program hamil.
"Apa menurutmu kami harus mulai ikut program hamil sekarang?" Tanya Tasya sedikit ragu.
El hanya tersenyum.
"Kalian sudah pernah check kesehatan lengkap?" Tanya El
Tasya menggeleng.
"Mungkin kalian bisa mulai dari situ. Kamu bisa menghubungiku kapanpun untuk bertanya hal apapun mengenai program hamil. Aku akan dengan senang hati membantumu" ujar El tulus.
"Baiklah, aku akan berdiskusi dulu dengan Dion sebelum mengambil keputusan. Lalu aku akan menghubungimu" putus Tasya akhirnya
Elena hanya mengangguk.
Obrolan itupun berlanjut hingga hari beranjak sore.
Elena harus segera mengejar pesawat dan kembali ke kotanya.
Jadilah, keduanya kembali berpisah.
*****
Tasya sudah duduk di courtside barisan depan saat tim Dion mulai memasuki court.
Seperti biasa, Dion akan menyapa Tasya dan mengacak rambut istrinya tersebut sebelum mulai bertanding.
Sebuah hal menarik yang sempat menjadi sorotan publik di awal pernikahan Dion dan Tasya.
Sekarang hal itu sudah menjadi kebiasaan Dion dan semua yang hadir di GOR seperti sudah memahaminya.
"Good luck" bisik Tasya saat Dion menyapanya.
Dion hanya mengangguk sambil tersenyum bahagia.
Apapun hasil akhir pertandingan, Dion tetap bahagia karena Tasya selalu menyempatkan hadir di setiap pertandingannya.
*****
"Siapa Elena?" Tanya Dion sembari melepas sepatunya, dan memilih untuk menggantinya dengan sendal selop.
Dion dan Tasya masih duduk di dalam gedung olahraga itu, meskipun pertandingan sudah selesai beberapa saat yang lalu.
Dion menggeleng,
"Aku baru mendengar namanya hari ini" ujar Dion memastikan.
"Elena adalah dokter yang banyak membantuku saat koas. Jadilah kami sedikit akrab." Ujar Tasya menerawang.
"Dan dia juga adalah istri dari Egi. Kau ingat?" Tambah Tasya lagi.
Kali ini Dion mengangguk.
"Ya, aku ingat. Pria kaya yang pernah membuatku cemburu buta" ucap Dion sambil tertawa renyah.
Masih lekat di ingatan Dion saat dirinya salah paham dan mengira Tasya akan menikah dengan Egi.
Tasya ikut tertawa.
"Kau memang tukang cemburu" timpal Tasya masih terkekeh.
Dion merangkul pundak Tasya.
"Itu karena aku takut kehilanganmu. Makanya aku selalu cemburu jika kamu dekat dengan pria lain" Dion memulai aksi gombalnya.
Tasya hanya mencibir.
"Jadi kalian membicarakan apa tadi?" Tanya Dion kepo.
"El menawarkan untuk membantuku mengikuti program hamil." Ujar Tasya memulai ceritanya.
"Lalu? Kau setuju?" Dion semakin kepo saja.
Tasya menggeleng,
"Tapi El juga bilang kalau aku tak perlu buru-buru. Satu tahun masih termasuk wajar pada pasangan yang belum mendapat momongan" tambah Tasya panjang lebar.
Dion mengangguk.
"Menurutku El benar. Kita hanya perlu berusaha lebih keras lagi. Mungkin bulan depan kamu sudah positif. Siapa yang tahu?" Ujar Dion panjang lebar.
Sepertinya pria itu selalu saja berpikiran positif.
Tasya mengangguk membenarkan kata-kata Dion.
"Aku juga berpikir begitu. Tapi jika aku minta kamu check kesehatan lengkap apa kamu keberatan?"tanya Tasya sedikit ragu.
"Apa ini ada hubungannya dengan program hamil itu?" Dion menerka-nerka.
"Ya. Tapi kalau kamu keberatan, mungkin aku akan membatalkannya" jawab Tasya cepat.
"Tidak, Nat. Jangan membatalkannya. Aku akan mengikuti apapun tahapannya. Kita akan berusaha bersama-sama" ujar Dion optimis.
Tasya langsung memeluk suaminya tersebut.
"Terima kasih, Di," ucap Tasya senang.
"Jadi... bisa kita pulang sekarang? Kita coba lagi malam ini" ucap Dion sedikit berbisik.
"Dasar mesum!" Tasya memukul lengan Dion. Pria itu pura-pura meringis kesakitan agar Tasya merasa iba.
Namun Tasya sudah hafal dengan kebiasaan Dion yang satu ini. Bahkan Tasya hanya memukul Dion perlahan. Jika pria itu meringis kesakitan, bisa dipastikan kalau Dion hanya akting belaka.
__ADS_1
"Aku tak akan tertipu kali ini" Tasya memeletkan lidahnya, sebelum berlalu meninggalkan Dion dan keluar dari gedung olahraga tersebut.
Dion hanya mendengus dan bergegas menyusul istrinya.
"Tunggu aku, Nat!" Teriak Dion sambil berlari mengejar Tasya.
Matahari sudah terbenam menuju ke peraduannya.
Suasana di sekitar gedung olahraga juga sudah sepi. Hanya tinggal beberapa kendaraan yang masih terparkir disana.
Dion dan Tasya berjalan menuju ke parkiran masih sambil bersenda gurau.
Sesaat setelah keduanya masuk kedalam mobil, mobil langsung melaju meninggalkan kawasan gedung olahraga tersebut.
Berbaur dengan kendaraan lain menembus kemacetan jalanan ibukota yang mulai padat merayap karena sudah masuk jam pulang kantor.
*****
Elena baru saja keluar dari pintu utama bandara saat langit sudah berubah menjadi hitam.
El sudah tak sabar untuk bertemu dan memeluk Rhea, putrinya.
El menitipkan Rhea di rumah sang mama sejak kemarin malam.
El yang melihat Egi sudah menunggunya di dekat pintu masuk, segera menghampiri pria tersebut.
"Sudah lama?" Tanya El berbasa-basi sambil memeluk suaminya tersebut.
"Lumayan" jawab Egi datar.
El tak berkata-kata lagi. Keduanya langsung berjalan menuju ke arah mobil Egi yang terparkir tak jauh dari pintu masuk utama.
"Kau sudah menjemput Rhea?" Tanya El memulai obrolan.
Jalan dari pintu keluar bandara lumayan padat, jadilah laju mobil Egi juga sedikit tersendat.
Egi mengangguk.
"Rhea di rumah bersama Kiki sekarang. Aku menjemputnya sore tadi" jawab Egi sekenanya.
Perasaan El saja, atau ada sesuatu yang terjadi?
Dari nada bicaranya, Egi seperti menyembunyikan sesuatu dari El.
El memilih untuk tidak bertanya lagi.
Mungkin ia akan bicara pada Egi nanti saat mereka sudah sampai di rumah.
*****
Setelah selesai mandi dan membersihkan diri, El memeriksa Rhea.
Saat dirinya sampai, Rhea sudah tidur, dan sekarang bayi itu masih terlelap.
Elena menciumi wajah Rhea, sembari mengusap lembut kepala bayinya tersebut.
Elena bahkan belum sempat menggendong atau bercengkerama dengan Rhea tadi.
Tapi mungkin besok Elena bisa melakukan itu semua bersama Rhea seharian.
Besok jadwal Elena kosong.
Elena keluar dari kamar dan menuju ke ruang makan. Perutnya sudah keroncongan dan minta diisi.
Namun di ruang makan hanya ada Kiki yang sibuk menyiapkan makan malam yang tadi dibeli Elena dan Egi sewaktu perjalanan pulang dari bandara.
Dimana Egi?
"Ki, kakak kamu mana?" Tanya El pada Kiki.
"Kak Egi membawa makanannya ke ruang kerja. Katanya banyak berkas yang harus dia selesaikan" jawab Kiki menjelaskan.
"Ayo makan, Kak!" Ucap Kiki lagi.
Ini aneh, tidak biasanya Egi makan di ruang kerja sesibuk apapun dirinya.
Namun meskipun berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya, El memilih untuk mengisi perutnya terlebih dahulu.
El dan Kiki menikmati makan malam mereka dalam diam. Tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk memulai obrolan.
*****
Elena sudah selesai membereskan sisa makan malamnya bersama Kiki tadi.
Kiki sedang bersantai di ruang tengah dan sibuk dengan ponselnya.
El memutuskan untuk memeriksa Egi di ruang kerjanya.
"Gi," Elena membuka pintu yang tak terkunci itu.
Egi di dalam sedang fokus memeriksa tumpukan kertas di depannya.
"Gi, kamu sudah selesai makan?" Tanya Elena berbasa-basi.
Elena melemparkan pandangannya ke piring yang ada di sudut meja kerja Egi.
Kosong.
Egi sudah menghabiskan makanannya.
"Apa kamu ingin aku buatkan sesuatu?" tawar Elena pada Egi.
Pria itu hanya diam sedari tadi dan tak menjawab sepatah kata pun pertanyaan-pertanyaan dari Elena.
Egi meletakkan kertas yang tadi dipegangnya ke atas meja, lalu memandang ke arah Elena.
"El..." Egi menjeda kata-katanya dan menarik nafas panjang.
El menatap tajam ke arah netra milik suaminya tersebut.
"Siapa Adrian?"
.
.
.
Nah lho nah lho siapa ya Adrian?
Hahaha next episode kita cari tahu tentang Adrian.
__ADS_1