
"Ah, sialan!" Raka mengumpat dan menumpahkan emosinya di ruang kerjanya yang ada di kantor milik Dion.
Ia baru saja membaca email yang masuk hari ini dan mendadak amarahnya ingin meledak.
"Apa maunya pria itu" sekali lagi Raka menggerutu.
Raka menyambar tas hitam miliknya yang baru saja ia letakkan di meja kerjanya beberapa saat yang lalu.
Pria itu segera keluar dari dalam ruangannya dan turun menuju tempat parkir.
Raka memacu kuda besi miliknya itu dengan kecepatan tinggi menuju ke suatu tempat.
*****
Dua hari setelah kepergian tante Desi dan Om Bimo untuk selamanya, Dion dan Tasya sudah mulai menjalani aktivitas normal mereka.
Hidup harus tetap berjalan. Bukankah begitu?
Pagi ini, Tasya memberitahu Dion tentang Kenzo yang memiliki wajah mirip dengan Zhia. Tasya juga sempat mengambil gambar Kenzo lewat kamera ponselnya untuk ia bandingkan dengan foto Zhia sekaligus untuk Tasya tunjukkan kepada Dion.
Dion menatap lekat kedua foto di hadapannya.
Dion benar-benar tak percaya, kalau dua anak yang ada di foto itu adalah anak yang berbeda.
Mereka benar-benar mirip.
"Kau punya data tentang keluarga Kenzo?" Tanya Dion serius.
"Tak banyak info yang bisa ku dapat." Jawab Tasya lirih
"Aku ingin sekali menanyakannya pada Nuna. Tapi aku bingung harus mulai dari mana. Dan bagaimana jika ternyata mereka tak ada hubungannya sama sekali dengan Zhia?" Lanjut Tasya lagi.
Dion menarik nafas panjang,
"Kau benar, kita tidak bisa tiba-tiba bertanya pada mereka. Bisa saja mereka akan tersinggung karena ini adalah hal sensitif" Dion membenarkan ucapan dari Tasya.
Sesaat suasana hening.
Tasuya dan Dion sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Aku harus ke kantor sekarang. Ayo! Aku akan sekalian mengantarmu" pungkas Dion akhirnya memecah keheningan di antara mereka.
Tasya mengangguk dan segera mengambil tas nya. Tasya juga harus pergi ke rumah sakit sekarang.
*****
"Daffi!" Teriak Raka saat baru saja sampai di teras rumah milik keluarga Daffi.
Seorang pelayan tergopoh-gopoh menghampiri Raka yang terlihat emosi.
"Maaf Pak Raka, Tuan Daffi sedang di rumah sakit" pelayan itu mencoba menjelaskan.
Sontak Raka langsung terkejut mendengar penuturan pelayan tersebut.
"Siapa yang sakit?" Tanya Raka khawatir. Rasa marah yang tadi membuncah di dadanya, mendadak hilang dan berubah menjadi rasa khawatir.
"Tuan muda Kenzo sedang di rawat, Pak" jawab pelayan itu lagi.
Raka mengangguk dan tak jadi marah.
Ia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit saja menemui Daffi sekaligus menjenguk Kenzo.
"Baiklah, aku akan ke rumah sakit" ujar Raka sambil berlalu.
Pelayan tadi hanya mengangguk.
******
Tak butuh waktu lama, Raka sudah tiba di rumah sakit.
Setelah bertanya pada pihak administrasi, bergegas Raka menuju ke ruang perawatan Kenzo.
Raka mengetuk perlahan pintu yang ada di hadapannya. Tak butuh waktu lama, dan kini pintu sudah di buka dari dalam.
Pemandangan pertama yang Raka lihat adalah, Nuna dengan perutnya yang membuncit.
Nuna hamil?
Mendadak Raka jadi ingat Tasya yang juga sedang hamil dan perusahaan Dion yang sedang carut-marut karena ulah Daffi.
'Dasar pria egois' lagi-lagi Raka menjadi kesal.
"Raka?" Nuna benar-benar terkejut dengan kedatangan Raka yang tiba-tiba, setelah bertahun-tahun pria itu menghilang dan tak ada kabar.
"Hai, Nuna. Aku ingin bicara dengan Daffi" Raka mengendikan bahu dan memaksa untuk tersenyum.
__ADS_1
Pria itu meyapukan pandangannya ke seluruh ruangan.
Dan bisa Raka lihat Daffi yang sedang memangku Kenzo di atas ranjang sambil membacakan buku.
Saat itulah, Raka melihat sosok ayah yang sebenarnya dalam diri Daffi.
"Lihatlah Daff, kamu punya keluarga yang sempurna dan harta yang berlimpah, tapi kenapa kamu masih saja menindas perusahaan lain hanya demi sebuah ambisi. Apa yang sebenarnya kamu cari?
Tak cukupkah kamu menikmati saja hidupmu yang sekarang?" Ingin rasanya Raka meneriakkan kata-kata itu di depan wajah Daffi, namun rasanya saat ini bukanlah waktu yang tepat.
Ada Nuna dan Kenzo di ruangan ini yang harus Raka jaga perasaannya.
"Raka" Daffi sudah bangkit dari posisinya tadi. Nuna menggantikan Daffi dan membaca cerita untuk Kenzo.
"Aku tidak akan membahas bisnis di rumah sakit" ucap Daffi sarkas.
Raka hanya menarik nafas panjang.
"Ini hal penting, Daff" sebisa mungkin Raka menjaga emosinya agar tidak meledak.
Daffi tersenyum simpul,
"Kenapa? Apa sekarang kamu menyesal atas sikap angkuhmu yang berani menantangku saat itu? Apa sekarang temanmu sedang menangis darah karena perusahaannya yang sebentar lagi akan aku hancurkan?" Daffi bertanya dengan nada sinis.
Raka merasa semakin terpojok.
Salahnya juga saat itu yang tidak bisa mengendalikan emosinya.
"Aku datang untuk bicara baik-baik, Daff," jawab Raka masih dengan nada sedatar mungkin.
Daffi berdecak,
"Apa kau ingin berlutut dan memohon juga sekarang?" Tanya Daffi dengan nada mengejek.
"Kalau itu bisa menyelamatkan perusahaan sahabatku, aku akan melakukannya" jawab Raka mulai putus asa.
Tok tok tok
Terdengar pintu di ketuk dari luar, sebelum akhirnya pintu terbuka dan terlihatlah sosok yang tidak asing bagi Raka...
"Selamat pagi," sapa Tasya sambil memasang senyuman ramah.
Nuna sudah bangkit berdiri untuk menyambut kedatangan Tasya yang Raka tebak adalah dokter yang menangani Kenzo.
"Pergilah dari ruangan ini!" Desis Daffi sambil mengusir Raka yang kini berdiri mematung.
Daffi ikut mendekat ke ranjang perawatan Kenzo untuk mendengarkan penjelasan dari dokter Tasya.
Setelah memeriksa Kenzo dan memberikan penjelasan singkat, Tasya dan perawat yang tadi bersamanya sudah akan meninggalkan ruang perawatan,
Namun sesaat pandangan Tasya tertumbuk pada Raka yang masih berdiri mematung di dekat sofa yang ada di ruang perawatan tersebut.
"Raka?" Tasya sungguh tak percaya.
"Apa yang kau lakukan di sini? Kau mengenal keluarga ini?" Tanya Tasya sekali lagi.
Baiklah, sekarang Raka menjadi salah tingkah dan bingung harus menjawab apa.
"A...aku. Aku teman lama. Iya aku teman lama mereka" jawab Raka terbata-bata.
"Raka sahabat lama kami, dok." Nuna ikut menimpali dan membenarkan ucapan Raka barusan.
"Apa dokter Tasya juga mengenal Raka?" Tanya Nuna penasaran karena sepertinya Tasya dan Raka akrab.
Tasya tertawa kecil,
"Ya, Raka sahabatku juga. Maksudku dia sahabat suamiku, dia membantu suamiku mengurus perusahaan yang sedang bermasalah" jawab Tasya menjelaskan.
"Dunia sempit ternyata" Nuna tertawa renyah ditimpali oleh Tasya.
Daffi yang sedari tadi ikut menyimak pembicaraan tiga orang itu, sedikit terkejut saat mendengar penuturan dari Tasya.
'Membantu mengurus masalah di perusahaan suami dokter Tasya? Apa itu artinya perusahaan yang selama ini Raka perjuangkan adalah milik suami dari dokter Tasya?'
"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu. Selamat pagi" Tasya akhirnya berpamitan pada Nuna dan Daffi yang kini berdiri mematung.
"Raka, aku duluan" tak lupa Tasya juga berpamitan pada Raka yang langsung mengangguk sambil tersenyum pada Tasya.
Setelah Tasya keluar dari ruangan tersebut, suasana sesaat menjadi hening.
Hingga tiba-tiba Raka melihat ke arah Daffi seraya tertawa mengejek.
"Kau lihat Daff, wanita hamil yang baru saja memeriksa putramu. Dia adalah istri dari orang yang sedang kau hancurkan saat ini" Raka berkata penuh emosi, sementara Daffi masih berdiri mematung.
"Kau lihat itu! Dia sama sepeti istrimu sekarang, dia juga sedang mengandung. Apa kamu tidak punya rasa iba sedikitpun terhadap mereka. Di mana hati nurani kamu, Daff?" lanjut Raka lagi masih dengan emosi yang meluap-luap.
__ADS_1
"Ini hanya soal bisnis, Ka. Tidak ada hubungannya dengan rasa iba" Daffi mencoba mencari pembenaran,
"Ck" Raka berdecak kesal. Ingin rasanya Raka menonjok wajah Daffi agar pria itu segera sadar dan bangun dari ambisi-ambisi konyolnya ini.
"Ini sebenarnya ada apa, Daff? Apa yang sudah kamu lakukan pada keluarga dokter Tasya?" Nuna yang bingung bergantian menatap ke arah Daffi dan Raka berharap salah satu dari pria itu akan memberinya penjelasan atas apa yang sebenarnya sudah terjadi.
"Bukan masalah yang penting, sayang." Daffi mencoba untuk menenangkan istrinya.
Sekali lagi Raka berdecak,
"Bukan masalah penting? Bagimu ini bukanlah masalah yang penting. Tapi kamu lihat senyuman tulus di wajah dokter Tasya tadi? Senyuman yang sebentar lagi akan menjadi isak tangis saat kamu sudah selesai memporak-porandakan perusahaan milik keluarganya..." Baiklah, Raka sudah benar-benar tidak bisa lagi mengendalikan emosinya sekarang.
"Kamu sungguh kejam dan tak punya perasaan, Daff! Apa salah mereka ke keluargamu?" Pungkas Raka sebelum akhirnya keluar dari ruangan tersebut. Sengaja Raka membanting pintu ruang perawatan tersebut demi meluapkan emosinya.
*****
Raka berjalan di lorong rumah sakit masih dengan wajah merah padam. Emosinya belum sepenuhnya reda.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Raka berhenti sejenak dan duduk di barisan bangku yang ada di sisi lorong.
Raka memeriksa layar ponselnya untuk melihat siapa yang menelpon.
"Kak Diandra?" Gumam Raka tak percaya
Kak Diandra memang masih intens menghubungi Raka meskipun Raka sudah tak bekerja untuk perusahaan Wijaya.
Biasanya kak Diandra akan menanyakan kabar Raka atau sekedar basa-basi bertanya kapan Raka akan menikah.
Raka menarik nafas panjang sebelum mengangkat telpon dari kak Diandra,
"Halo, iya kak" Raka berusaha untuk berbicara dengan nada yang normal.
"Ka, kamu sudah pulang dan tidak mengabari. Bagaimana kabarmu sekarang?" Tanya kak Diandra di seberang sana.
"Raka baik-baik saja, kak" jawab Raka lirih.
"Kata Nuna kamu ke rumah sakit hari ini dan bertengkar dengan Daffi. Apa kalian sedang ada masalah?" Tanya kak Diandra lagi.
Raka menghela nafas,
"Hanya salah paham soal pekerjaan, kak. Tidak ada masalah serius" jawab Raka berbohong.
"Baiklah kalau begitu. Mainlah ke sini kalau ada waktu" pesan kak Diandra sebelum mengakhiri panggilan.
"Baik, kak. Sampai jumpa" pungkas Raka sebelum akhirnya menutup telepon dari kak Diandra.
Raka menghela nafas panjang dan kembali beranjak berdiri.
Raka melanjutkan langkahnya, menuruni tangga yang ada di depannnya yang langsung mengarah ke lobi utama rumah sakit.
Di lobi rumah sakit, Raka menghentikan langkahnya karena mendengar suara Tasya yang kini memanggilnya.
"Raka!" Panggil Tasya.
Raka langsung menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Tasya yang kini tengah berdiri bersama Kiki. Sepertinya dua wanita itu baru saja mengobrol.
Raka mendekat ke arah Tasya dan Kiki.
"Ka, apa kamu sedang sibuk? Sebenarnya ada hal penting yang ingin aku bicarakan" tukas Tasya langsung pada intinya.
Raka tampak berpikir sebentar,
"Aku sedang tidak sibuk" jawab Raka. Sekilas Raka melirik ke arah Kiki yang sepertinya sedang salah tingkah sekarang. Raka tersenyum simpul.
"Bagus, ayo kita bicara di kantin rumah sakit!" ajak Tasya kemudian.
Raka mengangguk.
Tasya pun berpamitan pada Kiki.
"Ki, aku duluan ya" pamit Tasya.
Kiki mengangguk sambil tersenyum.
"Oke. Aku juga harus mulai bekerja" jawab Kiki sedikit canggung.
Entahlah, mendadak jantungnya berdetak dengan tidak benar karena ada Raka di sini.
Setelah Tasya dan Raka berlalu menuju ke arah kantin rumah sakit, Kiki menghela nafas lega.
"Huh, ada apa sih dengan hatiku belakangan ini." Gerutu Kiki pada dirinya sendiri.
Kiki memutuskan untuk kembali ke ruang IGD dan melanjutkan jam prakteknya sebagai dokter jaga yang belum selesai.
__ADS_1