
Pyarrr...
Suara gelas yang jatuh membuat Raka dan Dion kompak terkejut.
Bergegas dua pria itu bberlari ke kamar Tasya untuk melihat apa yang sudah terjadi.
Dion membuka pintu kamar dengan kasar sebelum akhirnya pria itu masuk dan mengedarkan pandangannya ke dalam kamar.
Tasya terlihat kesakitan di atas ranjang sambil memegangi kepalanya.
Segera Dion menghampiri istrinya tersebut.
"Nat, kamu kenapa?" Tanya dion panik.
"Kepala aku sakit banget, Di" jawab Tasya sambil meringis menahan sakit di kepalanya yang kini terasa berdentum-dentum.
"Aku akan menghubungi Elena" Raka yang melihat Tasya yang sedang kesakitan langsung bertindak cepat.
Pria itu merogoh ponsel di sakunya dan segera mencari kontak Elena.
"Iya, Ka. Ada apa?" Tanya Elena di seberang sana.
"Tasya, El. Tasya sakit kepala hebat" Baiklah, bahkan Raka sekarang bingung bagaimana harus menjelaskan kondisi Tasya pada Elena.
"Iya, aku ke sana sekarang" Namun sepertinya Elena sudah paham dan segera mengerti maksud dari ucapan Raka barusan.
Raka menutup telepon dan segera menyimpannya kembali ponselnya ke dalam saku.
Dion masih mencoba menenangkan Tasya dan membenarkan posisi istrinya tersebut agar bisa berbaring dengan nyaman.
Raka keluar dari kamar Tasya dan segera berjalan mrnuju ke rah dapur.
Tak berselang lama, Raka sudah kembali dan membawa segelas air untuk Tasya.
"Ini, Di" Raka memberikan air tersebut pada Dion agar pria itu membantu istrinya untuk minum.
Tak lupa Raka juga membersihkan pecahan gelas yang berserakan di lantai kamar.
*****
"Cepat, Gi!" Ujar Elena tidak sabaran pada Egi yang sedang menyetir.
"Iya kamu tenang dulu, El. Ini juga sudah cepat." Jawab Egi berusaha fokus pada jalanan di depannya.
Perjalanan sepuluh menit ke rumah Tasya terasa seperti berjam-jam bagi Elena yang khawatir dengan kondisi Tasya.
Kini mobil Egi sudah berhenti tepat di depan rumah Tasya.
Elena melepas sabuk pengamannya dengan cepat dan setengah berlari masuk ke rumah Tasya.
"El, hati-hati !" Peringatan dari Egi bahkan hanya terbang tertiup angin sekarang. Sepertinya Elena tak peduli dengan kata-kata sang suami.
Elena langsung masuk ke rumah Tasya.
Ada Raka yang sekarang duduk di ruang tamu dan Elena tidak menyapanya sama sekali.
Elena segera menuju ke arah kamar Tasya.
Tasya masih terbaring di atas ranjang dan Dion tetap setia menemani di samping istrinya tersebut.
"Apa yang terjadi, Dion?" Tanya Elena cepat.
Dion beranjak dari tempatnya dan memberi ruang pada Elena untuk memeriksa Tasya.
"Dia mengeluh sakit kepala" jawab Dion sekenanya.
Elena memeriksa tekanan darah Tasya dan juga suhu tubuh ibu hamil tersebut.
Raka dan Egi juga sudah ikut masuk ke dalam kamar sekarang. Mereka berdiri di dekat Dion dan menunggu Elena yang masih memeriksa Tasya.
"Tekanan darahmu tinggi sekali, apa kamu sudah minum obatmu?" Tanya Elena khawatir.
"Aku lupa meminumnya" jawab Tasya lirih, ada nada bersalah di sana.
Elena menghela nafas.
"Dimana obat itu? Kau harus meminumnya. Badanmu juga demam" Elena melihat termometer yang tadi ia pakai untuk memeriksa suhu badan Tasya.
"Ada di tas, entahlah aku tidak melihat tasku" jawab Tasya masih lirih.
Elena mengalihkan pandangannya ke arah Dion,
"Dion, bisa tolong ambilkan obat Tasya di dalam tas" pinta Elena pada pria tersebut.
Bergegas Dion mencari tas milik Tasya, dan mengambil obat yang Elena maksud
Setelah menemukannya, Dion segera memberikan obat tersebut pada Elena.
"Ada apa dengan Tasya, El?" Tanya Dion khawatir.
"Tekanan darahnya tinggi, apa Tasya belum mengatakannya kepadamu?" Tanya Elena bingung.
Elena sudah memberikan obat tadi kepada Tasya, dan Tasya segera menelannya dengan seteguk air yang juga disodorkan oleh Elena.
Dion pun tak kalah bingung,
"Mengatakan apa?" Dion bertanya sekali lagi. Tasya tak pernah mengatakan kalau ada masalah dengan kandungannya.
Mendadak Dion menjadi khawatir.
"El, aku bisa mengatakannya sendiri" Tasya menyela sebelum Elena mulai bercerita.
Tasya tidak mau Elena mengatakan yang sebenarnya.
"kau bilang seperti itu kemarin, tapi sampai sekarang kau bahkan belum mengatakannya pada Dion." Kini Elena mulai jengah. Ada apa sebenarnya dengan wanita di depannya ini.
Menyimpan rahasia sebesar ini dari suaminya sendiri, apa sebenarnya yang ada di pikiran Tasya?
"Mengatakan apa? El, ada apa sebenarnya dengan Tasya?" Dion mencoba nenengahi perdebatan antara Tasya dan Elena.
__ADS_1
"Istrimu mengalami preeklampsia, Di." Jawab Elena lirih.
"Aku baik-baik saja, Di. Elena, tolong jangan melebih-lebihkan hal ini!" Tasya mencoba menyangkal.
Elena berdecak.
"Iya ini memang terjadi pada sebagian ibu hamil terutama ibu yang mengandung janin kembar seperti Tasya. Tapi Tasya tetap harus rutin meminum obat dan semua vitamin yang aku resepkan...." Elena menghela nafas sejenak
"...tapi Tasya tidak melakukannya. Dia bahkan belum meminum obat dari dokter Adhi." Lanjut Elena dengan nada sedikit kesal.
Sesaat suasana menjadi hening.
"Raka, bisa tolong ambilkan air untuk mengompres Tasya" Elena ganti memerintah Raka yang sedari tadi hanya duduk mematung bersama Egi di sofa yang ada di kamar tersebut.
Bergegas Raka keluar dari kamar dan menuju ke dapur untuk menuruti perintah Elena.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya kepadaku, Nat?" Dion menatap sedih ke arah Tasya.
"Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir, Di" jawab Tasya merasa bersalah.
Raka sudah kembali dan membawa sebaskom air yang tadi diminta oleh Elena.
"Badannya panas, kamu harus mengompresnya malam ini agar suhunya normal lagi" Elena berkata pada Dion sambil mulai mengompres kening Tasya.
"Apa kamu bisa melakukannya?" Tanya Elena sambil menatap ke arah Dion.
Pria itu langsung mengangguk dengan cepat.
"Iya aku bisa, El" jawab Dion bersungguh-sungguh.
"Dan obat ini harus rutin diminum oleh Tasya. Pastikan kamu mengawasi dan mengingatkan Tasya." Elena menunjukkan tablet obat pada Dion.
Sekali lagi Dion mengangguk mengerti.
"Jangan berpikiran macam-macam. Kamu harus tetap rileks dan tidak boleh stress kalau kamu tidak ingin melahirkan dalam waktu dekat" pesan Elena pada Tasya.
Dan Tasya langsung mengangguk patuh.
"Sakit kepalamu sudah berkurang?" Tanya Elena lagi.
"Iya, sudah lebih baik" jawab Tasya memaksa tersenyum.
"Istirahatlah! Aku akan pulang dan Dion akan menjagamu malam ini" Elena beranjak berdiri dan membenarkan selimut yang menutupi tubuh Tasya.
"Terima kasih, El" jawab Tasya tulus.
Elena hanya mengangguk sambil tersenyum.
Wanita itu menghampiri Egi dan Raka yang masih duduk di sofa dan entah sedang mengobrol apa.
"Sebaiknya kita pulang, dan membiarkan Tasya beristirahat malam ini" ujar Elena pada kedua pria di hadapannya.
Egi dan Raka langsung mengangguk bersamaan.
"El, terima kasih untuk semuanya" tukas Dion yang kini sudah berada di dekat Elena.
"Sama-sama, Di. Hubungi aku jika ada masalah lagi."pesan Elena pada Dion.
Elena dan Dion mengekor di belakang kedua pria tersebut.
Dion mengantar tiga tamunya tersebut hingga ke teras depan.
"Dion, kamu harus membawa Tasya ke rumah sakit besok. Aku akan melakukan cek darah lagi" pesan Elena pada Dion sebelum berpamitan.
"Baiklah, aku akan mengantarnya" jawab Dion seraya mengangguk.
"Kami pulang dulu, Di. Semoga kondisi Tasya segera membaik" Egi ikut berpamitan.
"Thanks, Gi" jawab Dion seraya mengangguk.
Setelah berbasa-basi sebentar, Egi, Elena dan Raka akhirnya berpamitan.
Dion kembali masuk ke dalam kamar dan duduk di samping ranjang menatap ke arah Tasya yang kini masih terbaring lemah.
"Apa kepalamu masih sakit?" Tanya Dion khawatir. Pria itu mengambil handuk kecil yang ada di kening Tasya, mencelupkannya ke dalam baskom air yang ada di atas nakas, memerasnya, dan kembali meletakkannya di kening Tasya.
"Sudah lebih baik, Di. Maaf membuatmu khawatir" lagi-lagi Tasya merasa bersalah.
"Jangan lagi menutupi apapun dariku, Nat. Kamu istriku dan aku suamimu. Tidak seharusnya ada rahasia di antara kita" ujar Dion panjang lebar.
"Maaf..." hanya itu yang keluar dari bibir Tasya. Perasaan bersalah di hatinya semakin besar saja.
Di satu sisi Tasya tidak mau membuat Dion khawatir, tapi di sisi lain Tasya juga merasa bersalah jika terus-terusan menyembunyikan semuanya dari Dion.
"Sudah jangan terlalu di pikirkan. Sebaiknya kamu beristirahat" Dion mengusap lembut pipi Tasya yang chubby.
Dion kembali memijit kaki Tasya agar istrinya itu merasa nyaman.
Tak butuh waktu lama dan Tasya sudah kembali terlelap sekarang.
Sedangkan Dion memilih untuk berjaga semalaman dan terus memantau suhu badan Tasya.
Lewat tengah malam, suhu badan Tasya sudah turun. Dion sedikit bernafas lega.
Dan menjelang pagi, Dion sudah tidak bisa lagi menahan rasa kantuknya. Pria itupun akhirnya tertidur di samping Tasya.
*****
Dion mengerjapkan matanya beberapa kali saat sinar mentari pagi masuk menelusup ke kamarnya melalui jendela.
Dion meraba-raba ranjang di sebelahnya untuk memeriksa keadaan Tasya.
Kosong.
Dion menoleh untuk memastikan. Benar saja Tasya tidak ada di atas ranjang.
Kemana wanita itu?
Dion memeriksa jam yang ada di atas nakas di samping ranjang.
__ADS_1
Jarum jam menunjukkan pukul delapan lebih.
Dion segera bangun dan beranjak dari atas tempat tidur.
Setelah sedikit meregangkan otot-otot di tubuhnya, Dion berjalan keluar dari kamarnya.
Saat masuk ke ruang makan yang menjadi satu dengan dapur, Dion terkejut karena melihat Tasya yang sedang memindahkan mangkok berisi makanan dari meja dapur ke atas meja makan.
"Nat, berapa kali aku bilang. Jangan memasak atau mengerjakan pekerjaan rumah yang lain" bergegas Dion mengambil alih mangkok berisi sayur yang dibawa oleh Tasya.
Dion menggantikan Tasya memindahkan semua makanan ke meja makan.
"Aku tidak memasak, Di. Aku pesan online tadi..." Tasya menjelaskan.
Kini wanita hamil itu sudah duduk di kursi yang ada di sisi meja makan dan membiarkan Dion yang menyiapkan peralatan makan untuk mereka sarapan.
"Perutku lapar, dan aku tak tega mengganggu tidurmu yang nyenyak" Tasya memandang Dion yang masih mondar-mandir.
"Bagaimana kalau kita menyewa ART?" Tanya Dion dengan nada serius. Pria itu kini sudah duduk di sebelah Tasya dan memutar kursinya agar bisa menghadap serta menatap wajah istrinya.
Tasya mengibaskan tangan pada Dion,
"Tidak. Aku tidak mau. Aku kurang nyaman dengan keberadaan orang asing di rumahku" jawab Tasya menolak.
Dion berdecak,
"Tapi kamu harus berjanji kepadaku untuk tidak mengerjakan pekerjaan apapun di rumah. Aku yang akan mengerjakan semuanya. Aku tidak mau kamu dan anak kita kenapa-kenapa, Nat" Dion mengusap lembut perut Tasya.
Jelas sekali raut kekhawatiran di wajah Dion.
Tasya tersenyum,
"Iya, Di. Aku berjanji" Tasya menggenggam tangan Dion yang masih ada di atas perutnya.
"Terima kasih karena sudah menjaga dan merawatku tadi malam" ucap Tasya lagi. Kali ini Tasya menatap ke arah wajah Dion.
"Sudah menjadi kewajibanku. Aku senang karena kamu sudah kembali sehat" Dion balik menatap ke arah netra Tasya. Keduanya tersenyum bersamaan.
"Ayo makan, perutku sudah lapar sekali" Tasya mulai menyendokkan nasi ke piringnya.
Suami istri itupun menikmati sarapan dalam suasana hangat.
*****
Dion sudah selesai mencuci piring dan membereskan dapur.
Ia ingat pesan Elena semalam untuk membawa Tasya ke rumah sakit hari ini.
Dion pergi ke ruang tengah untuk menemui Tasya yang duduk bersantai setelah sarapan tadi.
"Ini undangan apa, Di?" Tanya Tasya seraya menunjukkan undanagn yang dibawa oeh Raka tadi malam.
"Pesta ulang tahun Raka" jawab Dion sambil mendaratkan bokongnya di atas sofa di sebelah Tasya.
"Semewah ini?" Tasya membolak-balik undangan tersebut.
Dion hanya mengendikkan bahu.
"Pria itu banyak duit jadi mungkin dia akan menggelar pesta ulang tahun ala sultan" jawab Dion asal membuat Tasya tertawa kecil.
"Apa kita akan datang?" Tanya Tasya selanjutnya.
"Mungkin tidak. Kondisimu kurang baik belakangan ini" jawab Dion seraya mengulurkan lengannya untuk merangkul pundak Tasya.
Dion ingin memeluk dan bermanjaan dengan istrinya tersebut sebelum pergi ke rumah sakit.
"Kita harus pergi, Di. Raka sudah banyak membantu kita" kali ini Tasya sedikit memaksa.
Dion menghela nafas,
"Tidak!" Jawab Dion tegas.
Tasya langsung mencebik.
"Aku tidak sedang sekarat, kenapa kamu melarangku untuk melakukan apapun" protes Tasya seraya mengeluh.
"Karena aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu atau pada anak-anak kita" tukas Dion memberi alasan.
"Tapi aku ingin pergi, Di" Tasya masih bersikeras. Suaranya terdengar memelas kali ini.
Dion kembali menarik nafas panjang.
"Baiklah, kita akan menemui Elena hari ini di rumah sakit. Dan aku akan bertanya pada Elena apa kamu boleh pergi atau tidak" ucap Dion pada akhirnya.
"Ke rumah sakit? Sekarang?" Tanya Tasya bertubi-tubi.
Dion mengangguk,
"Ya. Elena yang menyuruhku untuk membawamu ke rumah sakit hari ini. Dia ingin melakukan cek darah lagi kepadamu untuk memastikan kondisimu" jelas Dion panjang lebar.
Tasya hanya mengangguk.
"Mendadak aku malas mandi. Bagaimana kalau aku tidak usah mandi?" Tasya mencari alasan.
Dion berdecak,
"Aku akan memandikanmu kalau begitu" Dion bersiap untuk membopong tubuh Tasya.
"Jangan coba-coba, Dion! Aku yakin kau tidak akan kuat menggendongku kali ini" Tasya menunjuk ke arah Dion.
"Kau yakin? Kita lihat saja!" Dion menarik nafas panjang sebelum akhirnya mulai mengangkat tubuh Tasya yang kini beratnya sudah naik hampir dua kali lipat dari berat Tasya sebelum hamil.
"Hati-hati, Di" Tasya menjerit sedikit takut.
"Lihat, aku masih kuat menggendongmu" ucap Dion dengan nada sombong.
"Kau akan sakit pinggang setelah ini" balas Tasya sambil terkekeh.
Dion segera membawa Tasya masuk ke dalam kamar mandi dan membantu istrinya tersebut membersihkan diri.
__ADS_1
Masih terdengar senda gurau dari pasangan susmi istri tersebut dari dalam kamar mandi.