
Tasya masih duduk di depan meja rias.
Wanita itu memoleskan lipstik di bibirnya untuk menyempurnakan penampilannya malam ini.
"Masih mual?" Tanya Dion khawatir.
Dion baru selesai mandi dan belum memakai bajunya.
Tasya menggeleng cepat.
"Aku sudah menyiapkan baju untukmu" Tasya menunjuk ke arah ranjang dimana ada baju Dion yang sudah ia siapkan sedari tadi.
Dion tersenyum simpul.
Istrinya ini memang selalu paham dengan apa yang ia butuhkan.
"Kau yakin sudah baik-baik saja? Kita bisa tidak pergi jika kamu masih mual atau pusing." Tanya Dion sekali lagi. Pria itu tampak khawatir
Dion juga ingin memastikan jika kondisi Tasya benar-benar baik.
"Aku baik-baik saja, Sayang" Tasya meraih tangan Dion dan menatap dalam ke arah netra milik Dion. Berucap dengan sungguh-sungguh bahwa dirinya memang baik-baik saja.
Dion tersenyum, lengannya terulur dan mengelus pipi istrinya yang kini sudah tampil cantik tersebut.
"Baiklah, maaf. Aku hanya khawatir, itu saja" ucap Dion sekali lagi.
"Aku akan bersiap-siap dulu" lanjut Dion lagi.
Pria itu segera mengenakan baju yang sudah disiapkan oleh Tasya.
Tak butuh waktu lama, Dion sudah rapi sekarang.
"Kita akan langsung pulang jika kamu merasa mual lagi atau tidak enak badan" ujar Dion saat Tasya sedang merapikan kerah kemeja Dion.
"Kita akan di sana sampai selesai, Di. Ini acara untukmu. Tidak enak kalau kita pulang duluan" tukas Tasya memberikan pendapatnya.
"Hmmm. Apa kamu yakin?" Tanya Dion sekali lagi. Masih ada nada keraguan yang terdengar jelas
"Iya, aku yakin..." jawab Tasya tegas.
"...baiklah, sudah selesai. Suamiku sudah tampan dan siap pergi" lanjut Tasya memuji penampilan Dion malam ini.
"Terima kasih, aku memang tampan sejak lahir" jawab Dion sombong. Sontak Tasya langsung mencubit lengan suaminya tersebut.
"Auuuw. Sakit, Nat. Kamu sering menganiayaku akhir-akhir ini" Dion mengaduh sambil mengeluh.
Tasya terkikik,
"Bawaan bayi. Jadi tolong di maklumi" jawab Tasya mengarang indah. Dion hanya mencebik.
"Sudahlah, suamiku yang tampan. Ayo kita pergi!" Ucap Tasya dengan nada merayu. Tasya menggamit lengan Dion.
Dion tak lagi mencebik dan segera menggandeng istri cantiknya keluar dari apartemen mereka.
Mobil Dion meluncur menembus padatnya jalanan ibukota malam ini.
Menuju ke sebuah restorant mewah yang ada di sudut kota metropolitan tersebut.
*****
Di sebuah restorant,
Suasana malam ini cukup ramai, mungkin karena ini sabtu malam dan banyak yang sedang menghabiskan waktu untuk berkumpul bersama teman ataupun keluarga.
Tasya dan Dion masuk ke dalam restorant berkonsep outdoor tersebut, sebagian besar meja yang ada di dalam sudah di penuhi oleh tamu.
Dion melihat ponselnya sejenak untuk kembali memeriksa nomer meja yang sempat dikirimkan oleh Vian sore tadi.
"Hai, Dion. Sudah lama kita tak berjumpa" sebuah suara lembut dengan nada sedikit merayu menyapa Dion.
Tasya dan Dion langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut secara bersamaan.
Sesosok wanita tinggi semampai, rambut tergerai dan baju yang sedikit terbuka memamerkan bahu mulus yang sempurna itu. Sosok yang nyaris tanpa cela.
"Hai, nona Laura" Dion membalas sapan wanita itu dengan nada dingin.
Laura tidak datang sendiri, bisa Tasya lihat ada seorang pria tinggi besar berkulit gelap sedang menggandeng mesra wanita itu. Mungkin pacar baru Laura.
Tapi wajahnya terasa tidak asing?
Oh, ya akhirnya Tasya ingat. Itu juga adalah salah satu pemain basket profesional di tim Dion. Tasya sering melihatnya saat menonton pertandingan Dion.
"Mau menghadiri farewell party?" Tanya Laura lagi. Terdengar nada basa-basi di sana.
Sungguh membuat dion merasa malas untuk meladeni.
Dion mengangguk,
"Ya" jawab Dion singkat. Pria itu semakin mengeratkan dekapannya ke tubuh mungil Tasya.
Laura berdecak,
"Sayang sekali, saat sedang di puncak karier kamu harus pensiun dan mundur dari dunia basket. Apa istrimu yang menghambatmu?" Tanya Laura dengan nada menyindir. Wanita itu juga melemparkan pandangannya ke arah Tasya yang kini juga sedang menatapnya dengan tajam.
Tatapan keduanya bertemu. Ada aura ketidak sukaan dari masing-masing wanita itu.
"Saya rasa ini hanya tentang prinsip dan pilihan hidup, nona Laura. Dan anda juga tidak ada hak untuk mengurusi hidup saya" ucap Dion dengan nada ketus.
Sungguh malas sekali rasanya berurusan dengan wanita ini.
Laura mendengus,
__ADS_1
Wajah wanita itu merah padam seperti sedang menahan marah.
"Baiklah, selamat bersenang-senang" ujar Laura akhirnya sambil berlalu bersama sang pacar yang sedari tadi hanya diam.
Dion menghela nafas setelah kepergian Laura.
"Wanita egois, sayang sekali klub sebesar itu harus tamat karena manajemen yang amburadul" gumam Dion sambil menggandeng tangan Tasya dan berjalan ke arah meja dimana teman-teman Dion sudah berkumpul.
"Apa maksudmu?" Tanya Tasya tak mengerti.
"Pemilik klub yang merupakan ayah Laura menyerahkan begitu saja semua urusan manajemen pada Laura..." Dion menghela nafas sejenak.
"...dan wanita itu mengambil beberapa keputusan yang membuat manajemen jadi amburadul seperti sekarang" lanjut Dion lagi.
"Jadi, apa semua pemain bakalan hengkang dari klub?" Tanya Tasya lagi.
Dion mengangguk,
"Siapa yang mau bertahan di klub tanpa digaji?" Dion merangkul pundak Tasya.
Kini mereka sudah tiba di meja dimana semua teman-teman Dion sudah berkumpul.
Dion mengajak Tasya menyapa satu per satu temannya dan berbasa-basi sebentar.
Vian belum terlihat. Tumben sekali.
Setelah berbasa-basi seperlunya, Tasya dan Dion segera duduk di kursi kosong yang ada di ujung meja.
"Hai, bro!" Vian yang baru datang menyapa Dion dengan heboh, membuat Dion yang sedang menyesap minumannya menjadi tersedak dan terbatuk-batuk.
"Sialan loe, Vi" Dion mengumpat kesal.
Tasya mengulum senyum dan segera menepuk-nepuk punggung sang suami.
"Malam, Natasya" Vian ganti menyapa Tasya dan sudah akan memeluk istri dari sahabatnya tersebut. Namun secepat kilat Dion menghalangi.
"Weits, jangan coba-coba!" Hardik Dion galak.
"Hahaha, masih tetap jadi tuan tukang cemburu. Baiklah. Aku akan memeluk yang lain saja" Vian mencebik seraya berlalu dan menghampiri rekan tim nya yang lain.
Tasya hanya bisa tertawa menyaksikan perseteruan dua pria ini.
Mereka selalu saja ribut jika bertemu. Ada saja hal yang mereka perdebatkan.
Makanan mulai di sajikan di atas meja. Ada berbagai olahan daging, ayam, dan seafood.
Jika di kondisi biasa, mungkin semua makanan ini akan terasa menggoda bagi Tasya. Tapi malam ini, Tasya benar-benar merasa eneg melihat makanan-makanan tersebut.
"Ada apa, Nat?" Tanya Dion bingung saat melihat wajah istrinya yang pucat seperti ingin muntah.
"Bisakah kita pindah dari sini, Di? Bau makanan ini membuatku mual" jawab Tasya dengan suara berbisik.
Dion yang langsung paham, segera beranjak dan menuntun Tasya menuju ke meja lain yang kosong.
"Sudah jangan dipikirkan, minumlah dulu!" Dion mengangsurkan segelas air putih pada Tasya.
Tasya segera meneguk habis air yang ada di gelas tersebut.
"Kau ingin makan yang lain?" Tanya Dion seraya menyodorkan buku menu pada Tasya.
Wajah wanita tadi sudah tidak sepucat sebelumnya.
Tasya membolak-balik buku menu tersebut untuk memilih makanan apa yang sekiranya ingin ia makan malam ini.
"Bro, ada apa?" Tanya Vian yang tiba-tiba sudah berada di dekat mereka.
"Tasya mual melihat makanan-makanan itu. Jadi aku mengajaknya pindah ke sini" jawab Dion sekenanya.
Vian mengangguk tanda mengerti.
"Seharusnya aku tadi di rumah saja dan tak perlu ikut. Maaf aku jadi mengacaukan semuanya" ucap Tasya dengan nada menyesal.
"Santai, Sya. Kami semua maklum kok dengan kondisi kamu" Vian menepuk punggung Tasya dan berucap dengan nada santai.
"Jadi, kamu ingin makan apa?" Tanya Dion pada Tasya yang sepertinya sudah selesai memilih menu.
"Ini" Tasya menunjukkan foto es krim dengan aneka topping dan foto kue berbentuk segitiga berwarna putih dan merah yang entah apa namanya, Dion juga tidak tahu.
"Hmmmm, itu es krim, Nat. Bukankah kau sudah lama tak mau memakannya?" Tanya Dion heran.
Terakhir Dion mengajak Tasya makan es krim adalah sebelum mereka menikah, dan setelah menikah Tasya selalu menolak jika Dion mengajak wanita itu makan es krim.
"Ya, tapi aku ingin makan ini sekarang" jawab Tasya dengan nada yang terdengar galak.
Vian tertawa kecil,
"Turutin Di. Istri loe itu lagi hamil. Mau emang nanti anak loe ngeces pas lahir gara-gara mamanya minta es krim gak loe turutin" Vian berkata sambil mengejek.
"Brisik loe, gue gak butuh ceramah loe. Pergi sana! Hus.. hus...!" Usir Dion sambil mengibaskan tangannya pada Vian.
"Loe pikir gue ayam? Ngusirnya gitu banget" ucap Vian sambil mencebik dan menampilkan mimik wajah pura-pura teraniaya.
"Udah gak usah drama" timpal Dion sok tidak peduli.
"Kejam loe, Di" bukannya pergi, Vian malah menarik kursi dan duduk di hadapan Dion dan Tasya.
Dion hanya bisa memutar bola matanya.
Pria itu memilih untuk memanggil pelayan dan membuatkan pesanan untuk Tasya.
Dan saat es krim serta kue pesanan Tasya datang, Tasya langsung memakannya dengan lahap.
__ADS_1
Dion akhirnya bisa tersenyum dan bernafas lega melihat Tasya yang makan dengan lahap.
*****
Menjelang tengah malam, Dion dan Tasya baru kembali ke apartment mereka.
Farewell party baru saja usai.
Dion baru saja membuka pintu depan apartemen, saat Tasya mendadak langsung merangsek masuk ke dalam apartemen. Setengah berlari, Tasya langsung masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dekat dapur.
"Hooeeek" bisa Dion dengar, Tasya yang kembali muntah-muntah di kamar mandi.
Bergegas pria itu mengunci pintu depan dan segera menyusul Tasya masuk ke dalam kamar mandi.
"Hoeek" Tasya masih terus mengeluarkan isi perutnya.
Dion mengusap lembut punggung istrinya tersebut. Menatap prihatin pada Tasya yang belum berhenti muntah-muntah.
Tasya menarik nafas dalam-dalamsetelah berhenti mengeluarkan seluruh isi perutny yang terasa tak nyaman.
Tasya hanya makan es krim dan sekarang perutnya serasa di aduk-aduk tak karuan.
Dion membantu Tasya untuk berdiri dan membimbingnya agar duduk di kursi yang ada di ruang makan.
Dion mengambilkan segelas air putih hangat untuk Tasya.
"Masih mual?" Tanya Dion prihatin. Raut kekhawatiran terlihat jelas di wajah pria tersebut.
Tasya mengangguk samar, lalu meneguk perlahan air hangat yang tadi diberikan oleh Dion.
"Jangan menatapku seperti itu, Di. Aku baik-baik saja" ucap Tasya merasa tak nyaman, meskipun Tasya tidak sedang bertatap pandang dengan Dion, namun Tasya tahu bagaimana suaminya itu memandangnya.
"Wajahmu pucat, Nat. Bagaimana kalau kita ke rumah sakit?" Tanya Dion khawatir.
Tasya sedikit terkekeh,
"Aku baik-baik saja, Di. Ini hal normal yang terjadi pada ibu hamil di trimester pertama. Jadi biasakan dirimu" ujar Tasya sambil menatap ke arah Dion.
Suaminya ini selalu khawatir berlebihan.
Dion mengusap pipi Tasya, sedikit merapikan anak rambut yang berserakan di dahi Tasya.
"Bisakah kita bertukar tempat saja, dan biarkan aku yang merasakan semua itu? Aku sungguh tak tega melihatmu muntah-muntah setiap pagi" tanya Dion mulai meracau.
Tapi hal itu justru membuat Tasya tertawa geli,
"Maksudmu, kamu yang hamil gitu?" Tasya tak bisa lagi menahan tawanya untuk tidak meledak.
"Nat, aku serius" Dion mulai mencebik.
Tasya masih terus tertawa.
"Tidak bisa, sayangku..." Tasya sudah mulai berhenti tertawa,
"...kau cukup merawatku dan mengusap punggungku setiap pagi. Aku rasa itu sedikit membantu" lanjut Tasya kemudian.
"Hmmmmm, baiklah. Tapi sampai kapan kamu akan mengalami mual dan muntah seperti ini?" Lagi-lagi Dion menampilkan wajah khawatir.
Tasya mengendikkan bahu,
"Entahlah, mungkin bulan depan, mungkin di bulan keempat, mungkin juga sampai lahiran. Bawaan ibu hamil kan lain-lain" Tasya mencoba menjelaskan pada Dion.
Dan Dion kini terlihat semakin khawatir.
"Apa kamu yakin itu tidak akan membahayakan nyawamu?" Tanya Dion sekali lagi. Tampaknya kekhawatiran pria itu belum juga selesai.
Tasya langsung tergelak mendengar pertanyaan dari Dion,
"Ini bukan penyakit berat, Di. Aku hanya hamil dan aku akan baik-baik saja" jawab Tasya sekali lagi.
Kekhawatiran Dion kali ini menurut Tasya terlalu berlebihan.
Mungkin Tasya harus mengajak Dion bertemu dokter Ina besok dan meminta dokter senior itu saja untuk menjelaskan pada Dion.
Dion menghela nafas lega.
"Baiklah, baiklah. Itu artinya kamu harus makan lagi sekarang" ujar Dion sedikit memaksa.
"Tidak, Di aku tidak ingin makan apapun" Tasya nenolak dengan cepat.
"Tapi kamu baru saja memuntahkan semua makanan yang tadi kamu makan, Nat. Perut kamu kosong. Bagaimana kalau anak kita kekurangan nutrisi?" Sergah Dion panjang lebar. Masih ada raut kekhawatiran di wajahnya.
"Anak kita akan baik-baik saja, Di. Aku akan makan saat merasa lapar nanti." Tasya berusaha untuk menenangkan suaminya tersebut.
"Sekarang aku mengantuk dan ingin tidur" lanjut Tasya lagi.
Dion menarik nafas panjang,
"Baiklah, kalau begitu. Bangunkan aku nanti jika kamu merasa lapar" pesan Dion pada Tasya.
Tasya mengangguk dan segera beranjak dari tempat duduknya.
Wanita itu berjalan menuju ke kamar.
Setelah mengganti bajunya, Tasya segera naik ke atas ranjang dan bersiap untuk tidur.
"Dion," Tasya memanggil Dion yang baru saja masuk ke kamar dan mengganti kemejanya dengan kaus.
"Ya, ada apa sayang?" Dion segera menghampiri Tasya yang kini sudah berbaring di atas ranjang dan bersiap untuk tidur.
"Bisakah kamu berbaring di sini, dan memelukku sebentar hingga aku tertidur" pinta Tasya pada suaminya tersebut.
__ADS_1
Dion hanya tersenyum dan langsung membaringkan tubunnya di samping Tasya, memeluk istrinya tersebut agar merasa nyaman.
Tak butuh waktu lama, dan Tasya sudah terlelap di pelukan Dion.