Natasya

Natasya
Kala Senja


__ADS_3

Dion sudah rapi dan wangi.


Mengenakan kaos putih, celana jeans serta kemeja kotak kotak yang sengaja tidak ia kancingkan, membuat Dion terlihat santai.


Ia akan menemui Tasya, sekedar mengucapkan terima kasih karena Tasya selalu menyempatkan waktu menonton pertandingannya.


"Dion, mau kemana?" Papa Rian yang baru pulang dari kantor menyapa Dion


"Dion mau kerumah tante Desi, pa" jawab Dion sedikit berbohong.


"Ehem, rumah tante Desi apa rumah sebelahnya?" Papa Rian terkekeh.


Dion salah tingkah dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Papanya selalu saja menggodanya.


"Udah pulang, pa? Loh Dion mau pergi lagi?" Mama Wina yang baru keluar dari arah dapur menyapa dua lelaki dihadapannya tersebut.


"Mau kencan dia, Ma" malah papa Rian yang menjawab pertanyaan mama Wina.


Dion masih salah tingkah


"Papa ini kayak gak pernah muda aja" mama Wina langsung membela Dion.


"Dion pergi dulu, Ma, Pa" Dion bergegas mencium tangan mama Wina dan papa Rian.


"Hati hati, Di. Pulangnya jangan malam malam" pesan mama Wina.


"Siap ma" jawab Dion sembari bergegas keluar menuju ke halaman.


Dion menaiki motor kesayangannya dan segera melaju menuju ke rumah Tasya.


*****


Tasya baru saja selesai menyiram bunga di halaman. Ia menengok sebentar ke arah jalan depan rumahnya.


Belum ada tanda tanda mama Sarla akan pulang.


Ini aneh, tadi pagi mama Sarla bilang kalau ia hanya kerja setengah hari. Namun sampai jam segini mama Sarla belum juga pulang.


Tasya sudah akan masuk ke dalam rumah, namun ada suara motor yang mendekat ke rumahnya.


Tasya menengok untuk melihat siapa yang datang.


"Dion?" Gumam Tasya tak percaya.


Dion mengendarai motornya masuk ke halaman rumah Tasya. Melepas helm di kepalanya lalu bergegas turun untuk menyapa Tasya.


"Hai, Nat" sapa Dion sambil tersenyum.

__ADS_1


"Dion. Tumben kesini" ucap Tasya masih tak percaya.


"Iya. Aku kangen sama kamu" Dion mengacak rambut Tasya.


Dan seperti biasa, Tasya mencebik karena Dion selalu membuat rambutnya berantakan.


"Lagi sibuk ya?" Tanya Dion berbasa basi.


"Enggak. Lagi nungguin mama pulang saja"


Tasya duduk di kursi teras diikuti oleh Dion yang juga ikut duduk di sebelah Tasya.


"Mama kamu belum pulang?" Tanya Dion serius.


Tasya hanya menggeleng.


"Ikut aku bentar yuk" ajak Dion kemudian.


"Mau kemana?" Tanya Tasya mengernyitkan dahi.


"Jalan jalan sebentar. Kita berdua kan udah lama gak jalan bareng" jawab Dion sambil tersenyum.


Tasya tampak berpikir sebentar.


"Yaudah aku siap siap dulu" Tasya bangkit dari tempat duduknya.


"Aku tunggu disini" jawab Dion masih duduk di tempatnya semula.


Sebuah senyuman tersungging di bibirnya.


Tak butuh waktu lama, Tasya sudah kembali keluar dan kini sudah rapi.


"Ayo, Di" ajak Tasya pada Dion.


Dion mengangguk dan segera beranjak berdiri.


Mereka berdua sudah naik di atas motor Dion.


Motor melaju dengan kecepatan sedang.


Suasana sabtu senja yang mulai padat oleh kendaraan bermotor menjadi pemandangan Tasya dan Dion sepanjang perjalanan.


"Di, kita mau kemana?" Tanya Tasya pada Dion.


"Kamu maunya kemana?" Bukannya menjawab, Dion malah balik bertanya.


"Terserah kamu. Kan yang ngajakin jalan kamu" jawab Tasya sedikit kesal.


Dion hanya terkekeh lalu membelokkan motornya ke arah taman kota.

__ADS_1


Ada danau buatan dan pohon pohon rindang di sekitar taman. Cocok dijadikan tempat nongkrong kala sore hari.


"Nongkrong disini aja gimana?" Dion meminta pendapat dari Tasya.


Tasya mengedarkan pandangan ke sekeliling taman. Banyak juga muda mudi seperti dirinya dan Dion yang nongkrong dan saling bercengkerama di tempat ini.


"Yaudah, turun gih" jawab Tasya.


Dion membenarkan letak motornya dan segera turun menyusul Tasya yang sudah terlebih dahulu turun dari motor.


Kedua remaja itupun berjalan ke arah danau yang masih terlihat sepi.


Mereka duduk di salah satu bangku kosong yang ada di tepi danau.


Hening,


Hanya suara angin dan dedaunan yang saling bergesekan.


Suara samar samar dari riak air danau juga bisa mereka dengar.


Dion menggenggam erat tangan Tasya.


"Makasih ya, Nat" ucap Dion tulus. Matanya menerawang jauh ke arah danau.


"Makasih buat apa?" Tanya Tasya tak mengerti.


"Makasih buat semuanya. Makasih karena selalu ada untukku, dan makasih buat hari ini karena kamu udah bela belain datang liat pertandingan aku tadi." Ujar Dion tulus. Kali ini ia menatap lekat wajah Tasya.


"Kamu tahu kalo tadi aku datang?" Tasya menunduk sambil menyembunyikan pipinya yang mendadak berubah merah.


"Ya, aku melihatmu duduk di tribun. Makasih pokoknya" Dion mengelus lembut pipi Tasya yang masih terlihat merah.


"Bagaimana hubunganmu dengan mama Wina dan kak Kevin?" Tanya Tasya mengalihkan topik pembicaraan.


"Baik. Tadi mereka berdua juga,datang nonton" cerita Dion.


Tasya menarik nafas lega.


"Syukurlah kalo begitu. Semoga,seterusnya akan tetap begitu" ucap Tasya penuh harap.


Tasya menyandarkan kepalanya di bahu Dion.


"Tapi, Di. Apa tidak sebaiknya,kita jujur dan terbuka saja mengenai hubungan kita?" Tasya mengemukakan pendapatnya.


Perasaan tak nyaman ini sebenarnya sudah sejak lama mengganjal di hati Tasya.


"Maaf jika kamu tak nyaman dengan hubungan rahasia ini. Tapi aku pikir waktunya belum tepat" ujar Dion dengan pendapatnya sendiri.


Tasya berdecak.

__ADS_1


Tetap saja, mau terbuka sekarang ataupun nanti pasti tetap ada yang tersakiti.


Tasya menjadi dilema sekarang.


__ADS_2