Natasya

Natasya
Go Public


__ADS_3

Tasya baru saja masuk ke dalam kamar, saat dirinya menemukan sebuah kotak besar dengan pita emas di atasnya.


Tasya mengernyit,


Hadiah siapa ini?


Tasya mengambil secarik kertas yang ada di atas kotak tersebut, lalu membacanya sekilas.


Sebuah senyuman langsung tersungging di bibir Tasya.


Tasya membuka kotak tersebut dan menemukan sebuah gaun cantik di dalamnya.


"Ini cantik sekali" gumam Tasya pada dirinya sendiri.


Tasya segera menutup kembali kotak tersebut, lalu pergi ke kamar mandi. Tasya butuh mandi dan berendam sekarang.


*****


"Loe datang malam ini?" Tanya Julian pada Dion yang kini sedang duduk santai di tengah court.


Tim mereka baru saja selesai latihan rutin.


"Iya gue datang. Loe datang juga kan?" Dion balik bertanya.


Julian mengangguk.


"Soal video itu, loe udah nemuin pelakunya?" Tanya Julian lagi.


"Gue udah dapat info. Seperti dugaan gue itu emang rencananya si Laura" jawab Dion sambil mendengus kesal.


"Malam ini gue yakin Laura bakal bikin drama baru lagi." Julian membuat asumsi.


"Bagaimana dengan Tasya? Apa dia sudah tahu soal semua ini?" Tanya Julian lagi. Mendadak ia merasa khawatir.


Dion mengangguk.


"Gue udah ceritain semuanya dari awal. Dan Tasya mau mengerti. Tapi malam ini, gue bakal selesaikan semuanya. Gue gak mau hubungan gue sama Tasya jadi rumit lagi hanya karena berita-berita bodoh itu" Tekad Dion bersungguh-sungguh.


Julian hanya mengangguk dan mengiyakan semua ucapan sahabatnya itu.


Ya, meskipun Julian sendiri masih belum tahu bagaimana Dion akan menyelesaikan semuanya malam ini.


*****


Tasya menatap sekali lagi bayangan dirinya di cermin.


Tasya ingin benar-benar memastikan kalau tidak ada yang salah dengan penampilannya malam ini.


Berulang kali Tasya memuji gaun yang kini melekat di tubuhnya.


Gaun indah yang dibelikan oleh Dion dan kini benar-benar pas di badan Tasya.


Tok tok tok


Terdengar suara pintu kamarnya diketuk dari luar.


Tasya melihat ke arah jam dinding yang ada di kamar tersebut.


'Sudah hampir jam tujuh, itu pasti Dion' gumam Tasya sambil beranjak menuju ke arah pintu untuk membukanya.


Dan benar saja, saat Tasya membuka pintu, sudah ada Dion yang berdiri gagah di depan pintu mengenakan setelan jas lengkap.


Dion menyodorkan sebuket bunga mawar cantik pada Tasya


"Selamat malam, Nat" sapa Dion sambil menyodorkan buket bunga pada Tasya.


Segera Tasya menerimanya. Senyuman lebar kini tersungging di bibir Tasya.


"Selamat malam, Di. Terima kasih bunganya" Tasya membalas sapaan dari Dion.


"Ayo masuk dulu" ajak Tasya.

__ADS_1


Dion mengangguk dan segera mengekori Tasya masuk ke dalam kamar tersebut.


"Kamu suka gaunnya?" Tanya Dion sambil menatap takjub pada Tasya. Gadis itu terlihat begitu anggun malam ini.


Tasya masih tersenyum,


"Ya, gaun ini indah sekali. Kamu yang memilihnya?" Tasya berputar dan menunjukkan pada Dion betapa indahnya gaun itu.


Dion mengangguk sambil tersipu malu. Dion sungguh senang Tasya menyukai gaun yang ia pilih.


Tasya sekali lagi mematut dirinya di cermin dan sedikit merapikan rambutnya. Setelah yakin semuanya sempurna, bergegas Tasya menghampiri Dion yang kini sedang memandang ke arah luar jendela kamar tersebut.


"Aku sudah siap, Di" lapor Tasya pada Dion.


"Baiklah, kita berangkat sekarang" Dion mengulurkan lengannya memberi kode agar Tasya menggamit lengannya.


Tasya yang paham segera menyambut uluran tangan Dion.


Pasangan itu pun segera keluar dari kamar hotel dan turun menuju ke lobby.


*****


Mobil yang di kemudikan oleh Dion sudah sampai di depan sebuah gedung.


Dekorasi pesta sudah tampak dari luar gedung. Banyak juga wartawan yang berkerumun di depan gedung. Sepertinya banyak public figure yang akan hadir di pesta ini.


Dion yang sudah turun dari dalam mobil, membukakan pintu untuk Tasya.


Namun gadis itu terlihat sedikit ragu atau mungkin gugup?


"Ayo, Nat" Dion berkata lembut sembari mengulurkan tangannya.


Tasya menatap mata Dion sesaat, seakan mengatakan kalo dirinya sedang gugup sekarang.


"Tidak apa-apa. Ayo" ucap Dion masih dengan nada lembut.


Tasya menarik nafas panjang sebelum menyambut uluran tangan Dion dan keluar dari dalam mobil.


Namun Dion memilih untuk mengabaikan itu semua dan terus saja melenggang masuk ke dalam gedung tersebut.


Tasya hanya menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya dari sorot kamera. Tasya menggenggam erat tangan Dion seakan enggan untuk melepaskannya.


Suasana di dalam gedung tersebut sudah ramai.


Semua yang hadir di ruangan itu terasa asing bagi Tasya.


Gadis itu tak melepaskan genggaman tangan Dion.


Tasya terus saja mengekori Dion.


"Hai, Dion" suara lembut seorang gadis menyapa Dion.


Tasya kenal betul suara itu.


Suara gadis yang baru-baru ini selalu di gosipkan sedang dekat dengan Dion.


"Hai, Laura" Dion membalas sapaan Laura dengan nada dingin.


Dion yang tadinya hanya menggenggam tangan Tasya kini berganti merangkul Tasya dengan mesra.


Laura melihat Tasya dari ujung kaki hingga ke ujung kepala dengan tatapan tidak senang.


Baru saja Laura ingin buka suara dan bertanya mengenai gadis asing itu, namun papinya Laura sudah datang dan menyapa Dion.


"Hai, Dion. Terima kasih sudah datang malam ini" Mr Lim menjabat tangan Dion dan menyapa dengan ramah.


"Selamat malam, Sir. Senang bisa hadir di pesta ini" Dion membalas sapaan Mr Lim dengan hangat.


Sangat berbeda dengan sikapnya tadi pada Laura.


"Siapa gadis cantik ini?" Mr Lim menunjuk ke arah Tasya.

__ADS_1


"Dia Natasya, Sir. Tunangan saya" jawab Dion sambil tersenyum bahagia.


Tasya sedikit terkejut saat Dion memperkenalkan dirinya sebagai tunangan pada Mr Lim.


Pun dengan Laura, gadis itu juga tampak terkejut.


Wajah putihnya mendadak berubah menjadi merah padam, seperti sedang menahan amarah.


"Selamat datang di pesta ini, Natasya." Mr Lim mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Tasya. Keduanya berjabat tangan sambil tersenyum hangat.


"Terima kasih, Sir" Tasya menjawab sapaan dari Mr Lim.


Laura melotot tajam ke arah Tasya, namun Tasya memilih untuk mengabaikannya dan tidak mau membalas tatapan tak bersahabat dari Laura.


"Baiklah Dion dan Tasya, saya akan menemui tamu yang lain. kalian berdua, selamat bersenang-senang" Mr Lim berpamitan pada Tasya dan Dion dan dibalas dengan sebuah anggukan oleh keduanya.


Laura masih menatap tajam pada pasangan itu.


"Apa dia tunangan sewaanmu?" Tanya Laura ketus.


"Jaga ucapanmu nona Laura. Tasya dan aku sudah menjalin hubungan sejak lama" Dion membantah dengan nada tak kalah ketus.


Laura berdecak.


"Kalo hal itu benar, kenapa kau tak pernah mempublikasikannya. Kapan kalian bertunangan?" Laura masih mencoba mencari celah.


"Hubungan kami bukan untuk di publikasikan. Lagipula, Tasya adalah gadis baik yang tidak pernah memanfaatkan ketenaran seseorang hanya demi menaikkan pamor apalagi membuat berita bohong demi membuat dirinya semakin dikenal banyak orang" skakmat. Kata kata tajam dari Dion barusan benar-benar menohok Laura.


Gadis itu langsung terdiam.


"Selamat malam, nona Laura" ucap Dion dengan nada dingin dan langsung merangkul Tasya untuk pergi dari hadapan gadis menyebalkan itu.


Berbicara dengan Laura hanya membuat Dion semakin muak.


Dion memilih untuk bergabung dengan teman-teman tim nya. Dion memperkenalkan Tasya pada semua teman-temannya.


Dion tak mau lagi ada kabar bohong mengenai dirinya dan Laura. Dion hanya mencintai Tasya. Selalu begitu dan akan seterusnya begitu.


Pesta belum usai, namun Dion memilih untuk keluar dari tempat itu lebih awal.


Seperti yang Dion duga, belasan wartawan yang sudah menunggu di luar gedung, segera menghampiri Dion saat dirinya baru saja keluar.


Dion sengaja berhenti dan membiarkan para wartawan itu mengambil potret dirinya bersama Tasya.


Tasya memegang erat lengan Dion,


"Dion, bagaimana hubunganmu dengan Laura?"


"Dion, siapa gadis yang datang bersamamu malam ini?"


Pertanyaan demi pertanyaan mereka lontarkan pada Dion. Namun Dion malah menampilkan ekspresi santai.


"Gadis ini namanya Natasya, dan dia adalah tunanganku. Dan sekali lagi aku tegaskan, aku dan Laura tidak pernah ada hubungan apapun" ucap Dion sambil menekankan setiap kata di kalimatnya yang terakhir.


"Apa gadis ini yang membuat hubunganmu denga Laura berakhir?"


"Bagaimana kau menjelaskan video dirimu dan Laura yang beredar belakangan ini?"


Para wartawan itu masih tidak berhenti mencecar Dion denagn berbagai pertanyaan.


"Video itu tidak sepenuhnya benar, ada orang iseng yang sengaja mengeditnya lalu menyebarkannya. Orang itu sudah di proses hukum sekarang." Jawab Dion santai.


"Dan soal tuduhan kalian tadi, itu semua salah. Aku dan Tasya sudah menjalin hubungan sejak kami duduk di bangku SMA. Dan sekali lagi aku tegaskan aku tidak pernah menjalin hubungan apapun dengan Laura. Jika masih ada yang membuat berita tentang diriku dan Laura. Aku tidak akan segan-segan untuk menjebloskannya ke dalam penjara. Selamat malam." Dion segera merangkul Tasya dan membawa gadis itu masuk ke dalam mobilnya.


Meninggalkan para pencari berita yang masih sibuk mengambil gambar dirinya bersama Tasya.


Dion sudah menjalin hubungan serius bersama Tasya, Dion tak mau lagi ada kesalahpahaman ataupun berita-berita bohong yang mengganggu hubungannya bersama Tasya.


Kini dion sudah membuka hubungannya dan memgumumkan tentang hubungannya bersama Tasya ke seantero negeri.


Dion ingin semua orang tahu bahwa dirinya sudah mencintai seorang gadis sekarang. Dan itu adalah Tasya.

__ADS_1


__ADS_2