
"Sya," suara itu. Entah darimana datangnya.
Tasya dan ketiga temannya menoleh ke arah sumber suara.
Bagaimana lelaki itu bisa tahu posisi duduk Tasya yang jelas jelas jauh di atas tribun.
Pelatih Ronny berjalan mendekat ke arah Tasya.
"Bukankah seharusnya hari ini kamu ke panti?" Tanya pelatih Ronny sambil menatap tajam ke arah Tasya.
Ketiga teman Tasya juga tak mengalihkan pandangan mereka.
Kini mereka menatap bingung pada Tasya dan Pelatih Ronny. Berbagai pertanyaan memenuhi kepala mereka.
"Bu Ranti baik baik saja, kak. Tasya tadi udah kesana bareng mereka" jawab Tasya sambil menunjuk ke arah ketiga temannya.
Salsa mengangguk seakan membenarkan ucapan Tasya.
"Syukurlah kalo begitu. Mau ku antar pulang?" Tawar pelatih Ronny.
Tasya menggeleng dengan cepat.
"Tasya pulang bareng teman teman, kak" jawab Tasya selanjutnya.
"Baiklah kalo begitu. Hati hati. Dan jangan kebanyakan pacaran" Pelatih Ronny mengacak rambut Tasya sebelum pergi berlalu meninggalkan empat gadis tersebut.
Tasya mencebik, Salsa memutar bola matanya, sementara Silvi dan Vina masih bingung dan mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
Setelah Pelatih Ronny tidak terlihat lagi, Silvi dan Vina langsung memberondong Tasya dengan berbagai pertanyaan.
"Sejak kapan loe akrab sama pelatih? Loe kenal dimana? Kenapa gak cerita sama kita?" Tanya Vina bertubi tubi.
"Iya, Sya. Kenapa gak cerita ke kita kalo loe udah kenal sana tu pelatih. Gue kan mau minta nomer teleponnya. Kali aja gue bisa jadi pacarnya" ucap Silvi mulai melantur kemana mana.
__ADS_1
Salsa yang mendengarkan dua sahabat lebaynya itu hanya memutar bola mata.
Bergegas ia mengambil headset di tas kecil yang ia bawa.
Salsa segera menyumpal telinganya. Ia sungguh malas mendengar apapun tentang pelatih resek itu.
"Dia kakak angkat ku" jawab Tasya dengan malas.
Sekali lagi ia harus menjelaskan pada dua temannya tentang hubungannya dengan pelatih Ronny serta pertemuan konyol mereka waktu itu.
Tapi tentu saja, Tasya tidak membahas tentang Dion yang waktu itu ikut mengantarnya dan juga ikut shock saat tahu pelatih resek itu adalah kakak angkat yang selama ini Tasya cari.
"Wah wah kakak angkat loe keren, Sya. Gue gak keberatan kok jadi kakak ipar loe" ucap Silvi asal bunyi setelah Tasya mengakhiri ceritanya.
"Gue juga mau, Sya jadi calon kakak ipar loe" ujar Vina ikut ikutan.
"Trus, yang tadi katanya mau pedekate sama Bagas apa kabar? Apa semua cowok ganteng mau loe embat?Sisain satu kek buat gue " Ucap Silvi emosi.
Temannya yang satu ini kalo bahas cowok aja semangat empat lima. Giliran diajak ngerjain tugas banyak sekali alasannya.
"Ban kali pake cadangan. Pelatih Ronny buat gue aja. Loe ngalah dikit kenapa?" ucap Silvi sambil berdecak.
Kedua gadis itu pun sibuk memperebutkan laki laki yang belum tentu mau dengan mereka berdua.
Tasya hanya terkekeh menyaksikan perdebatan sengit tersebut.
Sementara di kejauhan, Dion melihat Tasya yang sedang asyik mengobrol dan bercengkerama dengan ketiga sahabatnya.
Ingin rasanya Dion menghampiri Tasya, namun kehadiran Silvi dan Vina membuat Dion mengurungkan niatnya.
Ia tak mau membuat semuanya jadi rumit.
"Hai, Di" Kevin yang datang bersama mama Wina menyapa Dion yang terlihat bengong.
__ADS_1
"Selamat ya atas kemenangan tim kalian" Kevin mengajak Dion untuk tos layaknya dua teman yang akrab.
Hubungan Dion dan Kevin belakangan ini memang sudah membaik seiring dengan membaiknya hubungan Dion dan mama Wina.
Mereka kini sudah menjadi keluarga yang rukun.
"Thanks, Kev" ucap Dion sembari tersenyum pada saudara tirinya tersebut.
"Makasih juga, ma. Udah nyempetin nonton pertandingannya Dion" ucap Dion pada mama Wina yang berdiri di samping Kevin.
"Mama senang akhirnya bisa lihat kamu bertanding" mama Wina menepuk punggung Dion sebagai ucapan rasa bangganya.
"Mau balik bareng kita?" Tanya Kevin.
Sejenak Dion memandang ke arah Tasya yang sudah beranjak dari tempat duduk dan berjalan menuju pintu keluar bersama teman temannya.
Dion sungguh merindukan Tasya. Mungkin dia akan menemui Tasya malam ini.
"Di?" Kevin memanggil Dion sekali lagi. Entah mengapa adik tirinya itu terlihat melamun sambil tersenyum saat menatap ke arah tribun di belakangnya.
Kevin menoleh ke arah pandang Dion.
Kosong,
Hanya ada beberapa petugas kebersihan yang mulai membersihkan kursi kursi di tribun.
Kevin mengendikkan bahu.
"Eh, iya aku pulang bareng aja sekalian. Sebentar." Dion tampak celingukan mencari teman temannya.
"Den, gue balik sama Kevin. Duluan ya" Dion melambaikan tangan pada Denny yang juga sudah bersiap akan pulang.
Denny hanya mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.
__ADS_1
Bergegas Dion, Kevin, dan mama Wina berjalan menuju ke tempat parkir.