
Dion menggandeng Tasya menuju ke arah balkon yang sepi dan sedikit temaram.
Hanya ada cahaya dari sang bulan dan ruang utama yang menembus jendela kaca.
Tasya tak mengerti, mengapa Dion membawanya ke tempat ini sekarang.
Seorang pria tampak berdiri sendirian di balkon membelakangi Tasya dan Dion.
Tasya mengernyit dan bertanya pada dirinya sendiri.
Siapa pria tersebut?
Dion menepuk punggung pria tersebut.
Dan saat pria asing itu menoleh, gantian Tasya yang terkejut tak percaya.
"Kevin" ucap Tasya lirih.
Tasya masih tak percaya dengan kehadiran pria di hadapannya tersebut.
Kevin berjalan mendekat ke arah Tasya.
Penampilan Kevin sangat rapi dan terlihat dewasa malam ini.
"Hai, Sya. Apa kabar?" Sapa Kevin lembut.
Tasya tampak salah tingkah sekarang.
"Ba.. baik. Kabarku baik" jawab Tasya sedikit gugup.
Kevin menatap lekat pada Tasya.
Gadis yang dulu pernah membuatnya tergila-gila ini, kini sudah tampak dewasa dan tentu saja semakin cantik.
Dion memang beruntung.
"Baiklah aku pikir kalian butuh waktu untuk bicara berdua. Aku akan masuk mengambil minuman" Dion mencoba mencairkan suasana yang mendadak terasa tegang.
Dion sudah akan berbalik dan meninggalkan Tasya bersama Kevin, namun Tasya mencegahnya. Tasya memegang erat tangan Dion, seakan Tasya takut jika Dion meninggalkannya bersama Kevin.
Dion seperti bisa membaca ketakutan di wajah Tasya. Pria itu tersenyum simpul lalu mengelus lembut tangan Tasya.
"Tidak apa-apa, Nat. Aku tidak akan jauh" ucap Dion lembut mencoba menenangkan Tasya.
Tasya terlihat menarik nafas panjang dan mengangguk.
Dion segera pergi meninggalkan Tasya dan Kevin. Memberi ruang pada dua orang tersebut untuk berbicara.
"Maaf, jika aku masih membuatmu takut" ucap Kevin lirih. Ada nada bersalah disana.
Tasya menggeleng,
"Bagaimana kabarmu, Kev?" Tanya Tasya berbasa-basi.
Tasya berjalan menuju pagar pembatas balkon tersebut.
Memandang kelap-kelip lampu kota yang tampak indah malam ini.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja sekarang"jawab Kevin sembari mendekat ke arah Tasya.
__ADS_1
Kini Kevin sudah berdiri di samping Tasya.
"Aku akan menikah dengan Vira bulan depan. Aku harap kamu mau datang" Kevin menyodorkan sebuah undangan kepada Tasya.
Tasya merasa terkejut dengan berita besar ini.
Akhir-akhir ini dirinya memang jarang berkomunikasi denagn mama Sarla maupun Vira.
Terakhir yang Tasya tahu mama Sarla dan Vira memang sempat berdebat soal hubungan Kevin dan Vira. Namun Tasya benar-benar tak menyangka jika akhirnya Kevin dan Vira berhasil meluluhkan hati mama Sarla dan kini keduanya sudah akan melenggang ke pelaminan.
Hari ini, Tasya juga belum sempat mampir ke rumah mama Sarla. Jadi berita dari Kevin ini benar benar mengejutkan dirinya.
Tasya hanya diam dan menerima undangan yang disodorkan oleh Kevin tanpa memandang wajah pria itu.
Tasya mengarahkan pandangannya ke jalanan yang mulai padat oleh lalu lalang kendaraan.
Sorot lampu dari kendaraan yang melintas berpendar bersama kelap kelip lampu jalan dan gedung- gedung tinggi di pinggir jalan.
"Sya, aku benar-benar minta maaf atas sikap burukku di masa lalu. Aku tahu aku adalah orang jahat yang sudah menghancurkan hidupmu. Mungkin kesalahanku terlalu besar untuk dimaafkan, tapi aku sungguh-sungguh minta maaf, Sya" ucap Kevin panjang lebar sambil menatap wajah Tasya, ada nada memohon di sana.
Tasya masih belum mengalihkan pandangannya dari kelap-kelip lampu kota.
Tasya mendengarkan kata-kata Kevin barusan, namun Tasya masih belum berani menatap wajah pria itu.
Luka di hatinya yang pernah di buat oleh Kevin belum sepenuhnya mengering. Masih ada sisa-sisa trauma disana.
Melihat wajah Kevin ataupun menatap matanya hanya akan membuat rasa trauma itu kembali membuncah.
"Setiap orang bisa berubah, dan aku yakin kamu sudah berubah menjadi orang baik sekarang. Jadi, aku memaafkanmu" ucap Tasya bersungguh-sungguh.
Sebuah senyuman langsung tersungging di wajah Kevin.
Kevin sudah akan memeluk Tasya, namun sesaat Kevin ingat siapa dirinya, ia tak mau membuat hubungan yang sudah baik ini kembali menjadi runyam.
"Makasih, Sya" ucap Kevin tulus.
Tasya hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Aku akan masuk ke dalam. Apa kamu mau bergabung juga dengan yang lain?" Tawar Kevin.
"Tidak, aku akan disini saja" jawab Tasya sambil menggeleng.
"Baiklah kalau begitu, aku masuk duluan" pamit Kevin sambil berjalan meninggalkan Tasya untuk masuk kembali ke dalam ballroom dan bergabung dengan para tamu.
Tasya membolak-balik undangan di tangannya sambil tersenyum simpul.
Ia sungguh tak menyangka jika akhirnya Kevin akan benar-bebar menikah dengan Vira.
Tasya menarik nafas panjang dan mengedarkan pandangannya ke kiri kanan.
Sepi
Hanya ada dirinya dan cahaya bulan yang remang remang di balkon tersebut.
Sepasang tangan tiba-tiba merangkul pinggang Tasya, membuat gadis itu tersentak kaget.
"Kau baik-baik saja?" Suara lembut Dion membuat Tasya bernafas lega.
"Aku hanya sedikit terkejut dengan berita ini" jawab Tasya sambil menunjukkan undangan di tangannya.
__ADS_1
Dion tertawa kecil.
"Aku juga terkejut. Namun itu sudah menjadi pilihan Kevin, jadi mungkin itu memang yang terbaik untuknya" Dion mengemukakan pendapatnya.
"Semoga Kevin memang benar-benar sudah berubah." Kata Tasya penuh harap.
"Kenapa kamu cemas begitu?" Dion sedikit heran.
"Bagaimanapun juga Vira itu saudaraku, Di. Aku tidak mau jika Vira tidak bahagia dengan pernikahannya" ucap Tasya cemas.
"Vira mencintai Kevin dan Kevin juga bersungguh-sungguh menerima Vira. Jadi apa yang harus di khawatirkan?" Asumsi Dion penuh keyakinan.
Sesaat Tasya terdiam.
Dion benar, keduanya pasti saling mencintai.
Kalau tidak mana mungkin mereka menikah.
Kenapa Tasya harus cemas?
"Kamu benar. Seharusnya aku tidak perlu cemas berlebihan" akhirnya Tasya setuju dengan pendapat dari Dion.
"Lalu, kapan kita akan menikah?" Ucap Dion sedikit berbisik,
Tasya hanya terkekeh mendengar pertanyaan dari Dion barusan.
"Setelah aku lulus dan dapat gelar dokter" jawab Tasya masih terkekeh.
Dion berdecak.
"Kenapa selama itu? Bisakah kita menikah besok saja?" Dion memberi penawaran.
Tasya hanya tergelak.
Tasya berbalik dan menatap tajam netra milik Dion.
"Tidak lama, Di. Tahun depan aku sudah lulus. Lagipula bukankah tahun ini karirmu sedang di puncak? Aku yakin kamu pasti sibuk" Tasya memberi alasan.
Dion menghela nafas.
"Baiklah, sepertinya aku masih harus bersabar satu tahun lagi" ucap Dion dengan ekspresi wajah yang sulit di jelaskan.
Tasya hanya tertawa geli melihat ekspresi aneh Dion.
"Oh ya, kamu ada acara akhir bulan ini?" Tanya Dion mengalihkan pembicaraan.
Tasya tampak berpikir sejenak,
"Sepertinya tidak ada acara penting. Ada apa?" Tasya balik bertanya.
"Datanglah ke Jakarta, aku ingin mengajakmu ke suatu acara" ujar Dion memohon.
"Acara apa?" Tanya Tasya penasaran
"Ada.. pokoknya kamu harus datang. Aku akan menunggumu" jawaban Dion membuat Tasya semakin penasaran.
"Kamu sungguh tidak ingin mengatakannya?" Tasya bersedekap. Sedikit merasa kesal karena Dion yang main rahasia-rahasiaan
Dion malah tertawa melihat wajah kesal Tasya.
__ADS_1
"Kamu akan tahu nanti. Ayo ke dalam. Kita berdansa" Dion segera merangkul Tasya dan membimbing gadis itu untuk masuk ke dalam ballroom.
Keduanya bergabung kembali dengan para tamu undangan yang lain, menikmati acara malam itu.