
Dan, setelah kejadian di hari saat aku sakit,
Perlahan hubunganku dengan Denny mulai menemukan arah.
Di tambah dengan hadirnya seorang bayi laki-laki tampan yang kami beri nama Driel.
Hubungan kami semakin membaik sekarang.
Seperti janjinya, Denny tak lagi merayu wanita-wanita di luar sana.
Ia sekarang sudah menjadi suami dan ayah yang baik.
*****
"Vin, jangan lupa hari ini ada arisan. Kamu pakai baju yang mama belikan kemarin ya" ujar mama mengingatkan.
Ya...ya...ya...
Inilah kegiatanku sekarang.
Arisan bersama ibu-ibu sosialita.
Mama mengharuskanku berpenampilan sempurna saat hadir di arisan-arisan tersebut.
Bagaimana mama bisa begitu akrab denganku?
Akupun juga bingung.
Sejak awal aku datang ke rumah besar ini sebagai menantu, mama sudah sangat menyayangiku.
Tentu saja aku bersyukur.
Mama selalu memperhatikan penampilanku.
Sebagai nyonya Denny, tentu saja mama ingin aku selalu berpenampilan sempurna.
Denny sudah menyelesaikan kuliahnya, dia sekarang menjadi direktur utama di perusahaan keluarga. Tentu saja, dia kan putra tunggal di keluarganya.
Bagaimana denganku?
Setelah Driel lahir aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah.
Beruntung mama mendukung penuh dan selalu menggantikanku mengasuh Driel saat aku kuliah.
Mama sangat menyayangi Driel.
Anak lelakiku itu bahkan lebih dekat ke omanya daripada ke aku, mamanya.
Inilah keluarga kecilku sekarang.
Aku bahagia...
*****
Pernikahan Salsa.
__ADS_1
Aku sedikit terkejut saat mendapati Tasya yang datang sendirian ke pesta pernikahan Salsa.
Aku sudah mendengar tentang hal buruk yang menimpa Tasya beberapa bulan yang lalu.
Aku sempat beberapa kali menjenguk Tasya saat gadis itu depresi.
Dan kini, aku melihat Tasya sudah berubah menjadi gadis yang kuat dan tegar.
Meskipun aku sedikit terkejut saat tahu bahwa hubungan Tasya dan Dion sudah berakhir.
Padahal menurutku, Dion dan Tasya adalah pasangan serasi.
Aku selalu mengira mereka akan segera menyusulku naik ke pelaminan setelah lulus SMA.
Namun rupanya takdir berkata lain.
Aku hanya bisa berdoa semoga Tasya maupun Dion mendapatkan pasangan terbaik dalam hidup mereka.
Atau kalau boleh sedikit memaksa aku berharap mereka berdua akan kembali berbaikan dan melenggang menuju pelaminan.
Apa salahnya berharap?
Mereka berdua adalah sahabatku.
Aku tadinya ingin berbicara banyak hal pada Tasya, namun rupanya gadis itu sedang terburu-buru.
Beberapa saat setelah Tasya pergi, Dion datang.
Aku sedikit menguping saat Denny, Dion, dan Julian sedang mengobrol.
****
Denny tampak mengernyit tak mengerti.
"Bisnis apa?" Tanya Denny penasaran.
Julian langsung menggaruk kepalanya.
"Gue lagi belajar merintis usaha, Den. Tapi gue sedikit bingung mau mulai darimana" ujar Julian menjelaskan.
"Julian harus membuktikan pada seseorang kalo dia punya masa depan yang menjanjikan selain menjadi seorang atlet" Dion membantu menjelaskan.
Denny mengangguk mengerti.
"Apa aku ketinggalan berita penting?" Tanya Denny sedikit menggoda Julian.
Vina yang sedari tadi menguping pembicaraan ketiga pria tersebut menjadi penasaran.
Tadi Vina dan Tasya memang sempat menggoda Julian tentang pacar, tapi Vina benar-benar tak menyangka jika Julian sudah masuk ke tahap yang serius.
Kini Vina semakin penasaran, siapa pacar seorang Julian.
"Aku akan membantumu" Denny berkata dengan yakin sambil menepuk punggung Julian.
Julian langsung tersenyum sumringah.
__ADS_1
"Thanks Den" ucap Julian bersemangat
Denny merasa senang bisa membantu sahabat lamanya tersebut.
Kebetulan dirinya memang sedang mencari partner bisnis untuk cabang baru kafenya.
Dan sekarang, Denny menemukan partner yang tepat.
Ia yakin Julian akan bisa diandalkan.
*****
"Jadi, siapa pacar Julian? Apa dia memberitahumu?" Tanya Vina dengan nada serius pada Denny.
Keduanya sedang dalam perjalanan pulang dari pesta pernikahan Salsa dan Ronny.
Denny tersenyum simpul.
"Apa kamu menguping tadi?" Tanya Denny masih tertawa kecil.
"Apa salahnya? Aku kan penasaran" Vina mencari pembelaan.
Driel sudah tertidur di jok belakang.
"Sayangnya Julian tidak memberitahuku" jawab Denny sambil terus fokus ke jalan di depannya.
Tiba-tiba sebuah ide usil mampir di otaknya.
"Tapi aku punya satu berita bagus. Apa kau mau mendengarnya" Denny berusaha memasang wajah serius.
"Apa itu?" Tanya Vina antusias.
Denny menepikan mobilnya ke sisi jalan.
Ia lalu membisikkan sesuatu pada istrinya tersebut.
Vina yang tadinya antusias, mendadak langsung terlonjak kaget.
"Kau gila. Kita sedang di jalan Den" ucap Vina sedikit berteriak.
Tawa Denny langsung meledak.
"Kita bisa mampir di hotel sebentar. Mumpung Driel sedang tertidur pulas" Denny memberi penawaran. Pria itu masih terus tertawa.
"Tidak! Kita pulang sekarang. Dasar mesum!" Vina bersedekap sambil memasang wajah kesal.
"Siap nyonya Vina" ucap Denny masih tertawa.
Denny sepertinya senang sekali menggoda Vina dan membuat istrinya itu kesal.
"Diamlah, atau Driel akan bangun" Vina memukul lengan Denny.
Denny segera menghentikan tawanya dan segera memacu kembali mobilnya menuju ke arah rumahnya.
Matahari sudah mulai condong ke arah barat.
__ADS_1
Hari sebentar lagi akan beranjak sore.