Natasya

Natasya
Bimbang


__ADS_3

"Apa kamu masih mencintainya?" Tanya Ronny lembut pada Tasya yang sedari tadi terlihat melamun.


Tasya menggeleng,


"Tasya takut, Kak" jawab Tasya sedih.


"Kamu takut Dion akan meninggalkanmu lagi?" Tebak kak Ronny.


Tasya tak menjawab.


Ronny duduk di sebelah adik angkatnya tersebut.


"Dion sudah lama mencarimu. Kakak rasa, kali ini dia bersungguh-sungguh dan ingin memperbaiki hubungan kalian berdua" Ronny mengemukakan pendapatnya.


"Dion bisa mendapatkan gadis lain yang lebih baik dan lebih sempurna." Ujar Tasya datar. Pandangannya menerawang jauh.


Entahlah, Tasya masih merasa kalau dirinya tak lagi pantas bersanding dengan Dion.


"Bagaimana jika ternyata Dion tetap memilihmu?" Pertanyaan dari kak Ronny seperti mematahkan pendapat Tasya barusan.


Tasya hanya diam.


"Keputusan ada di tanganmu, Sya.


Kakak tahu, kamu masih sangat mencintai Dion. Kakak bisa melihatnya dari matamu. Setiap orang punya masalalu, tapi setiap orang juga bisa memilih untuk meninggalkan masa lalu kelamnya atau tetap berkubang di dalamnya" ucap Ronny berusaha bijak.


Pria itupun beranjak dan pergi meninggalkan Tasya.


Ronny akan membiarkan Tasya memikirkan semuanya secara matang sebelum membuat keputusan.


*****


Setelah pertemuan tak terduganya dengan Dion, Tasya memilih untuk kembali lebih cepat dari seharusnya.


Tasya hanya ingin menghindari dari Dion dan berpikir jernih sebelum memberikan jawaban pada Dion.


Tasya akan kembali lagi ke kota itu saat pernikahan Silvi dan Julian satu bulan lagi.


Sekarang, Tasya benar-benar ingin sendiri.


"Tasya," sebuah suara membuyarkan lamunan Tasya.


Tasya sedang duduk sendirian di sebuah foodcourt sambil menikmati minumannya.


Seorang pria berpenampilan santai menyapa Tasya. Pria yang tidak asing bagi Tasya dan lumayan dekat dengan dirinya beberapa tahun terakhir.

__ADS_1


"Kak Egi?" Tasya membalas sapaan dari Egi yang merupakan kakak dari Kiki, sahabat baik Tasya.


"Kamu sendirian disini? Boleh ku temani?" Egi duduk di kursi yang ada di depan Tasya.


"Kak Egi sendirian juga? Kiki kemana?" Tanya Tasya berbasa-basi.


"Kiki lagi reunian sama temen temen sekolahnya" jelas kak Egi.


"Oh" ujar Tasya sambil mengangguk.


"Kamu lagi ada masalah? Tadi kakak lihat kamu melamun" tanya Egi serius.


"Gak ada. Tasya gak melamun" jawab Tasya berbohong.


"Lagi bertengkar ya, sama pacar kamu?" Egi menerka-nerka.


"Tasya lagi gak punya pacar, kak" jawab Tasya sambil terkekeh.


"Bener gak punya? Berarti kakak bisa dong daftar jadi pacar kamu" ujar Egi sambil tertawa.


Tasya ikut tertawa.


"Sebenarnya, Tasya lagi bingung aja" Tasya memulai ceritanya.


"Bingung kenapa?" Tanya Egi serius.


"Ceritanya rumit" ucap Tasya lirih.


"Coba cerita. Mungkin kakak bisa bantu" Egi memberikan saran.


Tasya menghela nafas dan berpikir sejenak,


Tasya ragu antara mau menceritakan masalahnya atau tidak.


"Dulu kami baik-baik saja, hingga sebuah kejadian buruk mengubah semuanya. Aku hanya merasa, sekarang aku tak pantas lagi untuknya. Aku bukan lagi gadis yang sempurna. Aku ingin pergi, tapi..." Tasya merasa ragu untuk melanjutkan ceritanya.


"Tapi kamu masih mencintainya?" potong Egi cepat.


Tasya terdiam.


"Kenapa tidak mencoba memulai lagi dari awal jika memang dia bersungguh-sungguh dan memintamu untuk kembali" saran Egi bijak.


"Aku takut, dia akan kembali mengabaikanku lalu meninggalkanku" jawab Tasya pesimis


Egi berdecak,

__ADS_1


"Jika memang dia ingin meninggalkanmu lagi, ia tak akan repot-repot memintamu untuk kembali. Dia pasti sudah menggandeng gadis lain sebagai penggantimu."ujar Egi diplomatis.


Sejenak Tasya terdiam. Ucapan Egi ada benarnya. Untuk apa Dion mencarinya selama ini jika ujung-ujungnya hanya untuk meninggalkannya.


"Tapi tetap saja..." Tasya bergumam lirih.


"Begini saja. Aku tidak tahu kenapa kamu merasa tidak sempurna lagi untuknya, tapi kalau sekarang dia bersikeras untuk kembali kepadamu dan ingin memperbaiki semuanya, aku yakin pasti dia adalah pria yang baik. Pria yang mau menerima kamu apa adanya" Egi menghela nafas sejenak.


"Kalau kamu mengabaikannya sekarang, belum tentu kamu akan mendapatkan pria yang sebaik dia juga. Jadi keputusan ada di tanganmu sekarang" jelas Egi panjang lebar.


Tasya menghela nafas,


Dion memang pria baik, namun kadang sikapnya kekanak-kanakan. Hal itulah yang kadang membuat Tasya menjadi bimbang.


"Apa kak Egi sudah punya pacar?" Tasya mengalihkan topik pembicaraan.


Egi hanya tertawa sumbang,


"Maaf jika aku sok bijak mengenai hubunganmu bersama pacarmu. Tapi aku belum punya pacar" jawab Egi sedikit malu.


"Tidak, aku justru berterima kasih karena kak Egi mau mendengarkan tentang kisahku yang rumit ini" ujar Tasya sambil tersenyum tulus


"Kau tahu? Tadinya aku ingin memintamu untuk menjadi pacarku tapi setelah mendengar ceritamu barusan, sepertinya aku harus mengubur dalam dalam niatku itu" ujar Egi sambil terkekeh.


Tasya sedikit terkejut dengan pernyataan dari Egi barusan.


"Maaf..." hanya kata itu yang keluar dari bibir Tasya.


Lagi lagi ia merasa bersalah karena telah membuat seorang pria menaruh harapan kepadanya.


"Tidak, tidak perlu minta maaf. Aku senang kamu mau terbuka, setidaknya aku tidak perlu lagi menaruh harapan kepadamu" Egi masih tertawa kecil.


"semoga hubungan kalian berdua segera membaik" ucap Egi tulus.


Tasya tersenyum sambil mengangguk.


"Semoga kak Egi juga segera dipertemukan denga gadis baik yang akan jadi kakak ipar untuk Kiki" jawab Tasya sama sama tulus.


Egi mengangguk. Dalam hati ia mengaminkan doa dari Tasya tersebut.


"Mau ku antar pulang?" Tawar Egi sambil beranjak berdiri. Tasya ikut beranjak.


"Apa tidak merepotkan?" Tasya sedikit sungkan.


"Tidak sama sekali. Ayo!" Egi merangkul pundak Tasya.

__ADS_1


Keduanya pun berjalan menuju ke arah tempat parkir.


__ADS_2