
Tasya masih mengemas beberapa barang yang akan dia bawa dari rumah mama Sarla.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun Tasya masih belum mengantuk.
Dion masih sibuk dengan ponselnya.
Ada beberapa pekerjaan yang mendadak harus Dion kerjakan berkaitan dengan perusahaan yang selama ini Dion kelola.
"Lihat yang aku temukan" Tasya menghampiri Dion dan memperlihatkan jaket lama Dion yang dulu pernah Dion berikan pada Tasya sewaktu Dion menolong Tasya.
"Kau masih menyimpannya?" Ucap Dion senang.
Tasya mengendikkan bahu,
"Dulu aku selalu membawanya tidur saat aku rindu padamu" cerita Tasya sedikit terkekeh.
Tasya kembali ingat bagaimana dulu dirinya harus menjalani hubungan jarak jauh dengan Dion.
Sungguh merupakan masa-masa yang berat dalam hubungan mereka.
"Sekarang, kau bisa selalu memelukku setiap waktu" ucap Dion sedikit nakal, membuat Tasya memukul lengan suaminya tersebut.
"Tapi jaket ini memang berjasa. Gara-gara aku memakainya, aku jadi menemukan bidadari secantik kamu, Nat" lanjut Dion lagi. Kali ini ia memandang Tasya dengan tatapan penuh cinta.
"Hentikan, Di. Kamu benar-benar jadi bucin sekarang" ujar Tasya sedikit mencebik.
"Kamu yang sudah membuatku menjadi seperti ini, Nat. Kamu membuatku jatuh cinta setiap saat" Dion menarik Tasya ke dalam pelukannya.
Sepertinya Dion akan segera melancarkan "olahraga malam" nya lagi kali ini.
Tasya mengelak dengan cepat.
"Aku harus menyelesaikan ini dulu, Di. Kita bisa melakukan yang itu nanti" tolak Tasya sehalus mungkin.
Tasya menunjuk ke arah tumpukan baju dan barang yang harus segera ia kemas.
"Baiklah, aku akan membantumu" Dion beranjak dari atas ranjang dan segera membantu Tasya membereskan semua barang-barang yang berserakan tersebut.
Saat Tasya akan menaruh barang terakhir ke rak lemari bagian atas, sebuah foto tak sengaja terjatuh dari sana.
Tasya memungut foto itu dan melihatnya.
Dion ikut melihat foto tersebut.
Foto masa kecil Tasya di panti asuhan.
"Bisakah kita berkunjung kesana sebelum berangkat?" Tanya Tasya memohon pada Dion.
"Ya, tentu saja. Besok kita akan kesana. Tapi malam ini..." Dion menutup pintu lemari dan segera meraih Tasya ke dalam pelukannya.
"Malam ini kamu milikku" bisik Dion sambil membopong tubuh Tasya, membawanya naik ke atas ranjang tempat tidur.
getaran di hatiku
yang lama haus akan belaianmu
seperti saat dulu
saat-saat pertama kau dekap dan kau kecup bibir ini
dan kau bisikkan kata-kata aku cinta kepadamu
peluhku berjatuhan menikmati sentuhan
perasaan yang teramat dalam
tlah kau bawa segala yang kupunya...
segala yang kupunya
(Rindu-AgnezMo)
*****
Tasya dan Dion sudah tiba di rumah papa Anton.
Tasya memeluk erat papa kandungnya tersebut.
Kini ketiganya sedang berbincang di teras rumah papa Anton.
"Apa papa gak mau ikut Tasya pindah ke Jakarta?" Tanya Tasya sekali lagi.
"Papa akan disini saja, Sya. Menikmati hari tua. Menunggu saat kamu, Dion, dan cucu papa nanti berkunjung" ujar Papa Anton sambil tersenyum bahagia.
Ia sudah membayangkan anak-anak Tasya dan Dion yang nantinya akan berkunjung ke rumah sederhana ini.
Saat kaki-kaki mungil itu berlarian di halaman rumahnya.
Dan saat masa itu tiba, pastilah akan menjadi momen yang paling membahagiakan bagi papa Anton.
__ADS_1
"Kapan kalian akan berangkat?" Tanya papa Anton memecah keheningan.
"Besok pagi rencananya kami sudah akan berangkat, Pa" jawab Dion.
"Papa harap kalian saling menjaga dan saling mengerti. Kalian sudah sama-sama dewasa, jadi tak perlu meributkan masalah-masalah kecil yang tidak perlu" nasehat papa Anton panjang lebar.
Tasya dan Dion mengangguk bersamaan.
"Papa jaga diri baik-baik ya, di sini. Tasya akan sempatin untuk berkunjung saat libur" Tasya kembali memeluk erat papa Anton, seakan masih enggan berpisah jauh dari orang tua yang tinggal satu-satunya tersebut.
"Papa akan baik-baik saja disini, Sya. Kamu tidak perlu khawatir" ucap papa Anton menenangkan Tasya.
"Kami pamit, Pa." Gantian Dion yang memeluk papa Anton.
"Papa titip Tasya ya, Dion. Papa yakin kamu akan menjaga Tasya dengan baik" ucap papa Anton pada Dion.
"Dion akan selalu menjaga Tasya, Pa" jawab Dion bersungguh-sungguh.
Setelah berpamitan satu sama lain, Dion dan Tasya pun beranjak meninggalkan rumah papa Anton.
Keduanya segera masuk ke dalam mobil, dan melaju meninggalkan rumah sederhana tersebut.
"Kita ke panti asuhan?" Tanya Dion memecah keheningan di dalam mobil yang ia kemudikan.
Tasya hanya diam sejak meninggalkan rumah papa Anton tadi.
"Ya," jawab Tasya singkat.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Dion khawatir.
Tasya mendongakkan kepalanya, berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
Namun sepertinya sia-sia.
Butir bening itu tetap jatuh meluncur di kedua pipi Tasya.
Dion paham, Tasya pasti merasa berat berjauhan dengan orang-orang yang dia sayangi.
"Kita akan sering berkunjung ke kota ini, Nat. Jangan menangis" Dion memegang tangan Tasya mencoba untuk menenangkan istrinya tersebut.
"Aku tak mengerti, sebelumnya aku juga kuliah di luar kota, tapi kenapa sekarang aku merasa sangat sedih?" Ucap Tasya seraya menghapus airmata di kedua pipinya.
Dion masih fokus menyetir dan memperhatikan jalan di depannya.
"Mungkin karena sekarang kamu sudah jadi seorang istri. Tapi kamu tenang saja. Aku akan selalu menjagamu" kali ini Dion mengusap kepala Tasya.
Tangis wanita itu sudah reda.
"Baiklah, cepat atau lambat kita memang harus tinggal jauh dari orang-orang yang kita sayangi demi sebuah kehidupan baru" ucap Tasya sok bijak.
Dion hanya terkekeh.
"Aku senang, kalau akhirnya kamu paham. Kita akan membentuk keluarga kecil kita sendiri" timpal Dion sambil tersenyum lebar ke arah Tasya.
Tasya hanya tersenyum dan tak mau menanggapi lagi.
Mereka hampir sampai ke panti asuhan.
*****
Di panti asuhan,
Salsa yang melihat mobil Dion memasuki halaman panti, langsung menyambut pasangan pengantin baru tersebut.
"Pengantin baru gandengan terus, ya" Salsa menyapa sambil menggoda Dion dan Tasya.
Namun Tasya maupun Dion memilih untuk mengabaikannya.
Flo, yang kini sudah besar ada di gendongan Salsa.
"Hai, Salsa. Apa kabar?" Sapa Tasya berbasa-basi.
"Hai cantik, ikut tante yuk!" Tasya mengambil Flo dari gendongan Salsa dan menggendong balita lucu tersebut.
"Kabarku baik. Ayo ngobrol di dalam!" Ajak Salsa pada pasangan tersebut.
Dion dan Tasya mengekori Salsa masuk ke dalam panti.
"Kak Ronny kemana, Sal?" Tanya Dion celingukan.
"Dia sedang mengajar basket private tak jauh dari sini. Mungkin sebentar lagi dia akan kembali" jawab Salsa menjelaskan.
Salsa duduk di sofa panjang yang ada di ruangan tersebut berjejer dengan Tasya yang kini memangku Flo.
Dion memilih untuk duduk di sofa single tak jauh dari Tasya.
"Jadi gimana? Kalian berdua sudah mempraktekkannya? Atau sudah ada kabar bagus sekarang?" Tanya Salsa kepo.
Tasya dan Dion sama-sama memgernyit bingung.
__ADS_1
"Praktek apa?" Tanya Tasya polos.
Bukannya menjawab, Salsa malah langsung tergelak.
"Adik untuk Flo. Apa sudah jadi?" Salsa mengangkat kedua alisnya sambil memasang senyum usil.
Sontak Tasya langsung memukul lengan sahabatnya tersebut.
"Kenapa semua orang pikirannya mesum begitu sih" protes Tasya merasa risih.
Dion memilih untuk tak menanggapi. Pria itu hanya menahan tawanya.
"Baiklah, baiklah. Aku tidak akan membahasnya. Ngomong-ngomong kapan kalian akan berangkat?" Salsa mengalihkan topik pembicaraan.
"Rencana besok kami akan berangkat. Masa cuti ku sudah habis" kali ini Dion yang menjawab dan menjelaskan.
"Kalian tidak bulan madu dulu gitu? Bikinin adik buat Flo" tanya Salsa sambil tertawa renyah.
"Kamu aja yang bikin sana sama kak Ronny" Tasya menyahut dengan nada kesal.
Salsa malah semakin tergelak.
"Memangnya kamu dulu bulan madu? Gak juga kan?" Tasya mencibir ke arah Salsa.
"Kami bulan madu di atas ranjang, Sya" kak Ronny yang baru datang langsung menjawab pertanyaan Tasya dengan to the point.
Sontak Salsa langsung menepuk jidatnya, sedikit tak percaya dengan jawaban blak-blakan dari Ronny.
"Kak Ronny!" Tasya yang melihat Ronny datang langsung menyerahkan Flo pada Salsa dan menghambur ke pelukan kakak angkatnya tersebut.
"Si cengeng, akhirnya sudah jadi seorang istri sekarang" bukannya menyapa Tasya, Ronny malah sibuk menggoda dan mengejek adik angkatnya tersebut.
Jadilah sekarang Tasya mencebik tak terima.
"Tasya gak cengeng kakak" sangkal Tasya membela diri.
Ronny hanya terkekeh. Pria itupun menghampiri Dion dan melakukan tos.
"Kamu harus banyak sabar, Di. Tasya itu cengeng. Dikit-dikit ngambek, dikit-dikit nangis" Ronny berkata dengan berbisik pada Dion, namun suaranya masih bisa di dengar oleh Tasya yang berdiri tak jauh dari kedua pria itu.
"Kak Ronny!!" Geram Tasya kesal.
Dion dan Salsa hanya tertawa menyaksikan perseteruan antara Tasya dan Ronny.
"Lihat, kan? Belum apa-apa dia sudah ngambek. Sebentar lagi pasti bakalan nangis" Ronny masih tak berhenti menggoda adik angkatnya tersebut.
Tasya yang merasa kesal bersedekap dan kembali duduk di tempatnya semula.
Wajahnya merah padam karena kesal.
Ronny dan Dion masih kompak tertawa.
"Sudah, papanya Flo. Berhenti menggoda Tasya" Salsa memilih untuk menengahi perseteruan ini.
"Baiklah, baiklah. Kakak minta maaf, Sya" ujar Ronny masih cengengesan sambil mengacak rambut Tasya.
Tasya memilih untuk mengabaikan sikap Ronny yang semakin menyebalkan tersebut.
Tasya mengambil Flo lagi dari pangkuan Salsa.
"Apa kalian berdua tidak kewalahan, merawat anak-anak disini?" Tanya Dion yang memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Tidak terlalu. Papa dan mama sering datang membantu. Rencananya mereka berdua juga akan ikut pindah ke sini, setelah panti selesai di renovasi lagi" jelas Salsa panjang lebar.
"Renovasi lagi?" Tanya Tasya sekali lagi
"Iya, Sya. Kami perlu menambah beberapa kamar lagi. Tapi kami masih menunggu bantuan dari beberapa donatur lagi. Kalian mau ikut menyumbang?" Salsa mengulurkan map pada Dion.
Dion membuka map tersebut dan membacanya sekilas. Lalu mengangguk.
"Ya, kami bisa menyumbang sedikit untuk renovasi. Nanti aku kabari" ucap Dion masih membaca isi map tersebut.
"Ada berapa anak-anak yang tinggal disini sekarang?" Tanya Tasya pada Salsa.
"Sekitar lima puluh anak. Tapi kebanyakan sudah mandiri jadi aku tidak terlalu kewalahan memgurus mereka" jawab Salsa dengan nada santai.
"Aku salut sama kamu, Sal. Bisa sabar mengurus anak-anak asuh kamu disini" Tasya menepuk lembut punggung sahabatnya tersebut.
"Aku juga gak nyangka, Sya. Bisa jadi kayak sekarang ini. Setidaknya banyak pelajaran yang aku ambil setelah mengenal anak-anak disini. Aku benar-benar banyak belajar dari mereka" tukas Salsa panjang lebar.
"Bagaimana dengan Vina, apa kamu masih sering ketemuan sama dia?" Tasya mendadak ingat pada temannya yang satu itu.
"Vina dan Denny adalah donatur tetap di panti ini. Jadi mereka memang terkadang datang kesini" jelas Salsa lagi.
Tasya hanya mengangguk.
Sahabat-sahabatnya saat SMA sudah jadi orang-orang hebat sekarang.
Mereka semua tidak hanya kaya harta tapi juga kaya hati.
__ADS_1
*****
Setelah ini kita kenalan sama Elena dan Egi.