Natasya

Natasya
Reuni


__ADS_3

"Loe yakin, gak mau konfirmasi berita ini?" Julian menunjukkan berita yang tengah beredar di media sosial mengenai hubungannya dengan Laura.


Dion berdecak.


"Males gue mau konfirmasi apalah. Gue kan bukan artis" ucap Dion dengan malas.


"Tetep aja, loe tu punya banyak fans. Jadi baiknya loe konfirmasi deh. Gila si Laura bikin postingan sampai halu begitu" Julian terpingkal membaca postingan Laura yang mengaku sedang dekat dengan Dion dan menjalin hubungan yang serius.


Dion memilih untuk mengabaikan semua itu.


Dion masih memikirkan Tasya. Sampai sekarang bahkan Dion belum tahu dimana Tasya kuliah dan menetap.


"Loe masih mikirin Tasya?" Julian sudah selesai menatap layar ponselnya. Ia bertanya serius pada Dion


"Menurut loe, Tasya sekarang udah move on belum dari gue? Jujur, gue takut kalo saat kami bertemu tiba-tiba Tasya udah ngasih undangan pernikahannya" jawab Dion pesimis.


Julian menepuk bahu Dion.


"Kalau itu terjadi, berarti Tasya memang bukan jodoh loe" bukannya menenangkan, Julian malah membuat sahabatnya tersebut semakin was-was.


"Ngomong-ngomong, loe pulang gak akhir tahun nanti?" Tanya Julian lagi.


"Gue pulang kalo elo beneran merried sama Silvi" ucap Dion terkekeh.


"Masih ragu?" Julian mengeluarkan selembar undangan berwarna gold dari dalam tas nya dan memberikannya pada Dion.


Dengan cepat Dion mengambil undangan itu dan membacanya berulang kali.


"Serius loe,Ju? Ini bukan undangan halu kan?" Ujar Dion tak percaya.


"Ya enggak lah. Khusus buat loe gue kasih yang paling pertama" ucap Julian sombong.


Dion tak menyangka jika akhirnya Julian berhasil meluluhkan hati kedua orang tua Silvi. Yang Dion tahu, Silvi dan Julian memang sudah pacaran sejak lama.


Namun keduanya terbentur restu dari mama dan papa Silvi.


Alasan utama adalah karena Julian yang hanya berasal dari keluarga sederhana.


Namun undangan di tangannya tersebut seperti membuktikan kalau akhirnya cinta bisa meluluhkan segalanya.


"Kesempatan loe buat ketemu sama Tasya, Di" ucap Julian sambil menaik turunkan kedua alisnya.


Dion mengangguk mengiyakan ucapan Julian tersebut.


Tentu saja Dion akan pulang.


Inilah kesempatannya. Ia akan kembali memperjuangkan cinta Tasya.


*****


Silvi memeluk Vina dan Salsa secara bergantian.


Sudah lima tahun lebih dirinya tidak berjumpa dengan kedua sahabatnya tersebut.

__ADS_1


Ketiga sahabat itu kini duduk di sebuah Resto di kota kecil mereka.


"Tasya gak datang ya?" Tanya Silvi sedih.


"Katanya sih, dia mau usahain datang. Tapi gak janji juga" jawab Salsa.


"Padahal aku kangen banget sama Tasya" ujar Silvi.


"Iya, aku juga. Terakhir ketemu pas nikahannya Salsa dua tahun yang lalu" Vina menimpali


"Maaf ya, Sal. Aku gak sempat datang waktu itu. Tapi aku ikut bahagia akhirnya kamu menikah sama pelatih resekmu itu" ucap Silvi sambil terbahak.


Salsa mencebik.


"Biarin resek. Yang penting ganteng" Salsa membela diri.


"Ciyee sekarang di belain. Suami gue juga ganteng, Sal. Tajir lagi" Vina menggoda sambil menyombongkan diri.


"Iya, tajir. Loe tu cuma beruntung waktu itu kecelakaan nya sama Denny. Coba kalo sama yang lain. Gak bakal jadi nyonya besar Vina deh" cibir Salsa tak mau kalah.


Silvi terpingkal pingkal melihat perseteruan antara Vina dan Salsa uang sepertinya akan berbuntut panjang.


"Sialan loe. Kalo bukan gara gara perut loe udah buncit, gue jitak juga kepala loe" Vina terlihat kesal sekarang.


Salsa memang sedang mengandung tujuh bulan.


Salsa memeletkan lidah demi menggoda sahabatnya tersebut.


Vina hanya bisa menggeram sambil menahan emosinya.


"Loe pulang bawa kabar apa, Sil?" Vina memilih mengalihkan pembicaraan dan ganti bertanya pada Silvi.


"Kabar bahagia. Gue mau merried" jawab Silvi heboh sambil mengangkat tinggi-tinggi undangan berwarna gold.


"Sama siapa sama siapa?" Vina yang penasaran berusaha merebut undangan tersebut dari tangan Silvi. Namun sepertinya Silvi sengaja menggoda Vina dan malah memainkan undangan tersebut.


"Sama Julian" Tasya yang baru datang langsung duduk di kursi yang kosong dan membuka semua rahasia Silvi.


"Serius?" Vina berteriak tak percaya.


Pun dengan Salsa. Ia juga tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Tasya.


"Tasyaa" Silvi mencebik. Namun dengan cepat ia memeluk Tasya dan melepaskan semua kerinduannya.


"Kamu kemana aja, Sya. Aku kira gak datang" ucap Silvi sedikit lebay.


"Melanjutkan hidup dan sedang berusaha meraih cita-cita" jawab Tasya berlebihan.


Vina dan Salsa juga memeluk Tasya bergantian.


"Aku turut prihatin, Sya atas semua hal buruk yamg menimpa kamu. Dan soal hubungan kamu sama Dion" ucap Silvi sedikit ragu.


Tasya hanya tersenyum.

__ADS_1


"Aku sudah baik baik saja, Sil." Tasya berkata dengan sungguh sungguh.


"Syukurlah kalau begitu. Tapi bagaimana kamu bisa tahu soal aku dan Julian?" Tanya Silvi penasaran.


"Dari tante Desi. Tante Desi dapat kabar dari tante Wina" jelas Tasya.


"Tante Desi? Jadi selama ini kamu?"


"Iya, aku selama ini tinggal bersama tante Desi. Semua biaya hidupku selama kuliah juga dibantuin sama tante Desi" jelas Tasya panjang lebar.


"Itu serius, kamu mau merried sama Julian?" Vina memotong pembicaraan Silvi dan Tasya. Ia masih tak percaya.


Ia segera menyambar undangan yang ada di tangan Silvi dan membukanya dengan tergesa.


Setelah membaca dan memastikan, Vina tertawa terpingkal-pingkal.


Salsa dan Tasya ikut tertawa tapi tidak berlebihan seperti Vina.


"Perkataan gue waktu itu bener kan, loe akhirnya merried sama Julian. Karma is real" Vina masih tertawa terbahak.


"Iya, iya. Tertawa aja terus. Puas banget kayaknya" Silvi menanggapi dengan sinis.


"Kok bisa, sih Sil. Loe ama Julian" tanya Salsa penasaran.


"Gue juga bingung. Tapi udah jodoh mungkin" jawab Silvi sok bijak.


"Bilang aja kena karma hahaha" Vina masih belum berhenti tertawa.


Silvi mendengus kesal. Namun ia memilih untuk mengabaikan ejekan Vina barusan.


"Mama Sarla sama Vira pindah kemana sekarang, Sya?" Salsa bertanya pada Tasya. Ia pilih mengalihkan pembicaraan.


Salsa malas mendengarkan perdebatan antara Silvi dan Vina.


"Mereka berdua hanya pindah perumahan. Tapi masih di kota ini. Rencana aku juga mau kesana nanti. Ngomong-ngomong kamu sama kak Ronny sekarang di panti ya?" Jelas Tasya panjang lebar.


"Iya, kita gantiin bu Ranti ngurus anak anak panti. Kasian juga kan bu Ranti udah waktunya istirahat" jawab Salsa menjelaskan.


Tasya hanya mengangguk.


Ia melihat ke arah perut Salsa yang kini sudah membuncit.


"Sudah berapa bulan? Aku dengar kak Ronny kewalahan ngadepin ngidamnya kamu" Tanya Tasya sambil terkekeh


"Masuk tujuh sih. Hahaha. Kak Ronny aja yang berlebihan dan over protektif. Tapi sekarang udah biasa aja sih dia gak selebay sebelumnya" cerita Salsa panjang lebar.


Tasya hanya mengangguk sambil ikut tersenyum mendengar cerita dari Salsa.


"Main-mainlah ke panti kalau sempat" pesan Salsa.


"Iya, nanti aku pasti mampir kesana" janji Tasya.


Keempat sahabat itupun melanjutkan obrolan hingga sore menjelang.

__ADS_1


__ADS_2