
"Panggilan untuk nona Luckita Aviani" Kiki tersentak kaget saat MC acara tersebut menyebut namanya.
"Apa MC itu baru saja menyebut namaku?" Tanya Kiki seraya menatap ke arah Egi dan Elena bergantian.
Kiki ingin memastikan kalau telinganya tidak salah dengar.
Egi mengangguk sambil tersenyum,
"Memangnya siapa lagi yang bernama Luckita Aviani selain dirimu?" Egi malah balik bertanya.
Kiki mengernyit bingung.
"Nona Luckita Aviani atau dokter Kiki dipersilahkan untuk naik ke atas panggung" panggil MC itu sekali lagi.
"Kak, ini ada apa sebenarnya?" Baiklah sekarang Kiki mulai takut dan bingung.
Tapi bukannya menjawab, empat orang yang kini duduk di dekat Kiki malah menampilkan senyuman aneh.
Egi beranjak berdiri dan menghampiri Kiki yang duduk diantara Elena dan Tasya.
"Ayo berdiri dan naik ke atas panggung" ujar Egi sambil memegang bahu Kiki.
Kiki menggeleng.
"Kiki gak mau kak. Mau ngapain ke atas panggung?" Tanya Kiki sedikit melotot ke arah Egi.
"Menjemput hadiahmu. Apalagi? Kamu akan dapat doorprize" Egi berbisik di telinga adik semata wayangnya tersebut, membuat Kiki semakin mengernyit tak mengerti.
"Ayo Kiki!" Elena ikut-ikutan membujuk Kiki.
Sedikit memaksa, Egi akhirnya berhasil membuat Kiki beranjak dari duduknya.
Egi membimbing Kiki agar naik ke atas panggung.
Setelah Kiki sudah berdiri di atas panggung, Egi segera kembali turun dan tiba-tiba lampu di seluruh ruangan tersebut mati.
Hanya ada cahaya di atas panggung yang kini menyorot ke arah Kiki dan...
Raka?
Hah, sejak kapan pria itu berada di hadapan Kiki.
"Raka, ada apa ini?" Tanya Kiki masih bingung.
Sudah bisa di pastikan jika semua tamu yang hadir pastilah sedang fokus melihat ke arah Kiki dan Raka yang di sorot oleh lampu panggung.
Tapi bukannya menjawab Raka malah berlutut dengan satu kaki di hadapan Kiki sekarang.
"Kiki, aku tidak tahu bagaimana harus memulai ini. Tapi aku hanya ingin bertanya maukah kamu menikah denganku?" Ujar Raka tiba-tiba.
Sejenak Kiki mematung.
Apa ini?
Apa Raka sedang melamar Kiki sekarang?
Apa ini mimpi atau imajinasi Kiki?
Kiki menatap ke arah netra milik Raka.
Ada kesungguhan di sana. Ini bukanlah mimpi.
"Ka, apa kau sedang melamarku?" Tanya Kiki sedikit berbisik pada Raka.
"Ya, bisakah kau segera memberikan jawaban?" Raka ikut berbisik.
Namun bukannya segera menjawab, Kiki malah ikut berjongkok dan menatap tajam pada Raka.
__ADS_1
"Kiki, bukankah seharusnya kau tetap berdiri dan memberiku jawaban" baiklah sekarang dua orang itu malah saling berbisik-bisik di atas panggung, membuat semua tamu yang hadir mengernyit heran.
Kiki menggeleng,
"Apa benar ini pesta ulang tahunmu dan bukan pesta pertunangan?" Tanya Kiki masih berbisik.
Gantian Raka yang menggeleng.
"Ini pesta ulang tahunku dan aku sudah berumur tiga puluh tahun saat ini. Jika kamu tidak segera memberiku jawaban mungkin aku akan menjadi pria tua yang merana" ujar Raka merasa gemas.
Kiki mendadak ingin tertawa mendengar ucapan Raka barusan.
"Jadi, kau benar-benar melamarku sekarang?" Kiki bertanya sekali lagi.
Sungguh Raka ingin sekali mencium gadis polos di hadapannya ini,
"Iya, Kiki. Aku melamarmu. Maukah kamu menikah denganku?" Sekali lagi Raka berbisik dan mengulangi lamarannya tadi.
"Aku pernah menyakiti hatimu, Ka. Apa kamu tidak membenciku?" Sesaat Kiki merasa takut.
Raka menggeleng,
"Aku sudah melupakannya. Rasa cintaku kepadamu terlalu besar" jawab Raka bersungguh-sungguh dan masih berbisik tentu saja.
Sejenak Kiki terdiam. Gadis itu hanya menatap ke arah netra milik Raka.
Bisa Kiki lihat ada kesungguhan dan ketulusan di sana.
Kiki mengangguk.
"Ya, aku mau" jawab Kiki lirih.
"Berdirilah, pakai cincin ini, dan ucapkan dengan keras jawabanmu" pinta Raka dengan nada memohon.
Kiki kembali berdiri. Sejenak Kiki melihat ke arah Egi yang masih memperhatikannya sedari tadi.
Segera saja Egi mengangguk sambil tersenyum.
Kiki kembali menatap ke arah Raka.
"Jadi?" Raka benar-benar sudah tak sabar sekarang.
"Ya, aku mau" jawab Kiki malu-malu.
"Katakan sekali lagi dan tolong lebih keras" Raka sedikit memaksa kali ini.
"Iya aku mau menikah denganmu, Raka" ujar Kiki mengulangi jawabannya, dan kali ini sedikit lebih keras.
Sontak semua yang hadir di ruangan itu langsung bersorak gembira.
Tepuk tangan juga langsung menggema ke seluruh ruangan.
Raka langsung memeluk erat Kiki yang masih tersipu malu.
Lampu sudah kembali menyala dan semua tamu yang hadir masih bertepuk tangan untuk Raka dan Kiki.
Egi juga tampak tersenyum bahagia.
Ya, pada akhirnya Raka lah pria baik yang akan menjaga dan mencintai Kiki hingga nanti.
Egi yakin, Kiki akan bahagia hidup bersama Raka nantinya.
******
Satu bulan setelah acara lamaran yang mengejutkan itu, Raka dan Kiki akhirnya resmi menikah.
Sebuah pesta pernikahan mewah di gelar oleh keduanya di sebuah gedung yang ada di kota tersebut.
__ADS_1
Dan malam ini adalah resepsi pernikahan Raka dan Kiki.
Dion dan Tasya juga datang malam ini, meskipun sepanjang acara Tasya hanya bisa duduk dan tidak bisa melakukan apapun.
Entahlah, kepala Tasya mendadak terasa pusing saat pertengahan acara.
Tasya sudah meminum obat dari Elena padahal.
"Nat, ada apa?" Tanya Dion khawatir. Pria itu baru saja mengambilkan minuman dan kudapan untuk Tasya.
"Wajah kamu pucat?" Dion semakin khawatir.
Dion mengusap kening Tasya untuk memeriksa suhu badan istrinya tersebut. Tidak demam.
"Kepalaku sedikit sakit, Di." Tasya mengeluh.
"Baiklah, kita pulang sekarang saja. Aku akan berpamitan pada Raka dan Kiki" Dion sudah beranjak berdiri dan segera menghampiri kedua mempelai yang masih sibuk menyalami tamu yang hadir.
"Dion ada apa?" Egi yang melihat wajah khawatir Dion segera bertanya.
"Tasya kurang enak badan. Jadi kami akan pamit pulang duluan. Aku sungguh minta maaf tidak bisa di sini sampai acara selesai" Dion bergantian menatap pada Egi dan Raka.
"Apa Tasya sudah minum obat sore tadi?" Elena ikut-ikutan khawatir.
"Iya, sudah. Aku yang memberikan obatnya. Mungkin Tasya hanya kelelahan, El. Aku akan membawanya pulang untuk beristirahat" jawab Dion mencoba menenangkan Elena.
Raka dan Kiki mengangguk,
"Kami maklum dengan kondisi Tasya, Di. Jangan merasa bersalah seperti itu. Kami juga berterima kasih karena kalian berdua sudah menyempatkan waktu untuk datang" ucap Raka sambil tersenyum.
Kiki mengangguk membenarkan ucapan Raka yang baru beberapa jam yang lalu resmi menjadi suaminya.
"Baiklah kalau begitu. Aku dan Tasya pamit pulang dulu. Sekali lagi selamat untuk kalian berdua" Dion menyalami kedua mempelai sebelum akhirnya beranjak meninggalkan panggung pelaminan tersebut.
Dion kembali ke tempat Tasya duduk.
Istrinya itu terlihat semakin pucat saja.
"Ayo sayang, kita pulang" Dion membantu Tasya untuk berdiri dan memapahnya keluar dari gedung tersebut.
Seorang petugas parkir membantu mengambilkan mobil Dion.
Dion segera membantu Tasya naik ke dalam mobil.
Setelah memastikan sabuk pemgaman Tasya terpasang baik, bergegas Dion ikut naik ke dalam mobil dan segera memacu mobilnya meninggalkan tempat tersebut.
Tak butuh waktu lama, mobil Dion sudah sampai di garasi rumahnya.
Dion membantu Tasya untuk turun, namun istrinya tersebut terlihat meringis kesakitan.
"Nat, ada apa?" Dion mulai khawatir.
Seharusnya tadi Dion membawa Tasya ke rumah sakit saja.
Mungkin Dion akan menelpon dokter Adhi setelah ini.
Elena masih sibuk dengan pesta pernikahan Kiki dan Raka, jadi tak mungkin Dion mengganggunya.
"Perut aku sakit, Di." Tasya meringis menahan sakit di perutnya.
Dion memapah Tasya untuk masuk ke dalam rumah.
Namun saat mereka baru sampai di teras, mendadak pandangan Tasya menjadi kabur.
Kepalanya juga berdentum-dentum menyakitkan. Pandangan Tasya berkunang-kunang sebelum semuanya menjadi gelap.
Tasya jatuh pingsan di teras rumahnya.
__ADS_1
"Nat, Natasya!" Teriak Dion yang kini mulai panik.