Natasya

Natasya
Konflik


__ADS_3

Tasya baru saja sampai di rumah. Hari sudah malam, rumahnya sudah sepi.


'Mungkin mama Sarla dan Vira sudah tidur' gumam Tasya sembari melepas sepatunya.


"Sya, baru pulang?" Vira yang baru keluar dari kamarnya, segera menyalakan lampu ruang tengah. Ia membawa gelas di tangannya dan kini berjalan menuju dapur.


Sepertinya hendak mengambil minum.


"Kamu belum tidur, Vir?" Tanya Tasya berbasa basi.


"Belum. Tadi masih ngerjain tugas. Dan sekarang baru selesai" jelas Vira.


"Kamu pulang sama siapa?" Tanya Vira lagi.


"Biasa, diantar sama Dion" jawab Tasya sembari duduk di salah satu kursi yang ada di ruang makan.


Vira meletakkan gelas berisi air putih di atas meja makan dan ikut duduk bersama Tasya.


"Kamu temenan lagi sama Silvi ya, Sya? Bukannya kemarin kalian udah gak temenan?" Tanya Vira membuka obrolan.


Tasya mengernyit heran mendengar pertanyaan dari Vira.


"Iya. Apa ada masalah?" Tasya balik bertanya bingung.


"Gak papa sih, hanya saja aku kurang suka liat kamu temenan sama Silvi" ucap Vira berterus terang. Suaranya sedikit lirih.


"Sebenarnya kamu dan Silvi ada masalah apa sih, Vir?" Tanya Tasya yak mengerti.


Sudah lama ia penasaran dengan konflik yang terjadi di antara Silvi dan Vira. Tapi Tasya bingung harus bertanya ke siapa.


Ia hanya pernah mendengar sekilas dari Salsa kalau konflik itu memang sudah terjadi sejak mereka duduk di kelas sepuluh. Dan sampai sekarang keduanya saling membenci.


"Bukan aku, tapi Silvi yang tiba tiba membenciku" cerita Vira sedih.

__ADS_1


"Kalian dulu temenan?" Tanya Tasya bingung.


"Kami teman saat SMP, lalu kami sama sama masuk ke SMA yang sama. Lalu aku suka sama kak Kevin, sejak saat itu Silvi mulai menjauhiku. Aku sungguh tidak tahu kalau kak Kevin itu sepupuan sama Silvi" Vira menghela nafas sebelum melanjutkan ceritanya.


Tasya masih menyimak dengan setia.


"Waktu itu memang aku yang bodoh, tiba tiba menyatakan perasaanku pada kak Kevin di tengah lapangan sekolah. Kak Kevin menolakku dan Silvi langsung menjauhiku.


Gak cuma itu, Silvi begitu membenciku. Mungkin ia malu punya teman sepertiku" cerita Vira panjang lebar. Raut kesedihan nampak sekali di wajahnya.


"Sejak saat itu, teman teman yang lain ikut ikutan benci padaku dan menjauhiku. Karena merasa di kucilkan, makanya aku membenci mereka semua." Sambung Vira mengakhiri ceritanya.


Tasya menghela nafas, kini ia bingung harus berkata apa.


Tasya tidak tahu kalau hubungan pertemanan bisa serumit ini.


"Jadi masalah awalnya hanya karena kamu suka sama kak Kevin?" Tasya mencoba menerka nerka.


"Menurutku, Silvi itu terlalu over perhatian ke kak Kevin. Padahal dia kan cuma sepupunya. Bukan adik kandung bukan juga istrinya. Kan aneh" Vira mengemukakan pendapatnya.


Tasya menghela nafas panjang sebelum mulai bicara.


"Ya, mungkin mereka cuma sepupuan, Vir. Tapi Silvi itu udah nganggep Kak Kevin seperti kakak kandungnya. Apalagi sejak kecil mereka selalu bareng bareng. Kata Dion mereka berdua emang deket banget" ucap Tasya dengan pendapatnya sendiri.


"Ya tapi kan gak perlu ngatur ngatur hidup kak Kevin juga kan, Sya. Seperti kemarin maksa maksa kamu biar jadian sama kak Kevin. Giliran tahu kamu pacaran sama Dion dia langsung diemin kamu" skakmat.


Kata kata dari Vira barusan sungguh menohok hati kecil Tasya.


Memang ada benarnya ucapan Vira barusan. Belum lagi sifat Silvi yang tak pernah mau disalahkan, yang kadang membuat dirinya merasa kurang nyaman.


Namun selama ini Tasya selalu mengabaikan semua hal itu, mengingat kebaikan Silvi yang tak bisa ia pungkiri.


Silvi adalah teman yamg royal dan tidak pelit.

__ADS_1


Bukan sekali dua kali Silvi dan Vina mentraktir dirinya dan teman temannya saat makan di resto atau saat nonton di bioskop.


Belum lagi Silvi yang selalu menyempatkan waktu untuk mengantar jemput dirinya setiap pergi dan pulang sekolah.


Kebaikan kebaikan itulah yang pada akhirnya membuat Tasya memilih untuk melupakan sisi buruk seorang Silvi.


Bukankah setiap manusia memiliki sisi baik dan sisi buruk? Tinggal kita yang memilih mau melihatnya dari segi mana. Toh tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.


"Aku gak maksa kamu buat gak berteman lagi sama Silvi, kok Sya. Hanya saja kamu lebih hati hati saja. Aku takut Silvi masih kekeh pengen kami jadian sama Kak Kevin trus berusaha misahin kamu dari Dion" ucap Vira selanjutnya.


"Maksud kamu gimana, Vir?" Tanya Tasya tak mengerti.


"Ya, sekarang aja Silvi baikin kamu. Tapi bisa aja kan, nanti diem diem dia pengaruhin kamu biar putus sama Dion trus jadian sama kak Kevin" asumsi Vira berlebihan.


Tasya mengendikkan bahu. Ia tak mau berprasangka buruk pada sahabatnya sendiri. Namun ia juga tidak mau membantah dan berdebat dengan pendapat Vira saat ini.


"Aku gak ada perasaan apapun pada kak Kevin, Vir" ucap Tasya bersungguh sungguh.


"Dan terima kasih sarannya. Aku akan berhati hati. Aku masuk ke kamar dulu" Tasya beranjak berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut.


Tasya tak mau terlalu memikirkan kata kata Vira barusan.


Ia sudah cukup lelah belakangan ini menghadapi berbagai konflik yang terjadi di sekitarnya.


Kecelakaan Kak Ronny, insiden antara Vina dan Denny, serta hal lain yang entahlah...


Tasya tak tahu kalau semua bisa serumit sekarang ini.


Tasya sudah selesai membersihkan diri.


Ia memilih untuk segera berbaring dan mengistirahatkan tubuhnya.


Tasya sungguh merasa lelah.

__ADS_1


__ADS_2