
Pagi-pagi Tasya sudah rapi.
Dion yang memasak sarapan pagi ini.
Sudah hal biasa jika Dion dan Tasya saling berbagi tugas rumah tangga dan bergantian memasak untuk sarapan.
Keduanya memang tidak suka memakai jasa asisten rumah tangga karena mereka hanya merasa kurang nyaman jika ada orang asing yang tinggal di rumahnya.
Tapi tidak tahu jika nanti anak kembar mereka lahir, mungkin mereka akan memikirkan untuk menyewa asisten rumah tangga jika kewalahan.
Dion memang menjadi penanggung jawab utama di kantor cabang dari perusahaan papa Rian yang ada di kota ini. Nmun Dion tidak harus pergi ke kantor setiap hari
Hanya saat ada rapat penting atau hal penting lainnya barulah Dion akan pergi.
Selebihnya, Dion mengerjakan dan memeriksa berkas yang masuk dari rumah sudah ada pelaksana yang mengurus semuanya di kantor.
Setidaknya Dion punya banyak waktu bersama Tasya dan mendampingi kehamilan Tasya dengan maksimal kali ini.
"Perlu aku antar?" Tanya Dion menawarkan.
"Elena akan menjemputku, Di. Apa kamu tidak keberatan membereskan rumah hari ini?" Tasya sedikit memohon.
"Jangan khawatir, saat kamu pulang semuanya pasti sudah beres. Aku juga yang akan memasak makan siang kau ingin makan apa?" Tanya Dion dengan santai.
Tasya tampak berpikir sejenak,
"Apa saja. Aku doyan makan apa saja sekarang. Yang penting enak" jawab Tasya asal.
Bim... bim..
Suara klakson dari mobil Elena sudah terdengar.
"El sudah datang. Aku akan pergi sekarang. Tasya mengambik tasnya yang ada di sofa ruang tamu.
"Hati-hati, Nat" Dion mengantarkan Tasya hingga ke teras.
"Halo pasangan bahagia, sudah siap pergi, Sya?" Elena menyapa sekalian menggoda.
Membuat Dion dan Tasya terkekeh bersamaan.
Dion membukakan pintu mobil Elena untuk Tasya,
"Hati-hati mengemudi, El" pesan Dion pada Elena.
"Siap. Nanti aku antar pulang Tasya sekalian, jadi kamu tidak perlu repot-repot menjemputnya" jawab Elena.
Setelah Tasya duduk dengan benar dan memasang sabuk pengaman, mereka segera berpamitan dan melambaikan tangan pada Dion.
Dion membalas lambaian tangan Elena dan Tasya.
Mobil Elena pun melaju meninggalkan rumah itu.
Dion memandang hingga mobil Elena tak terlihat lagi, sebelum akhirnya pria itu memutuskan untuk masuk ke dalam dan lanjut membereskan rumah.
Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh pagi saat sebuah mobil berhenti di depan rumah Dion.
Dion yang baru selesai membereskan rumah, melongok sebentar melalui jendela untuk melihat siapa yang datang.
Rupanya Egi bersama seorang pria yang entah siapa, Dion juga tak tahu. Dion belum pernah melihatnya sebelumnya.
Bergegas Dion membuka pintu depan, saat Egi dan temannya baru sampai di teras.
"Pagi, Dion" sapa Egi ramah pada sang tuan rumah.
"Pagi. Ayo masuk!" Ajak Dion pada dua pria di depannya tersebut.
Dion mempersilahkan Egi dan temannya duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
Egi mengedarkn pandangannya ke dalam ruang tamu yng tak terllu besar tersebut.
"Rumah yang asri" puji Egi sekilas.
Dion hanya tersenyum menanggapi pujian dari Egi.
"Jadi, siapa temanmu ini?" Tanya Dion berbasa-basi sambil menunjuk ke arah pria yang kini duduk di sebelah Egi.
Pria yang sepertinya seusia dengan Dion.
"Oh ya, ini Raka yang kemarin aku ceritakan kepadamu. Dia yang akan membantumu" Egi bahkan lupa memperkenalkan Raka pada Dion.
Dion dan Raka segera berjabat tangan sambil menyebutkan nama masing-masing.
"Aku sudah menceritakan semua masalah di perusahaanmu pada Raka. Dan dia tak keberatan membantumu menyelesaikan semuanya" ujar Egi sekali lagi sambil melirik ke arah Raka.
Raka mengangguk sambil tersenyum.
"Aku akan membantu sebisanya." Tambah Raka.
"Raka juga akan membantumu bertemu dengan pimpinan dari perusahaan itu..." Egi tampak mengingat-ingat nama direktur utama dari perusahaan Wijaya.
"Daffi. Perusahaan itu sekarang dipimpin oleh Daffi Wijaya. Aku akan coba menghubunginya agar kau bisa bertemu dengannya" sambung Raka cepat.
Dion dan Egi mengangguk berbarengan.
"Apa kau pernah bekerja lama di perusahaan itu?" Tanya Dion penasaran.
Raka menggeleng,
"Tidak lama, hanya sekitar tiga tahun sebelum akhirnya aku memilih resign" jelas Raka.
"Menjadi asisten Daffi?" Tebak Egi.
Raka menggeleng cepat.
"Daffa. Mereka saudara kembar. Aku pernah menjadi asisten dari Daffa selama tiga tahun sebelum akhirnya Daffa mengalami kecelakaan dan meninggal. Itulah salah satu alasanku resign dari perusahaan itu" jelas Raka panjang lebar. Ada nada kesedihan di sana.
"Aku turut berduka" ujar Dion prihatin.
Raka hanya mengangguk.
"Aku sungguh tak menyangka, Daffi jadi seperti ini sekarang. Dulu saat Daffa yang memimpin, ia tak pernah melakukan hal-hal seperti ini. Menindas perusahaan yang lebih kecil. Aku benar-benar terkejut" lanjut Raka lagi.
Sejujurnya, Raka sempat kaget saat mendapat kabar dari Egi mengenai masalah ini.
Raka tak menyangka jika Daffi yang sekarang begitu ambisius.
Hampir lima tahun Raka tak pernah lagi berhubungan dengan keluarga itu, meskipun sesekali kak Diandra masih menghubunginya sekedar menanyakan kabar. Tapi tetap saja sejak kepergian Daffa, Raka merasa cukup tahu diri untuk tidak dekat lagi dengan keluarga itu.
Namun kali ini mungkin Raka akan kembali berhubungan dengan keluarga itu lagi.
Melihat wajah Daffi selalu bisa mengingatkan Raka pada Daffa dan semua hal buruk serta nasib malang Daffa.
Daffi dan Nuna pasti sekarang juga sudah bahagia.
Raka pernah mendengar dari kak Diandra kalau Nuna dan Daffi sudah memiliki anak dan hidup bahagia.
"Aku akan mengurus ini secepatnya, Di. Kamu jangan khawatir" ujar Raka sekali lagi.
Dion mengangguk paham.
Saat ketiga pria itu tengah mengobrol serius, mobil yang membawa Elena dan Tasya sudah tiba di depan rumah.
Elena mengernyit saat melihat mobil Egi terparkir di depan rumah Tasya.
__ADS_1
"Itu mobil Egi ngapain dia di sini?" Gumam Elena lumayan keras.
Tasya mengendikkan bahu,
"Mungkin membahas bisnis, kata Dion Egi membantu Dion menyelesaikan masalah di perusahaan papa Rian" jawab Tasya menerka-nerka.
"Ayo turun, El" ajak Tasya kemudian.
Elena mengangguk dan dua wanita itu pun segera turun dari mobil. Lalu masuk ke dalam rumah mungil Tasya.
"Pagi," sapa Tasya pada tiga pria yang kini duduk di ruang tamu yang tak terlalu luas tersebut.
"Wah, wah, wah. Tiga pria dewasa sedang berghibah" timpal Elena sembari terkekeh.
Suasana ruang tamu yang tadinya tegang, seketika menjadi normal lagi.
Dion, Raka, dan Egi tertawa bersamaan mendengar ejekan konyol dari Elena
Elena segera duduk di sofa kosong di sebelah Egi.
Dan Dion sedikit bergeser untuk memberi tempat untuk Tasya duduk.
Kini ruang tamu itu terlihat penuh dengan lima orang dewasa di dalamnya.
"Oh iya kenalin, Nat. Ini Raka temannya Egi" Dion mrmperkenalkan Tasya pada Raka.
Keduanya saling berjabat tangan.
Apa istrimu juga seorang dokter?" Tebak Raka karena melihat jas putih khas dokter yabg masih di kenakan okeh Tasya.
"Iya, dia dokter anak" jawab Dion seraya tersenyum.
"Yang sebentar lagi akan punya anak kembar" timpal Elena sambil terkekeh, yang lain ikut terkekeh.
"Kapan balik, Ka?" Elena ganti bertanya pada Raka.
"Tadi pagi. Dan Egi langsung menculikku ke sini" jawab Raka asal.
Egi hanya nyengir.
"Sudah ku belikan sarapan. Jadi aku tidak menculikmu, oke" timpal Egi membela diri.
"Hati-hati berteman dengannya. Dia sebelas dua belas dengan Bang Vian. Suka minta sarapan gratis" Elena sedikit berbisik memberi tahu Tasya dan Dion.
Tapi nyatanya suara Elena cukup keras untuk bisa di dengar oleh Raka.
"Hey, jangan samakan aku dengan abang usilmu itu" protes Raka merasa tak terima.
Sontak semua yang ada di ruangan itu langsung tertawa.
"Bang Vian akan menikah bulan depan kalian semua sudah dapat undangan?" Elena mengalihkan pembicaraan.
Dion dan Tasya mengangguk.
"Ya, kami sudah menerima undangannya" jawab Dion.
Raka berdecak,
"Surprize. Aku pikir pria itu tidak akan menikah" lanjut Raka sedikit terkekeh.
"Bang Vian akan segera menikah, Ka. Kamu kapan?" Tanya Egi menimpali.
"Aku?" Raka menunjuk wajahnya sendiri.
"Aku masih menungu calon bidadariku siap" jawab Raka asal.
"Kemarin dinas di luar negeri bertahun-tahun. Apa belum bertemu calon bidadari?" Tanya Elena kepo.
"Suamimu terlalu kejam, El. Dia memberikan banyak pekerjaan hingga aku tak sempat menikmati hidupku" jawab Raka denga nada memelas.
"Jangan mengarang!" Egi menoyor kepala Raka. Sontak semua orang yang ada di ruangan tersebut kembali tertawa.
"Kalau kau ingin belajar soal percintaan, belajarlah pada mereka berdua" Egi menunjuk ke arah Dion dan Tasya yang kini duduk berdampingan.
"Kami?" Tasya mrngernyit tak mengerti.
"Baiklah, apa yang istimewa dari mereka berdua?" Tanya Raka penasaran.
"Kau tidak akan percaya, Tasya dan Dion sudah berpacaran sejak duduk di bangku SMA sebelum akhirnya merrka memutuskan untuk menikah" Egi mulai bercerita.
Refleks Raka langsung bersiul dan Elena bertepuk tangan.
"Aku benar-benar baru tahu. Kalian berdua tidak pernah cerita" Elena menatap kagum pada pasangan Tasya dan Dion yang kini tampak salah tingkah.
"Apa itu artinya cinta monyet berubah menjadi cinta sejati. Ohh jiwa playboy ku mendadak meronta, aku bahkan tak ingat berapa mantan pacarku saat duduk di bangku SMA" Raka menimpali sambil tertawa lepas.
"Hey, bung. Kau bilang sudah tobat?" Tegur Egi pada Raka sambil melotot tajam.
Raka mengangkat kedua tangannya.
"Iya aku sudah tobat. Jangan memelototi ku seperti itu. Kau seperti ingin memakanku saja" protes Raka pada Egi.
"Baiklah, aku rasa kau terlalu melebih-lebihkan cerita, Gi" Timpal Dion merendah.
Tapi Dion masih bertanya-tanya. Bagaimana Egi bisa tahu kalau dia dan Tasya sudah berpacaran sejak SMA?
"Jadi bagaimana kisah cinta yang sesungguhnya. Dan apa yang kalian lakukan saat berpacaran selama delapan tahun itu?" Elena mulai kepo.
"Jangan membayangkan yang aneh-aneh, El. Kami memang berpacaran saat duduk di kelas dua SMA tapi saat sudah lulus kami LDR an. Jadi jarang bertemu" Kali ini Tasya yang menjawab
"LDR dan bisa bertahan selama itu? Kalian sungguh keren" Raka ikut-ikutan memuji.
Dion dan Tasya semakin tersipu malu.
"Bisakah kita ganti membahas hal lain. Kisah cinta Raka misalnya" Tasya kini protes.
Elena dan Egi langsung tertawa bersamaan.
"Aku rasa kau akan tertawa jika tahu kisah cinta Raka yang tragis" jawab Elena masih tertawa.
"Jangan coba-coba membahas aib itu, El!" Raka mulai mengancam sambil menunjuk ke arah Elena.
"Ada apa memangnya?" Dion mulai kepo.
"Cinta bertepuk sebelah tangan" jawab Elena singkat namun mampu membuat Dion dan Tasya semakin penasaran.
"Memangnya gadis mana yang menolak pria tampan dan mapan sepertimu, Ka?" Tanya Dion penasaran dan sedikit sarkas.
"Iya aku memang tampan. Terima kasih atas pujiannya" jawab Raka dengan nada sombong. Refleks Elena langsung melemparkan bantal sofa ke arah Raka.
Namun pria itu cukup gesit ternyata dan berhasil menghindar.
Bantal melayang tak tahu rimbanya.
"Aku rasa kita tak perlu membahas tentang gadis yang pernah menolakku itu..." Raka sedikit melirik ke arah Egi.
Pria itu masih menunjukkan raut wajah yang datar dan seperti tak terpengaruh apapun.
"...karena aku yakin gadis itu akan tergila-gila padaku saat ini" lanjut Raka lagi penuh percaya diri.
Tawa Egi langsung meledak,
"Pede sekali kamu, bung! Bisa saja gadis itu sudah punya pasangan sekarang. Kamu pergi terlalu lama" ujar Egi dengan nada mengejek.
__ADS_1
Elena ikut tertawa.
Dion dan Tasya memasang wajah bingung.
"Jangan panggil aku Raka jika tidak bisa menaklukkan hati seorang gadis" Raka menepuk dadanya dengan sombong.
Membuat semua orang membali tertawa.
"Apa setelah ini kau akan menjadi playboy lagi?" Tanya Elena dengan nada menyindir.
"Hey, aku tidak bilang begitu. Aku hanya akan menaklukkan hati satu orang gadis melamarnya, menikah dengannya, lalu hidup bahagia seperti kalian" jawab Raka diplomatis
Dion langsung mengacungkan dua jempol ke arah Raka.
"Aku tidak akan ikut campur kali ini. Kita lihat, El. Bagaimana pria tampan ini membuktikan omongannya" Egi mengulurkan tangannya dan merangkul pundak sang istri.
"Tunggu saja tanggal mainnya. Dan undangannya tentu saja" Raka berkata masih dengan kepercayaan tingkat tinggi.
Sesaat suasana hening.
Elena melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sebaiknya kita pulang sekarang, Gi. Hari sudah siang" ujar Elena pada Egi.
Sepertinya mereka berlima mengobrol terlalu asyik hingga tak ingat waktu.
Egi mengangguk.
Egi dan Elena segera berpamitan pada Dion dan Tasya.
Raka ikut berpamitan.
"Besok pagi aku jemput, kita berangkat bareng ke rumah sakit" pesan Elena pada Tasya.
"Aku bisa mengantar Tasya, El. Jika kamu repot." Dion memberi penawaran.
"Iya, El. Biar Dion saja yang mengantarku besok pagi" Tasya ikut menimpali.
Elena tersenyum,
"Baiklah kalau begitu. Tapi kalau Dion sibuk kamu bisa mempnelponku kapan saja dan kita bisa berangkat bersama. Ibu hamil tidak boleh kelayapan sendiri" ujar Elena sambil terkekeh.
Tasya dan Dion ikut terkekeh.
"Kami pulang dulu, sampai jumpa" Egi dan Elena melambaikan tangan pada Tasya dan Dion yang kini berdiri di teras rumah.
"Aku juga mau pulang, bye pasutri" Ucap Raka ikut berpamitan.
Tiga orang itu berjalan keluar dari pagar rumah Dion.
"Ka, kamu nyetir sendiri ya. Aku bareng El" Egi melemparkan kunci mobilnya pada Raka yang langsung di sambut dengkusan oleh Raka.
"Ya... ya...ya.. nasib jomblo gini amat" tukas Raka sambil memasang wajah melas dan meratapi statusnya yang belum punya pasangan.
Pria itupun segera masuk ke dalam mobil milik Egi dan melaju meninggalkan kediaman Dion dan Tasya.
Tak butuh waktu lama, Mobil yang di kendarai oleh Egi dan Elena juga ikut meninggalkan rumah Dion dan Tasya.
Kini hanya tinggal Tasya dan Dion yang masih berdiri di teras rumah mereka.
Dion mengulurkan tangannya dan merangkul mesra pundak sang istri.
"Jadi, kamu ingin kita makan di luar atau kita pesan makanan saja untuk makan siang?" Dion memberikan pilihan pada Tasya.
"Hei, bukannya kamu tadi pagi sudah janji mau masak untuk makan siang" Tasya protes karena ingat dengan janji Dion pagi tadi.
Dion hanya nyengir,
"Aku sudah lapar, Nat. Kalau kamu suruh aku masak, trus aku pingsan siapa coba yang mau nolongin?" Dion mencari alasan.
"Kan ada aku dokter Tasya" jawab Tasya dengan nada sombong.
Dion terkekeh.
"Kita makan di luar saja, yuk!" Ajak Dion sedikit merayu.
"Kau saja yang beli. Aku sedang malas pergi" Tasya melepaskan rangkulan Dion dan berjalan masuk ke dalam rumah. Langkahnya sudah tak secepat dulu. Perutnya mulai terasa berat sekarang.
Dion bisa dengan cepat menyusul langkah sang istri.
"Kamu ingin makan apa?" Tanya Dion sekali lagi. Dion tidak ingin salah beli makanan.
"Yang enak apa?" Tasya malah balik bertanya.
Dion berdecak, perutnya benar-benar sudah keroncongan dan sang istri malah menguji kesabarannya sekarang.
Tasya menahan tawa melihat wajah kesal Dion.
"Baiklah aku berubah pikiran. Ayo pergi ke kafe favoritku di kota ini" Tasya menggamit lengan Dion dan berbalik untuk kembali ke pintu depan.
Dion menarik nafas panjang beberapa kali, mencoba menahan emosinya agar tidak meledak.
"Baiklah Dion, kuatkan dirimu! Ini tidak akan lama lagi" gumam Dion pada dirinya sendiri.
*****
Mobil yang membawa Dion dan Tasya melaju membelah jalanan kota yang mulai padat. Syukurlah kafe yang dimaksud Tasya ternyata letaknya tidak terlalu jauh dari rumah mereka, sehingga Dion tidak perlu tersiksa lebih lama lagi karena cacing-cacing di perutnya yang sudah meronta-ronta sekarang.
Setelah memarkirkan mobilnya, Dion dan Tasya bergegas masuk ke dalam kafe dan memesan makanan. Dion memesan lumayan banyak makanan. Mungkin karena sedang lapar, makanya pria itu menjadi kalap.
Tasya hanya menahan tawa saat melihat Dion yang makan bak orang kesetanan.
Dan setelah selesai menghabiskan semua makanannya, wajah Dion kini berubah sumringah.
"Jadi, kamu praktek dari pagi hingga siang?" Tanya Dion sekali lagi untuk memastikan.
Tasya mengangguk,
"Hanya tiga minggu, Di. Tadi aku sudah bicara dengan direktur rumah sakit" jelas Tasya sekali lagi.
Gantian Dion yang mengangguk.
"Setelah ini bagaimana kalau kita ke rumah tante Desi? Aku dengar tante Desi dan om Bimo akan memulai perjalanan keliling dunia mereka lusa" usul Dion tiba-tiba.
"Wow, mereka benar-benar menikmati masa tua" ujar Tasya ikut senang.
Dion mengangguk,
"Sejak dulu mereka selalu menikmati hidup mereka meskipun banyak yang mencibir. Aku ingin kita berdua bisa setegar Tante Desi dan Om Bimo dalam mengarungi rumah tangga kita kedepan nanti" ujar Dio berpikir bijak.
Tasya mengangguk dan setuju dengan ucapan dari suaminya tersebut.
Jam makan siang sudah berakhir beberapa saat yang lalu. Pengunjung kafe juga sudah banyak yang pergi untuk melanjutkan rutinitas mereka.
Tasya dan Dion sudah selesai menyantap makan siang mereka. Setelah membayar pesanan, keduanya segera pergi meninggalkan kafe dan lanjut menuju ke rumah tante Desi.
*****
Hari Minggu saatnya "CEO CANTIK" update...
Jangan lupa untuk mampir membaca kisahnya Mia yang nyebelin.
Happy reading
__ADS_1