Natasya

Natasya
Weekend


__ADS_3

Hari Sabtu,


Tasya dan ketiga temannya kini sedang dalam perjalanan menuju ke panti.


Ya, pada akhirnya Silvi dan Vina setuju untuk ikut ke panti.


Sesekali mereka bersenda gurau atau membicarakan hal lain.


Ping,


Ponsel Tasya berbunyi.


Dion: sore ini nonton lagi gak? Aku jemput ya


Tasya: maaf, Di. Aku gak janji. Aku lagi di panti. Nanti kalo pulang cepet mungkin aku sempetin datang


Dion: ke panti sama siapa?


Tasya: sama Salsa, Vina, dan Silvi. Nanti aku kabarin lagi


Dion: oke. Salam buat Bu Ranti


Tasya: (membalas dengan emot jempol).


Tak ada lagi balasan dari Dion.


Tasya menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.


Mobil yang di kemudikan oleh Silvi, berbelok masuk ke halaman panti.


Riuh rendah suara anak anak segera menyambut kedatangan mereka.


Tasya dan yang lain segera turun.


Nampak juga Bu Ranti yang meyambut mereka di teras.


"Siang, Bu" Tasya segera mersih tangan Bu Ranti dan menciumnya. Ketiga temannya menyusul melakukan hal yang sama.


"Kok tumben kesini rame rame, Sya" tanya Bu Ranti heran.


"Kata kak Ronny, ibu sakit. Jadi Tasya kesini" ucap Tasya khawatir.


"Ibu gak kenapa kenapa. Cuma kecapean. Lihat kan, sekarang ibu sudah sehat" ibu Ranti tersenyum hangat.


Tasya bernafas lega sekarang.


"Ayo masuk semua. Kita duduk di dalam" ajak Bu Ranti.


Tasya mengangguk dan mengekori bu Ranti masuk ke dalam panti.


Ketiga teman Tasya ikut masuk ke dalam.


Mereka pun mengobrol banyak hal hingga hari beranjak sore.


Tasya dan ketiga temannya memutuskan untuk segera berpamitan dan pulang.


*****

__ADS_1


Kini mereka berempat sudah berada di dalam mobil dan melaju meninggalkan panti.


"Gaees gimana kalo kita nonton basket dulu. Kayaknya tim sekolah kita main deh hari ini" tawar Silvi pada teman temannya.


Tasya langsung tersenyum senang. Akhirnya dia bisa datang sore ini.


Namun Tasya berusaha menyembunyikan kebahagiaannya. Dia bersikap sewajar mungkin dan menunggu jawaban dari teman temannya yang lain.


"Gue setuju. Udah lama gue gak nonton pertandingan. Gak sabar pengen liat Bagas" ucap Vina bersemangat.


Silvi mencibir.


"Kalo urusan liat cowok aja nomer satu loe" omel Silvi. Vina hanya nyengir.


"Kalian berdua gimana?" Tanya Silvi pada Salsa dan Tasya yang duduk di jok belakang.


"Kita ikut aja Sil. Kayaknya asyik juga sore sore nonton pertandingan basket" jawab Salsa sembari melirik ke arah Tasya.


Dalam hati Salsa sudah bisa menebak pasti sekarang hati Tasya sedang berbunga bunga karena bisa melihat Dion bertanding.


Tasya balik memandang ke arah Salsa dan menampilkan wajah pura pura polos.


Membuat Salsa memutar bola matanya.


Temannya yang satu ini sepertinya memang berbakat jadi bintang sinetron.


Lihat saja cara dia berakting, sungguh natural dan pandai sekali menyembunyikan rahasia.


Mereka berempat sudah sampai di dalam lapangan.


Suasana sudah ramai, Quarter satu sudah dimulai dan sedang berjalan sekarang.


"Courtside udah penuh, Vin. Duduk di tribun aja" ajak Silvi pada keempat temannya.


Terlihat wajah Vina sedikit kecewa.


"Gue pengen liat Bagas dari dekat padahal" ucap Vina sambil menampilkan mimik sedih.


"Datang lebih awal makanya. Udah ah, duduk aja yuk" ujar Salsa sedikit galak.


Akhirnya mereka berempat duduk di deretan kursi yang masih kosong.


Tasya sudah fokus ke court. Melihat Dion bertanding.


Ketiga temannya yang sedari tadi berisik kini sudah diam dan fokus juga melihat pertandingan.


Quarter pertama sudah usai sekarang.


Para pemain sedang break sambil menyusun strategi berikutnya.


"Liat deh, itu pelatih baru yang ganteng itu kan?" Silvi menunjuk ke arah pelatih Ronny yang kini sedang memberikan briefing pada Tim Dion.


Salsa memutar bola matanya


"Ganteng tapi ngeselin" gumam Salsa.


"Ngeselin gimana, Sal? Emang loe kenal sama tu pelatih?" Silvi yang duduk di sebelah Salsa rupanya bisa mendengar gumaman Salsa barusan.

__ADS_1


Sontak Salsa langsung salah tingkah.


"Enggak. Gue gak kenal" ucap Salsa sambil membuang mukanya.


Ia tidak mau ketahuan kalo sedang berbohong.


Tasya menutup mulutnya berusaha menahan dan menyembunyikan tawanya.


Perseteruan antara Salsa dan kak Ronny sepertinya bakalan panjang.


Lucu kali ya kalo pada akhirnya Salsa dan kak Ronny jadian.


Bisa Tasya bayangkan bagaimana seorang kaka Ronny yang tengil dan menjengkelkan berhadapan sama Salsa yang galak dan serba cuek.


"Sya, kok elo senyum senyum sendiri sih?" Vina yang duduk di samping Tasya sedikit heran mendapati temannya tersebut tengah tersenyum sendiri.


"Enggak kok. Gak kenapa kenapa" jawab Tasya salah tingkah.


Quarter kedua sudah dimulai sekarang. Keempat gadis itu kembali fokus ke court .


"Sil, itu bukannya kak Kevin ya?" Vina menunjuk ke arah courtside yang berseberangan dari tempat mereka duduk.


Nampak jelas di sana Kevin duduk bersama mama Wina menyaksikan pertandingan Dion.


Silvi memperhatikan dengan seksama. Itu memang Kevin dan mama Wina.


"Iya, trus kenapa?" Tanya Silvi acuh ia sebenarnya sudah mendengar kabar tentang Dion yang kini sudah berbaikan dengan mama Wina dan Kevin.


Tapi entahlah, Silvi merasa masih ada yang mengganjal dalam hubungan mereka.


"Tumben, kak Kevin nonton pertandingannya Dion. Bukannya mereka lagi perang dingin ya" Salsa menimpali ucapan Vina.


Dan Vina langsung mengangguk membenarkan ucapan Salsa.


"Mereka udah baikan" jawab Silvi singkat.


"Hah, serius Sil?" Tanya Vina tak percaya.


"Gue juga gak tahu. Kemarin pas denger cerita dari tante Wina gue kira juga cuma lelucon. Tapi sekarang pas gue liat sendiri kak Kevin nonton kesini bareng tante Wina mau gak mau ya gue percaya" jelas Silvi panjang lebar.


Salsa dan Vina hanya mengangguk angguk mengerti.


Sedangkan Tasya memilih untuk diam dan tak mau menanggapi.


Tasya sendiri sudah mendengar semuanya dari Dion.


Satu hal yang membuat Tasya bertanya tanya sekarang adalah,


Silvi adalah sepupu Dion dan Kevin. Tapi kenapa Silvi seperti benci sekali dengan Dion.


Kalo permasalahannya memang karena perseteruan antara Dion dan mama Wina serta Kevin kemarin kemarin, bukankah seharusnya sekarang Silvi sudah melupakannya karena tiga orang itupun juga sudah berdamai.


Entahlah, Tasya benar benar tak paham dan tak mau memikirkannya sekarang.


Pertandingan sudah berakhir sekarang.


Para pemain sudah masuk ke ruang ganti.

__ADS_1


Tasya dan ketiga temannya masih duduk di tempat semula, meskipun penonton lain sudah mulai bubar.


Keempat gadis itu sengaja menunggu hingga suasana sedikit sepi.


__ADS_2