
Setelah suara ketiga teman Tasya tak lagi terdengar, Dion mengajak Tasya untuk keluar dari tempat persembunyian.
Dion menggandeng tangan Tasya dan mengajaknya berjalan menuju ruang loker.
Tasya hanya menurut tanpa melontarkan sepatah kata pun.
Sampai di dalam ruang loker, Dion mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Hallo, Den. Aku gak bisa ikut latihan sore ini. Bisa tolong sampaikan ke pelatih?" Ucap Dion sambil memandang ke arah Tasya.
"Ada apa? Kau baik baik saja?" Tanya Denny khawatir.
"Aku hanya,sedang tidak enak badan. Tolong ya" jawab Dion berbohong.
"Baiklah akan ku sampaikan. Sampai jumpa" ucap Denny sebelum menutup telpon dari Dion.
Dion menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku.
Tasya sudah duduk di kursi panjang yang ada di ruangan tersebut.
Ia melihat ke arah Dion dengan sedikit bingung.
Dion membuka seragam sekolahnya, menyisakan kaos lengan pendek.
Tasya masih memandangi Dion yang sekarang tampak kesulitan melipat seragam sekolahnya.
Tasya yang merasa gemas langsung meraih seragam itu dari tangan Dion. Melipatnya dengan cekatan dan langsung memasukkannya ke dalam tas Dion.
Hal itu sungguh membuat Dion jadi salah tingkah.
"Di, aku benar benar minta maaf" ucap Tasya dengan tulus. Ia tahu pasti Dion masih marah soal kejadian di panti beberapa hari yang lalu.
"Maaf untuk apa?" Tanya Dion mengernyitkan kedua alisnya.
"Aku tahu kamu marah gara gara kejadian di panti waktu itu. Tapi aku benar benar tak ada perasaan apapun sama kak Ronny, Di. Aku cuma anggap dia kakak aku gak lebih" jelas Tasya panjang lebar.
Dion berdecak.
"Aku bahkan sudah melupakannya" ucap Dion sambil mengelus lembut kepala Tasya.
"Tapi bukankah karena hal itu kamu mendiamkan aku selama sepekan ini?" Tanya Tasya tak mengerti.
__ADS_1
Dion menggeleng.
"Maaf jika aku mengabaikanmu belakangan ini. Pikiranku sedang kacau belakangan ini" ucap Dion sambil menunduk lesu.
Bisa Tasya tangkap ada raut kesedihan serta penyesalan yang mendalam di wajah Dion.
"Di, apa semuanya baik baik saja?" Tanya Tasya khawatir.ia mengusap punggung Dion yang kini sudah duduk di sampingnya.
"Entahlah, Nat. Aku merasa ini terlalu rumit" ucap Dion lirih.
Ingin sekali Dion membagi bebannya pada Tasya, namun Dion tak tahu harus memulai darimana.
"Kamu bisa membaginya padaku, Di. Kalaupun aku tak bisa memberimu solusi, setidaknya kau tak perlu memikulnya sendirian" Tasya meraih tangan Dion dan mengusapnya dengan lembut.
Dion menarik nafas panjang.
"Aku bingung, Nat." Jawab Dion lirih.
"Bagaimana perasaanmu saat kamu membenci seseorang dan menuduh orang tersebut yang telah menghancurkan keluargamu secara jahat, namun suatu hari kamu mendapati kenyataan bahwa semua tuduhanmu itu tidaklah benar dan justru keluargamu yang sudah berbuat jahat pada orang yang kamu tuduh tadi" kata kata dari Dion mendadak memunculkan sebuah tanda tanya besar di kepala Tasya.
"Aku tak mengerti" ujar Tasya mengernyitkan dahinya.
"Mama Wina. Selama ini aku selalu membencinya. Aku mengira dia adalah perusak rumah tangga kedua orang tuaku, namun ternyata itu semua tak benar. Aku salah paham selama ini" jelas Dion lirih.
Flashback on
Dion memandangi foto mama Devi. Ia masih memikirkan kata kata tante Devi beberapa hari yang lalu.
Dion ingin sekali mendengar penjelasan dari papa Rian.
Namun papanya tidak ada di rumah beberapa hari ini.
Pikiran Dion menerawang. Ia tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada rumah tangga mama dan papanya.
Kenapa mendadak semua jadi serumit ini.
"Apa kau merindukan mamamu?" Sebuah suara membuyarkan lamunan Dion.
Papa Rian tiba tiba saja sudah berada di kamar Dion dan masih mengenakan kemeja kerjanya.
Sepertinya, dia memang baru tiba dirumah.
__ADS_1
"Papa juga merindukan mama Devi" papa Rian mengusap foto mama Devi.
Senyuman tipis tersungging di bibirnya.
"Apa papa mencintai mama?" Tanya Dion tiba tiba.
"Ya, tentu saja papa mencintai dan menyayanginya." Jawab papa Rian bersungguh sungguh.
"Bukankah papa menikahi mama terpaksa karena sebuah perjodohan?" Dion masih saja bertanya.
Papa Rian terlihat menarik nafas panjang.
"Apa menurutmu papa adalah orang yang serakah, karena mencintai dua wanita sekaligus dalam hidup papa?" Bukannya menjawab pertanyaan Dion, papa Rian justru mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat Dion terdiam.
Namun dalam hatinya Dion membenarkan perkataan sang papa.
Ya, menurut Dion papa Rian memang egois dan serakah.
"Dengar. Mungkin Papa memang egois dan serakah. Tapi papa sama sama mencintai mama kamu dan mama Wina.
Papa hanya tidak bisa memilih salah satu di antara mereka.
Dan asal kamu tahu saat mama Devi meninggal, mama Wina tidak serta merta memutuskan untuk mau ikut papa pulang ke rumah ini.
Papa berulang kali harus membujuk mama Wina. Hingga akhirnya dia melihat wajah sedihmu saat itu.
Mama Wina pulang kesini demi kamu, Dion.
Dia ingin kamu tetap bisa merasakan kasih sayang seorang mama." Jelas papa Rian panjang lebar.
Dion masih terdiam. Matanya,berkaca kaca mendengar cerita dari sang papa.
"Jika kamu pikir papa hanya mengarang semua ini demi membela mama Wina, kamu salah besar. Bisa kamu lihat sendiri betapa sabarnya mama Wina menghadapi sikap ketus dan dinginmu itu? Apa pernah dia membentakmu atau berkata yang menyakiti hatimu? Pikirkan itu, Dion" lanjut papa Rian.
Hati Dion membenarkan semua perkataan sang papa.
Meskipun dirinya selalu ketus pada mama Wina, namun tak pernah sekalipun mama Wina marah atau benci kepadanya.
Mama Wina bahkan memperlakukan Dion sama halnya dia memperlakukan Kevin. Namun kebencian di hati Dion terlanjur mendarah daging. Ia selalu menutup mata pada semua kebaikan mama Wina.
Kini Dion merasa bersalah.
__ADS_1
Flashback off