Natasya

Natasya
Kenangan Masa Kecil


__ADS_3

Tasya memandang selembar foto yang tak sengaja jatuh dari rak buku saat Tasya tengah mencari buku-buku lamanya.


Foto Tasya kecil bersama saudara-saudaranya di panti asuhan.


Tasya terlalu sibuk dengan sekolah dan teman-temannya sampai ia melupakan rencananya untuk mengunjungi panti.


"Ma..." Tasya keluar dari kamar dan mencari mamanya yang entah berada di mana.


Tasya memeriksa ke dapur, nihil.


Mamanya tak ada di dapur.


Tasya beralih ke ruang tengah. Mamanya tengah sibuk mengeejakan laporan ternyata di ruang tengah.


"Ma!" panggil Tasya


"Iya sayang, kamu perlu sesuatu?" Jawab Mama Sarla tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Sepertinya ia tengah berkonsentrasi mengerjakan data penting.


"Ma, ingat panti asuhan bu Ranti gak?" Tasya mendaratkan bokongnya di sofa.


Mama Sarla menghentikan aktivitasnya sejenak dan menoleh ke arah Tasya.


"Iya mama ingat. Kenapa?" Tanya Mama Sarla


"Bukankah panti asuhan itu ada di kota ini ya, Ma?" Kata Tasya lagi.


Mama Sarla tampak mengingat-ingat sesuatu.

__ADS_1


"Oh, iya. Mama baru ingat" ucap mama Sarla kemudian.


"Kamu mau kesana, Sya?" Tanya mama Sarla.


"Pengen nya sih gitu. Mama sibuk gak weekend nanti?" Tasya sedikit cemas.


Belakangan ini sepertinya mama Sarla cukup sibuk. Kadang sampai ia membawa pulang pekerjaannya seperti sekarang ini.


"Mama ada acara di kantor. Kamu pergi sendiri berani gak?" Tanya mama Sarla sedikit ragu.


Sebenarnya ia ingin sekali menemani putrinya tersebut. Tapi apalah daya, acara kantor tidak bisa ia tinggalkan.


Tasya masih diam. Ia sedikit kecewa karena sang mama tidak bisa menemaninya ke panti weekend ini. Tapi Tasya juga tak mau mama Sarla merasa bersalah.


"Atau kamu pergi sama teman-teman kamu aja? Atau sama Dion juga gk apa-apa. Mama lihat kamu akrab sama Dion" mama Sarla memberi saran dan sedikit terkekeh saat menyebut tentang hubungan Tasya dan Dion.


"Kan mama cuma ngasih saran. Kok pipi kamu jadi merah begitu. Hayo kamu pacaran ya sama Dion" mama Sarla tertawa melihat pipi Tasya yang mendadak berubah merah saat dirinya membahas tentang Dion.


"Udah ah, Tasya mau masuk kamar. Nanti aja Tasya pikirin mau pergi sama siapa" Tasya buru-buru beranjak dari sofa demi menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah.


Mama Sarla masih saja tertawa melihat tingkah Tasya.


'Ah, dasar payah. Dengar nama Dion aja lebay begini' gerutu Tasya mengomeli dirinya sendiri.


Tasya sendiri tidak tahu saat ini apa status hubungannya dengan Dion.


Dion tak pernah menembaknya ataupun memintanya menjadi pacar, tapi perlakuan Dion pada Tasya bisa dibilang lebih dari seorang pacar.

__ADS_1


Dion selalu ada untuk Tasya dan Tasya merasa nyaman saat di dekat Dion. Mereka berdua pun memutuskan untuk tak memusingkan soal status dan memilih menjalaninya saja apa adanya.


Membiarkan semuanya mengalir seperti seharusnya.


Tak ada komitmen, hanya rasa saling percaya yang mungkin sedikit di bumbui dengan rasa cemburu.


Tasya kembali ke kamarnya.


Memandang kembali foto yang tadi ia temukan.


Dirinya masih kecil saat foto itu diambil.


Berdiri malu-malu diantara anak-anak panti yang lain.


Seorang anak laki-laki yang usianya lima tahun lebih tua dari Tasya berdiri disamping Tasya sambil merangkul pundak Tasya.


Tasya mencoba mengingat kembali anak laki-laki itu.


Dia yang selalu menjaga Tasya saat di panti. Dia yang selalu sabar menghibur Tasya saat dirinya bersedih.


Dan terakhir yang Tasya ingat dia menangis sesenggukan saat mama Sarla datang mengadopsi Tasya dan membuat mereka berdua terpisah hingga sekarang.


Tasya sudah menganggapnya sebagai kakak.


Tasya sungguh merindukannya sekarang.


"Kak Ronny, apa sekarang kau masih tinggal di panti? Atau kau sudah berhasil meraih cita citamu?" Tasya bergumam sambil terus menatap foto kakak Ronny nya itu.

__ADS_1


__ADS_2