
Dion menahan geram melihat berita yang beredar di medsos baru-baru ini.
Hubungannya dengan Tasya baru saja membaik, kenapa harus ada berita seperti ini?
Julian datang ke kamar Dion dengab tergesa.
"Di, loe udah lihat video itu?" Tanya Julian khawatir.
Dion mengangguk.
"Kayaknya kali ini loe gak boleh diam aja, Di. Kalau Tasya tahu, semuanya bisa kacau" ujar Jukian memberikan pendapatnya.
"Gue tahu. Gue akan cari tahu pelakunya" ucap Dion masih geram.
"Weekend nanti loe datang? Laura pasti ada disana. Bakal lebih heboh lagi beritanya" Julian kembali khawatir.
"Gue akan datang dan menyelesaikan semuanya" tekad Dion bersungguh-sungguh.
Julian tampak mengernyit bingung.
Bagaimana Dion akan menyelesaikan semuanya?
*****
"Hah? Serius?" Kiki yang baru saja menikmati dan menyesap minumannya di sebuah kafe mendadak menyemburkan kembali minumannya setelah melihat sebuah video di layar ponselnya
Tasya yang duduk di depan Kiki tentu saja kaget dengan reaksi gadis itu.
"Kenapa sih, Ki?" Tanya Tasya sedikit kesal.
"Ini. Liatin deh." Kiki menyodorkan ponselnya pada Tasya.
"Gue gak nyangka ternyata Dion sama Laura udah sejauh itu. Gue kira pernyataan Laura saat itu hanya omong kosong" Ucap Kiki masih tak percaya.
Tasya yang melihat Dion dalam video itu sedang menari mesra dengan Laura mendadak merasa panas.
Matanya masih tak lepas dari layar ponsel milik Kiki tersebut. Hatinya terasa sesak. Wajahnya berubah merah padam.
Tentu saja Tasya cemburu.
Tasya beranjak dari duduknya dengan tergesa.
"Sya, mau kemana?" Tanya Kiki bingung.
Tadi Tasya masih baik-baik saja kenapa sekarang mendadak wajah sahabatnya itu berubah menjadi merah padam.
"Aku harus balik sekarang. Aku duluan, Ki" jawab Tasya sekenanya. Tasya segera berlalu meninggalkan Kiki yang masih melongo dan bingung dengan gelagat Tasya.
*****
Tasya menarik nafas panjang sebelum turun dari taksi yang mengantarnya pulang.
Selama perjalanan, Tasya mencoba meredam emosi yang membuncah di dadanya.
Tasya masuk ke dalam rumah tante Desi dengan perlahan. Tasya mencoba memasang wajah setenang mungkin.
Tasya tidak mau tante Desi memergoki dirinya pulang dengan wajah penuh emosi.
Namun, saat baru masuk ke dalam rumah, samar-samar Tasya mendengar suara televisi yang lagi-lagi membahas tentang video Dion dan Laura.
Seketika wajah Tasya kembali merah padam.
Tante Desi yang menyadari Tasya datang buru-buru mengganti saluran televisi.
"Sya, udah pulang?" Tanya tante Desi berbasa-basi.
__ADS_1
Tasya hanya mengangguk dan mencoba menyembunyikan wajah merah padamnya.
Tante Desi beranjak dari duduknya dan segera menghampiri Tasya.
"Ayo duduk dulu" tante Desi membimbing Tasya agar duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
Tasya menurut saja dan segera duduk bersama tante Desi.
"Bagaimana hubunganmu dengan Dion?" Tanya tante Desi serius
"Baik, kami baik-baik saja tante" jawab Tasya sedikit lirih.
Entahlah, kemarin dirinya masih berkomunikasi dengan Dion lewat telepon. Bahkan akhir pekan ini Dion meminta Tasya untuk terbang ke Jakarta.
Namun hari ini secara mengejutkan beredar berita tak sedap tentang Dion dan Laura.
Tasya jadi bingung sekarang.
Tante Desi menghela nafas panjang sebelum berbicara
"Kamu percaya dengan berita barusan?" Tanya tante Desi lagi.
Tasya menggeleng ragu,
"Dengar, Dion itu tidak ada perasaan apapun ke Laura. Lagipula, Dion tidak mungkin menyukai gadis seperti Laura. Tante tahu betul bagaimana Dion." Tante Desi kembali menghela nafas sebelum melanjutkan ceritanya.
"Dion hanya menghormati Mr Lim, papanya Laura yang merupakan pemilik klub tempat Dion bernaung selama ini. Jadi karena itulah, Dion tidak mau membesar-besarkan setiap berita bohong yang di buat oleh Laura" tambah tante Desi.
Tasya mengangguk.
"Tasya mengerti, tante" ucap Tasya bersungguh-sungguh.
"Istirahatlah, kamu pasti capek" Tante Desi mengelus lembut punggung Tasya.
Gadis itu mengangguk dan segera beranjak dari sofa untuk masuk ke dalam kamarnya.
*****
Panggilan video call dari Dion.
Tasya menarik nafas panjang sebelum mengangkatnya
"Hai, Nat" Dion menyapa Tasya.
"Hai" jawab Tasya datar
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Dion khawatir
"Ya, aku baik-baik saja" jawab Tasya masih dengan nada datar.
Dion mengernyit bingung
"Kamu sudah lihat beritanya?" Tanya Dion lagi.
Kali ini Tasya hanya mengendikkan bahu. Gadis itu memilih untuk membuang pandangannya kemana saja asal tidak memandang wajah Dion
Dion menghela nafas. Ia paham Tasya sedang marah dan cemburu sekarang. Dion tak boleh ikut emosi.
"Kamu mau mendengar cerita sebenarnya?" Tanya Dion lagi.
Tasya masih diam dan tak berkata sepatah katapun.
Sekali lagi Dion menghela nafas panjang demi mengumpulkan kesabarannya.
"Baiklah aku akan kirimkan padamu video itu dalam versi full. Aku bersama teman teman saat itu dan bukan berdua saja seperti yang terlihat di video. Dan kami menari bersama. Kamu bisa tanya Julian kalau masih tak percaya karena saat itu Julian juga ada disana" Dion berusaha menjelaskan dengan detail.
__ADS_1
Tasya hanya memutar bola matanya.
"Boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Tasya akhirnya.
"Ya. Tentu saja" jawab Dion antusias. Dion senang akhirnya Tasya mau buka suara
"Kapan sebenarnya kejadian itu?" Tasya bertanya dengan nada serius.
Dion terdiam sebentar. Tampaknya ua sedang berpikir atau mengira-ngira waktu kejadian.
"Sudah lama. Sebelum aku menemuimu di panti" jawab Dion akhirnya.
Tasya menghela nafas lega.
Gadis itu mengangguk.
"Baiklah, aku rasa kita tak perlu membahas hal ini" ucap Tasya akhirnya.
Hatinya masih sedikit cemburu, namun Tasya hanya ingin bersikap dewasa.
Bagaimanapun juga, Dion sudah jadi seorang idola sekarang. Pastilah banyak gadis di luar sana yang mengidolakan dan tergila-gila pada Dion.
Jika Tasya terus menuruti rasa cemburunya, yang ada Tasya hanya akan stress sendiri.
"Apa kamu masih cemburu?" Tanya Dion masih khawatir.
"Tentu saja aku cemburu. Aku pacar kamu" Tasya memutar bola matanya. Sedikit kesal dengan pertanyaan dari Dion.
Namun sekali lagi Tasya menarik nafas panjang mencoba untuk mengendalikan emosinya.
"Maaf" hanya itu yang bisa Dion ucapkan.
"Baiklah aku memaafkanmu, tapi aku akan minta sesuatu" Tasya memberi persyaratan.
"Apa itu? Aku pasti akan memberikanmu apapun itu" ucap Dion bersungguh-sungguh.
Tasya tampak berpikir sejenak.
"Entahlah, mungkin sebuah hadiah. Menurutmu apa yang aku sukai" Tasya sedikit terkikik. Seperti sengaja membuat Dion bingung.
Benar saja, Dion langsung mengernyit bingung.
"Kamu bisa minta apa saja, Nat" ucap Dion akhirnya.
Tasya tertawa kecil.
"Bagaimana jika kamu saja yang memikirkannya. Aku tunggu hadiah darimu akhir pekan nanti" jawab Tasya akhirnya. Membuat Dion semakin bingung.
Kini Dion menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung dengan permintaan Tasya.
"Baiklah, jadi kamu akan kesini akhir pekan nanti?" Tanya Dion berbinar-binar.
Tasya mengangguk.
"Ya, aku akan datang. Sesuai permintaanmu" jawab Tasya santai.
"Aku akan menjemputmu di bandara" jawab Dion senang.
Tasya mengangguk.
"Aku harus berlatih sekarang. Sampai jumpa akhir pekan ini" Dion akhirnya berpamitan, karena dirinya harus kembali berlatih.
"Sampai jumpa Dion. Jaga kesehatan oke" pesan Tasya
Dion mengangguk dan segera mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
Setelah layar ponselnya mati, Tasya tersenyum simpul.
Ia sungguh penasaran dengan hadiah yang akan di berikan Dion akhir pekan ini.