Natasya

Natasya
SEASON KEDUA : Tahun Baru Keluarga Baru


__ADS_3

Seorang perawat mendorong kursi roda Tasya menuju ke ruang USG.


Dion setia mengikuti dan mendampingi istrinya tersebut.


Suasana rumah sakit pagi ini masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang.


Ini adalah hari ketujuh Tasya dirawat di rumah sakit. Dan kondisi Tasya masih sama seperti saat pertama kali ia datang.


Hari ini akan di tentukan langkah selanjutnya, apakah Tasya akan segera di operasi atau Tasya masih bisa menunggu hingga kandunganya genap tiga puluh empat minggu atau setidaknya sampai Tasya merasakan kontraksi yang berarti bayinya memang sudah siap untuk lahir.


Elena dan dokter Adhi yang sudah menunggu Tasya di dalam ruangan, menyambut Tasya dan Dion dengan senyuman hangat.


"Pagi, dokter" sapa Tasya pada dua dokter kandungan tersebut.


"Sudah siap melihat calon bayi kalian?" Tanya Elena seraya tertawa renyah demi mencairkan suasana di ruangan tersebut yang mendadak terasa tegang.


Perawat sudah mulai menyemprotkan gel di ata perut Tasya, dan kini Elena mulai menggerakkan alat itu berputar-putar di atas perut Tasya.


Suara dua detak jantung dari kedua bayi Tasya langsung bisa mereka dengar,


Elena dan dokter Adhi masih memperhatikan layar dengan seksama. Dion menggenggam erat tangan Tasya.


"Bagaimana?" Tanya Tasya tidak sabar.


Elena menggeleng, raut wajahnya sudah bisa memberikan jawaban jika semuanya tidak sesuai harapan.


"Perkembangan janinmu tidak terlalu bagus, Sya." Jawab Elena lesu.


"Kita harus secepatnya menentukan tanggal operasi dan mengeluarkan mereka sebelum terjadi hal buruk" tambah dokter Adhi.


Airmata Tasya sudah jatuh di kedua pipinya sekarang.


"Nat..." suara Dion tertahan. Dion bahkan bingung harus berkata apa.


"Berat kedua bayimu sudah cukup, Sya. Kamu tidak perlu khawatir" Elena mencoba untuk menenangkan Tasya.


Tasya memilih untuk tidak menjawab apapun. Tasya merasa sudah pasrah dengan keadaannya sekarang. Apapun itu, akan Tasya hadapi demi keselamatan kedua bayinya.


Airmatanya sudah mengalir deras di kedua pipinya.


"Mereka akan bisa bertahan, Sya. Mereka kuat sama sepertimu" Dion berusaha untuk menguatkan Tasya. Matanya juga sudah berkaca-kaca sekarang.


"Aku ingin pulang, Di" pinta Tasya lagi dengan nada memelas.


"Sya, tidak bisa. Tensimu bisa naik sewaktu-waktu kamu tidak bisa pulang" Elena berusaha mencegah.


"Aku akan baik-baik saja, El. Aku hanya ingin pulang sekarang. Silahkan tentukan tanggal operasinya, tapi ijinkan aku pulang dulu" airmata Tasya sudah jatuh bercucuran. Dion segera meraup istrinya tersebut ke dalam pelukannya demi menenangkan Tasya.


"Biarkan Tasya pulang, El. Aku yang akan menjaga dan mengawasinya" Dion ikut-ikutan memohon.


Dion sungguh tak sampai hati melihat Tasya yang menangis tersedu-sedu. Hati Dion ikut sakit melihat Tasya bersedih seperti ini.


Elena menatap ke arah dokter Adhi seakan meminta persetujuan.


Dokter senior itu terlihat mengusap wajahnya beberapa kali karena suasana di ruangan ini yang mendadak penuh dengan derai airmata.


Seorang perawat masuk membawa hasil laboratorium Tasya. Segera dokter Adhi menerima dan membacanya.


Dokter senior itu kemudian menghampiri Tasya dan Dion.


"Operasi akan kami lakukan pekan depan, Sya. Dan kamu boleh pulang..." Dokter Adhi menjeda kalimatnya.


"Kamu boleh bedrest di rumah, aku akan minta perawat ke rumahmu setiap hari untuk untuk mengukur tekanan darahmu" lanjut dokter Adhi lagi.


Tasya dan Dion sedikit bernafas lega sekarang.


"Tapi kamu harus berjanji, jika kamu mengalami sesak nafas atau sakit di perutmu, kamu harus segera ke rumah sakit atau menghubungiku atau dokter Elena" tambah dokter Adhi lagi.


"Kau harus benar-benar menjaga dan mengawasi Tasya, Dion. Kami mengandalkanmu" Elena ikut menambahkan.


"Aku akan benar-benar mengawasinya" janji Dion pada dokter Adhi dan Elena.


Elena memeluk erat Tasya,


"Pulanglah! Kedua bayimu akan baik-baik saja. Mereka kuat sama sepertimu" ujar Elena sambil mengusap perut Tasya.


"Terima kasih untuk semuanya, El." Jawab Tasya terbata.


Elena hanya mengangguk, dan tak mampu lagi berkata-kata.


Wanita itu mengusap airmata yang sudah membasahi kedua pipinya.


Tasya sudah duduk kembali ke atas kursi roda. Seorang perawat mendorongnya kembali ke kamar perawatan. Tasya akan berkemas sebelum pulang ke rumahnya.


"Dion!" Elena memanggil Dion yang sudah akan keluar dan mengikuti Tasya.


"Ada apa, El?" Dion berbalik lagi dan tidak jadi keluar dari ruangan itu.


Elena menarik nafas panjang sebelum mulai berbicara,


"Jaga Tasya baik-baik, Di. Dan tolong jangan membuatnya tertekan atau stress. Itu akan membuat kondisinya semakin memburuk" ujar Elena sambil menatap Dion dengan serius.


"Dan..." Elena menggigit bibir bawahnya karena mendadak dirinya tak sampai hati memberitahukan berita buruk ini pada Dion.


Dion mengernyit tak mengerti, tapi dalam hati pria itu merasa seperti ada yang tidak beres.


Kalau di lihat dari raut wajah Elena sepertinya ada hal sulit yang hendak disampaikan oleh Elena.


"Infeksi di rahim Tasya sudah menyebar. Tapi calon anak kalian baik-baik saja. Hanya saja mungkin ini adalah kesempatan terakhir untuk Tasya memiliki bayi. Kami terpaksa akan mengangkat rahim Tasya setelah kedua bayinya lahir nanti..." suara Elena seperti tercekat di tengorokan.


Tasya pasti akan sangat terpukul jika mendengar berita buruk ini


Sesaat Dion mematung.


Masih antara percaya dan tidak percaya dengan kata-kata Elena barusan.


"Aku tahu ini berat untuk kalian berdua..." airmata Elena kembali menetes


"Tapi ini yang terbaik yang bisa kami lakukan demi menyelamatkan nyawa Tasya, Di..." Elena kembali menjeda kata-katanya.


"Aku tahu, El. Lakukan semua yang terbaik untuk Tasya" ujar Dion lirih sambil menatap kosong ke arah pintu masuk poli kandungan yang kini tertutup.


Pikiran Dion kembali menerawang tentang Tasya. Entah apa yang akan terjadi saat Tasya tahu tentang ini semua.


Tasya mungkin sudah sampai di kamar perawatan dan sedang mencarinya sekarang.


"Dan tolong jangan beritahu Tasya, Di. Aku tidak mau Tasya stress karena ini akan sangat berpengaruh terhadap kondisi kedua bayimu" tambah Elena lagi.


"Iya, El. Aku mengerti. Terima kasih untuk semuanya. Aku akan membawa pulang Tasya dan merawatnya dengan sungguh-sungguh" janji Dion sekali lagi pada sahabatnya tersebut.


"Hati-hati. Dan segera telpon aku kapanpun jika kondisi Tasya memburuk" pesan Elena sekali lagi pada Dion.


Dan pria itu mengangguk sambil memaksa untuk tersenyum.


Elena tahu, pasti hati Dion juga sedang tidak karuan sekarang.


Entahlah, Elena merasa ada yang salah dengan semua ini.


Namun Elena juga tidak bisa berbuat banyak.


Tasya benar-benar ingin pulang ke rumahnya. Dan Elena sungguh tak sampai hati menolak permintaan sahabatnya tersebut.


"Semoga kamu akan baik-baik saja, Sya." Doa Elena dalam hati.


Elena masih berharap akan ada keajaiban untuk Tasya dan kedua bayinya.


*****


Tepat pukul sepuluh pagi, mobil Dion sudah sampai di garasi rumahnya.

__ADS_1


Tidak ada obrolan antara Dion dan Tasya selama perjalanan tadi. Mereka hanya saling diam.


Dion membantu Tasya turun dan membawanya ke atas kursi roda,


Bahkan Tasya tidak diijinkan untuk berjalan sekarang.


Dion menarik nafas panjang sebelum mendorong kursi roda Tasya masuk ke dalam rumah.


Mendadak ada sesak di hatinya saat melihat ke arah Tasya.


Kata-kata Elena tadi pagi tentang kondisi Tasya terus saja berkelebat di kepala Dion.


Dion mendorong kursi roda Tasya melewati kamar mereka dan masuk ke kamar di sebelahnya,


"Kita mau kemana, Di?" Tanya Tasya bingung.


Dion membuka pintu di hadapannya, dan Tasya langsung ternganga tak percaya.


Kamar bernuansa merah muda dan biru lembut.


Ada box bayi besar di tengah-tengah kamar dan lemari untuk baju-baju bayi yang memang sudah Tasya siapkan untuk kedua buah hatinya.


Semuanya sesuai dengan yang Tasya gambar tempo hari.


Semuanya sama seperti keinginan Tasya


Dion mendorong kursi roda Tasya masuk ke dalam kamar tersebut.


Tasya mengedarkan pandangannya. Matanya berkaca-kaca karena bahagia.


Dion benar-benar mewujudkan semuanya.


"Di, kamu? Kamu menyelesaikan semuanya?" Tanya Tasya masih tidak percaya.


Dion hanya mengangguk


Dion berlutut di hadapan Tasya, mengusap lembut perut Tasya lalu menyandarkan kepalanya disana.


"Kita akan bertemu mereka kan, sebentar lagi?" Tanya Dion lirih. Airmata Dion sudah jatuh sekarang.


Berbagai perasaan berkecamuk di hati Dion.


Dion bahkan tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang.


Dion bingung harus bahagia karena sebentar lagi kedua anaknya akan segera lahir.


Atau Dion harus bersedih mengingat kondisi Tasya ysng tak kunjung membaik.


"Di, kenapa kamu menangis?" Tasya menangkup wajah sang suami.


Dion memaksa untuk tersenyum.


"Aku menangis bahagia, Nat. Anak-anak kita akan segera lahir dan kita akan benar-benar menjadi orang tua" jawab Dion sambil menatap dalam ke arah wajah Tasya.


Wajah Tasya terlihat berbeda belakangan ini.


Meskipun sedikit pucat, namun wajah Tasya terlihat lebih cantik bercahaya.


"Aku juga bahagia karena memiliki kamu sebagai suamiku, dan anak-anak yang sebentar lagi akan lahir ke dunia ini" Tasya juga menatap penuh cinta ke arah netra milik Dion.


Tasya ingin selalu berada di dekat Dion belakangan ini.


Entahlah,


Tasya hanya merasa takut jika Dion tidak ada dalam jangkauan pandangannya.


"Kau menyukai kamarnya? Aku minta maaf karena tidak memenuhi janjiku untuk mengerjakan ini sendiri. Aku harus merawatmu jadi aku..."Dion belum menyelesaikan kalimatnya namun Tasya sudah memotongnya dengan cepat


"Aku menyukainya, Di. Terima kasih untuk semuanya. Aku mencintaimu" ucap Tasya tulus.


"Ayo istirahat, aku akan mengantarmu ke kamar" Dion memilih untuk segera membawa Tasya masuk ke kamar.


*****


Hari kedua Tasya pulang ke rumah.


Tasya semakin takut berjauhan dengan Dion.


Tasya hanya ingin selalu memandang wajah suaminya itu. Dan Dion mencoba untuk mengerti. Dion sebisa mungkin tidak pernah pergi jauh dari hadapan Tasya.


Dan sepanjang malam Dion akan memeluk Tasya hingga wanita itu terlelap.


Lalu Dion akan memandang wajah Tasya yang sudah terlelap.


Wajah tenang Tasya yang selalu bisa menyejukkan hati Dion.


Duarrr... duarrr


Suara kembang api di malam tahun baru membuat Tasya yang tadinya sudah terlelap menjadi bangun lagi.


Dion belum tidur.


Sepertinya pria itu masih memeriksa beberapa pekerjaan.


Dion yang tahu Tasya terbangun, segera menyimpan laptopnya dan menenangkan Tasya.


"Kau kaget dengan suara kembang api itu?" Tanya Dion seraya mengusap kepala istrinya tersebut.


"Sedikit" jawab Tasya lirih


"Bisakah kita keluar dan melihatnya?" tanya Tasya menatap pada Dion.


"Apa kau benar-benar ingin melihatnya?" Dion balik bertanya.


Tasya mengangguk.


"Baiklah," Dion menyiapkan kursi roda Tasya dan mengambil syal untuk Tasya.


Udara malam ini sepertinya sedikit dingin mengingat tadi sore sempat turun hujan.


Dion mendorong perlahan kursi roda Tasya keluar menuju ke teras rumah mereka.


Dion dan Tasya hanya akan mlihat kembang api dari teras rumah.


Ini memang malam tahun baru. Semua orang tentu saja sedang berkumpul dan bersukacita bersama keluarga mereka merayakan malam pergantian tahun.


Dion memilih untuk duduk di kursi teras.


"Dion..." panggil Tasya lirih.


"Iya, Nat?" Dion segera mendekatkan kursinya ke arah Tasya, memutarnya hingga kini Dion bisa memandang wajah sang istri.


"Kau akan menjadi ayah yang baik kan untuk anak-anak kita nanti?" Tanya Tasya tiba-tiba.


Dion mengangguk dengan cepat.


"Tentu saja, aku akan berusaha menjadi ayah yang baik untuk mereka" Dion mengusap perut Tasya.


Dug, sebuah tendangan dari calon bayi mereka bisa Dion rasakan. Membuat pria itu berbinar bahagia.


"Kau akan merawat mereka dengan baik, kan? Dengan penuh kasih sayang. Sama seperti kamu merawatku saat ini" Tasya sekali lagi bertanya.


Tasya menatap wajah suaminya,


Menatapnya cukup lama agar Tasya bisa selalu mengingat wajah itu.


"Kita akan merawat mereka bersama-sama. Menjadi orangtua yang baik untuk mereka" Dion seakan mengkoreksi kalimat Tasya barusan.


Tasya memaksa tersenyum,

__ADS_1


"Dion, apa kau mencintaiku?" Tanya Tasya sekali lagi.


"Aku mencintaimu, Nat. Aku mencintaimu sejak dulu, sekarang, dan hingga nanti kita menua bersama" Dion menggenggam erat tangan Tasya dan mengecupnya berulang kali.


Kenapa mendadak perasaan Dion menjadi kacau seperti ini.


Seperti ada sebuah firasat buruk yang akan terjadi.


Tidak,


Dion tidak boleh berpikiran buruk.


Dion akan membuang semua firasat dan pikiran buruk itu.


Tasya akan melahirkan kedua bayinya dengan selamat, lalu mereka berempat akan hidup bahagia sebagai keluarga yang lengkap.


"Apa kau juga akan mencintai dan menjaga anak-anak kita seperti halnya kau menjaga dan mencintaiku?" Tasya bertanya sekali lagi.


"Tentu saja, Nat. aku mencintai kalian bertiga."


Jawaban dari Dion membuat Tasya bernafas lega sekarang.


Dion akan menjadi ayah yang baik untuk kedua anaknya.


Dion akan merawat kedua anak mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang.


Jadi apalagi yang harus Tasya takutkan sekarang?


*****


Pagi hari yang dingin,


Tasya menggeliat menahan rasa nyeri di perutnya.


Dion masih terlelap di sebelahnya.


Kepala Tasya mulai sakit lagi. Tasya juga kepayahan dalam mengambil nafas.


Sekuat tenaga, Tasya berusaha membangunkan Dion. Pandangannya mulai kabur sekarang.


"Dion...Dion" bahkan suara Tasya hanya terdengar lamat-lamat sekarang.


"Dion!" Dengan tenaga yang tersisa, Tasya memukulkan tangannya ke wajah Dion membuat pria itu langsung kaget dan terbangun.


"Nat, kamu kenapa?" Baiklah, Dion mulai panik sekarang.


"Telpon Elena, perut aku..." Tasya tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya.


Rasa sakit di perutnya saat ini sungguh menyiksa.


Tasya bahkan sudah tidak bisa bernafas dengan benar.


Secepat kilat, Dion menyambar ponselnya di atas nakas dan segera menghubungi nomor prioritas.


"Halo, Dion ada apa?" Tanya Elena di seberang sana


"El, Tasya... Tasya... akan segera melahirkan" jawab Dion panik. .


"Apa?" Elena setengah berteriak.


"Dia kesakitan, El. Aku akan membawanya ke rumah sakit sekarang." Ujar Dion sebelum telpon terputus.


Elena langsung menutup telepon dengan cepat dan berlari menuju ruang operasi.


Elena memang berada di rumah sakit pagi ini karena baru selesai membantu proses persalinan salah satu pasiennya.


*****


"Kita harus mengeluarkan bayinya sekarang" ucap dokter Adhi cepat.


Beberapa perawat langsung mendorong ranjang Tasya keluar dari ruang UGD dan menyusuri lorong rumah sakit menuju ke kamar operasi.


"El.." Dion memanggil Elena . Ia ingin ikut masuk dan mendampingi Tasya.


Elena langsung bisa menangkap kekhawatiran dan kepanikan yang menjadi satu di wajah Dion.


"Masuklah! Tasya membutuhkanmu" jawab Elena cepat.


Dion segera mengikuti Elena masuk ke ruang operasi.


Di dalam ruangan yang dingin itu, Dion terus saja menggenggam erat tangan Tasya yang kini setengah sadar karena pengaruh obat bius.


Dokter dan perawat masih fokus melakukan operasi cesar pada Tasya.


Hingga akhirnya terdengar suara tangisan satu bayi yang segera disusul oleh tangisan bayi lainnya,


Dion langsung mengucap syukur dan berulang kali mengecup kening Tasya.


Rasa haru dan bahagia meluap di hatinya sekarang.


Dua orang perawat yang membawa bayi Dion dan Tasya menunjukkan kepada orang tua baru itu kedua bayi mereka yang sungguh sempurna


Tasya masih bisa melihat wajah kedua bayi kembarnya tersebut. Air mata Tasya jatuh karena bahagia. Tasya sudah menjadi seorang wanita sempurna sekarang. Tasya sudah menjadi seorang ibu.


Tasya melihat sekali lagi wajah kedua bayinya, menatap lekat wajah dua malaikat kecilnya tersebut, sebelum semua hal di sekitarnya terasa berputar-putar dan berubah menjadi cahaya putih yang menyilaukan mata...


*****


'Tasya'


'Dion'


'Kamu tidak akan sendirian lagi, Nat. Aku akan selalu ada jika kamu butuh teman untuk berbagi beban hidupmu. Aku akan selalu menjagamu'


'Aku mencintaimu, akan terus begitu sampai kapanpun. Semua hal buruk ini akan berlalu dan kita akan melupakannya'


'Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu, terus bersamamu hingga nanti, menikmati setiap waktu bersamamu hingga kita menua bersama'


'Aku bersumpah untuk selalu mencintaimu dalam sehat maupun sakit, dalam senang maupun susah, dalam segala keadaan.


Aku akan terus mencintaimu hingga maut memisahkan.'


'Aku mencintai kalian bertiga, aku akan menjadi ayah yang baik untuk kedua anak kita, Nat. Aku berjanji'


Mendadak semua kilas balik kejadian dalam hidupnya serta kata-kata tulus Dion yang selalu mencintainya berkelebat di benak Tasya, seperti sebuah kaset yang di putar berulang-ulang.


Cahaya putih di depannya terasa semakin menyilaukan.


Samar-samar, masih bisa Tasya dengar suara Elena yang memanggil namanya berulang kali. Namun suara tersebut semakin lama terdengar semakin menjauh dan akhirnya hilang sama sekali.


Hening...


Sesaat semuanya terasa hening sebelum akhirnya Tasya tak bisa lagi mendengar ataupun melihat apapun di depan matanya.


'Aku mencintaimu, Dion. Terima kasih karena sudah hadir di dalam hidupku, menerima diriku apa adanya, dan menjadi suami yang sempurna untukku' gumam Tasya sambil tersenyum bahagia sebelum semuanya menjadi benar-benar gelap.


Kini, mata Tasya terpejam rapat, menyisakan sebuah senyuman di bibirnya yang pucat.


*****


Paham?


Dapat feelnya?


Masih ada tambahan Epilog besok kalau ada yang belum paham.


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.


Happy reading 😊

__ADS_1


__ADS_2