Natasya

Natasya
SEASON KEDUA : Rumah Sakit (2)


__ADS_3

Mama Sarla dan papa Anton sudah tiba di rumah sakit siang tadi setelah jam makan siang.


Tasya sudah bangun dari tidurnya dan sedang mengobrol dengan kedua orang tuanya tersebut.


"Aku akan pulang dulu mengambil keperluanmu. Kau tidak apa-apa kan aku tinggal" Dion mengusap puncak kepala Tasya.


Dion juga akan sekalian membawa pulang koper milik mama Sarla dan papa Anton.


Kedua mertuanya tersebut memang langsung menuju rumah sakit setelah dari bandara kota.


Tasya mengangguk,


"Iya aku tidak apa-apa. Ada mama dan papa di sini. Jadi jangan khawatir seperti itu, Di" Tasya sedikit mencebik.


"Kami akan menjaga Tasya, Dion" tambah mama Sarla agar Dion tidak perlu khawatir.


"Baiklah kalau begitu. Aku pulang dulu" Dion mengecup kening Tasya sekilas, sebelum akhirnya berpamitan kepada kedua mertuanya dan pergi keluar dari ruang perawatan.


Dion akan pulang sebentar.


*****


"Kenapa baru memberi kabar sekarang, Sya. Kalau keadaan kamu seperti ini? Mama dan papa kan bisa kesini dari kemarin-kemarin kalau kamu memberitahu lebih awal" ujar mama Sarla sedikit kecewa.


Tasya menghela nafas,


"Ada Dion yang merawat Tasya dengan baik, Ma. Tasya juga tidak mau membuat mama dan Papa khawatir" Tasya menatap bergantian pada kedua orang tuanya tersebut.


Mama Sarla memang hanyalah mama angkat tasya yang kini menjadi mama sambungnya setelah menikah dengan papa Anton. Tapi tetap saja, Tasya sudah menganggap mama Sarla seperti mama kandungnya sendiri.


Tasya sendiri beruntung karena bertemu dan memiliki banyak sosok mama di dalam hidupnya.


Ada mama Erin yang melahirkannya. Ada ibu Ranti yang merawat Tasya sejak bayi hingga berusia tujuh tahun.


Ada mama Sarla yang merawat Tasya sejak umur tujuh tahun hingga Tasya lulus kuliah, dan kini mama Sarla masih menjadi ibu sambung untuk Tasya.


Dan jangan lupakan tante Desi yang sudah menjadi orang tua asuh untuk Tasya dan membiayai kuliah kedokteran Tasya.


Ah, Tasya jadi merindukan tante Desi sekarang. Setidaknya tante Desi sudah bahagia di sana bersama om Bimo yang selalu ada sisinya hingga ajal menjemput keduanya.


Dan terakhir Tasya juga punya mama Wina yang juga menyayanginya.


Tasya merasa benar-benar beruntung.


"Kenapa melamun?" Teguran dari papa Anton langsung membuyarkan semua lamunan Tasya.


Tasya hanya tersenyum kecil.


"Ayo makan! Mama suapin" mama Sarla mulai menyuapi Tasya dengan sabar.


Dan papa Anton yang juga duduk di sisi ranjang Tasya, sekarang sedang bercerita tentang hal-hal yang Tasya lewatkan di kota kelahirannya.


Sudah berbulan-bulan Tasya dan Dion memang belum sempat pulang ke kota tersebut.


Terakhir mereka pulang saat menjenguk papa Rian yang sedang sakit.


Dan setelah itu, Tasya dan Dion belum berkunjung lagi.


Apalagi sejak kandungan Tasya sefikit mengalami masalah, Elena melarang keras Tasya untuk melakukan perjalanan.


*****


Dion baru saja tiba di rumahnya.


Setelah memarkirkan mobilnya di garasi rumah, Dion segrra menurunkan barang-barang milik mama Sarla dan papa Anton dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Sejenak pandangan Dion tertuju ke arah tumpukan cat dan alat-alat renovasi yang masih terbungkus rapi di sudut ruang tamu.


Dion memang baru membeli semuanya beberapa hari lalu, untuk mulai menyiapkan kamar bagi kedua buah hatinya.


Dion sudah berjanji pada Tasya untuk menyiapkan kamar tersebut sebelum anak-anak mereka lahir.


Tapi rasanya Dion tak akan ada waktu untuk melakukan itu semua.


Mungkin Dion akan membayar beberapa tukang saja untuk mengerjakannya. Toh Tasya juga sudah selesai menggambar desain kamar itu.


Hanya tinggal di kerjakan saja. Semoga semuanya bisa selesai sebelum Tasya benar-benar melahirkan.


Dion ingin membuat kejutan untuk Tasya.


Dion segera masuk ke dalam kamarnya. Mungkin ia akan mandi dan membersihkan diri sebelum kembali lagi ke rumah sakit.


Sudah ada mama Sarla dan papa Anton yang menjaga Tasya, jadi Dion tidak perlu khawatir lagi saat harus meninggalkan Tasya seperti sekarang ini.


*****

__ADS_1


Dion kembali ke rumah sakit saat hari sudah beranjak sore.


Dan saat Dion tiba, rupanya juga sudah ada Raka, Kiki, dan Egi yang datang untuk menjenguk Tasya.


"Wah, wah. Istri sakit tapi kau sibuk kelayapan? Ckckck" bukannya menyapa Dion yang baru datang, Raka malah berdecak dan mengomel pada Dion.


"Siapa yang kelayapan? Aku mengambil baju dan keperluan Tasya" Dion menunjukkan tas besar yang ada di tangannya.


Selanjutnya, Dion memilih untuk menyapa Egi dan Kiki yang sedari tadi hanya tertawa kecil mendengar perdebatan di antara Dion dan Raka.


"Apa Elena belum datang untuk memeriksa Tasya?" Tanya Dion pada Egi.


Egi menggeleng,


"Aku pasti sudah membawanya pergi dari rumah sakit ini jika memang dia sudah selesai memeriksa Tasya" jawab Egi sambil terkekeh.


"Aku rasa pasiennya masih banyak. Tadi aku lihat di poli kandungan antriannya masih cukup banyak" Kiki ikut menimpali.


Dion hanya mengangguk.


"Mungkin aku harus secepatnya menghamilimu juga, sayang. Agar kita bisa ikut mengantri di poli kandungan" Raka berkata dengan lugas sambil merangkul pundak Kiki.


Sontak, istrinya tersebut langsung meninju perut Raka, membuat pria itu mengaduh kesakitan.


Dion dan Egi kompak tergelak menyaksikan pasangan suami istri baru yang kini sedang bertingkah konyol tersebut.


"Kau tidak perlu menceritakan hal vulgar seperti itu, Ka!" Tegur Kiki bersungut-sungut.


"Aku yakin setelah ini dia juga akan menceritakan kisah malam pertamanya. Aku sarankan sebaiknya kamu membawa lakban untuk menutup mulut suamimu itu" Egi memberikan saran pada Kiki yang langsung membuat Raka sedikit mencebik.


"Aku tidak seember itu, kakak ipar" Raka mencoba membantah serta membela diri.


Kiki hanya mencibir.


"Aku akan menemui Tasya dulu."Dion beranjak dari duduknya dan meninggalkan ketiga sahabatnya tersebut.


Mama Sarla dan papa Anton masih mengobrol ringan bersama Tasya.


"Hai, kau sudah kembali?" Tasya menyapa Dion yang sekarang terlihat lebih segar.


Wajahnya tidak lagi lesu.


Dion tersenyum seraya mengangguk.


"Aku sudah baikan, Di. Hanya perlu melepas jarum besar ini dan mungkin aku akan secepatnya minta untuk pulang" jawab Tasya sembari terkekeh.


"Kau harus tetap disini sampai kondisimu dan kedua janinmu benar- benar sehat, Sya" mama Sarla memberikan nasehat dan kembali mengingatkan Tasya. Ada raut khawatir di wajah wanita paruh baya tersebut.


"Tasya hanya bercanda, Ma. Tasya akan menuruti kata-kata dari dokter" jawab Tasya mencoba menenangkan sang mama.


"Dion rasa mama dan papa sebaiknya pulang dan beristirahat di rumah. Dion akan menjaga Tasya malam ini" ucap Dion lagi.


"Dion benar, Ma.


Mama dan papa belum istirahat sedari tadi. Kalian pasti lelah" Tasya menatap bergantian ke arah mama Sarla dan papa Anton.


"Iya, kami akan pulang nanti" jawab papa Anton.


"Aku bisa sekalian mengantar mama dan papa kamu, Di. jika mereka ingin pulang nanti" Egi yang mendengar pembicaraan Dion dan Tasya ikut menimpali.


"Baiklah, jika kamu tidak keberatan, Gi" balas Dion dengan nada santai.


Sekali lagi Dion merasa beruntung karena selau di kelilingi oleh orang-orang baik.


Pintu ruangan terbuka, tampak Elena bersama dua orang perawat masuk ke dalam ruang perawatan Tasya.


"Sore, semua. Keluarga besar sedang berkumpul ya" Elena menyapa semua orang yang ada di ruangan tersebut sambil tersenyum hangat.


"Udah di tungguin suami tercinta, dokter Elena" Raka membalas sapaan dari Elena dengan kata-kata konyol.


Dan Egi sukses mendaratkan tinjunya di pundak adik iparnya tersebut.


Elena tak mau menanggapi lagi dan memilih untuk segera memeriksa Tasya.


"Ada keluhan?" Tanya Elena sambil menatap serius ke arah Tasya.


Tasya menggeleng,


"Aku sudah membaik, El" jawab Tasya dengan memasang wajah semanis mungkin.


Elena berdecak.


"Apa sebentar lagi kau akan merayuku dan minta pulang dari rumah sakit ini?" Tebak Elena cepat.


Setelah beberapa tahun berteman dengan Tasya, Elena cukup hafal dengan gelagat sahabatnya yang satu ini.

__ADS_1


Tasya hanya nyengir karena tak menyangka jika Elena akan bisa menebak dengan cepat apa yang ada di pikirannya.


"Kau tidak akan ke mana-mana sampai tahun ini berakhir" tambah Elena lagi.


"Ayolah, El. Apa aku tidak bisa pulang sehari saja?" Pinta Tasya dengan nada memohon.


"Tidak untuk saat ini. Kondisimu masih harus di pantau."jawab Elena tegas.


Dion tertawa kecil melihat Tasya yang sedang berdebat dengan Elena.


"Mau tidur di rumah sakit atau di rumah, aku tetap ada di sampingmu, Nat. Jadi jangan terlalu keras kepala" Dion ikut menasihati istrinya tersebut.


"Iya, iya. Suamiku yang sekarang bawel" jawab Tasya seraya mencibir.


Tapi bukannya marah atau tersinggung Dion malah terkekeh mendengar cibiran dari Tasya.


Seorang perawat kembali mengambil sampel darah Tasya untuk di periksa di laboratorium.


"Baiklah sudah selesai. Hasil lab mungkin akan keluar besok. Dan besok pagi kami akan kembali melajukan USG untuk melihat kondisi janinmu" pesan Elena sekali lagi.


Tasya mengangguk,


"Terima kasih, El " ucap Tasya tulus.


Elena mengangguk.


Elena segera menyuruh perawat yang tadi bersamanya untuk pergi dulu.


Lagipula, jam praktek Elena juga sudah selesai.


Elena memilih untuk bergabung bersama Egi dan yang lainnnya yang sepertinya sedang membahas hal seru.


"Sudah selesai yang praktek?" Tanya Egi sembari menggeser duduknya agar Elena bisa ikut duduk di sebelahnya.


"Ya, apa kamu sengaja datang untuk menjemputku?" Elena balik bertanya dan sedikit terkekeh.


Egi mengangguk seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Jadi, bisa kita pulang sekarang? Sekalian mengantar om Anton dan tante Sarla" tanya Egi pada sang istri.


Elena mengangguk.


"Tentu, ayo!" Elena sudah beranjak berdiri lagi.


"Mari om, tante, saya antar pulang sekalian" Egi berkata pada mama Sarla dan papa Anton yang sedari tadi hanya menyimak obrolan empat anak muda di hadapan mereka.


Mereka berempat segera berpamitan pada Dion dan Tasya sebelum meninggalkan ruangan tersebut.


Sejenak suasana menjadi hening setelah kepergian Egi, Elena, dan kedua orang tua Tasya.


Raka dan Kiki yang masih duduk di sofa tidak terdengar suaranya.


Baiklah, sekarang Dion mulai curiga. Jadi Dion sedikit mengintip pada pasangan pengantin baru tersebut.


Dion sedikit menyibak tirai yang mengelilingi dan menutupi ranjang Tasya untuk mengintip Kiki dan Raka.


Astaga...


Apa mereka berdua sedang mesum sekarang di ruang perawatan Tasya?


Dion mengambil botol mineral kosong yang ada di atas meja di samping ranjang Tasya dan segera melemparkannya ke arah Raka yang kini sedang bercumbu mesra dengan Kiki.


"Bugh"


Tepat mendarat di bagian belakang kepala Raka.


Dion tertawa terbahak-bahak dan Raka langsung menghentikan aktivitasnya.


Sekarang pria itu melotot horor ke arah Dion.


"Pergilah ke hotel dan silahkan bercinta sepanjang hari! Jangan mesum di ruangan istriku seperti ini" ujar Dion dengan nada menyindir,


Raka hanya berdecak, sedangkan Kiki memilih untuk menunduk dan menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah tomat.


Mendadak Kiki merasa malu, karena mau saja diajak Raka bercumbu di ruangan terbuka seperti ini.


Huh, dasar cinta buta!


Kiki menggerutu sendiri.


"Baiklah, baiklah. Kami akan pulang saja" Raka sudah beranjak dari duduknya. Dan Kiki mengikuti suaminya tersebut untuk berpamitan pada Tasya dan Dion.


Setelah berbasa-basi sebentar, mereka berdua akhirnya meninggalkan ruangan tersebut.


Kini hanya tinggal Tasya dan Dion yang ada di dalam ruangan tersebut, menikmati keheningan dan malam yang sebentar lagi akan menjelang.

__ADS_1


__ADS_2