
"Kak, biar Kiki yang menjaga Rhea hari ini" ucap Kiki yang kini berdiri di ambang pintu kamar Elena.
Elena sedang mengemasi baju dan perlengkapan Rhea. Tadinya ia akan membawa Rhea ke rumah mamanya dan menitipkannya di sana.
"Kau yakin?" Tanya Elena memastikan.
"Iya. Sudah, kakak berangkat sana!" Usir Kiki.
Elena hanya menghela nafas.
"Baiklah kalau begitu. Kakak akan menghubungi kak Egi" ujar Elena.
Elena mencium kening Rhea yang masih terlelap tidur siang sebelum akhirnya berangkat menuju ke rumah sakit.
Sebelumnya, Kiki memang sudah sering mengasuh Rhea saat Elena harus bekerja di rumah sakit.
Meskipun hubungan Elena dan Kiki sedikit rumit, namun Kiki sangat menyayangi Rhea.
Kiki selalu bisa diandalkan dalam urusan mengasuh Rhea.
*****
Sore hari,
Egi baru saja sampai di rumah.
Elena belum pulang, namun tadi siang Elena sudah mengabari kalau Rhea di asuh oleh Kiki hari ini.
Jadi Egi cepat-cepat pulang sebelum Kiki berangkat shift malam.
Sejak awal melahirkan, Elena memang enggan memakai jasa baby sitter.
Elena lebih suka mengurus Rhea sendiri.
Sesekali Elena menitipkan Rhea pada mamanya saat dirinya harus pergi bekerja. Lagipula, jadwal kerja Elena hanya sebentar dan bukan sepanjang hari.
Jadilah Elena tidak terlalu kewalahan menghandel semuanya.
Egi masuk ke dalam rumah.
Kiki sudah rapi dan sepertinya gadis itu memang sudah siap untuk berangkat.
"Maaf, Ki. Kakak sedikit terlambat" ujar Egi sambil menyapa Kiki.
"Tak masalah kak" jawab Kiki santai. Gadis itu masih fokus pada ponsel di tangannya.
"Mana Rhea?" Tanya Egi.
"Rhea di kamar. Aku sudah menidurkannya tadi. Kakak bisa mandi dan makan dulu" ujar Kiki panjang lebar.
Egi mengangguk.
"Gi, berkas kamu ketinggalan" Raka tiba-tiba sudah muncul dari pintu depan membawa setumpuk berkas milik Egi.
Ya, tadi Egi memang pulang diantar oleh Raka.
"Thanks, Raka" jawab Egi sambil menyambar berkas yang tadi di bawa Raka.
"Ki, kamu bisa berangkat bareng Raka. Sekalian dia mau pulang itu" ucap Egi lagi.
Raka sudah memasang senyum bahagia. Ia sangat senang jika Kiki mau dia antar ke rumah sakit.
Kiki beranjak dari duduknya,
"Tidak, terima kasih. Kiki bisa nyetir sendiri" ucap Kiki jutek.
Gadis itu berjalan melewati Raka begitu saja, tak sedikitpun menyapanya.
Raka hanya bisa menghela nafas frustasi.
Gagal sudah acara berduaan bersama Kiki hari ini.
"Yaudah, Gi. Aku langsung balik aja" Raka akhirnya berpamitan pada Egi.
"Oke. Hati-hati, Raka. Makasih udah nganterin" jawab Egi.
Raka tak menyahut lagi dan segera pergi meninggalkan rumah Egi.
Mobil Kiki sudah pergi duluan.
Raka mendengus kesal atau mungkin dia sedang kecewa.
*****
Elena baru selesai menidurkan Rhea.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Belum ada tanda-tanda Kiki akan pulang.
Egi masih di ruang tengah mengerjakan beberapa berkas dan laporan.
Elena memeriksa ponselnya, ada beberapa panggilan tak terjawab dari abang Devan.
Elena menelpon kembali abangnya tersebut.
"Halo, Bang. Tadi menelpon ya? Ada apa?" Tanya Elena.
"El, Kiki mabuk di klub" jawab Devan di seberang sana.
"Apa?" Elena bergegas pergi ke halaman belakang, menjauh dari Egi agar pria tersebut tidak mendengar pembicaraannya di telpon bersama Devan.
"Bisakah Egi menjemputnya? Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku" ujar Devan di seberang sana.
Tidak, tidak, tidak.
Egi akan marah besar kalau tahu Kiki mabuk di klub.
Elena memutar otaknya dan berpikir cepat.
"El, kau masih di sana?" Tanya Devan lagi.
"Iya, aku akan menyuruh Raka menjemput Kiki, Bang. Bisakah abang menjaganya dulu sampai Raka datang?" Putus Elena akhirnya.
Semoga Raka mau bekerja sama kali ini.
"Baiklah, suruh Raka cepat kesini" pesan Devan sebelum menutup telpon.
Setelah menutup telepon dari Devan, Elena bergegas menghubungi Raka.
"Raka, bisakah kamu menjemput Kiki di klub abang Devan sekarang?" Ucap Elena cepat sesaat setelah Raka mengangkat telepon.
"Apa yang terjadi pada Kiki, El?" Tanya Raka khawatir.
"Kiki mabuk" jawab El singkat.
"Apa?" Raka setengah berteriak saat mengucapkannya, membuat Elena harus menjauhkan telepon dari telinganya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Egi?" Tanya Raka lagi.
"Aku akan mengurusnya. Cepat kamu jemput Kiki. Hubungi aku saat sudah sampai di jalan masuk kompleks" jawab Elena lagi.
"Baiklah" ucap Raka singkat sebelum menutup panggilan dari Elena.
Elena kembali masuk ke dalam rumah. Egi masih sibuk dengan berkas-berkasnya.
Elena memutuskan untuk masuk ke dapur sambil menunggu pesan dari Raka.
"El, ada apa?" Entah sejak kapan, Egi tiba-tiba saja sudah berdiri di dapur sambil memegang cangkir.
"Tidak, tidak apa-apa" jawab El tergagap.
"Kamu butuh apa?" Tanya El berbasa-basi.
"Aku ingin membuat kopi lagi" Egi menunjukkan cangkir yang ia bawa.
"Biar aku saja" ucap El cepat. Wanita itu meraih cangkir dari tangan Egi.
Saat sedang mengaduk kopi untuk Egi, ponsel El berbunyi.
Pesan masuk dari Raka,
El keluar dari dapur membawa kopi untuk Egi.
"Gi," panggil El sedikit merayu pada sang suami.
"Hmmm" Egi masih fokus pada berkas di tangannya.
"Aku lapar, bisakah kamu keluar sebentar dan membelikanku nasi goreng di ujung kompleks?" Ujar El lagi.
Egi meletakkan berkas di tangannya dan memandang wajah sang istri.
"Kamu tidak ingin makan yang lain? Yang ada di dapur?" Egi sepertinya akan menolak.
Elena menggeleng.
"Aku benar-benar ingin makan nasi goreng sekarang" kali ini El menampilkan wajah manjanya.
Egi tertawa kecil.
"Baiklah, istriku sayang. Aku akan membelikannya. Berikan aku satu ciuman" Egi memajukan bibirnya agar El bisa menciumnya.
El sedikit berdecak, namun akhirnya ia menurut saja dan mencium Egi.
Egi beranjak dari duduknya, mengambil kunci motor dan segera pergi membelikan nasi goreng untuk El.
Tak berselang lama setelah Egi pergi, mobil Kiki yang dikemudikan oleh Raka masuk ke halaman rumah Egi.
Bergegas El keluar dan membantu Raka untuk membawa Kiki maduk ke dalam.
"Biar aku saja, El." Ucap Raka sembari membopong tubuh Kiki yang kini sudah terkulai lemas.
Entah gadis itu pingsan atau tidur, Raka juga tak tahu.
Raka mengikuti langkah Elena untuk membawa Kiki ke kamarnya.
El membukakan pintu kamar Kiki, dan Raka segera menidurkan Kiki di atas ranjang yang ada di kamar tersebut.
"Dimana Egi?" Tanya Raka sedikit berbisik pada Elena.
"Sedang keluar membeli makanan. Kau tunggulah di luar, aku akan mengganti baju Kiki" ujar El.
Raka mengangguk dan segera keluar dari kamar Kiki.
Baju-baju Kiki yang berbau alkohol buru-buru El simpan agar Egi tak curiga.
Tepat saat El keluar dari kamar Kiki, rupanya Egi juga sudah kembali.
"Raka, kamu kesini? Ada apa?" Tanya Egi menyapa Raka yang masih duduk di sofa ruang tamu untuk mengatur nafas.
"Ya, tadi aku dari rumah teman dan kebetulan lewat sini. Jadi aku mampir. Mungkin aku bisa dapat makan malam gratis" ujar Raka sambil melirik bungkusan makanan yang dibawa Egi.
"Aku hanya membeli dua. Aku tidak tahu kalau kamu datang" ujar Egi merasa bersalah.
"Tak apa, kita bisa membaginya menjadi tiga piring El yang baru turun dari tangga memberi solusi.
"Kiki sudah pulang, El? Dia mau ikut makan?" Tanya Egi pada Elena.
"Ya, Kiki baru saja datang. Tapi dia mengeluh kurang enak badan jadi aku memberinya obat dan menyuruhnya untuk tidur" jawab El berbohong.
"Kiki kenapa?" Tanya Egi khawatir.
Pria itu meletakkan makanan yang ia bawa ke atas meja di depan Raka dan bergegas menaiki tangga untuk menuju ke kamar Kiki.
"Kiki tidak apa-apa, Gi. Dia hanya kurang enak badan. Dia juga sudah tidur." Elena berusaha mencegah suaminya itu.
"Aku hanya ingin memeriksanya" jawab Egi dan tetap melanjutkan langkahnya.
Egi membuka pintu kamar Kiki, gadis itu sudah terlelap tidur dengan selimut yang menutupi sebagian besar tubuhnya.
Egi memegang dahi Kiki. Tidak demam.
'Mungkin benar kata Elena, Kiki hanya kelelahan' gumam Egi.
Ia pun keluar lagi dari kamar Kiki dan turun ke lantai bawah.
"Baiklah, ayo kita makan nasi goreng!" Ucap Egi pada Elena dan Raka yang masih berbincang di sofa ruang tamu.
Elena segera mengambil bungkusan yang yang tadi di bawa Egi, dan membawanya ke dapur, untuk membaginya menjadi tiga porsi agar Raka bisa ikut makan bersama mereka.
*****
Pagi hari,
"Kak, apa yang terjadi padaku?" Kiki menghampiri Elena yang sedang menyuapi Rhea di ruang makan.
Gadis itu memegang kepalanya dan masih sedikit sempoyongan.
"Kamu sudah bangun? Kamu mabuk semalam. Ada apa denganmu sebenarnya?" Ujar El emosi.
Tentu saja El marah, dia harus berbohong lagi pada Egi semalam gara-gara Kiki.
"Aku tidak tahu. Aku hanya minum air mineral, bagaimana mungkin aku bisa mabuk?" Kiki merebahkan krpalanya di atas meja makan.
Kepalanya terasa berat dan sakit.
Elena berdecak.
"Kamu tidak ada jadwal shift malam kemarin. Jadi sebenarnya kamu pergi kemana?" Tanya El dengan nada galak.
"Jerry mengajakku ke pesta ulang tahun temannya" jawab Kiki.
"Di klub?" Tanya El lagi.
Kiki mengangguk.
__ADS_1
El mendengus menahan kesal di hatinya.
"Beruntung Bang Devan menemukanmu. Kalau kamu tidak bertemu Bang Devan, entah apa yang akan di lakukan Jerry padamu" ujar Elena masih dengan nada kesal.
"Kakak kan sudah berulang kali bilang kepadamu. Jangan bergaul dengan Jerry. Dia itu bukan lelaki baik-baik" nasehat El panjang lebar.
Kiki hanya memutar bola matanya.
Kepalanya terlalu sakit. Kiki juga malas berdebat dengan kakak iparnya yang semakin hari semakin bawel ini.
"Ya, ya, ya. Terserah kakak saja" jawab Kiki malas.
El berdecak tak percaya.
Ia sungguh kesal melihat Kiki yang selalu saja menyepelekan setiap kali El menasehatinya. Padahal itu semua juga demi kebaikan gadis ini.
El masuk ke dapur untuk mencuci peralatan makan Rhea.
"Kak, kepalaku sakit sekali" Kiki kembali mengeluh dan memanggil Elena.
Meskipun kesal, El tetap menyiapkan sarapan untuk Kiki.
"Makan sarapanmu!" El menyodorkan sepiring nasi goreng pada Kiki.
"Setelah makan, kau bisa minum obat ini. Kepalamu akan segera membaik" El juga menyodorkan obat ke hadapan Kiki.
"Apa kak Egi sudah berangkat?" Tanya Kiki sambil menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Ya, Egi berangkat pagi-pagi karena harus mengantar Raka ke apartemennya." El menjeda kata-katanya.
"Sebaiknya kamu mengucapkan terima kasih pada Raka karena dia yang semalam menjemputmu di klub dan mengantarmu pulang sampai ke rumah" lanjut El lagi.
"Ya" jawab Kiki dengan malas sambil memutar bola matanya.
Berterima kasih pada Raka?
Yang benar saja. Si cowok playboy itu pasti akan kegeeran.
El menggendong Rhea dan mengambil tas besar yang berisi perlengkapan Rhea.
"Kakak mau membawa Rhea kemana?" Tanya Kiki seperti tidak rela.
"Kakak akan menitipkan Rhea ke rumah mama. Kakak ada shift pagi hari ini" jelas Elena.
"Kiki akan menjaga Rhea, Kak" ucap Kiki memohon.
"Tidak, kamu harus istirahat. Kakak akan pulang agak sore." Ujar El lagi.
Kiki hanya bisa berdecak kesal.
Ia bahkan belum bercengkerama dengan Rhea sedari tadi.
"Kakak pergi dulu. Jangan kemana-mana dan istirahat saja di rumah" pesan El sambil berlalu meninggalkan Kiki yang kini cemberut.
*****
Di rumah milik keluarga Elena.
Elena yang baru datang bersama Rhea langsung disambut oleh sang mama di teras depan.
"Sendirian, El?" Tanya sang mama sambil mengambil alih Rhea dari gendongan Elena.
"Egi ada meeting pagi, Ma." Jawab Elena sekenanya.
"Bang Devan di dalam?" Tanya Elena lagi.
"Iya. Masuklah! Mama akan bermain bersama Rhea di halaman" ujar bu Lita, mama dari Elena.
Elena bergegas masuk ke dalam rumah besar tersebut.
"Pagi, El" Vian yang melihat El datang langsung memeluk erat adik perempuannya tersebut bak anak kecil.
"Lepasin, Bang. El bukan anak kecil lagi" ucap El merasa risih.
Vian hanya tertawa.
"Dimana Bang Devan?" Tanya El pada Vian.
"Dev, adik kesayangan loe pulang" Vian memanggil Devan dengan berteriak di depan El. Membuat wanita itu harus menutup telinganya karena suara Vian yang keras dan memekakkan telinga.
Devan keluar dari kamarnya dengan wajah yang masih mengantuk.
"Berisik loe, Vi" ucap Devan merasa kesal.
"Noh, adek kesayangan loe nyariin" Vian menunjuk ke arah El yang masih berdiri di dekatnya.
"Tumben pagi-pagi udah kesini, El?" Tanya Devan sambil berjalan menuju ke sofa di ruang tengah.
El mengekori abangnya tersebut dan ikut duduk bersama Devan.
"Bisa abang ceritakan padaku apa yang terjadi pada Kiki semalam?" Elena langsung bertanya pada intinya.
"Kenapa tidak bertanya langsung pada adik iparmu itu?" Bukannya menjawab, Devan malah balik bertanya.
Membuat Elena berdecak kesal.
Devan bisa menangkap raut kesal di wajah Elena.
Pria itu malah tertawa.
"Aku baru datang, saat mendapati Kiki yang sudah mabuk bersama teman-teman prianya. Sepertinya ada yang berbuat iseng pada adik iparmu itu. Saat aku bertanya teman-temannya malah pada kabur dan tidak mau tahu. Jadilah aku menelponmu" jelas Devan panjang lebar.
El hanya menghela nafas
"Apa gadis itu masih ketus kepadamu?" Vian tiba-tiba sudah duduk di samping El dan ikut menimpali obrolan El dan Devan.
"Mungkin aku memang bukan kakak ipar yang baik untuk Kiki. Aku merasa apapun yang aku lakukan selalu saja dianggap salah oleh Kiki. Aki benar-benar sudah gagal menjadi seorang kakak." keluh El dengan nada sedih.
Devan tertawa kecil.
"Tak perlu memaksakan diri, El. Kamu sudah menasehatinya, itu sudah cukup." Ujar Devan berusaha menenangkan adiknya tersebut.
"Dan berhentilah melindungi Kiki. Egi harus tahu semua kelakuan adiknya itu" Vian ikut menambahkan.
El hanya diam.
Ia tahu sikapnya yang selalu melindungi Kiki itu salah. Namun El juga tidak mau jika hubungan Egi dan Kiki menjadi renggang.
Tapi mungkin Bang Vian benar. Egi harus tahu semuanya. Jadi Egi bisa menasehati Kiki.
Dan mungkin Kiki akan menurut jika Egi yang menasehatinya.
*****
Ada yang kangen sama Tasya dan Dion?
Next episode kita ketemu sama pasangan bucin itu 😊
__ADS_1