Natasya

Natasya
Mengamuk


__ADS_3

"Tasya" ucap Dion tak percaya. Bergegas Dion menghampiri Tasya yang sedang tertidur lelap.


Salsa yang tadinya duduk di samping ranjang Tasya segera beranjak untuk memberi ruang pada Dion.


"Kak Ronny, Tasya kenapa?" Tanya Dion bingung.


Ia baru tiba kota ini tadi pagi. Dari semalam dirinya juga tidak bisa menghubungi Tasya. Lalu sekarang tiba tiba Tasya sudah terbaring di rumah sakit.


Ada apa semua ini?


"Di, kakak benar benar minta maaf karena tidak bisa menjaga Tasya dengan benar" ucap Ronny dengan nada menyesal.


Andai malam itu Ronny datang lebih cepat ke kafe, mungkin hal ini tak akan terjadi.


"Apa maksud kakak? Apa yang terjadi pada Tasya?" Tanya Dion semakin bingung.


"Tasya jadi korban penganiayaan dan pemerkosaan, Di" Salsa yang akhirnya,memberitahu Dion sambil tak kuasa menahan airmatanya.


Duarrr


Dion sesaat terdiam. Ia memandang lekat wajah Tasya yang kini terlihat tenang dalam tidurnya.


Bagaimana mungkin hal ini terjadi pada Tasya, gadis yang selalu Dion cintai dan sayangi.


"Gak mungkin. Ini semua hanya lelucon kan?" Ucap Dion tak percaya.


Dion beranjak dari samping ranjang Tasya dan segera menghampiri Ronny.


"Ini gak mungkin terjadi pada Tasya, kak" Dion masih tidak percaya.


"Maaf, Di. Seharusnya kakak menjaga Tasya" ucap Ronny sambil menunduk.


Rasa bersalah itu terus saja menghantui pikirannya.


"Siapa pelakunya?" Tanya Dion sambil menatap tajam pada Ronny.


Namun, Ronny hanya menggeleng.


"Polisi masih menyelidikinya" ujar Ronny lirih.


Dion terduduk di sofa. Raut wajahnya tak bisa dijelaskan. Antara marah, kecewa, dan sedih mendapati kenyataan seperti ini.


"Jangan, jangan mendekat. Pergi... pergi!!" Sekali lagi Tasya meracau dalam tidurnya.


Buru buru Salsa mendekati sahabatnya tersebut untuk membuatnya tenang.


"Sya, bangun Sya. Ini aku Salsa" Salsa menepuk nepuk kedua pipi Tasya, berharap gadis itu segera membuka matanya dan berhenti meracau.


Dion bangkit dari sofa, dan hendak mendekat ke arah Tasya.


"Suruh dia pergi, Sal. Aku gak mau melihat wajahnya. Dia jahat, Sal. Kak Kevin jahat. Suruh dia menjauh. Dasar brengsek " Tasya menangis sesenggukan sambil berulang kali mengumpat dan menyebut nama Kevin.


Dion yang tadinya ingin ikut menenangkan Tasya, mendadak diam terpaku saat Tasya berulang kali menyebut nama Kevin dan menyebutnya sebagai orang jahat.


"Apa semua ini perbuatan Kevin?" Tanya Dion sembari menatap tajam pada Tasya.


Tasya yang baru sadar kalau Dion ada di ruangan ini, balik menatap tajam pada Dion.


Bisa Dion tangkap keputus asaan di mata Tasya. Kesedihan itu terlihat begitu nyata.


Dion tak dapat lagi menahan amarahnya. Ia mengepalkan kedua tangannya demi meluapkan emosinya.


"Awas kamu Kevin" ucap Dion geram sambil berjalan cepat menuju pintu keluar.


Dion membuka pintu dengan kasar.

__ADS_1


Ronny yang sedari tadi hanya diam karena juga terkejut mendengar nama Kevin yang disebut oleh Tasya, akhirnya mulai menyadari apa yang sudah terjadi.


"Kak Ronny mending susul Dion deh. Aku takut dia berbuat hal nekat" ujar Salsa sambil menatap tajam ke arah Ronny.


Salsa tahu Ronny pasti shock mendengar nama Kevin barusan. Salsa juga shock dan tak percaya.


Namun sekarang yang terpenting harus ada yang menghentikan Dion.


Dion terlihat sangat marah, dia bisa saja berbuat hal hal nekat.


Ronny mengangguk dan buru buru keluar dari ruang perawatan untuk segera menyusul Dion.


"Kak Kevin jahat, Sal. Dia yang melakukan semua ini. Aku benci padanya." Tasya masih menangis sesenggukan.


Salsa segera memeluk Tasya demi menenangkan sahabatnya tersebut.


"Kak Kevin mau misahin aku sama Dion." Cerita Tasya lagi.


Salsa hanya diam mendengarkan cerita Tasya sambil terus memeluk sahabatnya tersebut.


Namun jauh di dalam hatinya, Salsa juga marah dan emosi.


****


Dion memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Kemarahannya sudah di ubun-ubun.


Ia tak peduli lagi dengan beberapa lampu merah yang ia langgar.


Yang Dion inginkan sekarang adalah segera sampai di rumahnya dan memberi pelajaran pada Kevin.


Dion memarkirkan motornya dengan sembarangan.


Bergegas ia masuk ke dalam rumah.


"Kevin!!" Teriakan Dion menggema ke seluruh rumah tersebut.


Dion secepat kilat menaiki tangga menuju ke arah kamar Kevin.


"Kevin, keluar loe" teriak Dion galak.


Mama Wina yang merasa khawatir bergegas menyusul Dion naik ke lantai atas.


Mama Wina tak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi.


"Kevin!!" Dion terus menggedor gedor pintu kamar Kevin.


Tak berselang lama pintu dibuka.


"Apa?" Jawab Kevin galak.


"Brengsek loe" Dion langsung menghadiahi wajah Kevin dengan satu tonjokan keras. Membuat lelaki itu terhuyung ke belakang.


"Dion, apa yang kamu lakukan" Mama Wina yang baru datang merasa terkejut melihat Dion yang tiba tiba menonjok wajah Kevin.


Buru buru mama Wina melerai kedua anak lelakinya tersebut.


Darah segar mengucur dari hidung Kevin. Namun bukannya merasa kesakitan, Kevin malah tertawa keras.


Kevin tertawa mengejek Dion.


"Loe apain Tasya? Loe memang brengsek ya" sekali lagi Dion memukul Kevin.


"Dion, cukup!! Ada apa ini sebenarnya" tanya mama Wina bingung.


"Hahaha. Pukul!! Pukul gue terus!! Tasya tetap akan menjadi milik gue. Loe gak bakal dapat apa apa. Gue udah nikmatin tubuhnya Tasya" ucap Kevin dengan senyum licik.

__ADS_1


Sontak Dion langsung melayangkan kembali sebuah pukulan ke wajah Kevin.


Dion bak orang kesetanan sekarang.


"Apa maksud kamu Kevin?" Tanya mama Wina tak mengerti. Ia menatap tajam ke arah Kevin.


"Kevin sudah memperkosa Tasya, Ma. Tasya sekarang depresi di rumah sakit" ucap Dion sembari menunjuk ke arah Kevin.


Tak ada sedikitpun penyesalan di wajah Kevin.


Entah setan apa yang telah merasuki anak lelaki ini.


"Apa? Benar itu Kevin?" Tanya mama Wina tak percaya.


"Iya benar. Mama mau apa sekarang? Mama tak pernah lagi peduli sama Kevin. Mama selalu membela Dion Dion dan Dion. Mama bahkan mendukung hubungan Dion dan Tasya tanpa mikirin perasaan Kevin." Kevin meluapkan segala kekesalannya. Mama Wina hanya diam


"Mama gak pernah sayang lagi sama Kevin..."


Plak


Sebuah tamparan dari mama Wina mendarat di pipi Kevin.


"Mama kecewa sama kamu, Kev. Mama gak pernah ngajarin kamu buat jadi laki laki brengsek kayak gini" ucap Mama Wina sedih. Matanya mulai berkaca kaca.


Mama Wina tentu saja merasa malu dan kecewa mengetahui perbuatan bejat Kevin.


Dion kembali memukuli Kevin.


"Dion. Sudah Di, hentikan" tiba tiba Ronny sudah datang dan berusaha menghentikan Dion yang terus memukuli Kevin dengan membabi buta.


"Lepasin, kak." Dion berusaha berontak.


Namun Ronny memegangnya dengan kuat. Akhirnya Dion memilih untuk menyerah.


Kevin yang kini sudah babak belur masih bisa tersenyum.mengejek ke arah Dion.


"Tasya tetap akan jadi milik gue" ucap Kevin


"Dalam mimpi loe. Gue bakal jeblosin loe ke penjara" ucap Dion galak sambil menunjuk ke arah wajah Kevin.


"Udah, Dion. Ayo pergi dari sini" Ronny memaksa Dion untuk mengakhiri semua ini.


"Dan buat loe. Gue bakal bikin perhitungan sama loe" Ronny mengancam Kevin. Matanya menatap tajam pada lelaki yang kini sudah babak belur tersebut.


Ronny dan Dion segera pergi meninggalkan Kevin dan mama Wina.


Mama Wina yang kecewa pada Kevin hanya bisa menangis sesenggukan.


"Mama gak nyangka, Kev. Kamu jadi seperti ini. Mama sayang sama kamu sama seperti mama sayang sama Dion. Mama gak pernah bedain kalian berdua.


Mama juga gak pernah ngajarin kamu buat jadi laki laki brengsek begini.


Mama kecewa sama kamu" ucap mama Wina sesenggukan.


Mama Wina segera berlalu meninggalkan anak lelakinya tersebut.


Hatinya terluka.


Kevin kini hanya terdiam.


Ia memandangi punggung mama Wina yang perlahan menghilang dari pandangannya.


Ada nyeri di sudut hati Kevin.


Ia sudah menyakiti banyak orang

__ADS_1


Sebuah rasa penyesalan mendadak mencuat di hati kecilnya.


Tapi rasanya semua sudah terlambat.


__ADS_2