
Tasya dan Raka sudah duduk di salah satu meja yang ada di kantin rumah sakit.
Tasya memesan cemilan untuk mengganjal perutnya yang mulai keroncongan, meskipun belum masuk jam makan siang.
Huh, sejak kehamilannya masuk trimester kedua Tasya memang sering merasa lapar.
"Jadi, ada masalah apa?" Raka memilih untuk memulai obrolan.
"Sebenarnya aku ingin bertanya tentang keluarga Kenzo. Tadi aku lihat kamu akrab dengan keluarga mereka, lalu Nuna juga mengatakan kalau kamu teman lama mereka. Jadi aku pikir mungkin kamu tahu sesuatu tentang keluarga mereka" Tasya sedikit bingung harus memulai darimana. Kalimatnya lumayan berantakan sehingga membuat Raka mengernyit bingung.
"Aku tidak mengerti" ujar Raka masih bingung.
Tasya mengeluarkan ponselnya dan membuka beberapa foto di galeri ponselnya.
"Kau lihat ini" Tasya menunjukkan beberapa foto Zhia yang masih tersimpan rapi di galeri ponselnya.
Raut wajah Raka langsung berubah serius saat memperhatikan foto Zhia satu per satu.
Tentu saja Raka merasa kaget karena wajah Zhia yang sangat mirip dengan Kenzo, anak dari Daffi dan Nuna.
"Ini siapa, Sya?" Tanya Raka masih bingung.
"Namanya Zhia. Aku dan Dion pernah merawatnya sebelum akhirnya Zhia meninggal satu tahun yang lalu" jelas Tasya yang langsung membuat Raka terperangah.
"Tapi wajahnya..." Raka masih tak percaya
"Iya, wajahnya mirip dengan Kenzo. Saat pertama kali aku bertemu Kenzo, aku juga terkejut dan sempat menyangka kalau Kenzo adalah Zhia. Tapi akhirnya aku sadar kalau mereka berbeda. Zhia perempuan dan Kenzo laki-laki" lanjut Tasya panjang lebar.
"Lalu maksudmu ingin bertanya padaku?" Raka masih tak mengerti. Mendadak otaknya terasa buntu.
"Kamu kan mengenal keluarga Nuna dan Daffi, jadi aku pikir mungkin kamu tahu apa mereka pernah punya seorang anak selain Kenzo?" Sedikit ragu namun Tasya mencoba mengungkapkan dugaannya selama ini.
Raka menggeleng,
"Aku tidak tahu-menahu soal itu, Sya. Aku sudah cukup lama tidak berhubungan dengan mereka. Yang aku tahu putra mereka hanya Kenzo" jawab Raka menjelaskan.
Tasya menghela nafas, sekali lagi sepertinya ini hanyalah sebuah jalan buntu.
Mungkin Tasya tidak akan pernah menemukan keluarga Zhia sampai kapanpun.
Raka kembali melihat dan memperhatikan dengan seksama foto Zhia dan Kenzo secara bergantian.
Benar-benar mirip.
Tunggu...
Bukankah seharusnya kak Diandra tahu tentang semua ini.
Mungkin saja memang ada sesuatu yang disimpan rapat oleh keluarga itu, dan tak mungkin jika kak Diandra tidak mengetahuinya.
Mungkin Raka bisa bertanya pada kak Diandra, bukankah selama ini ia dan kaka Diandra masih cukup dekat dan intens berkomunikasi?
"Sya," suara Raka memecah keheningan di antara dirinya dan Tasya.
"Aku tahu siapa yang bisa menjawab semua ini" lanjut Raka lagi.
Tasya langsung memasang wajah antusias,
"Benarkah itu? Siapa?" Tanya Tasya tak sabar.
"Kak Diandra" jawab Raka dsingkat tapi suses menbuat Tasya mengernyitkan kedua alisnya
"Kak Diandra adalah kakak kandung dari Daffi. Dia pasti tahu segalanya. Aku akan mengatur pertemuanmu dengan kak Diandra" Panjang lebar Raka menjelaskan dan Tasya langsung mengangguk mengerti.
"Baiklah, kau bisa menghubungiku atau Dion jika semuanya sudah siap" ujar Tasya menanggapi kata-kata dari Raka barusan.
Tasya meneguk minumannya yang tinggal setengah. Camilan yang tadi Tasya pesan juga sudah habis tak bersisa.
"Hey, kau sudah selesai praktek hari ini?" Tanya Raka berbasa-basi
"Ya. Aku sudah akan pulang. Hanya perlu menelpon Dion agar menjemputku" jawab Tasya santai.
"Tidak perlu. Aku akan mengantarmu pulang. Ayo!" Ajak Raka sedikit memaksa. Pria itu sudah bangkit dari duduknya sekarang.
"Tapi bukankah kau harus ke kantor? Apa tidak akan merepotkan?" Tasya tiba-tiba merasa sungkan.
Raka tertawa kecil,
"Tidak akan merepotkan, Sya. Kantor dan rumahmu searah. Jadi ini sungguh tidak merepotkan" jawab Raka berusaha meyakinkan Tasya.
"Baiklah kalau kamu memaksa. Ayo!" Sedikit terkekeh namun akhirnya Tasya menurut dan mengikuti langkah Raka menuju ke tempat parkir dimana mobil Raka berada.
Jam makan siang masih sekitar satu jam lagi. Jalanan masih cukup lancar dan belum terlalu padat oleh kuda-kuda besi yang biasanya selalu memenuhi ruas jalan raya setiap jam makan siang tiba.
"Jadi, apa kau dekat juga dengan Kiki, adiknya Egi?" Raka berbasa-basi dan membuka obrolan dengan Tasya.
"Ya, kami lumayan dekat. Dulu kami adalah teman kuliah" jawab Tasya dengan nada santai.
"Apa Kiki sudah punya pacar sekarang?" Tanya Raka sekali lagi. Raka sungguh tidak tahan untuk tidak bertanya hal ini.
Bisa saja Raka menanyakannya pada Egi atau Elena, namun tentu saja Raka juga harus siap dengan resiko di cecar dan di jadikan bahan ejekan oleh pasangan suami istri tersebut.
Tasya sedikit menahan tawa,
"Apa kau... menaruh hati pada Kiki?" Tasya mulai kepo sekarang.
Raka hanya tersipu malu,
Mungkin ini memalukan. Jelas-jelas Kiki dulu sudah menolaknya mentah-mentah. Tapi entah mengapa perasaan Raka pada Kiki seperti tak pernah berubah saja.
"Aku hanya ingin tahu saja" Raka berusaha menyangkal sekarang.
"Yang aku tahu belakangan ini Kiki sedang fokus kuliah lagi dan mengambil jurusan spesialis, jadi dia memang tidak sedang berpacaran dengan siapapun sekarang ini" jawaban dari Tasya seperti sebuah angin segar untuk Raka.
Kini Raka hanya perlu mencari tahu bagaimana perasaan Kiki yang sekarang kepadanya.
Kalau dilihat dari sikap Kiki belakangan ini, sepertinya gadis itu juga menyimpan suatu perasaan.
Mobil Raka sudah masuk ke dalam kompleks perumahan tempat tinggal Tasya.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama dan kini mereka sudah sampai di depan rumah Tasya dan Dion.
"Baiklah, sudah sampai bu dokter. Silahkan turun" ucap Raka seakan dirinya adalah seorang supir.
Tasya hanya terkekeh melihat tingkah Raka yang sungguh lucu.
"Terima kasih, Ka" ucap Tasya tulus.
Raka hanya mengangguk dan melambaikan tangannya kepada Tasya.
Raka pun lanjut melajukan mobilnya untuk segera kembali ke kantor Dion.
Tasya baru saja akan membuka pintu rumahnya, saat mobil Dion sudah datang dan masuk ke dalam garasi.
Tak berselang lama, Dion sudah turun dan segera menghampiri istrinya tersebut.
"Hai, sayang. Baru pulang?" Dion menyapa Tasya yang kini sudah selesai membuka kunci pintu rumahnya.
"Ya, aku baru saja sampai." Jawab Tasya sembari masuk ke dalam rumah. Dion mengekor di belakang Tasya.
"Kenapa tidak menelponku? Apa Elena yang mengantarmu pulang?" Tanya Dion sekali lagi.
Tasya menggeleng,
"Raka yang mengantarku pulang" jawab Tasya singkat namun mampu membuat Dion terkejut.
"Raka?" Dion masih merasa tak percaya. Apakah Dion akan cemburu pada Raka sekarang?
"Tadi aku bertemu Raka di rumah sakit. Kau tidak akan percaya. Ternyata Raka berteman baik dengan orangtua Kenzo" kini Tasya sudah duduk di sofa yang ada di ruang tengah.
Dion dengan cepat ikut duduk di samping Tasya. Dion benar-benar tertarik dengan cerita Tasya barusan.
"Benarkah itu?" Dion terlihat antusias dan tak sabar untuk mendengar cerita selanjutnya dari Tasya.
Tasya mengangguk,
"Aku juga sudah bertanya pada Raka tentang keluarga Kenzo. Sayangnya Raka tak tahu banyak," lanjut Tasya lagi.
Dion berdecak putus asa,
"Tapi kabar baiknya, Raka akan mempertemukan kita dengan kak Diandra" lanjut Tasya.
"Siapa kak Diandra?" Tanya Dion bingung.
"Kakak kandung dari Daffi, papanya Kenzo" jawab Tasya menjelaskan.
Dion sedikit tersentak saat Tasya menyebutkan nama Daffi.
"Daffi? Maksud kamu Daffi Wijaya? Apa dia papa dari Kenzo?" Cecar Dion pada Tasya. Dion benar-benar tidak percaya. Mana mungkin orang yang akan menghancurkan perusahaannya adalah orang tua dari seorang anak yang menjadi pasien istrinya.
Kenapa dunia ini begitu sempit?
Tasya mengangguk, sedikit heran dengan sikap Dion yang sepertinya terkejut saat tahu siapa orang tua Kenzo.
Apa Dion mengenal mereka juga?
Dion langsung menggeleng dengan cepat,
"Tidak, hanya saja aku pernah mendengar namanya" jawab Dion berbohong.
Dion tak mau membebani pikiran Tasya dengan masalah rumit di perusahaan.
Biarlah Tasya bahagia dan menjalani rutinitasnya dengan normal sekarang.
"Jadi, apa kita bisa menanyakan soal Zhia ke kak Diandra itu?" Tanya Dion sekali lagi.
"Kata Raka begitu. Semoga akan ada titik terang setelah ini" ucap Tasya penuh harap.
Dion mengangguk mengaminkan ucapan Tasya barusan.
*****
Di sebuah restorant di pusat kota,
Raka dan Diandra sudah duduk di salah satu meja yang ada di dalam restorant tersebut.
"Jadi, siapa yang akan kita temui? Calon istrimu?" Tanya Diandra penasaran.
Beberapa hari yang lalu Raka menghubungi Diandra dan meminta untuk bertemu karena ada sesuatu yang penting yang ingin Raka bicarakan.
Namun Diandra lumayan sibuk dua hari kemarin. Jadilah hari ini Diandra baru bisa meluangkan waktu untuk bertemu dengan Raka.
Dan kata Raka, ada seseorang yang akan mereka temui dan berbicara hal penting pada Diandra.
Diandra sungguh penasaran siapa orang tersebut.
Tasya dan Dion yang baru saja tiba di restorant, langsung menuju ke meja yang kini di tempati oleh Raka dan Diandra.
"Maaf, kami terlambat." Ucap Dion sambil menyapa Raka dan seorang wanita yang kini duduk di samping Raka.
"Tidak masalah. Kami juga baru saja tiba" jawab Raka berbasa-basi.
"Oh, ya kenalin ini kak Diandra. Dan kak Diandra ini dua sahabat aku, Dion dan Tasya" Raka saling mengenalkan ketiga orang tersebut.
Setelah saling berjabat tangan, Tasya dan Dion segera duduk di kursi yang ada di depan Raka dan Diandra.
"Apa bayimu kembar?" Tanya Diandra tiba-tiba saat melihat perut buncit Tasya.
Tasya tersenyum hangat,
"Bagaimana kak Diandra bisa tahu?" Tanya Tasya penasaran. Ia bahkan belum mengatakan sedari tadi.
"Karena perutmu lebih besar dari ibu hamil pada umumnya dan lagi saat adik iparku hamil bayi kembar perutnya juga sebesar itu" cerita Diandra sambil tertawa kecil.
"Maksud kak Diandra Nuna?" Raka sedikit menimpali. Bukankah adik ipar kak Diandra memang hanya Nuna. Memangnya siapa lagi?
"Iya, kau benar" ujar kak Diandra sambil mengangguk. Wanita itu lanjut menyesap jus jeruk yang ada di hadapannya.
"jadi anak kedua mereka kembar juga?" Gumam Raka sedikit menebak,
__ADS_1
"Bukan, Ka. Aku membicarakan anak pertama Nuna dan Daffi. Kalau kehamilan Nuna yang sekarang aku dengar bukan kembar" rupanya gumaman Raka tadi cukup bisa didengar oleh kak Diandra.
"Maksud kak Diandra Kenzo punya saudara kembar?" Kali ini Tasya sungguh tak tahan untuk tidak bertanya.
Diandra mengernyit, bagaimana bisa wanita di depannya ini tahu nama keponakannya.
"Tasya adalah dokter anak yang saat ini menangani Kenzo, Kak" Raka menjelaskan dengan cepat setelah melihat raut kebingungan di wajah Diandra.
"Oh, begitu. Aku biasanya berkunjung ke rumah sakit saat malam, pantas saja kita belum pernah bertemu" Diandra tertawa renyah.
"Jadi? Apa Kenzo punya saudara kembar, Kak?" Dion mengulang pertanyaan Tasya tadi yang belum dijawab oleh Diandra.
Diandra mengangguk. Namun raut wajahnya berubah sendu.
"Ya, saudara kembar Kenzo namanya Kezhia. Sayangnya Zhia tidak berumur panjang. Zhia meninggal dalam suatu kecelakaan dua tahun yang lalu" cerita Diandra sedih.
Dan sejenak suasana berubah hening. Diandra menyeka butir bening yang menggenang di sudut matanya.
Tasya, Dion, serta Raka saling melempar pandang. Namanya sama, tapi mungkinkah?
"Maaf aku jadi cerita sedih. Jadi kita tadi mau membahas apa?" Diandra memilih untuk mengganti topik pembicaraan.
Namun tiga orang yang kini duduk bersamanya masih saling diam.
Sedikit ragu, Tasya akhirnya mengeluarkan beberapa foto Zhia yang memang ia bawa untuk ia tanyakan pada Diandra.
"Apa Kezhia keponakan kakak itu adalah gadis kecil ini?" Tasya menyodorkan foto-foto Zhia pada Diandra.
Diandra langsung menerimanya dan memandangi foto itu satu persatu.
Ada raut keterkejutan di wajah Diandra.
"Darimana kalian mendapatkan foto-foto ini?" Cecar Diandra sambil menatap tajam ke arah Dion dan Tasya.
Tasya dan Dion berpandangan sesaat sebelum menjawab pertanyaan Diandra.
"Kami mengambil langsung foto-foto Zhia. Masih banyak di sini" Tasya menunjukkan foto-foto Zhia di ponselnya yang masih tersimpan rapi.
"Tapi... Bukankah Zhia..." Diandra bahkan sudah kehilangan kata-kata sekarang. Airmata yang tadi menggenang, kini sudah jatuh di kedua pipinya.
"Zhia selamat dari kecelakaan itu, kak." Kali ini Dion yang memulai ceritanya.
"Zhia mungkin ketakutan jadi dia kabur dari lokasi kejadian" lanjut Dion lagi.
Diandra masih diam menyimak.
"Zhia ditemukan oleh sahabat kami di depan panti asuhan miliknya" Tasya melanjutkan cerita Dion.
"Namun, saat di temukan Zhia kehilangan ingatannya. Hanya namanya saja yang dia ingat, Zhia" pungkas Tasya mengakhiri ceritanya. Sama seperti Diandra. Airmata Tasya sudah jatuh di kedua pipinya.
Dion mengusap lembut punggung istrinya tersebut. Mengingat semua tentang Zhia selalu bisa membuat Tasya menangis.
"Lalu di mana Zhia sekarang?" Sergah Diandra tak sabar.
"Zhia sudah meninggal satu tahun yang lalu karena leukemia..." jawab Dion lirih.
Seketika tangis Diandra langsung pecah.
Raka langsung merangkul Diandra mencoba untuk menenangkan wanita tersebut. Wanita yang sudah Raka anggap sebagai kakaknya.
"Kami benar-benar minta maaf, Kak. Kami sudah berusaha...
Tapi Tuhan lebih sayang pada Zhia." Tasya terisak. Hatinya kembali terasa pedih mengingat betapa kerasnya perjuangan Zhia melawan sakitnya.
"Kami sudah berusaha mencari keberadaan keluarga Zhia, namun selalu saja jalan buntu yang kami temui. Zhia tak mengingat apapun tentang keluarganya" Dion menambahkan. Lelaki itu masih memeluk Tasya yang kini menangis sesenggukan.
Sesaat suasana menjadi hening.
Tangis Diandra sudah mulai reda,
"Nuna pasti akan semakin terpukul mendengar berita ini" ujar Diandra sedih.
Masih lekat di ingatan Diandra bagaimana Nuna yang menangis histeris saat menerima kabar kecelakaan yang menimpa mami Salma dan Zhia.
Nuna bahkan berkali-kali pingsan saat acara pemakaman.
"Lalu, apa kita akan memberitahu mereka berdua, Kak?" Raka ikut buka suara dan bertanya pada Diandra.
"Kita tetap harus memberitahu semuanya, Ka. Mereka orang tua Zhia. Mereka berhak untuk tahu semuanya." jawab Diandra bijak.
Tasya dan Dion langsung mengangguk membenarkan kata-kata Diandra.
"Dan semoga setelah tahu kebenaran ini, Daffi akan mengurungkan ambisi bodohnya itu" tukas Raka menerawang.
"Ambisi? Ambisi apa?" Tanya Diandra bingung.
Raka menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan dari Diandra.
Raka juga menatap sebentar ke arah Dion sekedar meminta persetujuan. Namun Dion hanya menunduk. Mungkin pria itu masih sedih mengenang semua tentang Zhia.
"Daffi ingin menghancurkan perusahaan milik keluarga Dion" jawab Raka lirih.
"Apa katamu?" Diandra terlonjak dari duduknya.
Sejak kapan adiknya menjadi segila ini?
"Aku sudah berulang kali memohon pada Daffi untuk menghentikan sikap kejamnya itu, Kak. Tapi Daffi tidak pernah mau mendengarkanku" Raka mulai mengadu.
Diandra berdecak, wanita itu sudah kembali duduk sekarang.
"Jadi itu alasanmu bertengkar dengan Daffi di rumah sakit tempo hari?" Tebak Diandra yang langsung di jawab Raka dengan sebuah anggukan.
"Aku sungguh minta maaf, Dion. Atas sikap Daffi yang keterlaluan ini. Aku berjanji akan menyelesaikan masalah ini dan mengembalikan semua milikmu yang sudah diambil oleh Daffi" Diandra menatap bergantian ke arah Tasya dan Dion. Rasa bersalah sekaligus prihatin membuncah di dadanya.
"Jangan terlalu menyalahkan Daffi, kak. Ini hanya soal persaingan bisnis" Dion mencoba berpikir bijak.
"Tapi tetap saja, tidak seharusnya Daffi sekejam itu" tukas Diandra masih merasa bersalah.
Sejenak suasana kembali hening. Empat orang itu sibuk dengan pikirannya masing-masing.
__ADS_1