
Kevin baru saja akan masuk ke dalam mobilnya.
Namun ia tertegun melihat mobil putih yang terparkir di samping mobil miliknya.
Bukankah ini mobil yang kemarin ia lihat di mall?
Mobil yang membawa pergi Tasya.
Sekilas bentuk dan warnanya sama.
Namun Kevin masih bingung, ini mobil siapa dan kenapa ada disini?
Dion yang baru keluar dari teras berjalan menghampiri mobil putih tersebut.
"Di, ini mobil loe?" Tanya Kevin sedikit bingung.
Dion yang tadinya sudah akan masuk ke dalam mobil, menoleh ke arah Kevin.
"Mobil Denny. Gue pinjem semalam" jawab Dion santai.
"Gue duluan, Kev" pamit Dion seraya masuk ke dalam mobil. Tak butuh wktu lama, Dion segera mengendarai mobil tersebut meninggalkan halaman rumah besar tersebut.
Kevin tertegun heran.
Sejak kapan Dion menyapanya tanpa nada ketus?
Kemarin sore juga saat mama Wina menyapanya, Dion hanya menjawab datar. Padahal biasanya Dion selalu ketus saat berbicara pada Kevin maupun mama Wina.
Kevin hanya tersenyum simpul.
Namun ia kembali memikirkan kata kata Dion soal mobil milik Denny.
"Tidak mungkin yang menjemput Tasya kemarin adalah Denny.
Masa iya Tasya pacaran sama playboy itu?" Kevin masih bergumam sendiri.
"Ah, yang punya mobil seperti itu kan banyak dan bukan cuma Denny. Sudahlah. Kenapa aku jadi pusing memikirkannya" Kevin gantian menggerutu dan merutuki dirinya sendiri yang berpikiran negatif pada Tasya.
Kevin bergegas masuk ke dalam mobilnya dan berangkat menuju ke sekolah.
******
Tasya menatap Dion yang sedang bermain basket sendirian di lapangan.
Sudah beberapa hari berlalu sejak insiden konyol di panti asuhan, dan Dion belum menyapanya sampai sekarang.
Bahkan semua pesan dari Tasya tak ada satupun yang dibaca maupun dibalas oleh Dion.
Rasa sedih di hati Tasya tak lagi bisa di jelaskan dengan kata kata.
Pernah saat itu Tasya menunggu Dion di depan ruang loker, namun Dion tak pernah datang dan pintu ruangan itu terkunci.
Saat bertemu di kantin pun Dion hanya cuek pada Tasya.
Senyuman yang biasanya selalu Dion tampilkan saat bertemu Tasya, hilang entah kemana.
Tasya melanjutkan langkahnya menuju kelas. Wajahnya semakin murung saja belakangan ini.
Kelasnya masih sepi.
Jam istirahat belum berakhir, jadi teman temannya masih belum kembali dari kantin.
Hanya ada Salsa yang sedang membaca komik sambil menyumpal telinganya dengan headset.
Tasya mendaratkan bokongnya di kursi di samping Salsa, menumpukan tangannya di atas meja dan segera membenamkan wajahnya di sana.
Tasya menangis sesenggukan.
__ADS_1
Salsa yang menyadari sahabatnya tersebut sedang menangis segera menutup buku komiknya.
"Sya, ada apa?" Tanya Salsa khawatir.
Namun tak ada jawaban dari Tasya. Gadis itu masih saja menangis.
"Apa semuanya baik baik saja?" Tanya Salsa lagi.
Kali ini Tasya mengangkat wajahnya dan berusaha menghapus airmatanya.
"Dion, Sal" ucap Tasya lirih.
"Dion kenapa? Kalian sedang ada masalah?"Salsa mencoba menerka nerka.
"Dion salah paham, dan sampe sekarang dia diemin aku. Bahkan chat aku gak ada satupun yang dia baca" jawab Tasya sambil sesenggukan.
Salsa mengelus punggung Tasya mencoba menenangkannya.
"Ya udah, kamu tenang dulu. Nanti kita cari cara biar kamu bisa bicara sama dia dan jelasin semuanya" bujuk Salsa.
Tasya hanya mengangguk.
Bel tanda masuk sudah berbunyi.
Buru buru Tasya menghapus sisa sisa airmata di pipinya.
Ia tak mau teman temannya tahu kalau dirinya habis menangis.
*****
Jam pulang sekolah sudah lewat beberapa saat yang lalu.
Dion masuk ke ruang loker dengan malas. Hari ini ada jadwal latihan bersama pelatih Ronny.
Dion membuka ponselnya.
Tidak ada pesan dari Tasya hari ini.
Entahlah, pikirannya sedang tak karuan belakangan ini.
Emosinya juga kadang tak terkendali.
Dion takut akan menyakiti Tasya jika nekat bertemu dengan gadis itu.
Dion membuka galeri foto di ponselnya.
Ada beberapa foto Tasya yang sengaja dia ambil diam diam saat gadis itu sedang tersenyum lepas.
Dion memandang foto Tasya dan mendadak rasa bersalah itu kembali muncul.
Harusnya Dion tak bersikap kekanakan seperti ini. Dion mengusap kasar wajahnya.
"Di, loe lagi ada masalah sama Tasya?" Julian tiba tiba saja sudah duduk di samping Dion.
Entah kapan datangnya, Dion juga tidak tahu.
"Bukan urusan loe" ucap Dion sedikit ketus.
Julian menarik nafas panjang.
"Memang bukan urusan gue. Tapi kalau ada masalah baiknya loe selesaikan baik baik dan gak bikin anak gadis orang nangis sampe sesenggukan" ucap Julian sambil berlalu meninggalkan Dion.
Deg,
Dion merasa tertohok dengan kata kata Julian barusan.
Di bukanya kembali ponsel dan semua pesan dari Tasya.
__ADS_1
Satu per satu Dion membaca pesan dari Tasya dan perasaan bersalah kian merasuk di hatinya.
"Apa yang sudah kulakukan" sekali lagi Dion mengusap wajahnya dengan kasar.
Bergegas ia meninggalkan ruangan itu. Entah akan pergi kemana.
*****
Tasya dan ketiga temannya baru saja keluar dari kelas.
Silvi dan Vina berjalan dengan cepat di depan Tasya dan Salsa.
Kedua gadis itu sepertinya sedang asyik membicarakan sebuah film.
Salsa dan Tasya berjalan sedikit lambat.
Entahlah, Tasya masih kurang bersemangat.
Hari harinya terasa hampa tanpa senyuman dari Dion.
Beberapa kali Tasya tertinggal langkah dari Salsa, dan Salsa akan berhenti untuk menunggu sahabatnya tersebut.
"Sya, kamu baik baik saja?" Tanya Salsa masih khawatir.
Ia merasa prihatin melihat Tasya yang jadi sering melamun belakangan ini.
Kadang hal seperti inilah yang membuat Salsa malas berhubungan dengan cowok. Ia tak mau merasakan patah hati ataupun di sakiti.
Kalau bisa memilih, Salsa ingin langsung saja bertemu pangeran impian yamg langsung melamarnya tanpa perlu pacaran atau cinta cintaan gak jelas.
Entah darimana datangnya, tiba tiba tangan Tasya di tarik oleh seseorang yang langsung membawa Tasya ke dalam toilet.
Salsa pun terkejut dan segera menyusul orang iseng tersebut. Siapa orang bodoh yang melakukan hal konyol itu, Salsa akan memberinya pelajaran.
Namun saat tahu siapa yang sudah bersama Tasya, seketika Salsa mengurungkan niatnya.
"Dion apa yang kamu lakukan?" Tanya Salsa dengan suara berbisik.
"Aku ingin bicara sama Tasya." Jawab Dion datar. Ia memandang lekat wajah Tasya. Membuat gadis itu menunduk semakin dalam
Tasya hanya diam.
Dari kejauhan terdengar langkah kaki yang terdengar semakin mendekat ke arah toilet.
Suara Silvi dan Vina yang memanggil Salsa dan Tasya terdengar semakin mendekat.
"Pergilah, Sal. Aku akan baik baik saja" ucap Tasya pada akhirnya. Wajahnya terlihat bersungguh sungguh.
Salsa menarik nafas panjang,
"Baiklah, hati hati. Jangan lupa telpon aku" pesan Salsa pada Tasya yang membuat gadis itu mengangguk.
Dion segera mengajak Tasya bersembunyi di salah satu bilik toilet.
Dan Salsa bergegas keluar dari toilet sebelum Silvi dan Vina tiba di tempat itu.
"Salsa, mana Tasya?" Tanya Silvi heran saat mendapati Tasya yang tidak sedang bersama Salsa. Bukankah tadi keduanya berjalan beriringan?
Vina melongok ke dalam kamar mandi. Tapi tidak ada tanda tanda keberadaan Tasya.
"Eee, Tasya tadi tiba tiba di panggil sama kepsek. Dia nyuruh kita duluan." Ucap Salsa berbohong. Jantungnya berdetak tak karuan. Ia berharap Silvi dan Vina akan percaya dan tak menaruh curiga.
"Soal apa? Kenapa mendadak dipanggil kepsek?" Tanya Vina penasaran.
"Masalah berkas kepindahannnya gitu kayaknya. Aku juga gak tahu." Salsa mengendikkan bahunya berpura pura tidak tahu.
Silvi dan Vina hanya ber oh ria.
__ADS_1
"Yaudah, pulang yuk. Gue udah ngantuk" ajak Vina sedikit memohon pada teman temannya.
Silvi dan Salsa mengangguk berbarengan. Dan mereka bertiga segera meninggalkan tempat itu. Berjalan menuju halaman parkir.