
Dion sudah sampai di panti asuhan yang dulu sering ia kunjungi bersama Tasya.
Panti asuhan itu kini tampak berbeda. Sepertinya baru saja di renovasi.
Dion memilih memarkirkan motornya di luar pagar panti. Ia sungguh berharap Tasya ada disini.
Sedikit ragu, Dion melangkahkan kakinya masuk ke halaman panti. Suara riuh anak anak seperti menyambut kedatangan Dion.
Dion mengedarkan pandangannya ke halaman panti yang cukup luas.
Seorang gadis yang kini tengah bermain bersama anak anak di sudut halaman tersebut langsung menyita perhatian Dion.
Tawa lepas dan wajah ceria yang selama beberapa tahun terakhir ini Dion rindukan, ada di sana.
Dia disana, Tasya ada disana.
*****
Salsa baru selesai menyiapkan makan malam untuk anak-anak.
Ia segera keluar menuju halaman untuk memanggil anak-anak asuhnya serta Tasya yang sekarang sedang menemani anak-anak bermain.
Tasya memang berkunjung ke panti hari ini. Sejak pagi gadis itu mondar mandir di panti menemani anak-anak bermain serta belajar.
Rencananya, Tasya juga akan menginap malam ini, karena lusa dia sudah harus kembali lagi ke luar kota untuk melanjutkan kuliahnya.
Tentu saja Salsa merasa senang, karena dia bisa mengobrol puas bersama Tasya malam ini.
Salsa keluar menuju teras. Ia baru akan menghampiri Tasya yang sepertinya sedang fokus bermain bersama anak-anak.
Namun Salsa terkejut saat melihat Dion yang entah darimana datangnya, sedang berdiri mematung sambil melihat ke arah Tasya.
'Apa yang pria itu lakukan disini?' Gumam Salsa tak percaya.
"Sal, ada apa? Apa makanan untuk anak anak sudah siap?" Tasya sudah menghampiri Salsa. Tasya sedikit heran melihat Salsa yang hanya diam di tempatnya sedari tadi.
Salsa menunjuk ke arah Dion yang sekarang masih berdiri mematung.
Tasya yang sedari tadi membelakangi posisi Dion, segera menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Salsa.
Tasya terkejut saat mendapati Dion yang sudah berada di halaman panti tersebut.
"Dion?" Ucap Tasya lirih.
Ia tidak tahu harus bagaimana sekarang.
Sudah terlambat untuk menghindar.
Dion berjalan menghampiri Tasya dan Salsa.
"Hai," sapa Dion sambil tersenyum ramah.
Tasya hanya mematung.
"Aku akan membawa anak anak masuk untuk makan malam" Salsa memilih menghindar.
Ia segera memanggil anak anak yang masih bermain di halaman untuk masuk ke dalam.
Salsa ingin memberikan ruang pada Tasya dan Dion untuk bicara dan menyelesaikan masalah mereka yang sepertinya belum selesai.
"Hai, apa kabar?" Tanya Dion lembut pada Tasya.
"Ba...baik" jawab Tasya tergagap.
Ia sungguh belum siap berhadapan dengan pria di depannya tersebut.
"Bisa bicara sebentar?" Tanya Dion ragu.
__ADS_1
Ia masih memandang Tasya lekat.
Dion ingin sekali memeluk gadis di depannya tersebut, namun Dion mencoba menahan diri. Ia tidak mau membuat Tasya merasa tidak nyaman.
"Ya," jawab Tasya singkat.
Tasya segera berjalan menuju bangku panjang yang ada di sudut halaman tersebut.
Dion mengikuti Tasya dan segera duduk bersama Tasya di bangku tersebut.
Semilir angin, meniup dedaunan dan menimbulkan suara gemerisik.
Tasya dan Dion masih saling diam.
Berulang kali, Tasya menarik nafas panjang demi mengusir rasa gugupnya.
"Apa tante Desi yang memberitahumu kalau aku ada disini?" Tasya memilih untuk memulai obrolan.
Dion menggeleng,
"Aku tak sengaja menemukan ranselmu yang tergeletak di dalam kamar saat akan mengambil beberapa barangku yang tertinggal di rumah tante Desi" jelas Dion.
Tasya menghela nafas.
Pasti Dion melihat gantungan kunci itu.
Salahnya memang yang tetap memakai barang pemberian Dion meskipun sudah tak ada hubungan apapun diantara dia dan Dion.
"Kenapa kau pergi dan tidak memberi tahuku?" Tanya Dion lirih.
"Aku sudah pamit saat itu" jawab Tasya membela diri.
"Maaf..." hanya kata itu yang keluar dari bibir Dion.
Tasya menggeleng,
Hatinya terasa sesak saat mengucapkan kata kata tersebut.
Bagaimanapun juga, Tasya masih mencintai Dion.
"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Laura" Dion menyangkal.
"Tak perlu menyangkal, Di. Kita sudah tak ada hubungan apa-apa" Tasya menatap tajam netra milik Dion.
Ada perasaan bersalah disana.
"Harusnya aku tak membiarkanmu pergi saat itu" ucap Dion sambil tertunduk.
Dion benar-benar takut kehilangan Tasya sekarang.
Tasya menghela nafas panjang, mencoba untuk mengendalikan emosinya. Tasya sungguh tidak ingin menangis di depan Dion.
"Nat..." Dion menggenggam tangan Tasya. Suaranya terdengar memelas dan memohon.
Tasya memejamkan matanya, berharap airmatanya tidak akan jatuh kali ini.
Sudah lama,
Entah sudah berapa lama dirinya tidak mendengar Dion memanggilnya dengan sebutan itu...
"Hentikan, Di. Kamu pantas dapat yang lebih baik. Dan itu bukan aku" ucap Tasya sambil terisak.
Runtuh sudah pertahanannya kini.
Tasya tak lagi bisa menahan tangisnya.
"Nat, jangan bilang begitu, aku mencintaimu. Aku minta maaf karena sudah mengabaikanmu dan membiarkanmu pergi" Dion memohon.
__ADS_1
Ia masih menggenggam erat tangan Tasya, seakan takut jika Tasya akan kembali pergi darinya.
Airmata Tasya jatuh semakin deras. Tasya ingin menghindar dari pria ini, namun hatinya terus berkata kalau Tasya masih sangat mencintai Dion.
"Aku tidak pernah menginginkannya..."
Ucap Tasya terisak
"Aku benar benar tidak pernah menginginkannya. Bahkan aku ingin melenyapkannya saat itu. Lalu aku ingat siapa diriku. Aku ingat bahwa aku juga seorang anak yang terbuang dan tak pernah diinginkan. Aku selalu berpikir bahwa kedua orangtuaku pastilah orang yang jahat karena mereka telah membuangku. Lalu apakah aku juga akan jadi orang jahat?" Tasya bercerita sambil menangis sesenggukan.
Dion hanya diam.
Ia akan membiarkan Tasya menyelesaikan ceritanya
"Aku memang tidak menginginkannya, tapi aku memilih untuk mempertahankannya karena aku tidak mau jadi orang jahat, Di. Aku sungguh tidak ada perasaan apapun pada Kevin" lanjut Tasya masih terisak.
"Aku tahu, harusnya aku bertanya padamu saat itu dan tidak buru-buru menyimpulkan sendiri. Aku minta maaf, Nat" Dion mengecup kedua tangan Tasya.
Ia sungguh menyesal dengan apa yang terjadi pada hubungannya dengan Tasya.
Tasya memaksa untuk melepaskan tangannya dari genggaman Dion.
"Maaf, Di. Aku tidak bisa" Tasya terus menggeleng.
Ia ingin kembali pada Dion.
Tapi Tasya kembali ingat siapa dirinya.
Ia takut,
Ia takut Dion akan kembali meninggalkannya.
"Nat," suara Dion semakin memelas. Matanya mulai berkaca kaca.
Tak seharusnya Dion menangis, namun ia sungguh takut kehilangan Tasya kali ini.
"Pulanglah, Di. Aku benar benar tidak bisa melakukan ini. Aku..." Tasya tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya.
Dion berdecak,
hatinya terasa sesak sekarang.
"Baiklah, aku akan pergi. Tapi tatap mataku dan katakan kalau memang kamu tak lagi mencintaiku." Dion memegang kedua bahu Tasya.
"Aku..." Tasya menatap mata Dion. Ia tidak bisa melakukan ini.
Tasya mencintai Dion.
Selalu begitu dan akan seterusnya begitu.
Dion masih menatap ke arah netra milik Tasya. Ia masih berharap Tasya akan kembali kepadanya.
"Aku butuh waktu, Di" Tasya membuang pandangannya ke arah lain.
Semakin lama dirinya menatap Dion semakin sulit dirinya untuk pergi.
"Baiklah, aku akan menunggumu. Aku akan menunggu sampai kamu siap memberi jawaban" ucap Dion bersungguh-sungguh. Pandangannya masih lekat menatap wajah Tasya.
"Pulanglah" Ucap Tasya lirih sambil melepaskan kedua tangan Dion yang sedari tadi masih merengkuh bahunya.
Tasya beranjak berdiri dan masuk ke dalam panti.
Dion hanya bisa menatap Tasya yang kini sudah masuk ke dalam panti.
Dion masih berharap.
Ia terus berharap Tasya akan memaafkan dirinya dan kembali lagi ke pelukannya.
__ADS_1