Natasya

Natasya
On The Court


__ADS_3

Tasya baru saja menyelesaikan ritual mandi sorenya.


Senyuman masih belum hilang dari bibirnya, meskipun acara wisuda sudah berakhir beberapa jam yang lalu.


Hati Tasya sedang berbunga-bunga sekarang, karena Dion yang mendadak memberinya kejutan besar.


Tok, tok, tok.


Suara ketukan di pintu sedikit membuat Tasya terkejut.


Gadis itu baru saja melamun memikirkan Dion.


Tasya membuka pintu kamarnya.


Dion yangb sudah berpenampilan rapi, berdiri di depan pintu kamar Tasya.


"Hai, Nat" sapa Dion sambil memasang senyuman manis.


"Hai! Kamu mau pergi?" Tasya melihat penampilan Dion dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Perasaannya saja atau Dion memang terlihat sangat tampan sore ini?


"Sebenarnya aku ingin mengajakmu jalan-jalan sore ini. Apa kamu sedang capek?" Tanya Dion sedikit ragu.


Tasya menggeleng dengan cepat.


"Aku akan siap-siap dulu" jawab Tasya cepat.


Dion mengangguk.


"Baiklah, aku akan menunggumu di depan" ucap Dion sambil tersenyum sebelum akhirnya berlalu meninggalkan kamar Tasya.


Tasya masih berdiri di dekat pintu kamarnya, memandang Dion yang pergi ke depan hinggga pria tak terlohat lagi.


Entah mengapa jantung Tasya tiba-tiba berdetak tidak beraturan, seriap kali dirinya dekat dengan Dion.


Tasya bukan lagi remaja yang sedabg jatuh cinta. Hubungannya dengab Dion juga sudah bertahun-tahun, tapi akhir-akhir ini perasaannya pada Dion semakin aneh saja.


Tasya bergegas masuk kembali ke kamarnya dan bersiap-siap.


Dion sudah menunggunya.


*****


Tasya yang sudah rapi, keluar dari rumah dan segera menghampiri Dion yang kini duduk di teras.


"Aku sudah siap," ucap Tasya sambil menepuk punggung Dion.


Pria itu menoleh dan melihat penampilan Tasya dari ujung kaki hingga ujung kepala, lalu tersenyum.


"Baiklah, ayo!" Ajak Dion sambil menggandeng tangan Tasya.


Pasangan kekasih itu pun segera masuk ke dalam mobil dan melaju menuju jalanan kota yang padat menuju ke suatu tempat.


Dion membelokkan mobilnya masuk ke kawasan GOR yang ada di kota tersebut.


Tasya sedikit mengernyit bingung.


"GOR? Apa kita akan menonton pertandingan basket?" Tanya Tasya pada Dion yang masih fokus mengemudikan mobil.


Dion hanya tersenyum kecil.


"Mungkin. Kita lihat apa ada yang bertanding hari ini" jawab Dion sambil terkekeh membuat Tasya semakin penasaran.


Dion sudah selesai memarkirkan mobilnya.


Hanya ada beberapa mobil yang parkir di tempat itu.


Suasana juga relatif lengang, hanya ada satu dua orang yang sedang berolahraga sore.


Dion membukakan pintu mobil untuk Tasya.


"Ayo, Nat" ajak Dion lembut.


Tasya menurut saja dan segera turun dari mobil Dion.


Sekali lagi Tasya mengedarkan pandangannya ke sekeliling GOR.


Tadinya Tasya mengira Dion akan membawanya makan malam di kafe dengan suasana romantis atau pergi ke taman dan membahas hal-hal romantis.


Tapi sekarang?

__ADS_1


Dion malah membawanya ke tempat ini.


Sungguh aneh.


Dion berjalan menuju gedung lapangan basket yang ada di dalam GOR tersebut.


Dari luar suasana sudah terlihat begitu sepi.


Tentu saja Tasya bisa menebak jika tidak ada pertandingan apapun di dalam sana.


Lalu untuk apa Dion membawanya kesini.


"Gak ada pertandingan apapun, Di. Sepi begini" protes Tasya saat Dion masih terus melanjutkan langkahnya masuk ke gedung tersebut.


"Kalau begitu kita berdua saja yang bertanding di dalam" jawab Dion sedikit terkekeh.


Tasya hanya mencebik dan menghentikan langkahnya.


Dion menoleh ke arah Tasya.


"Ayo! Aku ingin kamu menemaniku" bujuk Dion sambil meraih tangan Tasya lalu merangkul gadis itu untuk kembali melanjutkan langakh mereka memasuki gedung.


Tasya akhirnya tetap menurut meskipun hatinya sedikit kesal.


'Pasti dia ingin main basket lagi. Tidak bisakah sehari saja dia lepas dari benda bundar itu' gerutu Tasya dalam hati.


Sampai di dalam gedung, suasana gelap dan sepi.


Dion membimbing Tasya menuju ke arah court.


"Di, aku sedang tidak mood main basket sekarang." Protes Tasya pada Dion.


Dion tampak berpikir sejenak.


"Baiklah, kamu bisa berdiri di pinggir lapangan" Dion memberi penawaran.


"Bisakah aku duduk di sana saja?" Tasya menunjuk ke deretan kursi yang ada di courtside.


Dion menggeleng,


"Terlalu gelap, apa kamu tidak takut?" Ucap Dion sambil berbisik di telinga Tasya.


"Tapi ruangan ini memang gelap, Di." Protes Tasya.


"Baiklah, jangan marah-marah. Aku akan menyalakan lampunya" ucap Dion kemudian.


Pria itupun berjalan entah kemana meninggalkan Tasya sendirian di tengah court basket yang sepi dan gelap.


Matahari yang sudah turun di garis cakrawala membuat langit diluar gedung itu berubah menjadi gelap, dan suasana di dalam gedung juga semakin gelap.


Entahlah, Tasya tak mengerti apa yang sebenarnya ingin dilakukan Dion di tempat ini.


Sesaat suasana hening.


Sebelum akhirnya samar-samar Tasya mendengar alunan lagu yang tidak asing di telinganya.


Tasya mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat ia berdiri.


Namun terlalu gelap untuk bisa melihat apa yang ada di sekelilingnya.


Hingga kemudian, sebuah cahaya tiba-tiba menyala di sekeliling Tasya.


Lampu-lampu kecil yang entah sejak kapan ada di sana menyala mengelilingi Tasya, membuat gadis itu semakin kebingungan.


Samar-samar Tasya bisa mendengar suara Dion yang sedang menyanyikan sebuah lagu mendekat ke arahnya


Saat indah dalam hidupku


Saat aku bertemu denganmu


Kau anugerah yang tercipta


Begitu nyata


Kau tercantik dalam hatiku


Walaupun orang tak berkata begitu


Kuingin kau di sampingku


Selamanya

__ADS_1


Bila engkau menerima cintaku


Aku akan setia kepadamu


Karena dirimu yang selama ini


Ku cari


Bila engkau menerima cintaku


Aku akan selalu jujur untukmu


Karena dirimu yang selama ini


Di hati


(Bila Engkau-Flanella)


Dion mengulurkan satu buket bunga mawar pada Tasya yang kini diam mematung.


Sepertinya gadis itu masih bingung dengan apa yang terjadi saat ini.


Sedikit ragu,namun akhirnya Tasya menerima buket bunga tersebut.


Dion tersenyum lebar sebelum akhirnya pria itu berlutut di hadapan Tasya.


Tentu saja hal itu membuat Tasya terkejut sekaligus bingung.


Dion meraih tangan Tasya dan menggenggamnya erat sebelum mulai berbicara,


"Natasya, mungkin aku tidak pandai dalam merangkai kata, tidak pandai dalam membuat puisi indah, mungkin ini juga sedikit terlambat, namun aku yakin inilah saat yang tepat.


Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu, terus bersamamu hingga nanti. Menikmati setiap waktu bersamamu dan aku ingin menua bersamamu. Maukah kamu menikah denganku?" Dion mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya.


Tasya masih diam,


Gadis itu menutup mulutnya dengan tangan, masih tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi.


Dion melamarnya?


Apa ini sebuah mimpi?


Air mata sudah jatuh di kedua pipi Tasya,


Bukan airmata kesedihan, melainkan airmata kebahagiaan sekaligus rasa haru.


Tasya benar-benar tak menyangka jika Dion sungguh melakukan ini semua.


Tasya bahkan tak mampu berkata-kata sekarang.


Tasya mengangguk sambil berkata lirih


"Ya, aku mau" ucap Tasya lirih.


"Aku tidak mendengarmu. Bisakah kamu mengucapkannya sekali lagi?" Pinta Dion


"Iya, Dion. Aku mau menikah denganmu" Tasya mengulangi jawabannya, kali ini ia sedikit berteriak.


Biar saja. Tidak ada siapapun di sini dan Tasya sedang bahagia sekarang.


Dion memasangkan cincin di jari manis Tasya dengan cepat dan langsung memeluk erat gadis tersebut.


Bahkan Dion mengangkat tubuh mungil Tasya demi meluapkan kebahagiaannya.


Sejenak lampu di gedung tersebut tiba-tiba menyala. Sorak-sorai dari beberapa orang yang tiba-tiba terdengar membuat Tasya benar-benar terkejut.


Siapa sangka jika di ruangan tersebut ada keluarga dan sahabat Tasya.


Rupanya sedari tadi mereka menyaksikan acara lamaran ini dari kegelapan.


Semuanya bersorak dan bertepuk tangan untuk Dion dan Tasya.


Tentu saja mereka ikut bahagia karena akhirnya Dion akan segera menikah dengan Tasya.


Tasya yang melihat papa Anton juga ada di sana, segera lari menghambur ke pelukan papa kandungnya tersebut.


Tasya benar-benar bahagia sekarang.


"Papa ikut bahagia, Sya. Putri papa akhirnya akan segera menikah" ujar papa Anton. Matanya berbinar-binar menandakan kalau pria paruh baya itu ikut bahagia.


"Terima kasih, Pa. Tasya benar-benar bahagia sekarang" ucap Tasya sambil tersenyum bahagia.

__ADS_1


Satu persatu yang hadir memberikan selamat kepada Dion dan Tasya.


Senyuman tidak lepas dari bibir Tasya dan Dion malam itu.


__ADS_2