
"Tasya sudah bahagia dan melanjutkan hidupnya sekarang, kenapa tiba tiba kau menanyakannya?" Salsa berkata sedikit ketus.
"Sal..." Ronny mencoba untuk meredam emosi gadis yang baru beberapa jam yang lalu resmi menjadi istrinya tersebut.
"Apa?" Salsa balik melotot tajam ke arah Ronny. Membuat pria itu terdiam tak berkutik.
Resepsi pernikahan Salsa dan Ronny baru berakhir beberapa saat yang lalu.
Dion yang sudah tak sabar untuk tahu keberadaan Tasya, segera menemui sepasang pengantin itu.
Bahkan Salsa dan Ronny masih mengenakan baju resepsi dn belum menggantinya.
Ketiganya duduk di salah satu meja yang ada di salah satu sudut tempat resepsi.
"Aku hanya ingin bicara dan minta maaf pada Tasya, Sal" ucap Dion lirih.
Salsa berdecak.
"Apa sekarang kau menyesal karena telah melepaskan Tasya dan membiarkannya pergi waktu itu?" Salsa berkata dengan nada menyindir
"Saat itu aku hanya butuh sedang butuh waktu, Sal" Dion mencoba membela diri. Namun dalam hati ia membenarkan ucapan Salsa barusan.
Ya,
Dion menyesal karena membiarkan Tasya meninggalkan dirinya. Kini bahkan Dion tidak tahu keberadaan Tasya.
"Tasya selalu menganggap dirinya tak pantas lagi untukmu. Sejak hal paling berharga dalam hidupnya direnggut oleh Kevin, ditambah dirimu yang mengabaikan Tasya selama beberapa bulan tanpa memberinya kepastian membuat Tasya semakin hancur." Salsa menghela nafas sebelum melanjutkan ceritanya.
"Tasya memang tak pernah cerita kepadaku, tapi aku bisa melihat semua itu dari raut wajahnya. Tasya masih mencintaimu, hanya saja dia merasa tak pantas lagi untukmu. Jadi dia memilih untuk pergi" ujar Salsa panjang lebar.
Raut kesedihan tampak jelas di wajah Salsa.
Tentu saja Salsa merasa prihatin dengan kisah cinta Tasya yang begitu rumit.
"Apa kau tahu sekarang dia dimana? Aku sungguh ingin memperbaiki semua ini, Sal" ucap Dion memohon.
"Maaf, Di. Aku sudah berjanji pada Tasya untuk tidak memberi tahu siapapun. Tasya sudah menjalani hidupnya yang sekarang. Dia sudah bahagia dan sedang berjuang meraih cita citanya." Ucap Salsa sedikit lirih.
Salsa beranjak dari duduknya dan segera meninggalkan meja tersebut.
Dion hanya bisa menelan kekecewaan.
Ronny menepuk punggung Dion untuk tetap memberinya semangat.
"Maafkan aku, karena sudah membuat Salsa sedih" ucap Dion lirih.
"Tidak masalah. Salsa memang begitu. Ia hanya tak mau melihat Tasya bersedih lagi. Kamu tahu sendiri kan, bagaimana hubungan mereka berdua?" Jawab Ronny lirih.
"Aku juga minta maaf karena tidak bisa membantumu kali ini" ucap Ronny selanjutnya.
"Aku mengerti" jawab Dion lirih.
__ADS_1
"Fokus saja pada kariermu saat ini. Aku yakin kalau memang kalian berdua ditakdirkan bersama, kalian pasti akan bertemu suatu hari nanti" saran Ronny bijak.
Kali ini Dion mengangguk. Benar kata Ronny.
Lebih baik Dion fokus pada karier dan masadepannya. Masa bodoh dengan cinta buta ini.
Dion tetap yakin, suatu hari nanti dia akan bertemu kembali dengan Tasya.
*****
"Sya, besok sore kamu ada acara gak?" Tanya Kiki pada Tasya yang masih fokus membaca buku di tangannya.
"Enggak. Aku dirumah aja kayaknya" jawab Tasya santai.
"Nonton basket yuk! Ada jadwal satu seri di kota ini. Lumayan kan bisa cuci mata" ujar Kiki bersemangat.
Kiki adalah teman Tasya di kampus. Satu satunya teman yang dekat dengan Tasya.
Meskipun tak sedekat persahabatannya dengan Salsa, namun Tasya kadang suka berdiskusi mengenai hal hal kecil dengan Kiki.
Tasya masih diam.
Beberapa hari yang lalu dirinya memang sempat melihat jadwal pertandingan Tim basket Dion. Ada jadwal yang akan dilangsungkan di kota ini.
Sejujurnya, Tasya selalu menyempatkan waktu untuk melihat setiap kali tim Dion bertanding meskipun hanya lewat layar ponselnya.
Saat itulah, Tasya tetap bisa melepaskan rasa rindunya pada sosok Dion.
Bahkan sampai sekarang Tasya masih belum bisa melupakan Dion.
'Dion pasti sudah move on dan menemukan gadis yang lebih baik dari aku' selalu kalimat itu yang Tasya rapalkan setiap kali Tasya mengingat cinta Dion.
"Sya, kok melamun sih? Gimana? Mau ya. Pliss" ucap Kiki dengan memohon.
Tasya sungguh tidak tega melihat wajah memelas dari gadis ini.
"Baiklah aku usahakan" ucap Tasya tak mau berjanji.
Namun jawaban itu sudah cukup membuat Kiki berteriak girang.
"Oh, ya kamu mau pulang bareng aku gak? Mumpung dijemput sama kak Egi" tanya Kiki memberikan penawaran.
Tasya tampak berpikir sejenak.
"Yaudah aku bareng aja sekalian" ucap Tasya pada akhirnya.
"Baiklah, ayo" Kiki segera menarik tangan Tasya untuk berjalan keluar dari kampus.
"Hai, girls" seorang pria berpakaian jas lengkap menyapa Kiki dan Tasya.
Wajah pria itu sungguh mirip dengan Kiki, sahabat Tasya.
__ADS_1
"Udah lama, kakak?" Tanya Kiki berbasa basi.
"Lumayan sih." Jawab Egi santai.
"Mau langsung pulang?" Tanya Egi langsung.
Tasya dan Kiki mengangguk berbarengan.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam mobil.
"Tumben kakak mau jemput? Biasanya sibuk meeting sana meeting sini gak ingat sama adeknya" cerocos Kiki panjang lebar.
Egi hanya terkekeh.
"Iya, dek. Maaf kalo kakak sibuk belakangan ini" Egi mengelus puncak kepala Kiki.
Tasya yang melihat keakraban kakak beradik tersebut hanya tersenyum simpul. Mendadak dirinya teringat kak Ronny yang baru beberapa bulan lalu melepas masa lajangnya.
Tasya bersyukur karena akhirnya kak Ronny menikah dengan Salsa.
'Mungkin sekarang mereka berdua sedang berbulan madu' Gumam Tasya sambil tersenyum.
"Sya, kok kamu senyam senyum sendiri sih?" Kiki yang melihat sahabatnya tersebut tersenyum sendiri di jok belalang merasa heran.
"Eh, enggak. Cuma lucu aja liat kalian berdua. Hehe" jawab Tasya salah tingkah.
"Tasya punya kakak gak?" Tanya kak Egi berbasa basi sambil melihat ke arah Tasya lewat spion mobil.
"Ada, meskipun cuma kakak angkat" jawab Tasya datar.
"Tasya,boleh kok anggep kak Egi kakaknya Tasya" ucap Egi lagi. Tasya memilih menanggapinya dengan anggukan kecil dan sebuah senyuman.
"Ish, aku kira Tasya mau kakak jadiin kakak ipar aku" ucap Kiki asal membuat Tasya terbatuk batuk di belakang.
"Apaan sih, dek. Tasya pasti juga udah punya pacar. Masa kakak mau rebut pacarnya orang" Egi menanggapi ucapan Kiki yang menurutnya konyol tersebut.
"Tasya,itu belum punya pacar kak" Kiki mencoba menyangkal.
"Sok tahu kamu. Tu Tasya ngambek di belakang" Egi mengacak rambut Kiki membuat gadis itu mencebik.
Tasya yang mendengarkan kakak beradik itu sedang membicarakan dirinya, hanya garuk garuk kepala meskipun tak terasa gatal. Jujur Tasya bingung harus menanggapi bagaimana.
"Eh, udah sampai. Tasya langsung turun ya. Makasih ya kak Egi udah nganterin Tasya" buru buru Tasya turun dari mobil Egi.
"Aku gak dipamitin, Sya?" Kiki protes karena merasa diabaikan.
Tasya tertawa kecil.
"Iya adek Kiki. Makasih juga udah nganterin" ucap Tasya sambil langsung berlari menuju halaman rumahnya.
Kiki mencebik dan melotot kesal pada Tasya.
__ADS_1
Selalu saja Tasya menggodanya,dengan memanggilnya adek Kiki. Padahal Kiki paling sebel dipanggil seperti itu.
Egi hanya tertawa melihat ekspresi kesal adiknya tersebut.