
"Dion itu keponakannya tante Desi, tetangga sebelah rumah aku" Tasya mulai bercerita.
'Berarti waktu itu gue emang gak salah liat. Yang duduk di atas motor di samping rumah Tasya itu beneran Dion' gumam Salsa dalam hati setelah mendengar fakta baru dari Tasya.
"Awalnya Dion emang cuek aja sama aku. Tapi sejak dia nolongin aku yang terkunci di kamar mandi, mendadak Dion jadi perhatian sama aku" sambung Tasya.
"Tunggu, kamu terkunci di kamar mandi? Kapan? Kok aku gak tahu?" Salsa memotong cerita Tasya dengan pertanyaan bertubi-tubi.
"Aku lupa tepatnya kapan, kalo gak salah seminggu setelah aku masuk ke sini" Tasya mencoba mengingat kembali.
"Apa saat kamu sakit itu?" Tebak Salsa.
Seingat Salsa, Tasya pernah sakit beberapa hari setelah jadi murid baru di sekolah ini.
Tasya mengangguk dengan yakin. Ia kini mulai ingat.
"Jadi sejak saat itu kamu dan Dion mulai dekat?" Tanya Salsa selanjutnya.
"Ya, dan semuanya mengalir begitu saja" jawab Tasya sambil tersenyum. Ia kembali ingat saat saat pertama dia dekat dengan Dion, salah paham di antara mereka hingga kecemburuan Dion yang menurut Tasya sedikit berlebihan
Salsa menarik nafas panjang, masih terasa ada yang mengganjal di hatinya setelah tahu semua kebenaran ini.
"Tapi tunggu, siapa yang ngunci kamu di kamar mandi? Setahuku kamu gak ada masalah dengan siswa lain di sekolah ini" tanya Salsa menyelidik. Tasya hanya mengendikkan bahu.
Sampai sekarang pun Tasya tak pernah tahu siapa pelakunya.
Namun Tasya tak mau ambil pusing mengenai masalah ini.
Bukankah sekarang ada Dion yang akan selalu melindunginya?
"Bagaimana dengan kak Kevin? Aku kira loe deket juga sama kak Kevin" Salsa bertanya dengan serius.
Tasya hanya menggeleng samar.
"Aku gak ada perasaan apapun sama kak Kevin" jawab Tasya datar.
"Tapi kayaknya kak Kevin suka sama kamu, Sya" ucap Salsa sedikit ragu.
"Aku tak akan memberinya harapan apapun. Aku akan bersikap sebagai temannya saja" putus Tasya.
Salsa mengangguk seakan setuju dengan pendapat Tasya.
Salsa lega jika memang Tasya mempunyai prinsip yang tegas dan jelas mengenai siapa yang ia sukai.
Salsa sungguh benci jika ada gadis yang plin-plan ataupun serakah yang berharap bisa memacari banyak cowok.
"Tapi, Sya apa gak sebaiknya kalian berdua terbuka saja soal hubungan kalian. Biar gak ada yang tersakiti.
Kak Kevin misalnya. Kalau dia tahu kamu dan Dion berpacaran setidaknya dia kan tidak akan lagi berharap padamu" usul bijak dari Salsa membuat Tasya menghela nafas.
__ADS_1
Saran Salsa memang ada benarnya. Tapi sekali lagi, Tasya tak mau memutuskan ini secara sepihak. Dia harus membicarakan semuanya pada Dion.
"Kata Dion nanti ada waktunya kami akan terbuka pada semuanya." Hanya itu yang bisa Tasya katakan pada sahabatnya tersebut.
Ia pun masih bingung bagaimana kelanjutan hubungannya bersama Dion.
Tasya dan Dion saling menyayangi. Namun entah mengapa seperti ada sebuah penghalang besar di antara mereka yang sulit untuk dijelaskan.
*****
"Salsa sama Tasya kemana sih? Katanya mau nyusul ke kantin." Vina mengeluh pada Silvi yang masih asyik menikmati bakso dihadapannya.
Sudah dua mangkok bakso yang masuk ke perut gadis itu. Tapi anehnya, Silvi masih saja terlihat menikmati mangkoknya yang ketiga.
Hal ini sungguh membuat Vina geleng geleng kepala.
Tak berapa lama, Dion dan teman temannya berjalan melewati meja Vina.
"Ju, loe liat Tasya dan Salsa gak di kelas?" Vina bertanya pada Julian yang ada di rombongan Dion.
Julian hanya mengendikkan bahu.
"Bukannya mereka tadi keluar bareng kalian? Kok nanya ke gue?" Julian malah balik bertanya pada Vina.
"Vina kan cuma nanya Ju. Gak usah ketus begitu kenapa?" Silvi memutar bola matanya mencoba membela sahabatnya yang sedang diomeli oleh ketua kelas culunnya tersebut.
"Serah loe" ucap Julian malas sambil berlalu meninggalkan meja Vina dan Silvi. Ia berjalan menyusul teman temannya yang sudah duduk di salah satu meja di kantin tersebut.
"Gue juga gak tahu" jawab Dion acuh.
Ia mengambil ponsel di sakunya dan menelpon Tasya.
"Gak diangkat, kebiasaan banget. Ponsel ditinggal-tinggal di tas" gerutu Dion.
Teman-teman Dion tak terlalu menghiraukan. Mereka malah asyik dengan obrolan masing-masing.
Silvi dan Vina sudah selesai mengisi perut mereka.
Bergegas mereka beranjak dan sudah akan keluar dari kantin.
Namun di pintu masuk kantin, mereka melihat Tasya dan Salsa datang dengan tergopoh-gopoh.
"Kemana aja sih loe berdua. Ditungguin dari tadi gak nongol nongol" Vina mengomeli dua sahabatnya tersebut.
Tasya dan Salsa hanya nyengir dan merasa tak bersalah
"Ni, kalian mau ke mana?" Tanya Salsa pura-pura ****.
"Ke kelas lah. Udah selesai yang makan" jawab Silvi sedikit galak.
__ADS_1
"Sorry, tadi kita keasyikan ngobrol di taman sampe lupa mau ke kantin" ucap Tasya merasa bersalah.
Silvi dan Vina memutar bola mata bersamaan.
"Trus sekarang kalian mau makan atau mau ikut kita?" Tanya Silvi meminta penjelasan.
"Ikut kalian aja deh" jawab Tasya dan Salsa serempak.
Dan mereka berempat pun berjalan beriringan menuju kelas.
Saat sedang asyik bercerita sambil bersenda gurau, tiba tiba...
Bugh,
Tasya tak sengaja menabrak seorang gadis berkaca mata.
Keduanya jatuh terduduk di lantai.
Tasya bangun terlebih dahulu dan hendak menolong gadis yang tak sengaja ia tabrak tersebut.
Namun dengan cepat tangannya di tepis.
Tasya seperti tak asing dengan wajah gadis tersebut
"Maaf, ya" ucap Tasya tulus.
Tapi bukannya menjawab, gadis itu malah tersenyum licik pada Tasya sebelum berlalu meninggalkan Tasya yang masih melongo dan bertanya-tanya.
'Siapa gadis itu? Aku seperti pernah melihatnya?' Gumam Tasya dalam hati.
"Udahlah, Sya. Gak usah di pikirin.
Si Rara emang kayak gitu" Silvi yang melihat raut kebingungan di wajah Tasya, mencoba memberi penjelasan
Tiba-tiba Tasya ingat kejadian kemarin sore di lapangan basket.
Ya, gadis itu yang kemarin duduk di sebelah Tasya dengan tiba-tiba, lalu dengan sok tahunya langsung menghakimi dan menuduh Tasya.
"Dia siapa sih, Sil?" Tanya Tasya masih penasaran.
Silvi menghentikan langkahnya, membuat ketiga temannya ikut berhenti.
"Namanya Rara. Dia itu gadis yang tidak baik. Jadi loe gak perlu deket-deket sama dia." Ucap Silvi tegas.
Tasya hanya mengernyitkan dahinya, sedikit tidak mengerti maksud dari 'gadis tidak baik' yang barusan diucapkan oleh Silvi.
"Oh ya, satu hal lagi. Dia itu tergila-gila sama kak Kevin. Jadi ada baiknya loe buruan jadian gih sama kak Kevin. Kita semua dukung loe kok" tambah Silvi sambil terkekeh.
Vina ikut-ikutan tertawa.
__ADS_1
Berbeda dengan kedua sahabatnya tersebut, Salsa dan Tasya hanya memaksakan untuk tersenyum.