Natasya

Natasya
Hadiah


__ADS_3

Tasya baru saja keluar dari pintu utama bandara.


Dion yang sudah menunggu Tasya sedari tadi, segera menghampiri gadis tersebut.


Dion memeluk erat Tasya.


Baru beberapa minggu mereka tak berjumpa dan Dion sudah sangat rindu pada gadis ini.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Tasya berbasa-basi.


"Baik. Kamu sendiri?" Dion balik bertanya


"Aku juga baik" jawab Tasya sambil tersenyum manis.


"Ayo!" Dion segera merangkul Tasya menuju ke arah mobilnya.


Keduanya bergegas meninggalkan kawasan bandara dan menuju ke suatu tempat.


Sepanjang perjalanan Tasya tak berhenti menatap ke arah luar jendela.


Gedung tinggi pencakar langit berjejer di sepanjang jalan, membuat Tasya menatap dengan kagum.


Dion masih fokus mengemudi.


Kini mobil Dion masuk ke basement sebuah gedung tinggi.


"Bukankah seharusnya kamu mengantarku ke hotel?" Tanya Tasya bingung.


"Kita akan mengambil hadiahmu terlebih dahulu" ucap Dion sambil tersenyum simpul


Tasya mengernyit bingung.


Ia bahkan lupa dengan hadiah yang ia minta beberapa hari yang lalu pada Dion.


Tasya tak menyangka jika Dion masih mengingatnya.


Dion dan Tasya masuk ke dalam lift yang membawa keduanya menuju ke lantai paling atas dari gedung tersebut.


Saat sudah keluar dari lift, Tasya baru menyadari kalau itu adalah sebuah gedung apartemen.


Ada beberapa unit apartemen di lantai tersebut.


Seorang pria paruh baya yang berdiri di depan sebuah unit, terlihat menyapa hangat Dion dan Tasya.


Setelah berjabat tangan dan berbasa-basi seperlunya pria itu membuka pintu ruangan tersebut dan mempersilahkan Dion dan Tasya untuk masuk ke dalamnya.

__ADS_1


Sampai disini, Tasya masih belum mengerti. Apartemen siapa ini sebenarnya?


Tasya mengikuti Dion dan pria paruh baya tadi masuk ke dalam unit apartemen tadi yang ternyata masih kosong.


Tentu saja Tasya semakin tak mengerti.


Setelah berbincang sebentar dengan Dion, pria paruh baya tadi keluar dari unit apartement tersebut.


Kini hanya ada Tasya dan Dion do ruangan tersebut.


Pandangan Tasya langsung tertuju ke jendela kaca besar yang ada di sisi apartement itu.


Jendela besar yang langsung menghadap ke jalanan di depan gedung tinggi itu.


Bisa Tasya lihat pemandangan kota metropolitan dengan jalanan yang padat oleh lalu lalang kendaraan serta gedung-gedung tinggi pencakar langit.


"Bagaimana menurutmu?" Dion memeluk Tasya dari belakang.


"Apartemen yang bagus dan sedikit mewah" jawab Tasya sambil masih memandang jalanan padat di bawah sana.


"Apa kamu menyukainya?" Tanya Dion lagi.


Kali ini Tasya mengernyit bingung.


Segera Tasya berbalik untuk mebatap ke arah Dion.


"Milikmu" jawab Dion singkat tapi sukses membuat Tasya terkejut tak percaya.


Dion tertawa kecil melihat ekspresi bingung di wajah Tasya.


"Kamu minta hadiah, jadi aku memberikannya." Ucap Dion lagi. Nada bicaranya terdengar santai.


"Kamu bercanda, Di. Apartemen ini pasti sangat mahal. Aku tidak bisa menerimanya" Tasya langsung menolak.


Dion merengkuh kedua pundak Tasya.


"Dengar, saat kita menikah nanti, kita akan pindah ke kota ini. Jadi aku akan membeli apartemen ini untuk tempat tinggal kita berdua" Dion mencoba menjelaskan.


Dan kali ini Tasya benar-benar di buat tak percaya. Tasya tak menyangka jika Dion akan berpikir sejauh ini.


"Jadi bagaimana? Kamu menyukainya?" Tanya Dion serius


Tasya mengangguk


"Ya, aku menyukainya" jawab Tasya bersungguh-sungguh

__ADS_1


Tasya langsung memeluk Dion erat. Sungguh Tasya merasa beruntung karena dicintai oleh pria baik hati seperti Dion.


"Baiklah, aku akan mengantarmu ke hotel sekarang. Aku yakin kamu pasti lelah" Dion segera menggandeng Tasya keluar dari unit apartemen tersebut.


Keduanya naik kembali ke dalam lift untuk selanjutnya menuju ke parkiran di basement sebelum akhirnya meninggalkan bangunan tinggi tersebut.


*****


"Aku tidak tahu kalau gajimu sebagai pemain pro bisa untuk membeli apartemen semewah itu" ucap Tasya sambil terkekeh.


Ia dan Dion kini sedang dalam perjalanan menuju ke hotel tempat Tasya akan menginap.


Lalu lintas sedikit tersendat, mungkin karena ini akhir pekan dan banyak orang yang akan berlibur.


Dion tersenyum simpul. Matanya masih fokus pada jalanan di hadapannya.


"Kamu pikir selama ini aku hanya bermain basket? Aku punya pekerjaan sampingan yang gajinya lumayan" Dion sedikit pamer.


Tasya tertawa kecil.


"Oh, ya? Kamu tak pernah menceritakan kepadaku tentang pekerjaan sampinganmu itu" Tasya jadi penasaran sekarang.


"Sebenarnya setahun terakhir aku membantu papa mengurus cabang perusahaannya yang ada di kota ini" cerita Dion.


Tasya mengangguk.


"Syukurlah kalau begitu. Setidaknya saat kamu pensiun dari dunia basket nanti kami sudah punya pekerjaan lain" ujar Tasya sambil terkekeh.


Dion ikut tertawa.


Tak terasa mobil Dion sudah sampai di depan lobi sebuah hotel.


Bergegas Dion dan Tasya turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam hotel tersebut.


Dion dan Tasya naik ke lantai atas hotel tersebut dan langsung menuju ke salah satu kamar yang ada di lantai tersebut.


"Aku harus segera kembali ke mess. Nanti aku akan menjemputmu jam tujuh. Istirahatlah dulu" Dion melihat ke arloji yang melingkar di tangannya.


Hari belum terlalu sore.


Tasya mengangguk.


"Baiklah, hati-hati" ucap Tasya.


"Aku pergi dulu" Dion mengacak puncak kepala Tasya sebelum akhirnya pergi meninggalkan Tasya.

__ADS_1


Setelah Dion masuk kedalam lift, Tasya segera membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam.


Tasya sungguh lelah dan ingin merebahkan badannya sekarang.


__ADS_2