
"Sya," teguran dari Salsa membuyarkan lamunan Tasya.
"Iya, Sal ada apa?" Tanya Tasya gelagapan.
Belakangan ini dirinya sering melamun lagi.
Tasya masih menyembunyikan tentang kehamilannya yang kata dokter sudah masuk duabelas minggu tersebut.
Baik Salsa, Ronny, maupun mama Sarla tak ada yang mengetahuinya.
"Sya, kamu kenapa sih? Belakangan ini aku sering liat kamu melamun" tanya Salsa mulai khawatir.
"Aku baik baik aja, Sal" ucap Tasya yang memaksa untuk tersenyum.
Tasya tak mau membuat Salsa khawatir lagi.
"Apa ini ada hubungannya dengan Dion? Apa kalian sedang ada masalah" Salsa mulai menerka nerka.
Tasya menggeleng.
"Hubunganku dengan Dion baik baik saja, Sal. Kamu jangan khawatir berlebihan begitu" ucap Tasya sambil mencebik.
Salsa hanya terkekeh.
"Baiklah, kalau begitu berhentilah melamun. Kamu bisa cerita masalah apapun padaku." Nasehat Salsa bijak.
Tasya hanya mengangguk.
Meskipun untuk masalahnya yang satu ini, Tasya masih enggan menceritakannya pada Salsa atau siapapun.
"Kau ada kelas hari ini?" Tanya Salsa lagi.
"Ya. Ada satu kelas terakhir sekitar setengah jam lagi" Tasya melihat arloji yang melingkar di tangannya untuk memastikan.
"Aku sama kak Ronny mau nonton nanti. Kamu ikut ya. Pliss" ucap Salsa sambil menangkupkan kedua tangannya. Ia memohon dan sedikit memaksa pada Tasya.
"Ehmmm..." Tasya tampak berpikir.
"Ayolah, Sya" bujuk Salsa penuh harap.
"Aku takut mengganggu kalian pacaran" jawab Tasya sambil terkekeh.
Sontak Salsa langsung berdecak.
"Aku akan ngambek tiga hari kalau kamu tidak ikut" ancam Salsa sambil bersedekap.
Sontak Tasya langsung tertawa melihat tingkah Salsa yang kekanak-kanakan tersebut.
"Baiklah. Baik aku akan ikut. Tapi kamu harus traktir aku makan" Tasya membuat penawaran.
"Setuju." Salsa mengacungkan kedua jempolnya sambil tersenyum bahagia.
"Baiklah, aku masuk kelas dulu. Kamu akan kemana?" Tanya Tasya mulai beranjak dari tempat duduknya.
"Mungkin aku akan nongkrong dulu di kafe seberang jalan sambil nungguin kelas kamu selesai." Salsa menunjuk ke arah kafe yang ada di seberang kampus mereka.
"Baiklah, nanti aku akan menyusulmu ke sana. Bye" Tasya melambaikan tangannya pada Tasya dan masuk kembali ke dalam kampus untuk mengikuti kelas berikutnya.
*****
__ADS_1
"Bagaimana? Kamu berhasil membujuknya?" Tanya Ronny yang baru saja datang ke kafe tersebut untuk menjemput Salsa dan Tasya.
"Ya, Dia mau ikut. Tapi sebenarnya ada apa sih? Kok kamu maksa banget Tasya harus ikut?" Tanya Salsa penasaran.
"Aku ingin memberinya kejutan. Kamu akan tahu nanti" ucap Ronny sambil tersenyum aneh. Salsa merasa semakin penasaran.
"Itu anaknya" ucap Salsa sambil menunjuk ke arah gerbang masuk kampus.
Salsa dan Ronny memang duduk di meja dekat jendela kafe, jadi pandangan mereka bisa langsung tertuju ke arah gerbang utama kampus.
"Aku akan menemuinya" ucap Salsa sambil berdiri. Ronny ikut berdiri dan segera menuju ke kasir untuk membayar makanan.
Salsa keluar dari kafe dan segera melambaikan tangan pada Tasya, memberi kode pada gadis itu agar segera menuju ke arah kafe.
Tasya membalas lambaian tangan dari Salsa.
Tasya menengok ke kiri dan kanan jalan sebelum menyeberang.
Setelah memastikan aman, bergegas Tasya menyeberang jalan.
Namun entah darimana datangnya, sebuah motor yang melaju kencang tiba tiba melintas saat Tasya masih berada di temgah jalan.
Tasya berusaha menghindar, namun sepertinya terlambat. Motor tersebut menyerempet bagian belakang tubuh Tasya dan membuat gadis itu terhuyung lalu jatuh ke atas aspal.
"Tasya!!" Teriak Salsa panik. Buru buru ia menghampiri Tasya yang kini jatuh terduduk sambil meringis kesakitan.
"Sya, loe gak papa?" Tanya Salsa panik. Ia memcoba membantu Tasya untuk berdiri namun gadis itu malah menjerit kesakitan sembari memegangi bagian bawah perutnya.
"Sakit, Sal." Ucap Tasya sambil menahan nyeri di perutnya.
Ronny yang baru saja selesai membayar makanan di kasir keluar dari kafe dan terkejut saat mendapati Tasya dan Salsa yang sudah berada di tengah jalan.
"Salsa, ada apa?" Tanya Ronny bingung.
Ia mendapati Tasya yang masih terduduk sambil meringis menahan sakit dan Salsa yang mulai panik.
"Tasya terserempet motor, Kak" jelas Salsa sekenanya.
"Sakit, Sal" Tasya masih terus meringis. Air matanya mulai jatuh bercucuran, wajahnya berubah pucat.
"Kita bawa ke rumah sakit sekarang" kata Ronny akhirnya.
Ronny bergegas menggendong Tasya.
Salsa berlari ke arah mobil Ronny untuk membukakan pintu.
Setelah memastikan Tasya masuk ke dalam mobil, Ronny segera mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Sepanjang perjalanan, Tasya terus saja mengeluh sakit. Salsa hanya bisa menenangkan Tasya.
Secepat mungkin Ronny memacu mobilnya.
*****
Ronny dan Salsa menunggu dengan cemas di depan UGD.
Mama Sarla datang dengan tergopoh gopoh masih mengenakan setelan baju kerja lengkap.
"Ronny, Salsa, ada apa dengan Tasya?" Tanya mama Sarla khawatir.
__ADS_1
"Tasya terserempet motor di depan kampus, tant" jelas Salsa.
"Trus gimana sekarang keadaannya? Apa lukanya parah?" Tanya mama Sarla semakin khawatir.
"Kami juga masih menunggu hasil pemeriksaannya tante. Dokter belum memberitahu" jelas Ronny.
Sudah hampir satu jam mereka menunggu namun belum kunjung ada kabar.
Beberapa saat kemudian, seorang perawat berbaju serba putih keluar dari ruangan tersebut.
"Ada keluarganya?" Tanya perawat tersebut.
"Saya mamanya, Sus. Apa anak saya baik baik saja?" Tanya mama Sarla cemas.
"Ibu, silahkan masuk kedalam. Dokter ingin bicara" ucap suster tersebut sambil mempersilahkan mama Sarla untuk masuk kedalam.
Mama Sarla mengikuti perawat tersebut dan masuk ke dalam ruangan.
"Bagaimana keadaan putri saya, Dok?" Tanya mama Sarla khawatir.
Tasya terbaring lemah di atas ranjang perawatan. Wajahnya pucat dan matanya terpejam.
"Pasien mengalami pendarahan, bu. Kami tidak bisa menyelamatkan janin di kandungannya. Jadi kami terpaksa harus melakukan kuret" jelas dokter tersebut.
Mama Sarla terkejut.
"Janin? Maksud dokter, putri saya sedang hamil?" Tanya mama Sarla tak percaya.
Dokter itu kembali melihat kertas di tangannya dan mengangguk.
"Pasien hamil dua belas minggu" jawab Dokter itu.
Mama Sarla tentu saja terkejut dan tidak percaya. Bagaimana bisa, Tasya hamil namun dirinya tidak tahu sama sekali.
"Jadi bagaimana, bu? Ibu setuju kami melakukan tindakan tersebut?" Tanya dokter sekali lagi.
"Lakukan saja yang terbaik untuk menyelamatkan Tasya, dok" jawab mama Sarla lesu.
Seorang perawat segera menyodorkan sebuah berkas untuk ditandatangani pada mama Sarla. Setelah semuanya siap, Tasya dibawa keluar dari ruangan tersebut. Mama Sarla ikut keluar dan menemui Salsa serta Ronny.
Salsa yang melihat mama Sarla keluar dari ruangan tersebut dengan wajah lesu, buru buru menghampiri.
"Tante bagaimana kondisi Tasya?" Tanya Salsa khawatir.
Ia membimbing mama Sarla agar duduk di deretan kursi yang ada di tepi koridor.
"Sal, kamu teman baiknya Tasya. Apa Tasya ada cerita ke kamu tentang kehamilannya?" Tanya mama Sarla serius.
"Tasya hamil?" Salsa dan Ronny secara serentak terkejut.
Mama Sarla mengangguk lesu.
"Tasya gak pernah cerita apapun, tante." Jawab Salsa bersungguh sungguh.
"Tasya hamil dua belas minggu, tapi sekarang dia mengalami pendarahan dan harus di kuret" jelas mama Sarla lagi.
"Apa itu artinya Tasya mengalami keguguran?" Sebuah suara yang terdengar tidak asing tiba tiba saja mengejutkan mama Sarla, Salsa, dan Ronny.
Entah darimana datangnya, laki laki itu sudah berdiri mematung tak jauh dari mereka bertiga.
__ADS_1