Natasya

Natasya
Silaturahmi


__ADS_3

Flashback on


Tante Desi baru saja keluar dari bandara.


Sedikit celingukan mencari taksi yang akan dia gunakan untuk mengantarnya pulang ke rumah.


Saat dirinya tengah fokus mencari taksi, seseorang menepuk bahunya dari belakang, membuat tante Dedi terlonjak kaget.


"Desi?" Suara Pria yang cukup familiar membuat tante Desi menoleh ke arah sumber suara tersebut.


"Eh, mas Rian? Di sini juga?" Tanya tante Desi sedikit berbasa-basi.


Ternyata papa Rian dan mama Wina yang telah mengejutkan dirinya.


"Iya, tadi kita habis antar teman ke sini. Kamu dari mana?" Tanya papa Rian.


"Dari luar kota, nemuin mas Bimo. Ini baru aja pulang" jawab Tante Desi sambil tersenyum.


"Yaudah, bareng kita aja ayo" ajak mama Wina


sambil menggandeng tangan tante Desi. Membimbingnya menuju ke parkiran.


"Eh, nanti merepotkan. Rumah kita kan gak searah" tante Desi berusaha menolak sehalus mungkin.


"Ya, gak papa. Sekalian kita berdua silaturahmi ke rumah kamu. Kan kita udah lama gak main kesana" ucap papa Rian santai sambil menoleh ke arah mama Wina.


Mama Wina hanya mengangguk membenarkan perkataan suaminya tersebut.


"Ya sudah kalo begitu. Aku gak bisa nolak lagi" tante Desi terkekeh.


Akhirnya mereka bertiga berjalan beriringan menuju parkiran mobil.


Sampai di rumah,


Tante Desi mempersilahkan pasangan tersebut untuk masuk dan duduk di sofa yang ada ruang tamu.


Sementara tante Desi ijin sebentar masuk ke dalam untuk sekedar membuatkan teh.


Papa Rian mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tersebut.


Tidak banyak pernak-pernik di rumah mungil tante Desi.


Semuanya terkesan simpel dan sederhana.


Hanya halaman depan saja yang terbilang cukup luas. Ada ring basket di salah satu sisi halaman.


"Pantas saja Dion suka nginep disini" gumam papa Rian.

__ADS_1


Sebenarnya di rumah papa Rian ada lapangan basket mini juga yang dulu khusus papa Rian buat untuk Dion.


Namun belakangan Dion jarang menggunakannya.


Anak itu juga jarang pulang ke rumahnya sendiri dan selalu memilih pulang ke rumah tantenya.


Tante Desi keluar dengan membawa nampan berisi tiga cangkir teh yang terlihat masih mengepul dan mengeluarkan bau harum.


"Jadi ngrepotin, Des" mama Wina berbasa basi.


"Enggak, mbak. Saya senang kok mbak Wina sama mas Rian mau mampir ke sini" jawab Tante Desi sambil tersenyum senang.


"Dion sering menginap di sini ya?" Gantian papa Rian yang bertanya.


"Iya, mas. Dia juga punya kamar sendiri di sini.


Biasanya anaknya cuma main basket sih sampai malam di halaman depan" jelas tante Desi panjang lebar.


Papa Rian hanya manggut-manggut tanda mengerti.


"Maaf, mbak Wina. Tapi apa Dion masih ketus dan dingin pada mba Wina dan Kevin?" Tanya tante Desi sedikit khawatir.


Mama Wina tertawa kecil


"Mungkin Dion masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri.


Namun sesungguhnya, jauh di dalam lubuk hatinya ada sakit yang tak mampu dijelaskan dengan kata-kata atas sikap ketus Dion kepadanya selama ini.


"Aku akan coba bicara padanya lagi, mbak. Semoga Dion mau merubah sikapnya" harap tante Desi. Ia sebenarnya sangat ingin membicarakan hal ini dengan Dion. Namun anak itu, selalu saja menghindar saat tante Desi baru memulai topik pembicaraan.


Papa Rian melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Sudah sore. Gak berasa ya. Kami pamit dulu Des. Mungkin kapan-kapan kami akan mampir lagi. Atau kamu juga bisa main-main ke rumah Dion kalau senggang" ucap papa Rian berbasa-basi sambil berpamitan.


Ia pun beranjak berdiri diikuti oleh mama Wina dan tante Desi.


Tante Desi mengantarkan keduanya hingga halaman depan.


"Makasih ya, mbak sudah mampir dan mengantar saya pulang" tante Desi memeluk hangat mama Wina.


"Iya Des, kami senang bisa silaturahmi ke sini. Lain kali kamu mampir juga ke rumah ya" balas mama Wina.


Tante Desi hanya mengangguk.


Mama Wina sudah akan masuk ke dalam mobil, namun saat mendengar keributan kecil dari rumah sebelah, mama Wina dan tante Desi bergegas menghampiri sumber suara tersebut.


Ternyata papa Rian sudah ada di sana.

__ADS_1


Ada Dion dan Tasya juga yang entah meributkan apa. Yang pasti suasana di antara mereka bertiga terlihat tegang.


Tante Desi mencoba menyapa Dion yang sepertinya sedang kesal.


Namun anak itu tak menjawab sama sekali dan malah langsung tancap gas dan hanya berpamitan pada Tasya.


Tante Desi sungguh tak habis pikir.


Flashback off


"Kamu temannya Dion?" Gantian mama Wina yang bertanya pada Tasya.


Nada lembut dari mama Wina membuat ketegangan yang tadi sempat dirasakan Tasya sedikit mencair.


"Iya, tante" jawab Tasya sambil menunduk.


"Papa curiga ma, jangan-jangan alesan Dion rajin menginap di rumah tantenya karena gadis ini" Papa Rian berkata sambil terkekeh.


Mama Wina dan Tante Desi pun ikut terkekeh.


"Kami cuma teman kok, Om" jawab Tasya dengan cepat. Tapi sesaat kemudian Tasya merasa menyesal sudah mengatakan hal itu.


Padahal tidak ada yang bertanya apa dia berpacaran dengan Dion. Lalu kenapa Tasya harus membantahnya.


Sontak Tasya semakin menunduk untuk menyembunyikan rasa malunya.


"Iya, Kan tante sama om juga gak bilang kamu pacaran sama Dion" ucap mama Wina masih terkekeh.


"Oh, ya. Siapa nama kamu?" Lanjut mama Wina. Saking asyiknya menggoda gadis itu, ia sampai lupa menanyakan namanya.


"Tasya, Tante" jawab Tasya sedikit lirih.


"Enggak deh. Perasaaan tadi Dion manggil kamu Nat siapa gitu?" Papa Rian malah membantah jawaban dari Tasya.


"Iya, nama saya Natasya, om. Biasa di panggil Tasya. Tapi Dion memang suka manggilnya Nat" jelas Tasya panjang lebar.


'Huh, kenapa aku harus terjebak di situasi rumit seperti ini sih.' Gerutu Tasya dalam hati.


"Ooo panggilan kesayangan" tante Desi dan Mama Wina berucap serempak.


Sontak mereka bertiga kembali tertawa lagi.


Tasya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Ia sudah akan berpamitan, namun suara motor yang mendekat ke arah rumahnya membuat Tasya kembali mengurungkan niatnya.


Tasya melihat dengan seksama siapa yang datang.

__ADS_1


__ADS_2