Natasya

Natasya
SEASON KEDUA: ELENA


__ADS_3

Elena terbangun dengan nafas memburu dan keringat di sekujur tubuhnya.


Wanita itu mengedarkan pandangannya menyapu seluruh sudut ruangan yang gelap tersebut.


Hanya ada cahaya dari lampu taman yang masuk menyusup lewat jendela besar yang ada disisi kamar tersebut.


Ya,


Di sinilah Elena.


Di kamarnya.


Elena mengalihkan pandangannya ke sisi lain ranjang tempat tidurnya.


Meskipun sanar-samar, Elena masih bisa melihat Egi yang masih tertidur pulas di sana.


Elena meraih gelas berisi air putih di atas nakas di samping tempat tidurnya.


Meneguk air putih dingin itu hingga turun membasahi kerongkongannya yang mendadak terasa kering karena mimpinya barusan.


Sudah lama Elena tidak mendapatkan mimpi seperti itu. Tapi kenapa malam ini semuanya terasa begitu nyata?


Elena mengusap wajahnya yang basah oleh keringat.


El menyalakan lampu dan memeriksa bayinya yang tidur di box bayi tak jauh dari tempat tidurnya.


Ya, Rhea masih tertidur lelap di tempatnya.


Elena bisa bernafas lega sekarang.


Suara deru mobil yang masuk ke area garasi membuat El penasaran dan langsung menyibak tirai yang menutupi jendela kamarnya.


El mengintip dan bertanya-tanya, siapa yang datang tengah malam begini?


Terlihat mobil Kiki yang baru saja masuk ke dalam garasi.


El melihat ke arah jam dinding yang tergantung di kamarnya.


Pukul satu dinihari,


"Apa gadis itu sudah gila?" Gumam El tak percaya.


Bergegas El keluar dari kamarnya untuk menghampiri Kiki yang baru pulang.


Kiki masuk ke dalam rumah dengan mengendap-endap.


Sengaja ia melepas sepatunya agar tak menimbulkan suara yang mungkin akan membangunkan kak Egi maupun kak Elena.


Tepat saat Kiki menutup pintu depan, lampu diruangan itu menyala.


Elena sudah berdiri di sana sambil bersedekap.


Tampak raut kemarahan di wajah Elena.


"Darimana kamu?" Tanya Elena sambil melotot tajam ke arah Kiki.


"Bukan urusan kakak" jawab Kiki tak kalah ketus.


Elena berdecak.


Adik iparnya ini, selalu saja membuat masalah.


"Masuk ke kamarmu, dan jangan pernah mengulangi perbuatan seperti ini lagi" ucap Elena tegas.


"Kak El tidak berhak mengatur hidupku" Kiki menjawab masih dengan nada ketus.


Elena sudah akan berbicara lagi, saat tiba-tiba terdengar suara tangis Rhea dari dalam kamarnya.


"Urusan kita belum selesai. Kakak akan menginterogasimu besok pagi" ucap El sambil menunjuk ke arah Kiki.


El bergegas masuk kembali ke dalam kamarnya.


Kiki hanya mencibir kaka iparnya tersebut.


Gadis itu sedikit berlari menaiki tangga menuju ke kamarnya di lantai atas.


Saat masuk ke kamar, El mendapati Egi yang sudah bangun dan sedang menggendong Rhea.


"Kamu darimana, El?" Tanya Egi sembari menguap lebar. Pria itu kelihatannya masih mengantuk.


"Aku kelaparan, jadi aku ke dapur sebentar untuk makan" jawab El berbohong.


El segera mengambil Rhea dari gendongan Egi.


"Istirahatlah, Gi. Kamu harus kerja besok pagi" ucap El masih sambil menenangkan Rhea.


Egi mengecup kening Rhea.


"Kau juga segeralah tidur, kalau Rhea sudah tidur" ucap Egi sambil mengecup singkat bibir Elena.


Elena hanya mengangguk.


Egi merebahkan kembali tubuh lelahnya ke atas tempat tidur. Tak butuh waktu lama dan pria itu sudah kembali terlelap tidur.


Rhea sudah kembali tidur. Elena meletakkan bayinya dengan hati-hati ke dalam box bayi.


Elena kembali keluar dari kamar dan memeriksa ruang depan.

__ADS_1


Benar saja, Kiki tak mematikan lampu dan langsung kabur ke kamarnya.


Bergegas El mematikan lampu di ruangan tersebut sebelum akhirnya ia kembali ke dalam kamar, dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang tempat tidur.


Matanya menatap ke langit-langit kamar.


Mimpinya tadi mendadak kembali memenuhi kepalanya.


El masih tak mengerti.


*****


Dokter Elena atau yang lebih akrab di panggil El oleh keluarga dan teman dekatnya.


Sebelum menikah, Elena adalah seorang putri di keluarganya.


Terang saja, El adalah anak perempuan satu-satunya sekaligus anak bungsu di keluarganya.


El punya dua orang kakak lelaki yang selalu sigap menjaganya.


Kak Devan dan kak Vian. Dua lelaki yang selalu menyayangi dan menjaga El.


Kedua kakaknya juga yang mengenalkan El pada Egi.


Ya,


Devan, Vian, dan Egi adalah sahabat beda usia.


Vian dan Egi adalah teman semasa SMA, sedangkan Devan yang dua tahun lebih muda dari Vian, selalu ikut nimbrung saat Egi dan Via sedang berkumpul. Jadilah mereka tiga sahabat yang akrab.


El sendiri sebenarnya enggan menjalin hubungan dengan seorang lelaki, sejak kejadian di masa lalu yang meninggalkan trauma mendalam menimpa El.


Namun berkat bujukan dari Vian dan Devan, akhirnya El membuka hatinya untuk Egi.


Hubungan El dan Egi memang terbilang singkat.


Hanya butuh beberapa bulan untuk keduanya saling mengenal sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk melenggang ke pelaminan.


El bekerja sebagai dokter kandungan di salah satu rumah sakit yang ada di kota itu.


*****


"Pagi Kak," Kiki yang baru masuk ke ruang makan langsung menyapa Egi.


Gadis itu sudah terlihat segar.


El masih di dapur menyiapkan sarapan.


Rhea duduk di highchair dan sedang disuapi makanan oleh Egi


Kiki menghampiri keponakannya tersebut untuk sekedar menggoda atau mencubit pipinya yang gembul.


"Aku shift malam lagi, Kak. Jadi pagi ini aku dirumah saja" jelas Kiki masih tak mengalihkan pandangannya dari Rhea.


Bayi berumur satu tahun ini sungguh menggemaskan.


Kiki bisa menghabiskan waktu berlama-lama hanya untuk menggoda Rhea atau sekedar mengajaknya bermain.


"Bagaimana denganmu, El," Egi bertanya pada Elena yang kini juga sudah ada di ruangan itu.


El sudah selesai membuat roti isi. Wanita itu menyajikan sarapan di piring Egi, Kiki, dan piringnya sendiri.


"Aku shift siang. Aku berangkat setelah jam makan siang" jelas El.


Egi hanya mengangguk.


El membereskan sisa-sisa makanan di highchair dan di beberapa bagian tubuh Rhea.


Egi dan Kiki sudah menyantap sarapan mereka.


El ikut duduk dan menyantap roti isinya, saat terdengar suara yang tak asing menyapa mereka semua.


"Pagi semuanya" Raka, sahabat sekaligus asisten Egi menyapa semua yang ada di ruangan itu dengan wajah ceria.


"Pagi, Ra. Tumben pagi-pagi udah datang?" Egi yang membalas sapaan dari Raka.


Kiki dan El masih sibuk dengan sarapan mereka.


"Kita ada meeting pagi ini" ujar Raka singkat.


Ia menyapukan pandangan ke atas meja makan.


"Apa tidak ada sisa makanan untukku? Aku belum sarapan" Raka melontarkan pertanyaan yang membuat Egi dan El tertawa.


Segera saja El masuk ke dapur untuk mengambilkan sarapan untuk Raka.


"Hai Rhea cantik" sementara menunggu sarapannya, Raka memilih untuk menyapa Rhea yang sibuk bermain di highchair nya.


Raka hendak mencium Rhea, saat Kiki memukul tangannya.


"Jangan lakukan itu!" Ucap Kiki galak.


Sedari tadi Kiki memang duduk di dekat Rhea.


"Kenapa? Aku hanya ingin mencium pipi Rhea yang gembul ini" Tanya Raka polos


"Tidak ada yang tahu kau habis mencium berapa wanita sebelum masuk ke rumah ini. Jadi bibirmu itu pasti penuh bakteri. Kau bisa saja menularkan penyakit pada Rhea" ujar Kiki panjang lebar.

__ADS_1


Egi yang sudah menghabiskan makanannya tergelak mendengar kata-kata dari Kiki.


Adiknya itu terkadang memang over protective terhadap Rhea.


Padahal El yang merupakan mamanya Rhea saja tidak sampai seperti itu.


Sementara itu Raka hanya manyun mendengar kata-kata Kiki.


"Aku tidak se-playboy itu, Ki" Raka membela diri.


"Siapa yang tahu?" Jawab Kiki ketus


El sudah kembali dari dapur membawa piring berisi makanan untuk Raka.


"Makanlah, Ra" ucap El sambil menyodorkan piring kepada Raka.


"Terima kasih dokter El" jawab Raka sambil mendudukkan bokongnya di kursi di samping Egi. Raka langsung menikmati sarapan gratisnya.


"El. Panggil saja El.


Kamu bukan pasienku dan kita tidak sedang di rumah sakit" protes El merasa risih.


Raka hanya meringis dan tak menyahut lagi.


"Cepatlah menikah, Ra. Biar ada yang membuatkanmu sarapan setiap pagi" nasehat Egi pada sahabatnya tersebut.


"Aku masih mencari bidadari yang mau menjadi istriku, Gi" jawab Raka sambil melirik ke arah Kiki yang sedang sibuk bermain bersama Rhea.


Sejak awal melihat gadis itu, Raka merasakan perasaan yang tak biasa.


Ya, meskipun kadang Kiki bersikap ketus kepadanya, tetap saja jantung Raka selalu berdebar-debar jika ada di dekat Kiki.


"Kau sudah terlalu tua untuk itu. Minta saja Egi mencarikan istri untukmu" Elena ikut-ikutan menimpali.


"Maaf aku tak ada waktu" sahut Egi sambil terkekeh. Elena ikut terkekeh.


"Baiklah, sebaiknya kita berangkat sekarang. Ayo Raka!" Egi menepuk punggung Raka yang sudah selesai menghabiskan sarapannya.


Egi mencium kening Elena dan berpamitan pada istrinya tersebut.


Tak lupa, Egi juga berpamitan pada Kiki dan Rhea.


Raka beranjak dari duduknya,


"Terima kasih, El untuk sarapan gratisnya. Aku pergi dulu" pamit Raka pada El.


El hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Bye, baby Rhea" Raka hanya mentowel pipi gembul Rhea. Ia tak mau kena semprot dari Kiki lagi karena mencoba untuk mencium Rhea.


"Bye juga, putri Kiki." Pamit Raka sambil menggoda Kiki.


"Pergilah!" Jawab Kiki judes. Bukannya marah, Raka malah cengengesan sambil berlalu menyusul Egi yang sudah sampai di teras.


Elena membereskan piring-piring yang ada di atas meja, membawanya ke dapur.


"Jadi, darimana kamu semalam?" Tanya El pada Kiki yang masih saja asyik mengajak Rhea bermain.


"Pesta" jawab Kiki singkat. Gadis itu bahkan tidak menoleh ke arah kakak iparnya.


"Berapa kali kakak harus mengingatkanmu, Ki. Jangan pulang lewat dari jam sebelas malam" ucap El sedikit emosi.


"Kiki baru pulang dari rumah sakit jam sembilan, Kak. Kiki juga butuh hiburan" Kiki mencari alasan.


El hanya berdecak.


"Banyak hal lain yang bisa kamu lakukan selain pergi ke pesta-pesta tak jelas seperti itu" ujar El lagi.


Kiki hanya memutar bola matanya.


"Itu urusanku, kak. Kakak tak perlu ikut campur atau mengatur-atur hidupku" tukas Kiki dengan nada sedikit ketus.


"Ya, itu memang urusanmu. Tapi kalau Egi sampai tahu kelakuanmu, dia akan mengamuk dan marah besar" Elena mengingatkan.


Kiki hanya mencibir.


"Kak Egi tidak akan tahu. Bukankah kak El selalu melindungiku dan menutupi perbuatanku?" Kiki sudah beranjak dari duduknya dan pergi berlalu meninggalkan kakak iparnya tersebut.


Elena sungguh tak percaya dengan ucapan Kiki barusan.


Tak bisa di pungkiri, selama ini memang dirinya selalu menutupi perbuatan Kiki.


Tak jarang El harus berbohong pada Egi demi melindungi Kiki.


Elena hanya ingin memperbaiki hubungannya dengan Kiki dan berusaha menjadi kakak ipar yang baik untuk Kiki.


Tapi El tidak tahu kalau semuanya justru akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.


El menggendong Rhea dan membawanya keluar dari ruangan itu.


El akan memikirkan soal Kiki nanti saja.


*****


Note: Devan, kakaknya Elena di sini sama dengan Devano yang ada di novel "ISTRI KEMBARANKU", teman dari Daffa dan Raka yang juga merupakan bartender di klub tempat Daffa mabuk (episode 18)


Bingung ya? Hahaha

__ADS_1


Author juga bingung.


__ADS_2