Natasya

Natasya
Akhir Bahagia


__ADS_3

Hamparan pasir putih tampak berkilauan tertimpa sinar matahari sore.


Suara deburan ombak yang bergulung dan berlarian ke arah pantai menimbulkan suara syahdu yang membuat suasana sore itu semakin romantis.


Tepi pantai itu kini sudah di sulap menjadi tempat dilangsungkannya pernikahan Dion dan Tasya.


Kursi tamu berwarna putih berjejer dengan rapi membentuk sebuah barisan panjang.


Ada panggung kecil di ujung barisan, yang akan menjadi tempat kedua mempelai mengikat janji pernikahan.


Dekorasi bunga serba putih semakin menambah kesan romantis di tempat tersebut.


Semua tamu yang hadir berpakaian serba putih, seperti permintaan kedua mempelai.


Tak banyak tamu yang hadir, kebanyakan hanya keluarga dekat dan sahabat Dion maupun Tasya.


Suasana pesta yang sederhana namun romantis, seperti yang selalu diimpikan oleh Tasya.


Matahari sudah hampir menuju garis cakrawala.


Tasya sudah berdiri di ujung jalan kecil yang akan membawanya ke panggung pelaminan, dimana Dion sudah siap.menunggunya untuk mengucapkan janji suci pernikahan mereka.


Gaun pengantin putih dengan potongan sederhana namun membalut pas di tubuh Tasya membuat gadis itu terlihat cantik dan menawan.


Senyuman terus merekah di bibir Tasya, menandakan bahwa gadis itu benar-benar sedang bahagia sekarang.


Tasya menggamit erat tangan papa Anton yang akan mengantarnya menuju ke panggung pelaminan, bertemu dengan calon pangerannya, Dion.


Tak berbeda jauh dari Tasya, Dion yang mengenakan setelah kemeja dan jas serba putih tampil begitu gagah dan tampan sore ini.


Senyuman juga tak lepas dari bibir Dion sedari tadi.


Ia terus memandang Tasya dari kejauhan, seolah tak sabar lagi untuk segera membawa gadis itu ke dalam pelukannya.


Tasya berjalan perlahan sambil terus menggandeng tangan sang papa.


Berjalan menyusuri lorong kecil di antara barisan kursi tamu undangan yang hadir.


Lorong kecil yang penuh dengan taburan bunga-bunga berwarna putih, yang akan membawa Tasya menuju ke arah panggung pelaminan di mana Dion sudah menunggunya sekarang.


Semua keluarga dan sahabat dekat Tasya duduk di sana, di kiri dan kanan lorong yang Tasya lalui. Mereka seolah larut dalam suasana sakral nan romantis ini. Tentu saja mereka semua ikut bahagia menyaksikan kebahagiaan Tasya sore ini.


Tasya sudah sampai di ujung lorong itu sekarang.


Dion masih tersenyum menatap calon pengantinnya tersebut.


Papa Anton mengecup kening putri semata wayangnya tersebut, sebelum melepaskan tangan Tasya dan memberikannya pada Dion bersamaan dengan restu untuk kedua mempelai tersebut.


Kini Papa Anton akan menyerahkan tanggung jawab putrinya itu pada Dion sepenuhnya.


Papa Anton yakin, Dion adalah pria baik yang akan selalu menjaga dan melindungi Tasya.


Dion menggenggam erat kedua tangan Tasya. Netra keduanya bertemu dan saling menatap dengan pwnuh cinta.


Senyuman masih belum hilang dari bibir keduanya.


Inilah saatnya pengucapan janji suci pernikahan.


Janji suci yang akan menyatukan dua hati untuk terus setia hingga maut memisahkan.


"Aku bersumpah untuk selalu mencintaimu dalam segala keadaan, dalam sehat maupun sakit, dalam senang maupun susah, dalam segala keadaan hingga rambut kita,berdua memutih dan kita menua bersama. Aku akan tetap mencintaimu, hingga maut memisahkan" ucap Dion begitu dalam dan bersungguh-sungguh.


Mata Tasya berkaca-kaca mendengar janji suci yang tulus dari Dion.


"Aku juga bersumpah untuk selalu mencintaimu dalam segala keadaan, menjadi istri yang baik untukmu, menjadi teman berbagi untuk semua masalahmu.

__ADS_1


Aku akan terus mencintaimu hingga nanti kita menua bersama. Terima kasih karena telah menerimaku apa adanya" balas Tasya sambil menatap dalam ke arah netra milik Dion.


Butir bening sudah jatuh di pipi Tasya.


Sebuah airmata kebahagiaan karena pada akhirnya Tasya resmi menjadi istri Dion sekarang.


Dion langsung mengecup bibir Tasya setelah keduanya sah dinyatakan sebagai sepasang suami istri.


Semua tamu yang hadir langsung bertepuk tangan dan bersorak gembira.


Rasa haru dan kebahagiaan membaur menjadi satu di tepi pantai itu bersamaan dengan turunnya matahari di garis cakrawala.


Kini Dion dan Tasya sudah resmi menjadi suami istri.


*****


Semburat oranye di garis cakrawala perlahan berubah menjadi gelap.


Matahari sudah kembali ke peraduannya menyisakan langit malam yang hitam bertabur kelap-kelip bintang.


Kelap-kelip lampu kini mulai terlihat di tepi pantai, dimana Dion dan Tasya menyelenggarakan pesta pernikahan mereka.


Suasana hangat dan romantis masih terus terasa di sana.


Tasya dan Dion sudah membaur dengan tamu undangan yang hadir.


Sebuah pesta pernikahan bertema casual dan santai membuat Tasya dan Dion bebas bercengkerama dengan sahabat dan keluarga besar mereka.


Para tamu kini duduk di meja-meja bulat yang sudah disusun sedemikian rupa.


Mereka menikmati hidangan dan pemandangan malam hari di pantai dengan alunan musik santai.


"Bersulang untuk Tasya dan Dion" empat wanita yang kini duduk di salah satu meja mengangkat gelas mereka tinggi-tinggi dan saling bersulang untuk merayakan kebahagiaan salah satu sahabat mereka yang kini juga ikut duduk di antara mereka.


"Akhirnya, dokter muda kita ini melepas masa lajangnya bersama pangeran impian" ucap Vina bersemangat sambil melihat ke arah Tasya yang kini sudah duduk di meja yang sama.


Lagi-lagi mereka reuni untuk kesekian kalinya.


"Sungguh kisah cinta yang berliku. Semoga kalian berdua bahagia dan punya banyak anak" timpal Silvi sambil terkekeh.


Sontak hal itu membuat ketiga sahabatnya ikut tertawa.


"Terima kasih karena kalian semua menyempatkan hadir di pesta pernikahanku" ucap Tasya tulus sambil bergantian melihat ke arah ketiga sahabatnya tersebut.


"Kami ikut bahagia, Sya. Semoga pernikahanmu dengan Dion langgeng hingga kalian menua bersama" ucap Salsa sambil menggenggam tangan sahabatnya tersebut.


Salsa tahu betul bagaimana Tasya dan Dion saling memperjuangkan hubungan mereka hingga akhirnya mereka bisa ditahap seperti sekarang ini.


"Apa setelah ini kamu akan pindah ke Jakarta, Sya?" Tanya Vina penasaran.


Tasya mengangguk dengan cepat.


"Dion sudah menyiapkan sebuah apartemen untuk kami berdua. Jadi aku akan langsung pindah kesana" jawab Tasya menerawang.


Ia memandang Dion yang kini juga sedang mengobrol dengan tamu yang lain.


Tasya selalu ingin tersenyum saat memandang lelaki itu.


Dirinya beba-benar seperti remaja yang sedang kasmaran sekarang.


"Kita jauhan lagi berarti, ya. Aku bakalan kangen sama kalian bertiga" ucap Silvi dengan nada melow.


Vina dan Salsa kompak mencibir.


"Bukannya sejak dulu kamu yang suka menjauh dari kita bertiga" sahut Vina menanggapi ucapan Silvi.

__ADS_1


"Yup, benar kata Vina" Salsa ikut-ikutan menimpali.


"Mungkin kita bisa reunian lagi saat kalian berdua lahiran nanti" Tasya berusaha menengahi.


Ia menunjuk ke arah perut buncit Silvi dan Vina.


Entah kebetulan atau bagaiamana kedua sahabat Tasya itu bisa hamil bersamaan. Bahkan usia kandungan keduanya hanya selisih satu minggu saja.


"Tapi ngomong-ngomong apa kalian kemarin bulan madunya double date? Bisa bareng-bareng gini hamilnya" Salsa sedikit terkekeh dengan pertanyaannya sendiri.


"Ngaco loe. Ini kan kebetulan aja, Sal" Silvi mencoba membela diri.


Vina ikut mengangguk membenarkan ucapan Silvi.


"Aku kira Julian dan Denny sengaja janjian sebelum menghamili istrinya masing-masing" kali ini Salsa berkata sambil tergelak.


Tasya ikut-ikutan tertawa mendengar lelucon dari Salsa barusan.


Sementara Silvi dan Vina kompak mencebik karena merasa menjadi bahan ejekan Salsa.


"Mungkin kalian berdua harus mencobanya. Janjian untuk hamil bersama. Aku rasa Flo sudah siap punya adik" Silvi berkata tajam pada Salsa yang masih saja tertawa.


Namun Salsa langsung menggeleng dengan cepat.


"Tidak, Flo masih terlalu kecil untuk punya seorang adik. Aku akan menundanya beberapa tahun lagi." Salsa membantah saran dari Silvi.


"Tapi kau tak perlu menundanya, Sya. Kau bisa langsung mempraktekkannya bersama Dion malam ini" Vina menimpali dengan santai perkataan Salsa barusan sambil melihat ke arah Tasya


Ibu satu anak itu benar-benar berkata dengan blak-blakan.


Wajah Tasya langsung merona merah.


Tasya bahkan belum membayangkan apa yang akan terjadi malam ini antara dirinya dan Dion.


"Hahaha" Salsa dan Silvi langsung kompak tertawa.


"Sudahlah, aku akan menemui tamu lain" Tasya sudah beranjak dari duduknya dan hendak pergi.


"Menemui tamu lain atau mau ngajakin Dion ke kamar?" Vina masih tak berhenti menggoda Tasya.


Tasya berusaha untuk mengabaikannya saja dan memilih membaur bersama tamu yang lain.


Acara malam itu terus berlanjut hingga malam semakin larut.


Pesta ditutup dengan pertunjukan kembang api.


Dion merangkul Tasya dengan mesra, menikmati kembang api yang kini memenuhi langit malam di pinggir pantai tersebut.


"Kamu bahagia?" Tanya Dion sedikit berbisik di telinga Tasya.


Tasya mengangguk dengan cepat.


"Terima kasih untuk semuanya, Di. Aku sangat bahagia sekarang" jawab Tasya dengan mata berbinar.


Dan sekali lagi Dion mengecup bibir istrinya tersebut.


Semua mimpi indah Tasya benar-benar terwujud.


Tasya merasa beruntung karena banyak bertemu dengan orang-orang baik dalam hidupnya.


Dan yang terbaik dari semua ini, Tasya merasa beruntung memiliki Dion, pria yang benar-benar tulus mencintainya dan menerima dirinya apa adanya.


Pria yang selalu ada untuknya kini hingga nanti.


*******

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2