
Suara motor yang mendekat ke arah rumah tante Desi membuyarkan lamunan Dion.
Dion melihat ke arah luar pagar untuk melihat siapa yang datang.
Tasya terlihat turun dari atas motor seorang pria yang Dion sendiri tak tahu itu siapa.
Namun dari gesture keduanya, sepertinya ada sebuah kedekatan diantara mereka.
Tasya tampak berbincang sebentar dengan pria yang masih memakai helm tersebut sesaat setelah turun dari motornya.
Hati Dion mendadak terasa panas.
Dion mendengus kesal.
Secepat itukah Tasya move on dan menemukan pengganti dirinya?
Lalu apa arti dari airmata Tasya tempo hari saat dirinya bertemu Tasya di panti?
Tasya sudah selesai berbincang dan segera melambaikan tangannya pada pria yang mengantarnya tadi. Setelah pria itu pergi, barulah Tasya bergegas masuk ke dalam pagar rumah tante Desi.
Dion langsung masuk ke dalam menemui tantenya.
"Dion langsung balik, tante" ucap Dion ketus. Ia menyambar tas ranselnya yang berada di atas sofa.
"Kok buru-buru, Di. Tasya belum pulang lho" tanya tante Desi heran.
Tadi bukankah Dion kesini karena ingin bertemu Tasya? Kenapa sekarang mendadak dia ingin pergi cepat-cepat.
"Dion harus latihan untuk pertandingan besok. Pelatih sudah telpon barusan" jawab Dion berbohong.
Ia sudah merasa malas bertemu dengan Tasya.
Dion sudah tahu mengapa Tasya meminta waktu saat dirinya ingin memperbaiki semua.
Gadis itu hanya ingin menghindar.
Sekali lagi Dion mendengus kesal.
Ia berjalan dengan tergesa keluar dari rumah tante Desi.
Dion berpapasan dengan Tasya di teras, namun Dion memilih untuk mengabaikan Tasya.
"Hai, Di..." Tasya yang tadinya ingin menyapa Dion langsung mengurungkan niatnya setelah melihat wajah ketus dari Dion.
Tasya sungguh tak mengerti apa yang sudah terjadi pada pria itu.
Tempo hari dia begitu manis dan lembut saat memintanya untuk kembali, lalu kenapa hari ini mendadak sikapnya menjadi ketus seperti itu?
Apa karena Tasya yang tak kunjung memberikan jawaban?
Tasya membuka ponselnya untuk melihat jadwal pertandingan tim Dion.
__ADS_1
Sengaja Tasya menyimpan jadwal itu agar dirinya bisa menonton meskipun kadang hanya lewat layar ponselnya.
Seri terakhir kompetisi memang di adakan di kota ini.
Dan besok tim Dion akan bertanding.
Sepertinya Tasya akan datang dan memperjelas hubungan yang rumit ini.
Entahlah, Tasya tak tahu mengapa semua jadi serumit ini.
Dirinya dan Dion bahkan sudah tak ada ikatan apapun saat ini.
"Loh, Sya. Kamu udah pulang? Ketemu sama Dion gak di depan?" Tanya tante Desi
"Dion? Dia kesini?" Tasya pura pura tidak tahu.
"Iya, dia tadi nungguin kamu. Tapi baru saja dia pergi. Keliatan terburu-buru. Mau latihan kayaknya" jelas tante Desi.
"Oh, mungkin kelamaan nungguin Tasya, tante" ucap Tasya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Apa kalian berdua sudah baikan?" Tanya tante Desi lagi.
Sebuah pertanyaan sederhana, namun sukses membuat Tasya bingung untuk menjawabnya.
"Mungkin, kami sudah ngobrol beberapa hal tempo hari" jawab Tasya sedikit ragu.
Tante Desi tersenyum simpul,
Tasya menghela nafas,
"Tasya tahu, tante. Tasya akan secepatnya ngasih jawaban ke Dion" ucap Tasya mantap.
"Baguslah kalau begitu," tante Desi tersenyum senang.
"Tasya ke kamar dulu, tante" pamit Tasya akhirnya. Ia sungguh lelah dan ingin beristirahat.
Tante Desi mengangguk. Tasya segera beranjak dan masuk ke kamarnya.
*****
Dion mendrible bola dengan emosi dan melemparkannya ke ring berulang kali.
Entah mengapa lemparannya selalu saja meleset.
Dion sedang kesal. Ia melempar bola yang tidak bersalah itu dengan kasar.
"Di...Dion!!" Julian yang baru saja datang sedikit heran melihat Dion yang berlatih dengan wajah merah padam.
Bukan Dion yang biasanya.
Dion tak menggubris panggilan dari Julian. Dion terus saja meluapkan semua amarah dan kekesalannya.
__ADS_1
"Di!!" Julian berteriak memanggil Dion. Ia segera merebut yang ada di tangan Dion.
"Loe kenapa sih, Di?" Tanya Julian heran
"Balikin bola gue, Ju" kata Dion ketus. Ia melotot tajam pada Julian.
"Loe kenapa? Latihan tapi kayak orang kesetanan begitu" ucap Julian tak kalah ketus.
"Bukan urusan loe" sahut Dion sambil berusaha merebut bola yang tadi di ambil oleh Julian.
"Loe ada masalah lagi dengan Tasya?" Tanya Julian serius.
"Gak usah bawa-bawa nama dia lagi. Gue udah gak peduli" jawab Dion berapi-api.
Julian mengernyit tak mengerti.
Bukankah tadi Dion pamit ke rumah tante Desi untuk menemui Tasya? Kenapa sekarang dia bilang udah gak peduli lagi sama Tasya.
Sungguh aneh.
"Apa Tasya nolak loe?" Julian masih tak menyerah dan terus bertanya meskipun Dion mengabaikannya.
"Gue udah gak butuh jawaban dari dia. Semua udah jelas. Tasya udah move on. Dia udah dapat cowok lain yang mungkin lebih baik dan gak pengecut kayak gue" jawab Dion penuh emosi.
Dion melempar sembarangan bola yang tadi ada di tangannya.
Julian masih tak percaya dengan kata kata Dion barusan.
Secepat itukah Tasya move on dari Dion?
"Loe bener, Ju. Mungkin gue emang gak berjodoh sama Tasya. Mungkin sudah saatnya gue berhenti dan membiarkan Tasya menjalani hidupnya yang sekarang bersama pria pilihannya" Kini Dion tertunduk lesu.
Jauh di dalam hatinya, Dion merasakan sakit yang entah apa namanya.
"Loe yakin gak mau nanya dulu ke Tasya? Terakhir saat loe narik kesimpulan sendiri, Tasya pergi ninggalon loe" Julian kembali mengingatkan tentang kesalahpahaman Dion dan Tasya beberapa tahun silam yang mengakibatkan hubungan keduanya berakhir.
"Gue belum siap, Ju. Gue bingung" Dion mengusap wajahnya dengan kasar.
Laki-laki itu terduduk lesu di tengah lapangan.
Julian menepuk punggung sahabatnya tersebut, lalu ikut duduk bersamanya.
Julian merasa prihatin dengan kisah cinta Dion dan Tasya yang entah kenapa jadi serumit ini.
Dulu Julian selalu berpikir, jika pasangan ini adalah pasangan ideal yang sudah pasti akan melenggang hingga ke pelaminan. Namun nasib siapa yang tahu?
Satu insiden terjadi dan langsung membuat semuanya menjadi kacau dan rumit seperti sekarang
"Sesakit apapun itu, loe tetap harus menghadapinya, Di. Loe gak bisa terus-terusan lari dari ini semua" nasehat Julian bijak.
Dion hanya diam masih mencoba mencerna kata kata sahabatnya tersebut sambil meratapi kisah cintanya yang entah mengapa jadi serumit ini.
__ADS_1