Natasya

Natasya
Menonton Pertandingan


__ADS_3

Dion memasuki tempat parkir gedung tersebut.


Rupanya Denny dan Rizky juga baru sampai.


Keduanya datang bareng memakai satu mobil karena memang mereka tinggal di kompleks perumahan yang sama.


"Hai bro" sapa Denny pada Dion dan yang lainnya.


Setelah bertegur sapa seperlunya mereka, berenam masuk bersama,ke dalam gedung tersebut.


Tasya tetap mengekor di belakang Dion. Ini pertama kalinya dia menonton pertandingan basket.


"Nat, kamu duduk di sana aja" Dion menunjuk ke deretan kursi di bagian courtside yang lumayan dekat dari lapangan utama.


Tasya mengangguk tanda mengerti.


"Kita harus siap-siap dulu soalnya" ucap Dion selanjutnya.


"Good luck, Di" kata Tasya sambil tersenyum tulus.


Dion mengangguk dan segera menyusul teman-temannya menuju ruang ganti.


Tasya duduk di courtside baris nomor dua dari depan.


Suasana sudah cukup ramai. Semua yang hadir di tempat itu terlihat asing bagi Tasya. Jadi ia putuskan untuk fokus melihat pertandingan saja.


Semua pemain sudah memasuki court dan mulai bersiap untuk lemparan bola pertama.


Tasya melihat pelatih baru serta guru olahraganya, Pak Heri duduk di bangku pemain dari tim sekolahnya.


Quarter pertama sudah dimulai. Kini Tasya kembali fokus ke court untuk melihat Dion bermain.


Hatinya bahagia bisa melihat langsung pertandingan Dion.


*****


4x10 menit pertandingan sudah berlangsung.


Dion dan tim berhasil mengalahkan lawan mereka dengan skor beda tipis.


Tasya dan penonton yang lain bersorak gembira.


Seorang gadis berkacamata tiba-tiba duduk dibangku kosong di sebelah Tasya.

__ADS_1


Tasya tak terlalu memperhatikannya, ia masih fokus melihat ke tengah court.


Namun tiba-tiba gadis di sebelah Tasya tersebut mengeluarkan perkataan yang membuat Tasya sedikit terkejut


"Dasar cewek serakah. Gak cukup macarin adiknya masih aja ganjen sama kakaknya" ucap gadis itu ketus sembari berdiri dan segera meninggalkan bangku penonton.


Berjalan cepat sampai akhirnya menghilang di pintu keluar bersamaan dengan penonton lain yang juga mulai bubar.


Tasya tercengang, apa kata-kata dari gadis asing barusan ditujukan untuk dirinya?


Siapa gadis itu?


Tasya bahkan tidak mengenalnya dan baru melihatnya satu kali ini.


Lalu kenapa dia sok tahu dengan kehidupan Tasya?


Berbagai macam pertanyaan memenuhi kepala Tasya.


"Ehem" deheman dari seorang laki laki membuyarkan lamunan Tasya tentang gadis asing barusan.


Tasya menoleh dan sedikit terkejut melihat siapa yang kini tengah duduk di sampingnya.


Orang itu sepertinya sedang melihat Tasya dengan pandangan yang tak biasa.


"Bukan pacar ya? Tapi latihan ditungguin, pertandingan ditungguin, pulang pergi bareng" sindir Pelatih Ronny.


Entah mengapa dia sedikit risih dengan pelatih baru tim basket tersebut.


"Aku bukan bapakmu nona. Kamu bisa memanggilku dengan sebutan lain selain bapak. Karena aku belum menjadi bapak-bapak" ujar pelatih Ronny sedikit kesal.


Tasya hanya memutar bola matanya. Ia pun sama kesalnya karena pelatih resek ini yang tiba-tiba menghampiri dirinya.


Apa dia tak ada kerjaan lain?


"Apa kau artis? Atau bintang iklan?" Tanya pelatih Ronny tiba-tiba.


Sontak Tasya langsung ternganga dengan pertanyaan aneh itu.


"Apa anda sedang mengejek?" Tasya merasa tak terima.


Pelatih Ronny langsung tertawa terbahak.


"Tidak, hanya saja aku seperti tidak asing dengan wajahmu. Apa kita pernah berjumpa sebelumnya?" Tanya pelatih Ronny lagi.

__ADS_1


Tasya semakin ternganga.


"Saya bahkan tak mengenal anda" jawab Tasya ketus


"Oh, ya. Siapa nama kamu?" Pelatih Ronny kembali bertanya, baru saja Tasya akan menjawabnya.


Namun sebuah suara membuat Tasya batal menjawab pertanyaan dari pelatih Ronny


"Nat," suara Dion membuat Tasya segera menoleh dan melihat Dion yang kini sedang berdiri dengan wajah bingung karena Tasya ngobrol dengan Pelatih reseknya itu.


"Hai, Dion. Sudah selesai?" Jawab Tasya dengan cepat. Sedikit berbasa-basi dan berusaha mengabaikan pelatih yang masih ada disebelahnya tersebut.


"Kau dan pelatih sedang berbicara apa?" Tanya Dion sedikit ragu.


Pelatih Ronny yang merasa dicurigai bergegas berdiri dan berjalan menghampiri Dion.


"Kerja tim yang bagus Dion" ucap pelatih Ronny sambil menepuk punggung Dion dan segera berlalu meninggalkan Dion dan Tasya.


Dion memandang Tasya seolah menodongkan pertanyaan yamg membuat Tasya menarik nafas panjang.


"Dia tiba-tiba menghampiriku dan menanyakan pertanyaan aneh," jawab Tasya mencoba menjelaskan.


Padahal Dion belum bertanya apapun pada Tasya.


"Pertanyaan aneh macam apa?" Tanya Dion penasaran.


Ia sudah duduk di sebelah Tasya sekarang.


Tasya mengendikkan bahunya sebelum menjawab


"Dia merasa tak asing dengan wajahku jadi dia bertanya apa aku mengenalnya.


Aku bahkan baru bertemu dengannya di sekolah waktu kamu latihan dan hari ini. Aku benar-benar tak mengenalnya" jawab Tasya merasa yakin.


Sesaat Dion terdiam. Ia kembali teringat pada dugaannya waktu itu.


'Apa benar kak Ronny yang selama ini di cari Tasya adalah pelatih reseknya itu?'


Namun kemudian Dion menggeleng dengan cepat dan berharap dugaannya kali ini salah besar


"Di, ada apa?" Tanya Tasya khawatir karena Dion tiba tiba terlihat melamun seperti memikirkan sesuatu.


"Tidak ada apa-apa.

__ADS_1


Pulang yuk.


Anak-anak udah nungguin di parkiran" Dion meraih tangan Tasya dan segera menggandengnya berjalan menuju tempat parkir.


__ADS_2