Natasya

Natasya
Idola


__ADS_3

Kiki dan Tasya sudah sampai di gedung olahraga tempat mereka akan menonton pertandingan basket hari ini.


"Kok pake masker sih, Sya?" Tanya Kiki heran. Tidak biasanya temannya ini mengenakan masker.


"Aku lagi batuk. Uhuk uhuk" Tasya pura pura batuk di depan Kiki demi meyakinkan gadis tersebut.


Yang benar saja, Tasya bahkan baru tahu kalau Kiki memesan tempat duduk di courtside barisan depan.


Jika dirinya tidak memakai masker, Tasya takut Dion akan melihat dan langsung mengenalinya.


Tasya hanya belum siap jika harus bertatap muka dengan Dion.


Tasya takut pertahanannya selama ini, Serta usahanya untuk melupakan Dion berakhir sia-sia.


Kiki hanya mengendikkan bahu.


"Yaudah, kita masuk yuk!" Ajak Kiki sambil menarik tangan Tasya.


Gadis ini selalu saja menarik-narik tangan Tasya setiap kali akan mengajak ke suatu tempat.


Tasya hanya bisa menghela nafas.


Tasya dan Kiki sudah duduk bersama penonton lain di courtside barisan depan.


Tasya masih sedikit was was. Ia berharap Dion benar benar tak mengwnalinya kali ini.


'Huh, kenapa aku secemas ini. Lagipula, Dion pasti fokus bermain. Gak mungkin juga dia liatin satu persatu wajah penonton' Tasya menggerutu dalam hati.


Merutuki dirinya sendiri yang mendadak merasa grogi padahal tidak sedang bertemu orang spesial.


Entahlah.


Hampir dua tahun tak bertemu langsung dengan Dion mendadak membuat Tasya menjadi grogi karena hari ini dirinya akan bisa melihat Dion secara langsung tanpa terhalang layar ponsel nya.


"Aaaa... Dion main. Yeeay" Kiki bersorak kegirangan saat para pemain mulai memasuki lapangan.


Teriakan Kiki yang cukup melengking membuat Tasya harus menutup telinganya. Menurut Tasya tingkah Kiki kali ini lumayan lebay.


"Apaan sih, Ki." Ujar Tasya sedikit kesal.


"Itu, Dion ganteng, Sya. Liatin deh" Kiki menunjuk ke arah pemain yang mengenakan jersey bernomor delapan.


Sesaat Tasya ingat...


["Kamu suka angka berapa?" Tanya Dion suatu hari pada Tasya


"Delapan" jawab Tasya singkat.


"Kenapa?" Tanya Dion lagi.


"Kamu lihat, angka delapan punya garis yang saling berhubungan dan tak terputus. Aku ongin semua harapan dan doa aku seperti itu, tak pernah putus sampai aku bisa meraihnya" Tasya menuliskan angka delapan di sebuah kertas sambil menjelaskan sebuah filosofi pada Dion.


Dion mengangguk


"Semoga hubungan kita juga tidak akan pernah putus" ucap Dion sambil menggenggam erat tangan Tasya


"Aamiin" ucap Tasya sambil tersenyum]

__ADS_1


Tasya tersenyum kecut karena harus kembali mengingat momen itu. Kenapa baru sekarang dirinya ingat?


Padahal Tasya sudah sering melihat pertandingan Dion.


'Kenapa dia masih saja memakai nomer itu?' Gumam Tasya dalam hati.


"Sya, kok kamu melamun" Kiki yang melihat sahabatnya tersebut sedang melamun segera menegur Tasya.


"Enggak. Siapa yang melamun. Aku lagi liatin para pemain" Tasya berusaha menyangkal.


"Uuh, akhirnya aku bisa liat langsung Dion main. Gak sabar deh nanti mau minta foto bareng sama dia" Kiki lagi lagi bertingkah lebay.


Tasya hanya memutar bola matanya. Tasya kembali melihat ke tengah lapangan. Quarter pertama sudah dimulai.


Pandangan Tasya fokus pada Dion.


Perasaannya saja atau Dion memang terlihat lebih tampan sekarang?


'Ya Tuhan, perasaan apa ini' Tasya berusaha membuang jauh perasaannya pada Dion.


Ia tidak mau berharap apapun. Tasya tidak mau kecewa dan patah hati lagi.


Sampai kapanpun, dirinya tak akan pernah pantas untuk Dion.


"Huh, andai Dion masih jomblo, aku mau deh jadi ceweknya" Kiki mulai berandai-andai.


Namun kata-kata Kiki barusan membuat Tasya penasaran


"Emang dia udah punya pacar ya?" Tanya Tasya penasaran


Tasya mengernyitkan kedua alisnya. Sesaat ada nyeri di sudut hatinya.


Bukankah seharusnya ia bahagia karena pada akhirnya Dion menemukan gadis lain yang memang pantas untuknya?


Namun kenapa perasaan Tasya malah jadi tak karuan begini. Tasya cemburu, tentu saja.


Tasya kembali fokus melihat Dion yang sedang bermain.


Tapi entah mengapa kilas kilas masalalu saat Tasya masih bersama Dion terus saja berkelebat di benak Tasya.


Senyuman Dion, tawa lepasnya, sudah lama Tasya tidak melihat itu semua.


Dion yang romantis dan selalu menjaganya, Tasya benar benar rindu itu semua. Perasaan macam apa ini?


Mata Tasya terasa panas. Tasya benar benar ingin menangis sekarang.


Dion ada di depan matanya,


Dulu Dion akan melambaikan tangan atau melemparkan sebuah senyuman ke arahnya setiap kali Tasya datang menonton pertandingan.


Namun kini, semua itu hanyalah tinggal kenangan.


Tasya mengusap butir bening di matanya sebelum jatuh ke pipi.


Tasya tak mau ketahuan Kiki kalau dirinya tengah menangis karena rindu pada Dion.


Priiit

__ADS_1


Peluit panjang tanda pertandingan sudah usai membuyarkan semua lamunan Tasya.


Para pemain sudah kembali ke bench masing masing.


Satu persatu penonton juga mulai membubarkan diri.


Tasya dan Kiki masih duduk di tempatnya.


Terlihat Kiki sedang merapikan penampilannya.


Satu persatu pemain menghampiri penonton untuk sekedar menyapa atau berfoto bersama.


Kiki menarik tangan Tasya untuk mencari keberadaan Dion.


Bisa Tasya lihat, Dion sedang berfoto bersama beberapa penonton.


Sepertinya Dion memang cukup populer dan punya banyak penggemar.


"Kak Dion" Kiki memanggil Dion.


"Hai" suara lembut itu.


Bahkan Tasya harus memejamkan matanya dan mengendalikan emosinya agar tidak berlari untuk memeluk Dion.


Tasya menarik nafas panjang.


"Kak, boleh foto bareng, kan?" Tanya Kiki sambil tersenyum girang.


"Ya, tentu saja" jawab Dion ramah.


Kiki memberi kode pada Tasya agar mengambil gambarnya bersama Dion.


Tasya hanya mengangguk.


Sesaat pandangan Tasya dan Dion saling bertemu.


Dion merasa tak asing pada gadis yang mengenakan kacamata dan masker tersebut. Namun siapa?


Dion bertanya tanya dalam hati.


Cepat cepat Tasya mengalihkan pandangannya dari Dion.


'Semoga Dion tidak mengenaliku' gumam Tasya penuh harap.


"Temannya gak ikut foto?" Tanya Dion pada Kiki.


Kiki segera melihat ke arah Tasya dan hendak bertanya. Namun sebelum Kiki sempat buka suara, Tasya sudah menggeleng dengan cepat.


"Dia gak nge fans sama kakak" ucap Kiki polos, yang sontak membuat Dion tertawa kecil.


Setelah berbasa basi seperlunya, akhirnya Dion pergi meninggalkan Kiki dan Tasya.


Hufft,


Kini Tasya bisa bernafas dengan lega.


Tasya dan Kiki segera keluar dari gedung tersebut dan pulang ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2