Natasya

Natasya
EXTRA PART: Silvi dan Julian (1)


__ADS_3

Silvi baru saja pulang dari kampus.


Bergegas ia membuka laptop dan memeriksa email yang masuk hari ini.


Ada chat dari Lian, teman curhat Silvi di dunia maya.


Silvi mengenal Lian lewat daring perjodohan dan pertemanan sekitar sebulan yang lalu.


Awalnya ia hanya chat dan mengobrol biasa. Namun semakin lama Silvi semakin merasa nyaman dengan Lian. Jadilah ia sering curhat hal-hal pribadi ke Lian.


Ternyata Lian adalah cowok yang berpikiran dewasa.


Ia sering memberikan nasehat bijak dan kalimat motivasi untuk Silvi.


Silvi tersenyum senang dan buru buru membuka pesan dari Lian.


Lian: Hai,


Vi: Hai juga. Ada kabar apa hari ini?


Lian: kau jadi ke Bali minggu depan?


Vi: ya.


Lian: coba tebak, aku ada jadwal pertandingan disana.


Vi: jadi, kau akan kesana?


Lian: tentu saja. Apa kita akan mengatur sebuah pertemuan?


Vi: aku akan memikirkannya


Lian: ayolah... aku sungguh penasaran denganmu


Silvi tertawa kecil membaca chat dari Lian.


Ia dan Lian sengaja tidak bertukar foto ataupun melakukan videocall.


Mereka sudah sepakat untuk langsung bertatap muka saja suatu hari nanti


Vi: baiklah. Aku akan menghubungimu.


Lian: aku sungguh tidak sabar. Sampai jumpa di Bali


Vi: sampai jumpa


Silvi mengakhiri obrolan chat dan segera menutup laptopnya.


Ia tersenyum bahagia.


Dalam hati ia juga sudah tak sabar ingin segera berjumpa dengan Lian.


Jujur, ia tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya.


Lian adalah cowok yang sempurna menurut Silvi.


Yang Silvi tahu, Lian seorang atlet dan dia punya keluarga yang harmonis. Lian begitu dekat dengan kedua orang tuanya terutama mamanya.


Lian sering bercerita tentang kedekatannya tersebut.


Suatu hal yang sangat berbanding terbalik dengan keadaan Silvi sekarang.


Jangankan dekat dengan sang mama, berkomunikasi dengan mamanya saja hanya Silvi lakukan dua sampai tiga kali dalam setahun.


Ya, sejak Silvi tinggal di negara ini bersama papanya, Silvi memang tak pernah lagi bertemu mamanya.


Mama Silvi tinggal di Bali sejak bercerai dari sang papa.


*****


Silvi menyeret kopernya keluar dari bandara.


Perjalanan limabelas jam yang sungguh melelahkan. Silvi ingin segera merebahkan badannya di kasur yang empuk sekarang.


Seorang supir sudah menunggu dan siap menjemput kedatangan Silvi di bandara.

__ADS_1


Tentu saja itu adalah suruhan dari sang mama.


Silvi tak mau membuang waktu lagi dan bergegas masuk kedalam mobil.


Perjalanan membosankan dan sedikit tersendat, membuat Silvi memilih untuk memejamkan matanya.


*****


Setelah mobil yang membawa Silvi berjibaku dengan kemacetan selama satu jam lebih, akhirnya mobil itu sampai juga di sebuah rumah besar besar dan mewah.


Salah satu alasan yang membawa Silvi pulang kali ini adalah pernikahan sang mama.


Silvi mendengus sebal setiap kali mengingat kata-kata dari mama nya yang terus memaksa dirinya untuk pulang.


Silvi bergegas turun dari mobil yang mengantarnya tadi.


Ia membiarkan para pelayan mengurus barang-barang bawaannya.


Bukankah untuk itu mereka di bayar?


"Silvi," sang mama langsung menyambut dan memeluk putri tunggalnya tersebut.


Sungguh momen yang langka. Biasanya sang mama hanya akan fokus pada pekerjaannya dan tidak pernah mau tahu dengan apa yang Silvi lakukan.


"Kamu makin cantik sayang" pujian dari mamanya, membuat Silvi sedikit berdecak.


Silvi melihat ke arah seorang pria yang berdiri tak jauh dari dirinya dan mamanya.


Silvi mengernyit,


Laki-laki itu bahkan masih terlihat muda atau mungkin masih seumuran dengan Silvi.


Yang benar saja, apa itu calon suami mamanya?


"Silvi sayang, kenalin ini calon papa kamu..." belum selesai mamanya berkata, Silvi sudah memotongnya.


"Silvi capek, Ma. Silvi mau istirahat" potong Silvi cepat.


Ia segera berlalu dari tempat itu dan masuk ke kamarnya. Silvi bahkan tak menyapa sama sekali calon suami dari mamanya tersebut.


*****


Silvi membuka laptopnya, memeriksa pesan dari Lian.


Benar saja. Lian mengirimkan pesan beberapa waktu yang lalu, bahkan lelaki itu sudah mengatur waktu dan tempat pertemuan untuk mereka.


Silvi tersenyum senang.


Ia benar-benar tak sabar untuk segera bertemu dengan Lian.


*****


Sore hari di sebuah restorant,


Seorang pria berjalan dengan gagahnya masuk ke dalam restorant tersebut.


Terlihat pria itu menggenggam sebuah buket bunga besar.


Senyuman terus terlihat di bibir pria tadi.


Sepertinya ia sedang benar-benar bahagia sore ini.


Pria tersebut mengedarkan pandangannya ke dalam resto.


Tepat di meja yang sudah dia pesan, seorang gadis sudah duduk menunggunya. Gadis itu duduk membelakangi pintu masuk, sehingga pria itu tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya.


Namun meskipun dilihat dari belakang, gadis itu tetap terlihat anggun.


Pria itu segera berjalan menuju meja tersebut.


Tak sabar rasanya untuk segera menyapa gadis itu.


"Hai, maaf aku terlambat" Sapa Lian sambil menyodorkan buket bunga yang tadi ia bawa.


Namun,

__ADS_1


Sesaat Lian membeku saat melihat wajah gadis itu.


Lian sungguh tak menyangka kalau Vi yang dia kenal ternyata adalah... Silvi?


Silvi pun tak kalah terkejut saat mendapati bahwa ternyata pria yang selama ini dia jadikan teman curhat di dunia maya adalah...


"Julian? Loe ngapain disini?" Tanya Silvi galak.


Julian berdecak tak percaya.


'Vi? Vi... Silvi. Kok gue **** banget sih' gerutu Julian dalam hati.


Buyar sudah bayang-bayang makan malam romantis bersama gadis pujaannya.


Julian benar-benar tak menyangka jika Vi adalah Silvi. Temannya berdebat saat duduk di bangku SMA.


Julian duduk dengan lesu di kursi di depan Silvi.


Gadis itu terlihat sama kesalnya.


"Jangan bilang kalo Lian itu adalah elo" tuding Silvi tak percaya.


Julian mengangguk ragu.


"Iya gue Lian. Terserah loe mau percaya apa gak" jawab Julian sambil memutar bola matanya.


Silvi langsung mendengus kesal.


Julian menaruh dengan kasar buket bunga yang sedari tadi ia bawa.


Kedua remaja yang kini beranjak dewasa itu hanya saling diam.


"Sejak kapan loe pindah ke Paris?" Julian memilih untuk buka suara dan memecah keheningan di antara dirimya dan Silvi.


"Setelah lulus kan gue langsung ke Paris. Kemana aja loe sampe gak tahu" jawab Silvi dengan nada kesal.


Julian memutar bola matanya.


Masih Silvi yang resek dan nyebelin.


Gadis ini tak pernah berubah ternyata.


"Loe main di klub mana memangnya sekarang?" gantian Silvi yang bertanya.


"Gue satu klub sama Dion" jawab Julian santai.


"Serius?" Silvi berdecak tak percaya.


Namun Julian yang sekarang memang berbeda dengan Julian saat SMA dulu.


Julian bukan lagi cowok cupu.


Silvi akui, kalau penampilan Julian sekarang lebih cool dan lebih ganteng.


"Trus kenapa mendadak pulang ke Bali?" Selidik Julian mulai kepo.


"Mama aku mau menikah" jawab Silvi malas. Ada raut kesedihan di sana.


Julian yang tadinya sedikit kesal pada Silvi, mendadak menjadi merasa prihatin.


Julian jadi ingat curhatan terakhir Silvi tentang kedua orang tuanya yang tidak pernah harmonis, dan tentang Silvi yang selalu terabaikan sejak ia masih kecil.


Julian sungguh tak menyangka, dibalik sikap Silvi yang selalu membuatnya kesal ternyata gadis itu menyimpan sebuah kepedihan.


"Aku sungguh iri sama kamu, Ju" ucap Silvi lagi.


Julian mengernyit tak mengerti.


"Kamu beruntung punya orang tua yang menyayangi kamu dan gak egois kayak orang tuaku" lanjut Silvi.


Mata gadis itu kini mulai berkaca-kaca.


Julian mungkin tadi sempat kesal saat tahu teman curhatnya di dunia maya adalah Silvi.


Namun kini Julian benar-benar merasa iba.

__ADS_1


Julian sungguh tidak bisa melihat seorang gadis menangis di hadapannya.


__ADS_2