
Bim.. bim..
Suara klakson mobil memecah keheningan sore.
Vian turun dengan pongah dari dalam mobil miliknya yang berwarna merah menyala yang kini sudah terparkir di halaman rumah tante Desi.
Sore ini rencananya Vian akan membawa Tasya dan Dion menengok rumah baru mereka.
Dion dan Tasya yang memang sudah menunggu Vian sedari tadi, segera keluar dari rumah dan menyambut kedatangan Vian.
"Sore, Vian" sapa Tasya hangat.
"Sore, Nat. Sudah siap menengok rumah baru?" tanya Vian cengengesan.
Dion menoyor kepala sahabatnya tersebut.
"Jangan memanggil istriku seperti itu. Hanya aku yang boleh memanggilnya dengan sebutan itu" protes Dion tak terima.
Vian hanya mencibir lalu tertawa puas.
"Dasar tuan tukang cemburu. Ayo kita berangkat!" Ajak Vian sambil berbalik dan kembali masuk ke dalam mobilnya.
Dion dan Tasya mengekori Vian dan ikut masuk ke dalam mobil. Mereka pun segera melaju ke jalan raya menuju rumah baru Tasya dan Dion.
Vian mengemudi sambil bersiul bahagia sepanjang perjalanan. Dion yang duduk di samping Vian sungguh tak mengerti dengan sikap aneh sahabatnya tersebut.
"Apa kau sedang bahagia?" Tanya Dion kepo.
Vian memasang senyum lebar,
"Tentu saja aku bahagia, sahabatku akan menempati rumah barunya" jawab Vian asal.
Namun, Dion merasa tidak puas dengan jawaban dari sahabatnya tersebut.
Sepertinya ada hal lain yang membuat Vian bisa begitu bahagia seperti sekarang ini.
Dion hendak bertanya lagi, namun mobil Vian sudah berbelok menuju sebuah kompleks perumahan.
Jadilah Dion memilih untuk mengurungkan niatnya.
Rumah minimalis dengan bentuk yang seragam berjajar rapi di kiri dan kanan jalan.
Mobil melaju perlahan, hingga akhirnya berhenti tepat di sebuah rumah yang bentuknya sedikit berbeda.
Rumah tipe 36 dengan teras dan sebuah taman kecil di depannya. Rumah itu di dominasi oleh warna hitam dari batu-batu alam yang menempel dinding dan dua pilar di depannya serta warna putih dari cat tembok.
Pintu minimalis berwarna coklat yang sepertinya terbuat dari kayu mahoni, semakin menambah kesan elegan dari rumah tersebut.
Tidak besar memang, tapi Tasya menyukainya, dan sepertinya Tasya jatuh cinta pada rumah indah ini.
Vian membuka pintu depan dan langsung tampak sebuah ruang tamu yang simpel dan sederhana.
Sebuah sofa berukuran sedang berada di sisi ruangan, ada meja kecil beralas kaca di samping sofa tersebut.
"Ayo masuk!" Ajak Vian sembari melangkah lebih ke dalam lagi.
Tasya dan Dion mengekor di belakang Vian dan melihat dengan detail setiap bagian dari rumah tersebut.
Vian juga membuka satu persatu kamar yang ada di rumah tersebut dan menunjukkannya pada Tasya dan Dion.
Satu kamar utama sudah lengkap dan siap untuk di tempati. Sedangkan kamar yang satunya masih kosong.
"Pemilik sebelumnya pasangan suami istri yang belum mempunyai anak, jadi untuk kamar ini memang masih kosong. Kalian bisa menghiasnya sendiri untuk kamar anak- anak kalian nanti" ujar Vian panjang lebar sudah seperti sales perumahan saja.
Apa mungkin itu memang profesi Vian selama ini selain menjadi pemain basket profesional.
Terakhir mereka memeriksa dapur yang menyatu dengan ruang makan.
Setidaknya dapur Tasya kali ini lebih lapang dari dapur di apartemennya dulu.
Tasya tersenyum senang.
Dan di ujung dapur ada taman lagi yang tidak terlalu besar, namun cukup untuk sekedar cuci mata atau menyegarkan pikiran.
"Bagaimana? Kalian menyukainya?" Tanya Vian harap-harap cemas sambil menatap bergantian pada Tasya dan Dion.
Tasya langsung memasang senyum sumringah.
"Ya, aku menyukainya. Rumah ini cukup luas untuk kami berempat nantinya" jawab Tasya dengan mata berbinar bahagia.
Vian bisa bernafas lega sekarang.
__ADS_1
Selesai sudah tugasnya kali ini.
"Kau sendiri bagaimana, bro?" Tanya Vian pada Dion yang sedari tadi hanya diam dan tak berkomentar apapun.
"Tasya sudah bilang menyukai rumah ini, jadi aku juga menyukainya" jawab Dion dengan nada santai.
"Ya...ya...ya. aku paham sekarang. Kalian memang selalu satu hati" timpal Vian sedikit mencibir.
Tasya dan Dion tertawa berbarengan.
"Oh, ya satu kabar bahagia lagi. Berhubung kalian adalah sahabat terbaikku, jadi kalian akan jadi orang pertama yang menerima undangan pernikahanku" Vian memamerkan sebuah undangan berkilai yang berwarna pink pastel.
Dion dan Tasya ternganga tak percaya.
Dengan cepat Dion menyambar undangan dari tangan Vian demi mengetahui siapa yang akan menjadi calon mempelai wanitanya.
Setelah membuka dan membacanya sekilas, Dion bersiul kecil.
"Jadi juga loe sama anak di bawah umur" ejek Dion sambil terkekeh.
Vian mendengus kesal.
"Hey bro, Rena sudah cukup umur dan aku bukan om-om pedofil yang menikahi anak kecil" Vian membela diri.
Dion tertawa puas,
"Ya, ya, ya. Tapi bukankah terakhir kamu curhat ke aku kalo hubunganmu dengan Rena masih rumit. Kenapa mendadak kalian sudah merencanakan sebuah pernikahan?" Tanya Dion kepo.
Undangan yang tadi dipegang Dion kini sudah berpindah ke tangan Tasya.
"Jodoh." Jawab Vian dengan nada sok bijak yang membuat Dion langsung berdecak.
"Kalian harus datang. Harus" Vian menekankan setiap kata dalam kalimatnya.
"Kami pasti datang, Vi. Selamat ya akhirnya kamu akan menikah" Tasya sungguh tidak tahan untuk tidak memeluk Vian.
Dan kali ini entah ada angin apa Dion diam saja tanpa protes sedikitpun saat melihat Vian yang memeluk erat Tasya.
"Hay bro. Kau tidak protes?" Vian mencoba menggoda Dion.
Dion menggeleng.
"Ya, karena kau sudah membantu kami hari ini dan karena sebentar lagi kau akan melepas masa duda mu itu aku akan membiarkanmu memeluk istriku" jawab Dion mencoba memasang wajah serius.
"Apa itu artinya aku boleh mencium istrimu juga?" Tanya Vian usil.
Sontak Dion langsung memasang wajah kesal,
"Hey, jangan coba-coba, Bung!" Tegur Dion galak. Vian malah tertawa puas.
"Baiklah... baiklah. Sudah cukup adegan pelukannya" Dion melepaskan pelukan Vian pada Tasya dan langsung merangkul Tasya dengan posesif. Kini wanita itu ganti bergelayut pada Dion.
"Selamat, bro" Dion dan Vian melakukan tos dengan kencang lalu tertawa bersamaan.
"Ehem, ngomong-ngomong aku lapar. Bisa kita mencari makan sekarang sebelum aku pingsan" Tasya menyela keseruan diantara Dion dan Vian.
Dion dan Vian terkekeh bersamaan.
Vian yang terlebih dahulu menjawab permintaan dari Tasya.
"Siap, ibu hamil. Ayo kita pergi makan malam sekarang" jawab Vian sambil memberikan sikap hormat pada Tasya.
"Calon pengantin lebay" Dion menoyor kepala Vian dan langsung berlalu menuju pintu keluar sambil merangkul Tasya. Vian segera mengekor di belakang pasangan suami istri tersebut.
*****
Mobil yang di kemudikan oleh Vian berhenti di halaman parkir sebuah restorant bernuansa klasik.
Pengunjung yang datang malam ini lumayan banyak.
Vian masuk dengan langkah santai ke dalam restorant tersebut. Beberapa pelayan yang berpapasan dengan Vian tampak mengangguk hormat.
Dion dan Tasya yang mengekor di belakang Vian hanya saling berpandangan dan sedikit bingung.
Hingga seorang pelayan senior menyapa Vian dengan hormat.
"Selamat malam, Pak Davian. Anda membawa tamu malam ini?" Tanya Pelayan itu sopan.
"Selamat malam. Mereka sahabatku. Bisa carikan meja kosong untuk mereka?" Jawab Vian sambil mengedarkan pandangannya ke dalam resto tersebut.
Pelayan itu mengangguk dan segera mengantarkan tiga orang itu ke salah satu sudut restorant, dimana ada meja dengan empat kursi yang masih terlihat kosong.
__ADS_1
Dion, Tasya, dan Vian segera duduk di kursi-kursi tersebut.
"Jadi? Pak Davian?" Dion masih tak paham. Tapi Dion menebak sepertinya resto ini adalah milik Vian.
"Apa?" Vian memasang wajah pura-pura polos sambil menahan senyuman anehnya.
"Apa restorant ini milikmu?" Tasya ikut penasaran.
"Kenapa? Kalian tak percaya? Apa aku sudah bisa sombong sekarang?" Ujar Vian panjang lebar sambil menepuk dadanya.
Tasya dan Dion terkekeh bersamaan.
"Keren, Vi. Resto kamu bagus dan klasik" puji Tasya sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat duduknya.
"Bekal masa tua, Sya. Sekalian bekal buat yakinin calon mertua" jawab Vian cengengesan.
Dion dan Tasya mengangguk sambil tersenyum.
Ternyata di balik sikap Vian yang terlihat konyol dan kekanakan, pikirannya sudah dewasa dan jauh ke depan.
Beberapa saat kemudian seorang pelayan datang dan membisikkan sesuatu pada Vian.
Vian tampak mengangguk-angguk.
"Kalian pesan saja apa yang kalian mau, aku ke dalam dulu. Ada yang harus aku selesaikan" pamit Vian sambil beranjak berdiri.
"Apa ini semua gratis?" Tanya Dion penuh harap.
"Tentu, Bro" jawab Vian sambil berjalan santai meninggalkan Tasya dan Dion yang kini sibuk membolak-balik buku menu untuk memilih menu yang akan mereka pesan.
Setelah memutuskan menu apa yang mereka pilih dan memesannya pada pelayan, Dion dan Tasya lanjut mengobrol sambil menunggu pesanan siap.
"Tasya!" Suara Elena yang tiba-tiba datang sungguh membuat Tasya terkejut.
"Hai, El!" Tasya dan Elena kini berpelukan karena sudah cukup lama kedua tak bersua.
"Bagaimana kabar kalian? Semuanya baik-baik saja?" Elena berbasa basi sambil mengusap perut Tasya yang sudah membuncit.
Tasya tertawa renyah,
"Ya, kami sehat." Jawab Tasya singkat.
Sementara itu Dion juga menyapa Egi yang datang bersama Elena.
"Apa Vian yang mengajak kalian ke sini?" Tebak Egi.
Dion mengangguk,
"Ya, dia sedang ada urusan di dalam sekarang. Aku sungguh tak menyangka jika resto ini ternyata milik Vian" jawab Dion sambil masih mengagumi resto milik Vian ini.
"Kalian mau bergabung di sini?" Tawar Tasya pada pasangan suami istri yang juga adalah sahabatnya tersebut.
"Sebenarnya kami mau. Tapi kami harus makan malam bersama klien Egi malam ini" Elena menunjuk ke arah meja panjang yang sudah berisi beberapa orang yang memakai baju semiformal.
Tasya langsung mengangguk dengan cepat dan paham.
"Oh ya, kapan jadwalmu kontrol lagi?" Tanya Elena lagi.
"Seharusnya lusa. Tapi mungkin setelah kami pindahan aku baru akan ke rumah sakit" jawab Tasya
"Sudah melihat rumahnya? Kapan pindahan?" Egi ikut bertanya.
"Rencana besok kami sudah mulai pindahan, Gi" kali ini Dion yang menjawab.
Egi dan Elena mengangguk berbarengan.
"Baiklah mungkin kami akan mampir ke rumah baru kalian kapan-kapan, sekarang kami akan bertemu dengan klien dulu" pamit Egi akhirnya.
Gantian Dion dan Tasya yang mengangguk.
"Aku akan menelponmu nanti" Elena menepuk punggung Tasya sebelum berlalu mengikuti sang suami untuk menemui klien Egi malam ini.
"Oke" jawab Tasya singkat.
Elena dan Egi sudah pergi sekarang. Tinggal Tasya dan Dion yang masih menunggu pesanan datang.
"Mereka orang yang baik" ujar Dion memuji Egi dan Elena yang belakangan ini banyak membantu dirinya dan Tasya.
Tasya mengangguk,
"Ya, dan mereka juga adalah pasangan yang serasi" tambah Tasya menimpali.
__ADS_1
Egi dan Elena sudah bergabung dengan klien mereka. Tasya dan Dion masih memandangi pasangan tersebut sambil menunggu pesanan mereka datang.
Sesaat terselip rasa kagum di hati Dion saat melihat pasangan yang menurut Dion adalah pasangan yang sempurna tersebut.