
Semburat oranye yang tadi ditinggalkan oleh matahari sore sebelum keembali ke peraduannya telah menghilang.
Langit sudah berubah menjadi hitam sekarang, menandakan malam yang sudah datang menjelang.
Rembulan yang belum bulat sempurna tampak mengintip dengan malu-malu dari balik awan.
Suasana di ruang perawatan Zhia sedikit sepi. Mama Wina dan mama Sarla sudah pulang sedari tadi.
Hanya ada Tasya yang kini duduk di sofa di sudut ruang perawatan tersebut dan sibuk dengan ponselnya. Zhia sudah tertidur setelah makan malam dan minum obat tadi.
Tasya masih menunggu kedatangan Dion yang katanya akan datang malam ini untuk menjemput dirinya dan Zhia.
Tok tok,
Suara pintu yang di ketuk membuat Tasya menoleh ke arah pintu masuk ruangan tersebut.
Tasya sudah akan beranjak berdiri untuk membukakan pintu, namun ternyata seseorang yang tadi mengetuk pintu sudah membukanya sendiri.
Rupanya Dion yang datang. Bisa di bilang pria itu terlihat berantakan sekarang. Dion sepertinya terburu-buru dan hanya datang membawa tas ranselnya.
Tasya segera menghampiri suaminya tersebut.
"Kamu berantakan" ucap Tasya sedikit mencebik.
Dion hanya mengendikkan bahu dan segera meraup tubuh Rasya ke dalam pelukannya.
Dua hari tak berjumpa dengan Tasya membuat Dion sangat merindukan istrinya itu.
"Aku rindu padamu" ucap Dion lirih sambil menghirup aroma tubuh Tasya yang benar-benar ia rindukan selama dua hari ini.
"Apa kamu tadi langsung ke sini setelah pertandingan?" Tebak Tasya
Dion mengangguk sambil tertawa kecil.
"Hei, aku sudah mandi dan berganti baju" Dion membela diri.
Tasya berdecak.
"Terserah saja" jawab Tasya dengan malas.
"Kau tidak merindukanku? Dua malam aku tidur sendirian di apartemen" Dion mulai curhat.
Tasya berjalan kembali ke sofa.
Dion melihat sebentar ke ranjang perawatan Zhia sebelum akhirnya menyusul Tasya dan ikut duduk di sofa.
"Sudah makan?" Tanya Tasya sambil menyodorkan kotak berisi makanan ke arah Dion.
"Belum. Terima kasih istriku sayang" Dion mengambil kotak makanan tersebut dari tangan Tasya dan segera membukanya.
Tak butuh waktu lama, Dion segera melahap habis makanan di dalamnya. Sepertinya pria itu benar-benar kelaparan.
"Kamu sudah mengurus semuanya di sana?" Tasya membuka obrolan.
Dion mengangguk.
"Aku juga sudah memesan kamar perawatan untuk Zhia jika sewaktu-waktu Zhia drop dan harus rawat inap" jelas Dion panjang lebar.
"Aku masih berharap kita bisa menemukan keluarga Zhia" ucap Tasya lirih.
"Apa tidak bisa jika donornya bukan dari keluarga?" Tanya Dion serius.
Tasya menggeleng,
"Terlalu beresiko. Kadang kedua orang tuanya juga belum tentu cocok" jawab Tasya menjelaskan.
"Kita berikan yang terbaik saja untuk Zhia. Aku yakin Zhia adalah gadis kuat sepertimu" ucap Dion sambil membelai pipi Tasya.
Tasya memejamkan matanya, menikmati sentuhan hangat dari tangan Dion.
Merasa mendapatkan kode baik Dion pun melancarkan aksinya dan mulai mengecup bibir Tasya.
Tetap tak ada protes dari Tasya, jadi Dion melanjutkan ciuman itu hingga semakin dalam...
"Mama..." Suara lirih dari Zhia yang memanggil Tasya segera membuat Tasya buru-buru melepaskan ciumannya dari Dion.
Tasya segera menghampiri gadis kecil itu.
"Iya, sayang. Ada yang sakit?" Tanya Tasya khawatir.
"Zhia haus, Ma" ujar Zhia lirih.
Tasya langsung mengambilkan air minum untuk Zhia dan membantu gadis kecil itu minum.
__ADS_1
Dion sudah ikut menghampiri Zhia,
"Mama?" Dion menatap bingung pada Tasya.
"Kan aku sudah bilang" ucap Tasya sambil menaik tutunkan alisnya. Sepertinya Tasya senang sekali bisa memamerkan hal kecil ini pada Dion.
"Kalau begitu, apa berarti Zhia akan memanggil papa Dion juga?" Dion bertanya pada Zhia yang sudah selesai minum.
"Jangan terlalu berharap" Tasya mencibir sambil sedikit terkekeh.
"Apa om Dion membawa mainan yang kemarin om bilang?" Tanya Zhia polos.
Sontak Tasya langsung menahan tawanya yang ingin meledak.
Terlihat raut kekesalan di wajah Dion.
Namun dengan cepat Dion menyembunyikannya dan segera memasang wajah manis pada Zhia.
"Tentu saja om membawanya, tapi bisakah Zhia memanggil papa Dion mulai sekarang dan bukan om lagi?" Dion berkata dengan mimik memohon yang sengaja di buat-buat yang mendadak membuat Tasya ingin tertawa geli.
"Baiklah, apa kamu sedang menyogok Zhia sekarang?" Tasya sedikit tak terima.
"Apa salahnya? Kamu sudah bersama Zhia dua hari terakhir. Aku juga ingin dekat dengan Zhia." Dion membela diri.
Zhia hanya melihat bergantian ke arah Dion dan Tasya yang entah sedang berdebat soal apa.
"Oke, Zhia! Panggil papa Dion mulai sekarang, dan kamu akan dapat mainan cantik" Dion merayu Zhia sekali lagi.
"Baik, papa Dion" jawab Zhia singkat.
"Yesss!!" Dion langsung bersorak girang dan melakukan tingkah lebay yang membuat Tasya memutar bola matanya.
Tasya sungguh tak tahu kalau Dion bisa segila ini selain saat di ranjang bersamanya.
"Baiklah, cukup papa Dion! Ini sudah malam dan kita sedang di rumah sakit. Jadi hentikan tingkah konyolmu itu" Tasya berkata dengan ekspresi galak.
Dion pun segera menghentikan selebrasi konyolnya.
"Kenapa mama Tasya marah-marah?" Tanya Zhia polos.
Buru-buru Tasya menormalkan ekspresi wajahnya.
Tasya tak mau mendapat predikat sebagai mama yang galak bagi Zhia.
"Mama tidak marah, sayang. Lihat mama sudah tersenyum sekarang" Tasya memasang senyum selebar mungkin.
Dion kembali ke sofa dan mengambil sesuatu dari tas ranselnya, sebelum kembali menghampiri Zhia lagi.
"Taraaa!!" Dion menyodorkan satu set mainan kuda poni lucu pada Zhia yang langsung membuat gadis kecil itu tersenyum sumringah.
"Makasih papa Dion" ucap Zhia senang.
Dulu saat di panti Zhia sering melihat film kuda poni di layar televisi bersama Flo. Dan Zhia sangat ingin memiliki koleksi lengkapnya.
Tapi tentu saja saat itu Zhia tak berani memintanya pada Salsa.
Dan sekarang Dion membelikan barang tersebut untuk Zhia.
Zhia mencium pipi Dion dan mengucapkan terima kasih sekali lagi.
Tentu saja hal itu langsung membuat Dion tersenyum bahagia.
Ternyata begini rasanya menjadi orang tua. Dion pasti akan menikmati setiap momen bersama Zhia ke depannya nanti.
Dion sudah tak sabar untuk jadi seorang hot daddy seperti yang sering di pamerkn oleh teman-temannya di media sosil mereka.
"Baiklah, Zhia tidur lagi ya, sekarang. Besok kita akan berangkat ke rumah baru kita" Tasya membenarkan posisi Zhia dan menutupi tubuh Zhia dengan selimut.
Tasya mengusap-usap kepala Zhia agar gadis kecil itu tidur lagi. Dion memilih untuk tetap di situ dan memandangi kedekatan Tasya dengan Zhia.
*****
Di Bandara Kota,
Salsa, Ronny, dan Flo ikut datang ke bandara pagi itu untuk mengantar Zhia yang akan ikut bersama Tasya dan Dion.
Flo memeluk Zhia sebagai tanda perpisahan.
"Ini buat kamu, Zhia" Flo memberikan boneka beruang coklat kesayangannya pada Zhia.
"Tapi, Flo. Bukankah ini boneka kesayangan kamu?" Tanya Zhia ragu.
Flo menggeleng.
__ADS_1
"Buat Zhia saja. Zhia temannya Flo" ucap Flo tulus.
Salsa berlutut dan memeluk kedua gadis kecil tersebut.
"Nanti Zhia main-main ke panti lagi ya, kalo sudah benar-benar sehat" pesan Salsa pada Zhia.
Zhia mengangguk.
"Zhia juga harus jadi anak baik disana, jangan nakal, jangan bikin mama Tasya dan papa Dion sedih. Oke!" Tambah Salsa lagi. Matanya sudah terasa panas sekarang.
Rasanya berat berpusah jauh dari Zhia yang sudah cukup dekat dengannya.
"Zhia akan jadi anak baik, mama. Zhia akan menelpon mama Salsa nanti. Mama jangan sedih" Zhia menghapus butir bening yang sudah jatuh di pipi Salsa.
Salsa mengangguk dan memeluk erat sekali lagi gadis kecil itu sebelum mereka benar-benar berpisah.
"Tolong jaga dan rawat Zhia dengan baik, Nat" pesan Salsa pada Tasya.
"Aku akan menjaganya, Sal. Aku akan sering memberi kabar" Tasya memeluk sahabatnya tersebut.
Setelah saling berpamitan, Dion segera menggendong Zhia dan membawanya masuk ke dalam pintu utama bandara tersebut. Tasya mengikuti langkah Dion dari belakang.
Mereka akan pulang sekarang.
Pulang bersama Zhia.
*****
Di gedung apartemen,
Tasya, Dion, dan Zhia baru saja tiba.
Zhia sudah tertidur di gendongan Dion karena kelelahan.
Bergegas Tasya membuka pintu, agar Dion bisa segera membawa Zhia masuk ke dalam.
Tasya sudah akan membuka pintu kamarnya, namun Dion mencegah,
"Nat, kamar sebelah" ujar Dion singkat sambil menunjuk ke kamar kosong di sebelah kamar utama yang selama ini Tasya jadikan sebagai gudang.
Tasya mengernyit bingung,
"Buka saja pintunya" ucap Dion lagi.
Sedikit ragu, namun Tasya membuka pintu kamar tersebut.
Setelah menyalakan lampu yang ada di kamar tersebut, Tasya benar-benar dibuat terkejut.
Kamar bernuansa merah muda dan banyak stiker kartun khas anak-anak.
Dion segera masuk ke dalam dan membaringkan Zhia yang masih tertidur lelap ke atas kasur yang juga di tutupi oleh sprei merah muda bergambar kuda poni.
Tasya melepaskan sepatu yang di kenakan Zhia dan menyelimuti tubuh gadis kecil itu.
"Di, ini kemarin gudang" Tasya masih tak percaya.
Dion hanya tersenyum kecil.
"Dan aku mengubahnya menjadi kamar untuk Zhia dalam dua hari" jawab Dion membanggakan dirinya.
"Aku siap menerima ucapan terima kasih sekarang" Dion merentangkan tangannya berharap Tasya akan segera lari ke pelukannya dan memberikannya ciuman bertubi-tubi.
Namun bukannya melakukan hal itu, Tasya malah memukul-mukul dada bidang milik Dion.
"Terima kasih suamiku sayang" Tasya memberikan kecupan di pipi Dion.
"Sama-sama istriku sayang, apa kamu merasa senang sekarang?" Tanya Dion dengan nada menggoda
Tasya mengangguk.
"Kamu melakukan ini semua sendirian?" Tanya Tasya masih tak percaya.
Lagi-lagi Dion tertawa kecil.
"Tentu saja tidak, Nat. Aku harus ke kantor dan latihan..." jawab Dion sambil terkekeh,
"...aku hanya mendesain dan memilih furniture nya. Selebihnya aku membayar orang untuk mengerjakan semuanya" Dion sudah berhenti tertawa sekarang.
"Aku hanya ingin Zhia merasa betah dan nyaman tinggal bersama kita di sini" Dion merangkul pundak Tasya.
"Zhia adalah putri kita berdua, jadi kita akan memberikan semua yang terbaik untuknya" ucap Dion bersungguh-sungguh sambil menatap ke dalam netra milik Tasya.
Tasya mengangguk.
__ADS_1
Tasya benar-benar merasa lega sekarang. Dion menyayangi Zhia, jadi Tasya tak perlu lagi khawatir atau meragukan hal-hal yang tidak perlu.
Dion dan Tasya keluar dari kamar baru Zhia. Mereka akan membiarkan Zhia beristirahat dengan nyaman.