
Mobil yang membawa empat gadis SMA itu berhenti tepat di depan rumah Tasya.
"Makasih, Silvi. Gue duluan ya. Bye semuanya" Tasya sudah berpamitan pada teman temannya dan hendak turun.
Namun,
"Gue turun disini juga" Salsa ikut ikutan membuka pintu mobil dan akan turun bersama Tasya.
Silvi dan Vina mengernyit heran.
"Rumah loe masih jauh, Sal?" Protes Vina.
"Eee, sebenernya gue mau ambil buku gue yang di pinjam Tasya. Tapi mau sekalian ngerjain PR hari ini juga. Loe berdua mau ikut?" Salsa bahkan bingung ingin memberi alasan apa.
Bukankah dia tadi ikut turun karena tidak sabar ingin mendengar soal pelatih Ronny dari Tasya?
Kenapa malah dia ngajak Silvi dan Vina juga.
'Huh, dasar bodoh' Lagi lagi Salsa merutuki dirinya sendiri.
Vina dan Silvi tampak sedang berpikir.
"Lain kali aja lah, Sal. Gue ditungguin papi di rumah" Vina menolak.
"Gue juga lagi males ngerjain tugas. Besok gue nyalin punya loe aja" Silvi ikut menolak.
"Enak banget hidup loe" cibir Salsa sedikit kesal.
Silvi hanya tertawa kecil dan tak merasa bersalah.
"Ya udah kita duluan, Sal. Loe nanti pulang sendiri ya" Silvi memeletkan lidah.
Salsa langsung memanyunkan bibirnya.
Tasya melambaikan tangan pada kedua sahabatnya tersebut. Dan mobil Silvi pun segera pergi meninggalkan Tasya dan Salsa.
"Ayo masuk, Sal" ajak Tasya selanjutnya.
__ADS_1
Salsa hanya mengangguk dan mengikuti langkah Tasya yang kini masuk ke dalam rumahnya.
Suasana sepi. Mama Sarla masih di kantor.
Tasya langsung mengajak Salsa masuk ke dalam kamarnya.
"Sepi, Sya" Salsa berbasa basi
"Iya, mama belum pulang" jawab Tasya sekenanya.
Tasya mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur.
Di samping Salsa yang kini juga tengah duduk santai.
Tasya menyodorkan selembar foto pada Salsa.
Salsa menatap bingung pada foto di depannya.
"Ini aku, dan ini kak Ronny pelatih resek itu" Tasya menunjuk gambar seorang gadis kecil yang sedang berdiri malu malu serta seorang anak laki laki yang berdiri di belakang gadis tersebut.
Salsa mengamati foto itu dengan seksama.
Kamu yakin gak salah orang?" Tanya Salsa masih gak percaya.
Tasya hanya mengendikkan bahu. Dia pun masih tidak percaya kalo kakak Ronny nya berubah jadi tengil dan ngeselin kayak gitu.
"Jadi yang kemarin pas kita ke mall trus aku minta pulang duluan itu sebenernya aku ke panti nemuin kak Ronny. Dan aku juga kaget gak percaya kalo ternyata pelatih resek itu adalah kak Ronny yang selama ini kucari" cerita Tasya panjang lebar.
Salsa kini hanya manggut manggut seakan paham semuanya.
"Trus apa sekarang dia juga masih suka bikin kamu kesel?" Tanya Salsa lagi.
"Enggak juga sih. Tapi kadang dia itu sengaja manas manasin Dion gitu kalo kita bertiga lagi bareng. Padahal Dion kan cemburuan orangnya. Jadi ya gitu deh" jawab Tasya sambil mengendikkan bahu.
"Lusa mau nemenin aku ke panti gak? Nengokin bu Ranti?" Tanya Tasya sedikit ragu.
Salsa tampak berpikir sebentar.
__ADS_1
"Boleh. Kita ajak Silvi dan Vina sekalian gimana? Biar rame" usul Salsa.
"Gak papa sih kalo mereka mau" jawab Tasya santai.
"Yaudah, besok kita tanyain ke mereka." Kata Salsa akhirnya.
Tasya hanya mengangguk dan mengiyakan ucapan dari sahabatnya tersebut.
*****
Salsa baru saja pamit pulang naik taksi.
Tasya mengantarkan Salsa hingga di depan gerbang.
Setelah Salsa pergi, Tasya berbalik dan sudah akan masuk ke teras. Tasya melihat sekilas ke arah halaman rumah tante Desi.
Sepi.
Sudah hampir sepekan sejak pertemuan terakhirnya dengan Dion di ruang loker dan Tasya belum melihat Dion datang kerumah tante Desi.
Ia dan Dion memang belum bertemu lagi dan hanya mengobrol lewat chat belakangan ini.
Mereka berdua sama sama sibuk mempersiapkan ujian kenaikan kelas. Belum lagi jadwal latihan Dion yang sepertinya juga padat.
Tasya menghela nafas.
Ia sedikit lega saat beberapa hari yang lalu mendapat kabar dari Dion bahwa Dion sudah berbaikan dengan mama Wina.
Tasya ikut senang karena akhirnya Dion bisa pulang ke rumahnya dengan nyaman setiap hari dan tak lagi bersikap kasar dan ketus pada keluarganya.
Namun sejujurnya, Tasya kangen mengobrol langsung dengan Dion.
Tasya duduk sebentar di kursi yang ada di teras. Menyaksikan sang matahari yang menampilkan semburat oranye dan perlahan turun melewati garis cakrawala.
Langit perlahan berubah hitam, menandakan waktu malam yang telah tiba.
Belum ada tanda tanda dari mama Sarla.
__ADS_1
"Sepertinya mama lembur lagi" gumam Tasya pada dirinya sendiri.
Tasya pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan menunggu mamanya di dalam saja.