Natasya

Natasya
SEASON KEDUA: Pindah


__ADS_3

Matahari pagi menyusup nenembus tirai yang menutupi jendela besar di kamar Dion.


Cahaya sang surya begitu terang pagi ini, hingga mampu menyilaukan mata dan mengusik tidur Dion.


Dion membuka matanya, dan melihat jam yang ada di atas nakas. Hampir jam tujuh pagi.


Ya, Dion sekarang pengangguran jadi rasanya bukan masalah kalau dirinya bangun sedikit siang.


Dion ganti melihat ke sisi ranjang di sebelahnya.


Kosong.


Tasya pasti bangun lebih awal.


Setelah sedikit meregangkan otot-ototnya, Dion berjalan keluar dari kamar.


Pria itu mengedarkan pandangannya ke ruang tengah yang mengarah langsung ke ruang makan dan berakhir di dapur mungil yang ada ada ujung sana.


Kosong.


Tidak ada tanda-tanda keberadaan Tasya.


Sekilas mata Dion menatap ke pintu kamar milik Zhia.


Pintunya sedikit terbuka.


Baiklah, kali ini Dion yakin Tasya pasti ada di dalam sana.


Dion segera berjalan menuju arah kamar Zhia.


Benar saja,


Tasya sedang duduk di kursi kecil yang ada di kamar tersebut.


Sepertinya Tasya tengah mengemasi sesuatu.


"Nat," Dion merangkul pundak Tasya, membuat wanita itu berjenggit kaget.


"Kamu ngagetin, Di" protes Tasya tak terima.


"Apa yang... kamu lakukan?" Dion memperhatikan dengan seksama apa yang tengah dilakukan oleh sang istri.


"Mengemasi beberapa barang Zhia" jawab Tasya.


Tasya lanjut memasukkan beberapa foto Zhia dan barang-barang Zhia ke sebuah boks.


Sudah tidak banyak barang Zhia yang tersisa. Sebagian besar memang sudah disumbangkan oleh Dion dan Tasya.


Dion duduk di ranjang yang dulu merupakan tempat tidur Zhia.


Dion mengambil satu foto yang masih terbingkai dengan rapi di atas nakas.


Foto Zhia bersama dirinya dan Tasya. Dion memandangnya sesaat lalu tersenyum.


Zhia memang bukan putri kandungnya, tapi Zhia lah gadis kecil pertama yang membuat Dion belajar bagaimana menjadi seorang ayah yang baik.


"Aku sudah memberitahu dokter Ina tentang rencana kepindahan kita. Dan dokter Ina memintaku kontrol sekali lagi sebelum kita berangkat" suara Tasya memecah keheningan di dalam ruangan tersebut.


Dion mengangguk,


"Aku akan mengantarmu sore nanti" jawab Dion menyanggupi.


"Kita jadi berangkat malam ini?" Tanya Tasya masih ragu. Secepat inikah dia dan Dion akan meninggalkan kota ini.


"Kita bisa mengambil penerbangan besok pagi kalau kamu masih ingin tidur di sini malam ini" Dion memberikan penawaran.


Tasya menggeleng dengan cepat.


"Tidak usah, Di. Semakin cepat kita pergi semakin cepat juga kita akan melupakan ini semua" Tasya tersenyum kecut.


Sekali lagi memori indah tentang kebersamaan dirinya dan Dion serta Zhia berkelebatan di benaknya.


'Ini hadiah untukmu, Nat'


'Ini akan menjadi rumah kita kelak'


'Aku ingin Zhia betah tinggal disini bersama kita'


Mendadak kata-kata indah Dion tentang apartemen ini kembali berputar-putar di kepala Tasya


Dion mendekat ke arah Tasya, lalu merengkuh istrinya tersebut ke dalam pelukannya. Tak ada kata terucap. Karena sejujurnya hati Dion juga terasa pedih.


Seharian itu Tasya dan Dion sibuk mengemas barang-barang mereka. Lebih banyak keheningan yang mengiringi semua kegiatan hari ini. Dion dan Tasya seperti larut dalam pikirannya masing-masing.


Bahkan saat makan siang, keduanya juga saling diam. Hanya denting sendok bertemu piring yang terdengar di ruang makan.


Menjelang sore, Tasya dan Dion sudah berada di poli kandungan yang ada di rumah sakit.


Kini ada dokter Ina yang menatap prihatin pada pasangan di depannya tersebut.


Seharusnya Tasya dan Dion sedang bahagia sekarang dan menantikan kelahiran bayi kembar mereka, namun nyatanya sebuah masalah rumit harus dihadapi oleh keduanya.


"Masih sering mual, Sya?" Tanya dokter Ina mencoba untuk tersenyum ramah.


Tasya menggeleng.


"Aku sudah bisa makan dengan benar, Dok. Semenjak keluar dari rumah sakit tempo hari" cerita Tasya berusaha antusias.


"Syukurlah kalau begitu, ayo kita periksa!" Dokter Ina sudah berdiri dan menuju ke ruang USG.


Tasya dan Dion mengekor di belakang dokter Ina.


Saat alat itu mulai bergerak-gerak diatas perut Tasya, detak jantung dari kedua bayinya mulai terdengar. Tasya dan Dion fokus menatap pada layar besar yang ada di depan mereka.


Dua makhluk kecil yang kini terlihat bergerak dengan aktif, benar-benar membuat keduanya takjub.


Bukankah seharusnya sekarang Tasya dan Dion merasa bahagia?


"Keduanya sehat dan beratnya sesuai dengan usia kandunganmu, Sya" ucap dokter Ina dengan senyum sumringah.


Sebuah senyuman langsung tersungging di bibir Dion dan Tasya. Semua masalah yang tengah mereka berdua hadapi seakan hilang menguap setelah tahu bahwa calon bayi mereka sehat.


Dokter Ina sudah selesai melakukan USG.


Dion membantu Tasya untuk bangun dan keduamya kembali duduk berhadapan dengan dokter Ina sekarang.


Wajah Dion dan Tasya terlihat lebih sumringah sekarang.


"Aku sudah mengabari Elena soal kepindahanmu, dan Elena yang akan menjadi dokter kandunganmu, Sya" ujar Dokter Ina memberi sebuah kabar baik lagi.


Tasya mengangguk.


"Ini semua berkas dan riwayat kesehatanmu, kau bisa membawanya dan memberikannya pada Elena nanti." Dokter ina mengangsurkan sebuah map kepada Tasya.


"Terima kasih banyak, Dok. Untuk semuanya" Tasya memeluk dokter senior tersebut.


Meskipun keduanya praktek di poli yang berbeda, namun Dokter Ina dan Tasya cukup dekat selama ini. Dan kini keduanya akan terpisah jarak.


"Semoga kamu dan kedua janinmu selalu di beri kesehatan hingga nanti kamu bertemu dengan mereka" ucap Dokter Ina tulus.

__ADS_1


Tasya mengangguk dan mengaminkan doa dari dokter Ina.


Dion juga ikut menyalami dokter Ina dan mengucapkan banyak terima kasih.


"Jaga Tasya baik-baik ya, Di. Kamu suami yang sabar dan penyayang. Kalian berdua akan menjadi orang tua hebat" pesan dokter Ina pada Dion.


Pria itu mengangguk dan tersenyum sedikit malu, karena pujian yang berlebihan dari dokter senior tersebut.


Setelah berpamitan dan sedikit berbasa-basi pada dokter Ina dan beberapa perawat di poli kandungan, Tasya dan Dion meninggalkan rumah sakit tersebut.


Keduanya pulang sebentar ke apartement untuk mengambil koper dan barang-barang yang akan mereka bawa.


Setelah memastikan tak ada yang tertinggal, Tasya dan Dion meninggalkan apartemen tersebut.


Tasya menatap dengan sendu gedung apartemen yang selama lina tahun ini menjadi tempatnya berteduh dan menjalani kesehariannya sebagai seorang istri.


Kini Tasya akan pergi jauh dari kota ini dan mungkin tak akan pernah kembali lagi. Tidak ada lagi alasan yang bisa membuat Tasya dan Dion untuk tetap tinggal di kota ini. Semuanya sudah berakhir.


Kini mereka berdua akan memulai lembaran hidup baru. Di tempat yang baru.


Taksi yang membawa Dion dan Tasya melaju membelah jalanan ibukota yang padat menuju ke arah bandara.


Gerimis mulai turun membasahi bumi mengiringi kepergian Tasya dan Dion dari kota metropolitan tersebut.


*****


Tante Desi dan Om Bimo datang menjemput Tasya di bandara kota.


Setelah saling melepaskan kerinduan karena beberapa bulan tidak berjumpa, mereka berempat segera masuk ke dalam mobil om Bimo dan melaju meninggalkan kawasan bandara tersebut.


Dion dan Tasya akan menumpang sementara di rumah tante Desi hingga rumah yang sudah mereka beli siap untuk di tempati.


Vian yang membantu Dion mencari rumah di kota tersebut. Beruntung ada satu teman Vian yang menjual rumah karena ada kebutuhan mendesak, jadilah mereka mendapat rumah dengan harga miring.


"Kalian berdua pasti lelah, sebaiknya kalian segera beristirahat. Kita bisa ngobrol besok pagi." Ujar tante Desi setelah mereka sampai di rumah.


Tasya dan Dion yang memang sudah merasa lelah langsung mengangguk berbarengan.


Setelah memasukkan semua barang-barang ke dalam kamar, Tasya dan Dion segera berpamitan pada tante Desi dan Om bimo untuk beristirahat.


Tasya langsung merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur empuk tersebut. Matanya menatap lurus ke arah jendela kamar yang kini buram dan basah karena hujan.


Dion menarik selimut untuk menutupi tubuh Tasya sebelum akhirnya pria itu berjongkok di depan Tasya.


Tangannya terulur dan mengusap lembut pipi sang istri,


"Tidurlah, Nat. Kamu pasti lelah" ucap Dion lembut.


Tasya tak menjawab, ia memandang lekat wajah Dion yang semakin hari semakin taampan saja.


Perasaannya saja atau Dion memang semakin tampan?


"Dion, boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Tasya. Mendadak ada satu pertanyaan yang mengganjal di hatinya.


Dion mengangguk,


"Tentu. Kamu ingin bertanya apa?" jawab Dion masih sambil mengusap lembut wajah sang istri.


"Apa pernah ada wanita lain di hatimu, selain aku?" Tanya Tasya sedikit ragu. Tasya tak tahu kenapa dirinya menanyakan hal ini.


Dion mengernyit tak mengerti,


"Kenapa bertanya seperti itu? Kamu istriku. Aku mencintaimu sejak dulu hingga sekarang dan untuk selamanya. Hanya ada kamu di hatiku" Dion meraih tangan Tasya, mengecupnya, dan meletakkannya di dadanya.


Bisa Tasya rasakan detak jantung Dion yang teratur, menandakan kalau pria itu memang berkata yang jujur .


"Bagaimana jika aku meninggalkanmu? Apa kamu tidak ingin menikah lagi?" Tanya Tasya sekali lagi.


Tasya tak membantah ataupun bertanya lagi. Ia masih menatap lekat wajah sang suami dan menangkap mata Dion yang membulat saat ada pergerakan kecil di perut Tasya.


"Kau merasakan itu?" Tanya Dion antusias. Matanya berbinar bahagia.


Dion ganti membaringkan kepalanya di atas perut Tasya untuk merasakan lebih jelas tendangan dari sang anak.


Dan sekali lagi Tasya menangkap binar kebahagiaan di wajah Dion saat tendangan kecil itu kembali terasa.


"Kau merasakan itu, Nat. Anak kita menendang" ucap Dion berbinar-binar.


Tasya hanya tersenyum sambil mengangguk. Ia juga merasakan apa yang Dion rasakan.


Sebuah kebahagiaan yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


Kini Tasya dan Dion tak perlu khawatir dengan masalah yang sedang mereka hadapi. Mereka punya kebahagiaan lain yang jauh lebih besar.


Toh selama mereka tetap bersama, semua masalah pasti akan ada jalan keluarnya.


*****


Pagi hari,


Selesai sarapan, Tasya dan tante Desi asyik berbincang di halaman belakang.


Sedangkan Dion dan om Bimo sedang berbicara serius mengenai kantor cabang perusahaan yang akan menjadi tanggung jawab Dion di kota ini.


"Aku dengar mereka juga mengincar kantor cabang yang ini" om Bimo membuka percakapan.


Dion mengernyit tak mengerti.


Siapa sebenarnya perusahaan saingannya ini?


Kenapa mereka seperti berniat sekali menghancurkan perusahaan milik sang papa.


"Apa om tahu siapa mereka sebenarnya?" Tanya Dion penasaran.


"Keluarga Wijaya. Tak banyak informasi tentang keluarga dan perusahaan mereka. Tapi keluarga mereka tinggal di kota ini" tukas om Bimo panjang lebar.


"Oh ya, kau kenal Egi? Om rasa dia akan bisa membantumu. Covapah untuk bertemu dengannya dan membicaraka masalah ini" tambah om Bimo lagi.


Egi?


Kenapa harus Egi?


Dion punya masa lalu yang sedikit memalukan dengan Egi, meskipun Dion yakin kalau Egi pasti sudah melupakannya. Itu adalah kejadian bertahun-tahun yang lalu.


Tapi tetap saja, meskipun Egi adalah suami Elena yang merupakan sahabat dekat dari Tasya, Dion masih merasa sungkan dan tak enak hati.


"Om tidak bisa membantu banyak, Di." Jelas om Bimo sekali lagi.


"Dion mengerti, Om. Dion akan coba berbicara dengan Egi" jawab Dion sedikit ragu.


Tapi tak ada salahnya juga mencoba.


Dion pernah mendengar dari Vian kalau Egi memang seorang direktur yang hebat.


Ah, mungkin nanti akan sedikit canggung, tapi jika ini satu-satunya jalan keluar Dion bisa apa sekarang.


Bukankah yang terpenting adalah meyelamatkan perusahaan sang papa dan memperbaiki keuangan di keluarganya yang sudah carut-marut sekarang ini?


Apalagi Dion akan menjadi orang tua beberapa bulan lagi. Tentunya akan semakin banyak kebutuhan yang harus ia penuhi.

__ADS_1


Suara ketukan di pintu depan, mengalihkan perhatian Dion dan om Bimo.


Om Bimo beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu depan untuk melihat siapa yang datang.


Dion masih duduk di tempatnya. Pikirannya mendadak menjadi kacau sekarang.


Tak berselang lama, om Bimo sudah kembali. Seseorang mengekor di belakang om Bimo.


"Di, ada teman kamu" ucapan om Bimo membuat dion mendongak untuk melihat siapa yang datang.


Vian dengan cengiran khasnya langsung menyapa Dion.


"Hai, bro! " sapa Vian sok akrab.


Dan seperti biasa Dion memilih untuk bersikap cuek.


"Om harus ke kantor sekarang," om Bimo masuk ke dalam dan langsung menuju halaman belakang, sepertinya ia akan berpamitan pada tante Desi.


"Tahu darimana alamat rumah ini?" Tanya Dion peasaran. Seingatnya, ia tak pernah memberikan alamat sang tante pada Vian.


"Tasya memberitahuku" Vian menunjukkan chatnya dengan Tasya.


Dion hanya mengangguk


"Jadi bagaimana? Apa rumahnya sudah siap?" Tanya Dion berubah serius.


"Ada. Pemiliknya pindah hari ini. Jadi kau bisa menengoknya besok pagi" jawab Vian dengan nada santai.


Om Bimo sudah kembali bersama tante Desi.


"Om ke kantor dulu ya. Bye semua" om Bimo melambaikan tangan pada Dion dn Vian yang hanya dijawab dengan anggukan dari kedua pria tersebut.


Tante Desi mengekori om Bimo untuk mengantarnya sampai pintu depan.


Sekarang Tasya juga muncul dari arah dapur membawa minuman untuk Vian dan Dion.


"Minuman saja. Tidak ada sarapan gratis" ujar Tasya sambil terkekeh.


Dion dan Vian ikut terkekeh.


Tasya meletakkan nampan berisi dua cangkir teh yang masih mengepul ke atas meja kaca.


"Terima kasih ibu hamil. Aku sudah sarapan di rumah mamaku" jawab Vian masih terkekeh dan sedikit pamer.


Dion dan Tasya mencibir bersamaan.


Tasya duduk di sofa di sebelah Dion.


Ikut menyimak obrolan dua pria tersebut.


Tante Desi sudah kembali.


"Kamu temannya Dion?" Tanya Tante Desi pada Vian yang kini tengah menyeruput tehnya.


"Iya tante, saya Vian" Vian mengulurkan tangannya pada tante Desi untuk berkenalan.


Tante Desi segera menjabat tangan Vian dn melemparkan senyuman hangat.


"Sya, tante mau ke pasar, kamu mau ikut?" Tanya tante Desi pada Tasya.


"Iya, tante. Tasya ikut." Jawab Tasya cepat.


"Eh, kamu gak capek?" Tanya Dion khawatir,


"Enggak, Di. Aku kan harus banyak gerak. Lagian jenuh juga di rumah terus" jawab Tasya dengan berbagai alasan.


Dion berdecak,


"Cuma ke pasar, Di. Bukan tante ajak jalan-jalan. Jangan khawatir berlebihan begitu" tante Desi ikut menimpali.


"Nanti kalau capek tunggu di mobil aja, Nat. Biar tante belanja sendiri. Atau telpon aku biar aku jemput" pesan Dion masih khawatir.


Gantian Tasya yang berdecak.


Lagian sejak kapan Dion jadi bawel dan over protektif begini.


"Bawel ih. Kita cuma ke pasar, Di" omel Tasya sambil berlalu mengekori tante Desi yang sudah lebih dulu berjalan ke pintu depan.


Vian yang menyaksikan perdebatan Dion dan Tasya tak bisa lagi menahan diri untuk tidak tertawa.


"Lama-lama loe kayak ibu-ibu, Di. Bawel" ejek Vian masih sambil tertawa keras.


Dion mendengus kesal,


"Berisik loe" sergah Dion merasa tak terima.


"Lagian istri cuma ke pasar aja khawatirnya sampai kayak gitu" Vian masih tak berhenti mengejek.


"Gue kan takut kalau Tasya mendadak pingsan di pasar" ujar Dion membela diri.


"Tasya udah sehat begitu, masih aja khawatir." Vian tak mau kalah.


"Terserah loe deh" Dion merasa sudah malas untuk berdebat lagi.


Sesaat suasana hening.


"Vi, loe tau gak alamat kantornya Egi?" Tanya Dion mengalihkan topik pembicaraan. Dion mendadak ingat pembicaraannya dengan om Bimo tadi pagi yang menyarankan Dion untuk minta bantuan pada Egi.


"Egi suaminya Elena?" Tanya Vian sambil menyeruput teh nya yang kini sudah dingin.


Dion mengangguk,


"Memangnya ada berapa Egi di kota ini?" Gumam Dion lirih tapi ternyata di dengar oleh Vian.


"Gue kan mastiin aja" ujar Vian menanggapi gumaman Dion.


Dion berdecak.


"Tapi ngomong-ngomong loe nyariin Egi ada apa?" Tanya Vian mulai kepo.


"Ada urusan bisnis saja. Gue mau minta bantuan sama dia" jawab Dion sekenanya.


Vian mendengus,


"Ya...ya...ya. dua orang direktur muda akan bicara bisnis dan aku hanya akan jadi penonton, karena aku tak pernah paham dengan bidang itu" jawab Vian mulai meracau.


"Gak usah lebay, loe" Dion melemparkan bantal sofa tepat mengenai wajah Vian. Pria itu semakin mendengus kesal.


"Daripada datang ke kantornya, mending kita samperin ke rumahnya aja. Ayo!" Vian sudah beranjak dari duduknya dan memberi isyarat pada Dion agar ikut bersamanya.


Dion sedikit ragu.


"Ayo, Dion!" Teriakan Vian menggema ke seluruh rumah tante Desi.


Dion akhirnya menurut saja.


Dion menyambar tas hitam berisi berkas yang tadi di tinggalkan oleh omm Bimo.


Setelah mengunci pintu depan, Dion mengekori sahabatnya tersebut dan masuk ke dalam mobil milik Vian.

__ADS_1


Dengan segera Vian memacu mobilnya menembus jalanan kota yang belum terlalu padat. Mungkin karena ini hari Sabtu.


__ADS_2